Dalam membaca gejala dan tanda-tanda
alam, masyarakat Merapi biasanya menggunakan kearifan lokal dengan ilmu titen.
Namun selain itu, hendaknya juga didukung oleh pengetahuan kegunungapian
dan kegempaan. Sehingga, bila bencana datang
tiba-tiba, masyarakat lebih siap dan tanggap dalam menghindari musibah oleh
bencana Merapi ataupun gempa.
Disadari, hal ini memang merupakan kecenderungan proses
berpikir masyarakat kita, ketika orang berpikir bahwa awan panas yang disebut
sebagai wehus gembel itu memiliki tenaga gaib, ia
berpikir secara mistis. Ia tidak mengambil jarak
antara objek dengan dirinya. Dalam alam pikiran agraris yang
dekat dengan alam, suasana berpikir mistis itu memang kuat sekali.
Misalnya, ada larangan untuk tidak melihat lahar di suangai,
apalagi berteriak atau alok-alok mengomentarinya. Karena
aliran lahar dianggap makhluk halus di bawah pimpinan Ki Kartadimeja sedang
punya hajat memperbaiki jalan raya. Masyarakat mempercayai
sungai dan jurang merupakan jalan tembus makhluk halus Merapi menuju Laut
Selatan.
Prahara juga diisyaratkan oleh kemunculan lampor, makhluk
bayangan utusan Keraton Merapi, yang tidak seperti biasanya, di luar bulan
Sura, dengan amat tergesa memacu kudanya ke Laut Kidul lewat Kali Winanga,
mengabarkan bakal terjadinya musibah duka. Demikian juga,
bintang kemukus melengkapi isyarat nasib yang tengah tak bersahabat di langit
kelam.
Tetapi ketika sekarang ini masyarakat
juga bersedia mempertimbangkan penjelasan lembaga yang kompeten berdasarkan
ilmu pengetahuan, sehingga paham mengapa terjadi lelehan lava pijar yang
membawa awan panas, berarti masyarakat sudah berpikir ontologis.
Mereka mengambil jarak dengan objek. Dan,
ketika masyarakat kemudian menyadari perlunya konstruksi bangunan yang tahan
gempa, misalnya, berarti mereka telah memasuki alam pikiran fungsional.
Alam pikiran mistis itu mulai terkikis
oleh pemahaman berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dengan teknologi disertai pengalaman menghadapi gempa tektonik dan
lahar Merapi, transformasi berpikir itu terjadi dengan lebih cepat.
Sekarang inilah, saat yang tepat dikembangkannya olah pikir
ontologis dan analitis-faktual, untuk melepaskan dari kungkungan mitos dan
kebekuan diri, sehingga berani berpikir dan bertindak mandiri sebagai aktor
perubahan.
Ki Hadjar Dewantara mewariskan kepada
kita ilmu dengan kedalaman filosofis, "Tiga-N", yaitu "niteni,
niroake, nambahi". Dengan niteni kita berupaya
mengenali lebih dalam berbagai kejadian alam. Niroake
atau menirukan, yang dalam pengetahuan modern adalah simulasi, merupakan
langkah selanjutnya dari hasil niteni, dengan berupaya menirukan kejadian alam
yang kita alami untuk keselamatan kita. Wujudnya bisa
berupa peringatan dini atau antisipasi terhadap bencana, misalnya bangunan
rumah yang bersifat lentur yang lebih tahan terhadap goyangan gempa.
Sedangkan nambahi, adalah upaya memberi nilai tambah dalam
menyikapi kejadian alam yang telah kita kuasai dan bisa ditirukan
tersebut.
Mengenali potensi bencana adalah
prasyarat dalam menghindari korban yang lebih besar. Pelajaran
dari pengetahuan turun-temurun yang disebut kearifan lokal yang lebih bertumpu
pada olah-rasa hendaknya selalu dipadukan dengan olah-nalar yang logis, yang
mendasarkan pada ilmu pengetahuan mutakhir. Niteni,
niroake, dan nambahi, adalah perwujudan cipta, rasa, karsa, dan karya bangsa
Indonesia, agar
masyarakat kita lebih siaga dalam menghadapi bencana. Memang, selama ini
ada mitos yang salah-kaprah di masyarakat dengan menganggap bangsa Indonesia
ditakdirkan sebagai "bangsa humaniora" dan bukan "bangsa
matematika". Konon, sebagai "bangsa humaniora"
kita memiliki segudang nilai adiluhung, sehingga kita kurang mampu memahami
aksioma-aksioma matematis dan hukum-hukum eksakta secara memadai.
Secara tidak sadar, mitos tersebut masih tumbuh subur di
tengah-tengah masyarakat.
Sejak zaman kolonial, nilai-nilai
sosial bangsa kita sudah dibenturkan dengan logika yang nalar.
Itulah sebabnya, secara kultural,
banyak yang dalam perilakunya lebih mendasarkan diri pada rasa daripada
penalaran. Padahal antara rasa dan nalar sebenarnya bukanlah kutub yang
berlawanan.
Diharapkan,
dengan demikian masyarakat kita semakin "prigel tangane, mlethik nalare,
padhang wawasane", sehingga bisa menerima dengan lapang dada, baik
mitologi maupun teknologi secara seimbang. Tentu tidaklah arif jika
mempertentangkan keduanya. Dimulai dari memahami satu langkah, perlahan-lahan
kita akan memahami seribu langkah. Setelah itu, kita akan melihat jalan,
sehingga lebih percaya diri untuk melangkah ke depan.
Hendaknya
kita mengasah kepekaan dengan melakukan zikir dan pikir seraya mempelajari dan
merasakan semua kejadian yang ada di alam sekitar. Sebab di dunia ini tidak ada
yang bersifat mutlak, kecuali Tuhan Yang Maha Kuasa Seru Sekalian Alam.
Bangsa
yang besar tak harus bertumpu di atas pesimisme mitos. Seperti juga tidak perlu
mengunggulkan kepercayaan diri dengan arogansi untuk sebuah pandangan yang cuma
melulu modern saja. Optimisme menengahi kedua pandangan ekstrim tadi, dan
menjadikannya semacam iman, keyakinan berbasisi kenyataan, bukan angan-angan. Iman
dibutuhkan andaikan nyala lilin kecil saat meraba lorong gelap hidup yang tak
diketahui ujungnya. (Kabare.10.2006)
�������