Majapahit adalah sebuah kerajaan kuno di Indonesia yang
pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M. Kerajaan ini mencapai puncak
kejayaannya pada masa kekuasaan Hayam Wuruk, yang berkuasa
dari tahun 1350 hingga 1389. Majapahit menguasai kerajaan-kerajaan lainnya di semenanjung Malaya,
Borneo, Sumatra, Bali, dan Filipina.
Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu terakhir di semenanjung Malaya
dan dianggap sebagai salah satu dari negara terbesar dalam sejarah Indonesia.[2]
Kekuasaannya terbentang di Sumatra, semenanjung Malaya, Borneo dan Indonesia timur,
meskipun wilayah kekuasaannya masih diperdebatkan.[3]
Historiografi
Hanya terdapat sedikit bukti fisik sisa-sisa Majapahit,[4] dan
sejarahnya tidak jelas.[5]
Sumber utama yang digunakan oleh para sejarawan adalah Pararaton ('Kitab
Raja-raja') dalam bahasa Kawi dan Nagarakretagama
dalam bahasa Jawa Kuno.[6]
Pararaton terutama menceritakan Ken Arok (pendiri Kerajaan Singhasari)
namun juga memuat beberapa bagian pendek mengenai terbentuknya Majapahit.
Sementara itu, Nagarakertagama merupakan puisi Jawa Kuno yang ditulis
pada masa keemasan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk. Setelah masa
itu, hal yang terjadi tidaklah jelas.[7]
Selain itu, terdapat beberapa prasasti dalam bahasa Jawa Kuno
maupun catatan sejarah dari Tiongkok dan negara-negara
lain.[7]
Keakuratan semua naskah berbahasa Jawa tersebut dipertentangkan. Tidak dapat
disangkal bahwa sumber-sumber itu memuat unsur non-historis dan mitos. Beberapa
sarjana seperti C.C. Berg menganggap semua naskah tersebut bukan catatan masa
lalu, tetapi memiliki arti supernatural dalam hal dapat mengetahui masa
depan.[8] Namun demikian, banyak pula sarjana yang beranggapan bahwa garis besar sumber-sumber
tersebut dapat diterima karena sej khususnya daftar penguasa dan keadaan kerajaan yang tampak cukup pasti.[5]
Sejarah
Berdirinya Majapahit
| | Arca Harihara, dewa gabungan Siwa dan Wisnu sebagai penggambaran Kertarajasa. Berlokasi
semula di Candi Simping, Blitar, kini menjadi koleksi Museum Nasional Republik Indonesia. |
|
| |
Sesudah Singhasari mengusir Sriwijaya dari
Jawa secara keseluruhan pada tahun 1290, Singhasari menjadi kerajaan paling kuat
di wilayah tersebut. Hal ini menjadi perhatian Kubilai Khan, penguasa Dinasti
Yuan di Tiongkok. Ia mengirim utusan
yang bernama Meng Chi[9]
ke Singhasari yang menuntut upeti. Kertanagara, penguasa
kerajaan Singhasari yang terakhir, menolak untuk membayar upeti dan
mempermalukan utusan tersebut dengan merusak wajahnya dan memotong
telinganya.[9][10] Kublai
Khan marah dan lalu memberangkatkan ekspedisi besar ke Jawa tahun 1293.
Ketika itu, Kediri, sudah membunuh
Kertanagara. Atas saran Aria Wiraraja, Jayakatwang
memberikan pengampunan kepada Raden Wijaya, menantu
Kertanegara, yang datang menyerahkan diri. Raden Wijaya kemudian
diberi hutan Tarik.
Ia membuka hutan itu dan membangun desa baru. Desa itu dinamai Majapahit,
yang namanya diambil dari buah maja, dan rasa "pahit" dari buah
tersebut. Ketika pasukan Mongolia tiba, Wijaya bersekutu dengan pasukan Mongolia
untuk bertempur melawan Jayakatwang. Raden Wijaya berbalik menyerang sekutu
Mongolnya sehingga memaksa mereka menarik pulang kembali pasukannya secara
kalang-kabut karena mereka berada di teritori asing.[11][12]
Saat itu juga merupakan kesempatan terakhir mereka untuk menangkap angin muson agar dapat
pulang, atau mereka harus terpaksa menunggu enam bulan lagi di pulau yang
asing.
