H Suhudi Juru Kunci Makam Pracimaloyo Tukang Spesialis Pemindah Kerangka
title: H Suhudi Juru Kunci Makam Pracimaloyo Tukang Spesialis Pemindah Kerangka
writer: --
source: Suara Merdeka, Rabu, 21 Agustus 2002

SOLO-Spesialis memindah kerangka manusia? Itulah profesi yang digeluti H Suhudi, juru kunci Makam Pracimaloyo, Pajang. Entah kenapa, selama ini banyak orang meminta tolong dia memindahkan kerangka dari satu kuburan ke kuburan lain. Dia pun tak ingat lagi sudah menggali berapa kuburan dan memindahkan kerangkanya.

Di sela-sela mengantar tamu dari Universitas 17 Agustus Semarang yang mengunjungi makam H Hetami, pendiri Suara Merdeka, pria berumur 77 tahun yang masih gagah itu menuturkan pengalamannya.

''Tidak banyak yang mau memindahkan kerangka. Saya sudah lupa kapan kali pertama menerima order itu. Semua mengalir begitu saja, tiba-tiba saya menerima pekerjaan sampingan sebagai tukang memindahkan kerangka,'' ujar dia.

Sebenarnya pekerjaan utamanya juru kunci Makam Pracimaloyo. Profesi itu memang sudah dia geluti sejak muda. Di kompleks pemakaman itu ada makam keturunan Raja Pajang Sultan Hadiwijaya di sisi barat.

Banyak pengalaman dia peroleh selama memindahkan kerangka. Yang paling mengesankan ketika diminta memindah kerangka putri Sultan Hadiwijaya, Dewi Lung Ayu, untuk disandingkan dengan makam Tuan Haji, guru mengaji Kerajaan Pajang waktu itu.

Disandingkan
Ceritanya, kata Pak Di, panggilan akrabnya, Dewi Lung Ayu jatuh cinta pada Tuan Haji. Mendengar hal itu Sultan menyuruh salah seorang abdi dalem memanggil Tuan Haji agar menghadap untuk meminta keterangan soal itu.

''Rupanya abdi dalem itu salah tangkap. Dia malah membunuh Tuan Haji karena menafsirkan perintah Sultan untuk memanggil guru mengaji. Mendengar kekasihnya meninggal, Dewi Lung Ayu kecewa dan memilih suduk salira (bunuh diri-Red).''

Semula makam mereka dipisah, meski dalam satu kompleks pemakaman Pracimaloyo. Tetapi atas perintah keturunan Sultan, tahun 1970-an, makam Dewi Lung Ayu dipindah untuk disandingkan dengan makam Tuan Haji.

''La kok ternyata waktu itu saya yang diminta memindah kerangka Dewi Lung Ayu. Ya, demi bakti pada keluarga Sultan, saya sanggupi. Saya dibantu teman untuk menggali. Namun yang mengangkat kerangka, mengafani lagi, dan menguburkan di tempat baru saya sendiri,'' kata dia.

Salah satu syarat, dia harus menanam tuwuhan dua buah pohon pisang di depan pintu makam kompleks makam Tuan Haji. Pekerjaan itu juga harus dia mulai saat matahari tenggelam dan harus berakhir sebelum pukul 23.00. Dia juga harus mengerjakannya pada hari Kamis Legi malam Jumat Pahing.

Setelah semua syarat lengkap, penggalian dia mulai. Tak ada kejadian aneh sampai kerangka dia angkat. Kejadian aneh baru muncul seusai pemakaman di tempat baru.

''Tiba-tiba di situ muncul kabut tebal, sehingga makam tak kelihatan. Tuwuhan pisang ambruk ke kompleks makam. Karena ada kejadian itu saya dan teman-teman tidak jadi pulang, tapi menunggu di situ,'' kata dia.

Anehnya, sekitar pukul 01.00 tuwuhan yang ambruk ke kompleks pemakaman tiba-tiba tegak kembali di tempat semula. Kabut pun langsung hilang sehingga tempat itu kembali terang.(an-70g)

�������



 
 






Hosted by:
Edi Cahyono

E-Mail:

Edi Cahyono
Hosted by www.Geocities.ws

1