Maneges Kersaning Pangeran
title: Maneges Kersaning Pangeran
writer: Sri Sultan HB X
source: Javannese Culture, Dec 3, '06 7:09 AM

Menurut tradisi Jawa, setiap laku maneges kersaning Pangeran, harus memahami hidup dan kehidupan ini sebagai gerak dumadining manungsa yang melewati proses : purwa-madya-wasana. Kesemuanya itu bermuara pada trilogi kawruh batin tentang kasunyatan, sangkan-paran dan kasampurnan. Artinya, hidup itu bagaikan sebuah perjalanan untuk sekedar mampir ngombe, saat berada di alam madya sampai bali mulih menyang asale ing pangayunaning Pangeran Kang Murbeng Agesang.

Laku budaya yang berjalan berbalik dari arah Gunung Merapi menuju Keraton Yogyakarta, bermakna sebagai sarana caraka-walik; untuk membalik keadaan, me-wiradat keprihatinan menjadi kebahagiaan melalui proses berpasrah diri, bangkit, membangun, dan bekerja kembali.

Dalam filosofi Jawa, Gunung Merapi adalah simbol yang menandai hubungan insan dengan Sang Khalik - hablu minallah. Sedangkan Keraton menyimbolkan antar sesama insan-hablu minna nas.

Ada sebuah pupuh dhandhanggula dalam tiga bait syair Kidung Rumeksa ing Wengi karya Kanjeng Sunan Kalijaga, yang bermakna seagai tolak bala. Kidung itu adalah :

"Ana kidung rumeksa ing wengi teguh hayu luputa ing lara luputa bilahine kabeh....."

Inti kidung itu adalah agar kita senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan, sehingga terhindar dari kutukan dan malapetaka yang lebih dahsyat. Selain itu, juga ajakan kepada para pemimpin untuk menjadikan dirinya pusat keteladanan bagi masyarakat yang dipimpinnya.

Dalam hal ini, saya selalu membuka tangan lebar-lebar untuk memberi rasa aman, kapan pun warga membutuhkannya. Saya juga menyiapkan bahu untuk tempat kepala bersandar dan mencurahkan tangis. Jadi tetapkan langkah kaki satu yang lebih cerah di depan jalan itu. Jadi janganlah tengok ke belakang, karena kita tidak akan menuju ke sana lagi!

Langkah ini juga sejalan dengan ajaran pendiri Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono I. Pertama, sikap "redi-tinamping", bahwa setiap saat seorang pemimpin yang wigati harus mau melakukan introspeksi di tengah-tengah kawula alit. Kedua, "jiwan-danarta", bahwa seorang pemimpin hakikatnya juga seorang interpretator dan visioner besar yang wajib menafsirkan fenomena apapun, baik melalui plah-nalar maupun olah-batin.

Dengan makna seperti itu, hendaknya laku prihatin dipahami sebagai momentum transendental-imanen dalam alam pikiran Jawa untuk mengukuhkan hubungan horisontal dalam hidup yang guyub-rukun, dan mengintensifkan kadar hubungan vertikal untuk lebih berpasrah diri ke haribaan-Nya.

�������



 
 






Hosted by:
Edi Cahyono

E-Mail:

Edi Cahyono
Hosted by www.Geocities.ws

1