Tanggal pasti yang digunakan sebagai tanggal kelahiran kerajaan Majapahit
adalah hari penobatan Raden Wijaya sebagai raja, yaitu pada tanggal 10 November
1293. Ia dinobatkan dengan nama resmiKertarajasa Jayawardhana.
Kerajaan ini menghadapi masalah. Beberapa orang terpercaya Kertarajasa, termasuk
Ranggalawe, Sora, dan Nambi memberontak melawannya,
meskipun pemberontakan tersebut tidak berhasil. Slamet Muljana menduga bahwa
mahapatih Halayudha lah yang melakukan konspirasi untuk menjatuhkan semua orang terpercaya raja,
agar ia dapat mencapai posisi tertinggi dalam pemerintahan. Namun setelah
kematian pemberontak terakhir (Kuti), Halayudha ditangkap dan
dipenjara, dan lalu dihukum mati.[12]
Wijaya meninggal dunia pada tahun 1309.
Anak dan penerus Wijaya, Jayanegara, adalah penguasa
yang jahat dan amoral. Ia digelari Kala Gemet, yang berarti "penjahat
lemah". Pada tahun 1328, Jayanegara dibunuh oleh tabibnya, Tanca. Ibu tirinya
yaitu Gayatri Rajapatni seharusnya menggantikannya, akan tetapi Rajapatni
memilih mengundurkan diri dari istana dan menjadi pendeta wanita. Rajapatni
menunjuk anak perempuannya Tribhuwana
Wijayatunggadewi untuk menjadi ratu Majapahit. Selama kekuasaan Tribhuwana,
kerajaan Majapahit berkembang menjadi lebih besar dan terkenal di daerah
tersebut. Tribhuwana menguasai Majapahit sampai kematian ibunya pada tahun 1350.
Ia diteruskan oleh putranya Hayam Wuruk.
Kejayaan Majapahit
| | Terakota wajah yang dipercaya sebagai potret Gajah Mada. |
|
| |
Hayam Wuruk, juga disebut Rajasanagara, memerintah Majapahit dari tahun 1350 hingga 1389. Pada masanya,
Majapahit mencapai puncak kejayaannya dengan bantuan mahapatihnya, Gajah
Mada. Di bawah perintah Gajah Mada (1313�1364), Majapahit menguasai lebih
banyak wilayah. Pada tahun 1377, beberapa tahun setelah kematian Gajah Mada,
Majapahit melancarkan serangan laut ke Palembang,[2]
menyebabkan runtuhnya sisa-sisa kerajaan Sriwijaya. Jenderal terkenal
Majapahit lainnya adalah Adityawarman, yang terkenal
karena penaklukannya di Minangkabau.
Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan
Majapahit meliputi Sumatra, semenanjung Malaya,
Borneo, Sulawesi, kepulauan Nusa
Tenggara, Maluku, Papua, dan sebagian kepulauan Filipina[13].
Namun demikian, batasan alam dan ekonomi menunjukkan bahwa daerah-daerah
kekuasaan tersebut tampaknya tidaklah berada di bawah kekuasaan terpusat
Majapahit, tetapi terhubungkan satu sama lain oleh perdagangan yang mungkin
berupa monopoli oleh raja[14].
Majapahit juga memiliki hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, dan Vietnam, dan
bahkan mengirim duta-dutanya ke Tiongkok.[14][2]
Jatuhnya Majapahit
Sesudah mencapai puncaknya pada abad ke-14, kekuasaan
Majapahit berangsur-angsur melemah. Tampaknya terjadi perang saudara (Perang Paregreg) pada
tahun 1405-1406, antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana. Demikian pula telah
terjadi pergantian raja yang dipertengkarkan pada tahun 1450-an, dan
pemberontakan besar yang dilancarkan oleh seorang bangsawan pada tahun 1468[7].
Dalam tradisi Jawa ada sebuah kronogram atau candrasengkala
yang berbunyi sirna ilang kretaning bumi. Sengkala ini konon adalah tahun
berakhirnya Majapahit dan harus dibaca sebagai 0041, yaitu tahun 1400 Saka, atau 1478 Masehi.
