Ilmu Titen
title: Ilmu Titen
writer: Sri Sultan HB X
source: Javannese Culture, Nov 19, '06 7:33 PM

Dalam membaca gejala dan tanda-tanda alam, masyarakat Merapi biasanya menggunakan kearifan lokal dengan ilmu titen. Namun selain itu, hendaknya juga didukung oleh pengetahuan kegunungapian dan kegempaan. Sehingga, bila bencana datang tiba-tiba, masyarakat lebih siap dan tanggap dalam menghindari musibah oleh bencana Merapi ataupun gempa.

Disadari, hal ini memang merupakan kecenderungan proses berpikir masyarakat kita, ketika orang berpikir bahwa awan panas yang disebut sebagai wehus gembel itu memiliki tenaga gaib, ia berpikir secara mistis. Ia tidak mengambil jarak antara objek dengan dirinya. Dalam alam pikiran agraris yang dekat dengan alam, suasana berpikir mistis itu memang kuat sekali. Misalnya, ada larangan untuk tidak melihat lahar di suangai, apalagi berteriak atau alok-alok mengomentarinya. Karena aliran lahar dianggap makhluk halus di bawah pimpinan Ki Kartadimeja sedang punya hajat memperbaiki jalan raya. Masyarakat mempercayai sungai dan jurang merupakan jalan tembus makhluk halus Merapi menuju Laut Selatan.

Prahara juga diisyaratkan oleh kemunculan lampor, makhluk bayangan utusan Keraton Merapi, yang tidak seperti biasanya, di luar bulan Sura, dengan amat tergesa memacu kudanya ke Laut Kidul lewat Kali Winanga, mengabarkan bakal terjadinya musibah duka. Demikian juga, bintang kemukus melengkapi isyarat nasib yang tengah tak bersahabat di langit kelam.

Tetapi ketika sekarang ini masyarakat juga bersedia mempertimbangkan penjelasan lembaga yang kompeten berdasarkan ilmu pengetahuan, sehingga paham mengapa terjadi lelehan lava pijar yang membawa awan panas, berarti masyarakat sudah berpikir ontologis. Mereka mengambil jarak dengan objek. Dan, ketika masyarakat kemudian menyadari perlunya konstruksi bangunan yang tahan gempa, misalnya, berarti mereka telah memasuki alam pikiran fungsional.

Alam pikiran mistis itu mulai terkikis oleh pemahaman berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan teknologi disertai pengalaman menghadapi gempa tektonik dan lahar Merapi, transformasi berpikir itu terjadi dengan lebih cepat. Sekarang inilah, saat yang tepat dikembangkannya olah pikir ontologis dan analitis-faktual, untuk melepaskan dari kungkungan mitos dan kebekuan diri, sehingga berani berpikir dan bertindak mandiri sebagai aktor perubahan.

Ki Hadjar Dewantara mewariskan kepada kita ilmu dengan kedalaman filosofis, "Tiga-N", yaitu "niteni, niroake, nambahi". Dengan niteni kita berupaya mengenali lebih dalam berbagai kejadian alam. Niroake atau menirukan, yang dalam pengetahuan modern adalah simulasi, merupakan langkah selanjutnya dari hasil niteni, dengan berupaya menirukan kejadian alam yang kita alami untuk keselamatan kita. Wujudnya bisa berupa peringatan dini atau antisipasi terhadap bencana, misalnya bangunan rumah yang bersifat lentur yang lebih tahan terhadap goyangan gempa. Sedangkan nambahi, adalah upaya memberi nilai tambah dalam menyikapi kejadian alam yang telah kita kuasai dan bisa ditirukan tersebut.

Mengenali potensi bencana adalah prasyarat dalam menghindari korban yang lebih besar. Pelajaran dari pengetahuan turun-temurun yang disebut kearifan lokal yang lebih bertumpu pada olah-rasa hendaknya selalu dipadukan dengan olah-nalar yang logis, yang mendasarkan pada ilmu pengetahuan mutakhir. Niteni, niroake, dan nambahi, adalah perwujudan cipta, rasa, karsa, dan karya bangsa Indonesia, agar masyarakat kita lebih siaga dalam menghadapi bencana. Memang, selama ini ada mitos yang salah-kaprah di masyarakat dengan menganggap bangsa Indonesia ditakdirkan sebagai "bangsa humaniora" dan bukan "bangsa matematika". Konon, sebagai "bangsa humaniora" kita memiliki segudang nilai adiluhung, sehingga kita kurang mampu memahami aksioma-aksioma matematis dan hukum-hukum eksakta secara memadai. Secara tidak sadar, mitos tersebut masih tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat.

Sejak zaman kolonial, nilai-nilai sosial bangsa kita sudah dibenturkan dengan logika yang nalar. Itulah sebabnya, secara kultural, banyak yang dalam perilakunya lebih mendasarkan diri pada rasa daripada penalaran. Padahal antara rasa dan nalar sebenarnya bukanlah kutub yang berlawanan.

Diharapkan, dengan demikian masyarakat kita semakin "prigel tangane, mlethik nalare, padhang wawasane", sehingga bisa menerima dengan lapang dada, baik mitologi maupun teknologi secara seimbang. Tentu tidaklah arif jika mempertentangkan keduanya. Dimulai dari memahami satu langkah, perlahan-lahan kita akan memahami seribu langkah. Setelah itu, kita akan melihat jalan, sehingga lebih percaya diri untuk melangkah ke depan.

Hendaknya kita mengasah kepekaan dengan melakukan zikir dan pikir seraya mempelajari dan merasakan semua kejadian yang ada di alam sekitar. Sebab di dunia ini tidak ada yang bersifat mutlak, kecuali Tuhan Yang Maha Kuasa Seru Sekalian Alam.

Bangsa yang besar tak harus bertumpu di atas pesimisme mitos. Seperti juga tidak perlu mengunggulkan kepercayaan diri dengan arogansi untuk sebuah pandangan yang cuma melulu modern saja. Optimisme menengahi kedua pandangan ekstrim tadi, dan menjadikannya semacam iman, keyakinan berbasisi kenyataan, bukan angan-angan. Iman dibutuhkan andaikan nyala lilin kecil saat meraba lorong gelap hidup yang tak diketahui ujungnya.  (Kabare.10.2006)

�������



 
 






Hosted by:
Edi Cahyono

E-Mail:

Edi Cahyono
Hosted by www.Geocities.ws

1