Menurut tradisi Jawa, setiap laku maneges
kersaning Pangeran, harus memahami hidup dan kehidupan ini sebagai gerak dumadining
manungsa yang melewati proses : purwa-madya-wasana.
Kesemuanya itu bermuara pada trilogi kawruh batin tentang kasunyatan,
sangkan-paran dan kasampurnan. Artinya, hidup itu bagaikan
sebuah perjalanan untuk sekedar mampir ngombe, saat berada di alam
madya sampai bali mulih menyang asale ing
pangayunaning Pangeran Kang Murbeng Agesang.
Laku budaya yang berjalan berbalik dari arah Gunung
Merapi menuju Keraton Yogyakarta, bermakna sebagai sarana caraka-walik;
untuk membalik keadaan, me-wiradat keprihatinan menjadi kebahagiaan
melalui proses berpasrah diri, bangkit, membangun, dan bekerja kembali.
Dalam filosofi Jawa, Gunung
Merapi adalah simbol yang menandai hubungan insan dengan Sang Khalik - hablu
minallah. Sedangkan Keraton menyimbolkan antar
sesama insan-hablu minna nas.
Ada sebuah pupuh dhandhanggula dalam tiga bait syair Kidung Rumeksa
ing Wengi karya Kanjeng Sunan Kalijaga, yang bermakna seagai tolak bala.
Kidung itu adalah :
"Ana kidung rumeksa ing wengi teguh hayu
luputa ing lara luputa bilahine kabeh....."
Inti kidung itu adalah agar kita
senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan, sehingga terhindar dari kutukan dan
malapetaka yang lebih dahsyat. Selain itu, juga ajakan
kepada para pemimpin untuk menjadikan dirinya pusat keteladanan bagi masyarakat
yang dipimpinnya.
Dalam hal ini, saya selalu
membuka tangan lebar-lebar untuk memberi rasa aman, kapan pun warga
membutuhkannya. Saya juga menyiapkan bahu untuk tempat
kepala bersandar dan mencurahkan tangis. Jadi tetapkan langkah kaki satu
yang lebih cerah di depan jalan itu. Jadi janganlah
tengok ke belakang, karena kita tidak akan menuju ke sana lagi!
Langkah ini juga sejalan dengan ajaran pendiri
Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono I. Pertama,
sikap "redi-tinamping", bahwa setiap saat seorang pemimpin
yang wigati harus mau melakukan introspeksi di tengah-tengah kawula
alit. Kedua, "jiwan-danarta", bahwa
seorang pemimpin hakikatnya juga seorang interpretator dan visioner besar yang
wajib menafsirkan fenomena apapun, baik melalui plah-nalar maupun olah-batin.
Dengan makna seperti itu, hendaknya laku prihatin
dipahami sebagai momentum transendental-imanen dalam alam pikiran Jawa untuk
mengukuhkan hubungan horisontal dalam hidup yang guyub-rukun, dan
mengintensifkan kadar hubungan vertikal untuk lebih berpasrah diri ke haribaan-Nya.
�������