Arti sengkala ini adalah �sirna hilanglah kemakmuran bumi�. Namun demikian, yang
sebenarnya digambarkan oleh candrasengkala tersebut adalah gugurnya Bre Kertabumi, raja ke-11
Majapahit, oleh Girindrawardhana[15].
Ketika Majapahit didirikan, pedagang Muslim dan para penyebar agama
sudah mulai memasuki nusantara. Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15,
pengaruh Majapahit di seluruh nusantara mulai berkurang. Pada saat bersamaan,
sebuah kerajaan perdagangan baru yang berdasarkan agama Islam, yaitu Kesultanan Malaka,
mulai muncul di bagian barat nusantara[16].
Catatan sejarah dari Tiongkok, Portugis, dan Italia mengindikasikan bahwa
telah terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari tangan penguasa Hindu ke
tangan Adipati Unus, penguasa dari Kesultanan Demak,
antara tahun 1518 dan 1521 M[15].
Kebudayaan
| | Gapura Bajangratu, diduga kuat menjadi gerbang masuk keraton
Majapahit. Bangunan ini masih tegak berdiri di kompleks Trowulan. |
|
| |
Ibu kota Majapahit di Trowulan merupakan kota besar
dan terkenal dengan perayaan besar keagamaan yang diselenggarakan setiap tahun.
Agama Buddha, Siwa, dan Waisnawa (pemuja Wisnu)
dipeluk oleh penduduk Majapahit, dan raja dianggap sekaligus titisan Buddha,
Siwa, maupun Wisnu. Nagarakertagama tidak menyebut keberadaan Islam, namun tampaknya
ada anggota keluarga istana yang beragama Islam pada waktu itu[14].
Walaupun batu bata telah digunakan dalam candi pada
masa sebelumnya, arsitek Majapahitlah yang paling ahli menggunakannya[17].
Candi-candi Majapahit berkualitas baik secara geometris dengan memanfaatkan
getah pohon anggur dan gula merah sebagai perekat batu bata. Contoh candi Majapahit yang masih dapat
ditemui sekarang adalah Candi Tikus dan Candi Bajangratu di Trowulan, Mojokerto.
Ekonomi
Majapahit merupakan negara agraris dan sekaligus negara perdagangan[14]
Majapahit memiliki pejabat sendiri untuk mengurusi pedagang dari India dan Tiongkok yang menetap di ibu
kota kerajaan maupun berbagai tempat lain di wilayah Majapahit di Jawa[18].
Menurut catatan Wang Ta-yuan, pedagang Tiongkok, komoditas ekspor Jawa pada
saat itu ialah lada, garam, kain, dan burung kakak tua, sedangkan komoditas
impornya adalah mutiara, emas, perak, sutra, barang keramik, dan barang dari
besi. Mata uangnya dibuat dari campuran perak, timah putih, timah hitam, dan
tembaga[19].
Selain itu, catatan Odorico da Pordenone, biarawan Katolik Roma dari Italia yang
mengunjungi Jawa pada tahun 1321, menyebutkan bahwa istana raja
Jawa penuh dengan perhiasan emas, perak, dan permata[20].
Struktur pemerintahan
Majapahit memiliki struktur pemerintahan dan susunan birokrasi yang teratur
pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, dan tampaknya
struktur dan birokrasi tersebut tidak banyak berubah selama perkembangan
sejarahnya[21].
Raja dianggap sebagai penjelmaan dewa di dunia dan ia memegang otoritas politik
tertinggi.
Aparat birokrasi
Raja dibantu oleh sejumlah pejabat birokrasi dalam melaksanakan pemerintahan,
dengan para putra dan kerabat dekat raja memiliki kedudukan tinggi. Perintah
raja biasanya diturunkan kepada pejabat-pejabat di bawahnya, antara lain yaitu:
-
- Rakryan Mahamantri Katrini, biasanya dijabat putra-putra raja
- Rakryan Mantri ri Pakira-kiran, dewan menteri yang melaksanakan pemerintahan
- Dharmmadhyaksa, para pejabat hukum keagamaan
- Dharmma-upapatti, para pejabat keagamaan
Dalam Rakryan Mantri ri Pakira-kiran terdapat seorang pejabat yang
terpenting yaitu Rakryan Mapatih atau Patih Hamangkubhumi. Pejabat
ini dapat dikatakan sebagai perdana menteri yang bersama-sama raja dapat ikut
melaksanakan kebijaksanaan pemerintahan. Selain itu, terdapat pula semacam dewan
pertimbangan kerajaan yang anggotanya para sanak saudara raja, yang disebut
Bhattara Saptaprabhu.
Pembagian wilayah
Di bawah raja Majapahit terdapat pula sejumlah raja daerah, yang disebut
Paduka Bhattara. Mereka biasanya merupakan saudara atau kerabat dekat
raja dan bertugas dalam mengumpulkan penghasilan kerajaan, penyerahan upeti, dan
pertahanan kerajaan di wilayahnya masing-masing. Dalam Prasasti
Wingun Pitu (1447 M) disebutkan bahwa pemerintahan Majapahit dibagi menjadi
14 daerah bawahan, yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Bhre.[22]
Daerah-daerah bawahan tersebut yaitu:
- Daha
- Jagaraga
- Kabalan
- Kahuripan
|
- Keling
- Kelinggapura
- Kembang Jenar
- Matahun
|
- Pajang
- Singhapura
- Tanjungpura
|
|
Raja-raja Majapahit
Berikut adalah daftar penguasa Majapahit. Perhatikan bahwa terdapat periode
kekosongan antara pemerintahan Rajasawardhana (penguasa ke-8) dan
Girishawardhana yang mungkin diakibatkan oleh krisis suksesi yang memecahkan
keluarga kerajaan Majapahit menjadi dua kelompok[7].
- Raden Wijaya, bergelar
Kertarajasa Jayawardhana (1293 - 1309)
- Kalagamet, bergelar Sri Jayanagara (1309 - 1328)
- Sri Gitarja, bergelar Tribhuwana
Wijayatunggadewi (1328 - 1350)
- Hayam Wuruk, bergelar Sri
Rajasanagara (1350
- 1389)
- Wikramawardhana (1389 - 1429)
- Suhita (1429 - 1447)
- Kertawijaya, bergelar
Brawijaya I (1451)
- Rajasawardhana,
bergelar Brawijaya II (1451 - 1453)
- Purwawisesa atau Girishawardhana,
bergelar Brawijaya III (1456 - 1466)
- Pandanalas, atau Suraprabhawa, bergelar
Brawijaya IV (1466 - 1468)
- Kertabumi, bergelar Brawijaya V (1468 - 1478)
- Girindrawardhana, bergelar Brawijaya VI (1478 - 1498)
- Hudhara, bergelar Brawijaya VII (1498 - 1518)[23]
Warisan sejarah
| | Arca pertapa Hindu dari masa Majapahit akhir. Koleksi Museum
f�r Indische Kunst, Berlin-Dahlem, Jerman. |
|
| |
Majapahit telah menjadi sumber inspirasi kejayaan masa lalu bagi bangsa
Indonesia pada abad-abad berikutnya. Kesultanan-kesultanan Islam Demak, Pajang, dan Mataram berusaha
mendapatkan legitimasi atas kekuasaan mereka melalui hubungan ke Majapahit.
Demak menyatakan legitimasi keturunannya melalui Kertabhumi; pendirinya, Raden
Patah, menurut babad-babad keraton Demak dinyatakan sebagai anak Kertabhumi
dan seorang Putri Cina, yang dikirim ke luar istana sebelum ia
melahirkan. Penaklukan Mataram atas Wirasaba
tahun 1615 yang dipimpin langsung oleh Sultan Agung sendiri
memiliki arti penting karena merupakan lokasi ibukota Majapahit. Keraton-keraton
Jawa Tengah memiliki tradisi dan silsilah yang berusaha membuktikan hubungan
para rajanya dengan keluarga kerajaan Majapahit � sering kali dalam bentuk makam
leluhur, yang di Jawa merupakan bukti penting � dan legitimasi dianggap
meningkat melalui hubungan tersebut. Bali secara khusus mendapat pengaruh besar
dari Majapahit, dan masyarakat Bali menganggap diri mereka penerus sejati
kebudayaan Majapahit.[17]
Para penggerak nasionalisme Indonesia modern, termasuk mereka yang terlibat
Gerakan Kebangkitan Nasional di awal abad ke-20, telah merujuk pada Majapahit sebagai contoh
gemilang masa lalu Indonesia. Majapahit kadang dijadikan acuan batas politik
negara Republik Indonesia saat ini.[14]
Dalam propaganda yang dijalankan tahun 1920-an, Partai Komunis
Indonesia menyampaikan visinya tentang masyarakat tanpa kelas sebagai
penjelmaan kembali dari Majapahit yang diromantiskan.[24] Sukarno
juga mengangkat Majapahit untuk kepentingan persatuan bangsa, sedangkan Orde Baru menggunakannya untuk
kepentingan perluasan dan konsolidasi kekuasaan negara.[25]
Sebagaimana Majapahit, negara Indonesia modern meliputi wilayah yang luas dan
secara politik berpusat di pulau Jawa.
Majapahit memiliki pengaruh yang nyata dan berkelanjutan dalam bidang arsitektur
di Indonesia. Penggambaran bentuk paviliun (pendopo) berbagai bangunan di
ibukota Majapahit dalam kitab Negarakretagama telah menjadi inspirasi
bagi arsitektur berbagai bangunan keraton di Jawa serta Pura dan kompleks
perumahan masyarakat di Bali masa kini.
Majapahit dalam kesenian modern
Kebesaran kerajaan ini dan berbagai intrik politik yang terjadi pada masa itu
menjadi sumber inspirasi tidak henti-hentinya bagi para seniman masa selanjutnya
untuk menuangkan kreasinya, terutama di Indonesia. Berikut adalah daftar
beberapa karya seni yang berkaitan dengan masa tersebut.
Puisi lama
- Serat Darmagandhul, sebuah
kitab yang tidak jelas penulisnya karena menggunakan nama pena Ki
Kalamwadi, namun diperkirakan dari masa Kasunanan Surakarta. Kitab ini
berkisah tentang hal-hal yang berkaitan dengan perubahan keyakinan orang
Majapahit dari agama sinkretis "Buda" ke Islam dan sejumlah ibadah yang
perlu dilakukan sebagai umat Islam.
Komik dan strip komik
- Serial "Mahesa
Rani" karya Teguh Santosa yang dimuat di Majalah Hai,
mengambil latar belakang pada masa keruntuhan Singhasari
hingga awal-awal karier Mada (Gajah Mada), adik
seperguruan Lubdhaka, seorang rekan Mahesa Rani.
- Komik/Cerita
bergambar Imperium Majapahit, karya Jan Mintaraga.
- Komik Majapahit karya R.A. Kosasih
- Strip komik "Panji
Koming" karya Dwi Koendoro yang dimuat di surat kabar "Kompas" edisi
Minggu, menceritakan kisah sehari-hari seorang warga Majapahit bernama Panji
Koming.
Roman/novel sejarah
- Sandyakalaning Majapahit (1933), roman sejarah dengan
setting masa keruntuhan Majapahit, karya Sanusi Pane.
- Zaman Gemilang (1938/1950/2000), roman sejarah yang menceritakan
akhir masa Singasari, masa Majapahit, dan berakhir pada intrik seputar
terbunuhnya Jayanegara, karya Matu Mona/Hasbullah Parinduri.
- Senopati Pamungkas (1986/2003), cerita silat dengan setting
runtuhnya Singhasari dan awal
berdirinya Majapahit hingga pemerintahan Jayanagara, karya Arswendo
Atmowiloto.
- Dyah Pitaloka - Senja di Langit Majapahit (2005), roman karya
Hermawan Achsan tentang Dyah
Pitaloka Citraresmi, putri dari Kerajaan Sunda yang
gugur dalam Peristiwa Bubat.
- Gajah Mada
(2005), sebuah roman sejarah berseri yang
mengisahkan kehidupan Gajah Mada dengan ambisinya menguasai Nusantara, karya Langit Kresna
Hariadi.
Film/Sinetron
- Tutur Tinular, suatu adaptasi film karya S.
Tidjab dari serial sandiwara radio. Kisah ini berlatar belakang Singhasari pada
pemerintahan Kertanegara hingga
Majapahit pada pemerintahan Jayanagara.
- Saur Sepuh, suatu
adaptasi film karya Niki
Kosasih dari serial sandiwara radio yang populer pada awal 1990-an. Film
ini sebetulnya lebih berfokus pada sejarah Pajajaran namun berkait dengan
Majapahit pula.
- Walisongo, sinetron Ramadhan tahun 2003 yang berlatar Majapahit di
masa Brawijaya V hingga Kesultanan Demak di zaman Sultan Trenggana.
Referensi
D.G.E. Hall (1956). "Problems of Indonesian
Historiography". Pacific Affairs 38 (3/4): 353�359.
- ^ a
b c
Ricklefs (1991), halaman 19
- ^ Prapantja,
Rakawi, trans. by Theodore Gauthier Pigeaud, Java in the 14th Century, A
Study in Cultural History: The Negara-Kertagama by Pakawi Parakanca of
Majapahit, 1365 AD (The Hague, Martinus Nijhoff, 1962), vol. 4, p. 29. 34;
G.J. Resink, Indonesia�s History Between the Myths: Essays in Legal History
and Historical Theory (The Hague: W. van Hoeve, 1968), hal. 21.
- ^ Taylor, Jean Gelman (2003).
Indonesia: Peoples and Histories. New Haven and London: Yale University
Press, pp.29. ISBN 0-300-10518-5.
- ^ a
b Ricklefs (1991), page 18
- ^
Johns, A.H. (1964). "The Role of Structural Organisation and Myth in Javanese
Historiography". The Journal of Asian Studies 24 (1):
91�99.
- ^ a
b c d M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, Edisi ke-3.
Diterjemahkan oleh S. Wahono dkk. Jakarta: Serambi, 2005, hal. 55.
- ^ C. C. Berg.
Het rijk van de vijfvoudige Buddha (Verhandelingen der Koninklijke
Nederlandse Akademie van Wetenschappen, Afd. Letterkunde, vol. 69, no. 1)
Ansterdam: N.V. Noord-Hollandsche Uitgevers Maatschappij, 1962; cited in M.C.
Ricklefs, A History of Modern Indonesia Since c. 1300, 2nd ed.
Stanford: Stanford University Press, 1993, pages 18 and 311
- ^ a
b
Kehancuran dan Kebangkitan Martabat/Jati Diri Etnis Tionghoa Di
Indonesia (bagian 1). URL diakses pada 16 Juni 2008
- ^ David Bor -
Khubilai khan and Beautiful princesses of Tumapela 2006
- ^
Groeneveldt, W.P. Historical Notes on Indonesia and Malaya: Compiled from
Chinese Sources. Djakarta: Bhratara, 1960.
- ^ a
b
Slamet Muljana. Menuju Puncak Kemegahan (LKIS, 2005)
- ^
Poesponegoro, M.D., Notosusanto, N. (editor utama). Sejarah Nasional
Indonesia. Edisi ke-4. Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka, 1990, hal. 436.
- ^ a b c d e Ricklefs (1991), halaman 56
- ^ a
b Poesponegoro & Notosusanto (1990), hal. 448-451.
- ^ Ricklefs (2005), hal. 57.
- ^ a
b Schoppert, P., Damais, S. (1997). Dalam Didier Millet (editor):: Java Style. Paris: Periplus Editions, 33�34. ISBN 962-593-232-1.
- ^ Poesponegoro & Notosusanto (1990), hal. 220.
- ^ Poesponegoro & Notosusanto (1990), hal. 434-435.
- ^ Poesponegoro & Notosusanto (1990), hal. 431-432.
- ^ Poesponegoro & Notosusanto (1990), hal. 451-456.
- ^ Nastiti,
Titi Surti. Prasasti Majapahit, dalam situs http://www.majapahit-kingdom.com/cms/index.php?option=com_content&task=view&id=10&Itemid=7
dari Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala. Jum'at, 22 Juni 2007.
- ^ Februana, Ngarto (2007). Sepak Terjang Para Pendekar. Tempo. URL diakses pada 16
Juni 2008
- ^ Ricklefs, hal. 363
- ^ Friend, Theodore. Indonesian Destinies. Cambridge, Massachusetts and London: Belknap Press, Harvard
University Press, p.19. ISBN 0-674-01137-6.
Pranala luar
�������