Acuan Falsafah Dalam Manajemen
title: Acuan Falsafah Dalam Manajemen
writer: Sri Sultan HB X
source: Javannese Culture, Mar 4, '08 1:48 AM

Budaya Jawa masih memegang peran strategis dalam strategi penyiasatan kultural. Karenanya, �perebutan lahan� di atasnya sulit dihindarkan. Sering terjadi benturan kepentingan antara hegemoni kekuasaan, hegemoni kultural, serta semangat menjaga independensi nilai kultural dari berbagai bentuk intervensi. Dalam perbenturan itu, nilai-nilai budaya Jawa sering sulit ditangkap. Terlebih yang bersifat imateriil, misalnya kawruh jiwa, sebuah potret Ki Ageng Suryomentaram dan Raden Ngabehi Ranggawarsita, yang begitu kabur di hadapan generasi kontemporer.

Dalam hal ini, menarik untuk membuka Psikologi Jawa, buku yang cukup unik karangan Darmanto Jatman. Ketika kebanyakan buku dan literatur yang lain mencoba merevitalisasi (atau mencangkokkan) nilai-nilai kejawaan dalam konteks kontemporer,buku ini berisi sesuatu yang lebih mendalam. Menukik ke ruh penghayatan hidup manusia Jawa itu sendiri, sebagai tiang utama. Ia bukan lagi embel-embel atau aksesori yang harus ditempelkan pada peradaban modern, melainkan menjadi elan dan pilar utama strategi kebudayaan menghadapi perubahan.

Melalui buku ini, Darmanto mencoba menyusun serpih-serpih nilai kejawaan menjadi embrio teori psikologi untuk memahami lebih mendalam perilaku dan kultur Jawa. Lebih spesifik lagi, ia berusaha mereaktualisasi ilmu jiwa Jawa dan mendudukkannya sederajat dengan teori psikologi modern, yang diakuinya betapa berat tugas itu.

Tidak cukup sekadar kecintaan kepada Jawa, karena itu bisa bermakna chauvinisme kultural. Juga tidak cukup dengan memanfaatkan semangat dekonstruksi terhadap teori-teori psikologi modern maupun semangat anti �imperialisme kognitif�, seraya mengukuhkan ilmu jiwa Jawa sebagai ilmu psikologi asli (indegenous psychology). Dekonstruksi acap kali identik dengan chaos, atau seolah menjawab satu kekacauan dengan sesuatu yang juga kacau.

Dibutuhkan suatu kuasa budaya (baca: ilmu pengetahuan) yang redemtif � yang bersifat penebus � dan tidak koersif � yang memaksa, untuk mendudukkan ilmu jiwa Jawa ini sederajat dengan psikologi modern. Buku ini hanya eksplisitasi dan sistematisasi Kawruh Jiwa Jawa menjadi ilmu jiwa Jawa, agar bisa berdialog dalam dataran analisis yang setara dengan apa yang dinamakan psikologi modern.

Semangat yang juga melandasi terbitnya buku ini adalah nasionalisme keilmuan. Urgensi nasionalisme dalam dunia ilmiah memang bisa diperdebatkan. Tetapi, untuk mengisi kancah bacaan psikologi yang mengindonesia, buku-buku semacam itu memang perlu.

Psiklogi Indonesia sejauh ini merupakan psikologi impor yang mengandalkan nilai-nilai �objektif, universal, serta bebas nilai�, sambil meremahkan nilai-nilai �transubjektif, istorikal, serta kaya nilai�. Karenanya, perlu digali psikologi yang berurat-akar pada kesejahteraan masyarakat Indonesia sendiri. Karena Darmanto kebetulan orang Jawa, diangkatlah ilmu jiwa Jawa sebagai tawaran perspektif baru dalam mengeksplorasi teori.

Seperti toleransi kultural ala kaum pembela dekonstruksi, Psikologi Jawa juga menawarkan kebebasan penuh kepada pembaca untuk meletakkan persepsinya sendiri: apakah psikologi Jawa akan dijadikan alternatif, atau dikombinasikan dengan teori psikologi modern. Yang jelas, pendekatan psikologi yang lebih manusiawi sangat perlu, ketika pembangunan terasa semakin mengimaterialkan manusia.

Darmanto menyusun buku ini melalui prosedur penelitian ilmiah, yang notabene berasal dari Barat. Karena itu, tidak tepat juga kalau dikatakan bahwa ilmu jiwa Jawa melepaskan diri dari mainstream ilmiah Barat. Setidaknya, �ketertundukan� pada prosedur ilmiah tersebut, menandakan sebuah upaya membedah nilai-nilai kejiwaan orang Jawa dengan menggunakan pisau bedah orang lain. Apakah ini salah, tidak begitu menjadi persoalan, sejauh tidak terjadi distorsi.

Di bagian akhir buku, ia mengutip ucapan Ki Ageng Soerjomentaram, bahwa: �di atas bumi, di bawah langit, tak ada sesuatu yang perlu dicari secara mati-matian, atau ditolak secara mati-matian�. Sebuah cermin demokratisasi budaya? Penelitian ini dilandasi semangat �to experience the evidence�, serta �ngelmu iku kelakone kanthi laku�. Ini adalah ajaran terpenting Ki Ageng. Identik sekali dengan kata mutiara Barat: �no pain - no gain�.

Mawas diri ternyata bukan sekadar pelaksanaan suatu doktrin moral, tetapi juga suatu metode untuk memahami proses-proses kejiwaan manusia. Karenanya �rehabilitasi introspeksi� (baca: mawas diri) sebagai metode yang sah dalam psikologi bisa dikatakan sebagai kesimpulan, yang agaknya, juga bisa disarankan sebagai anjuran. Mawas diri (mulat sarira) sebagai salah satu ajaran vital dalam psikologi Jawa, barangkali resep ampuh untuk membasmi penyakit kultural yang kini melanda masyarakat kita: sering membebankan kesalahan kepada orang lain. Ternyata, elan ilmu jiwa Jawa sanggup memberi kontribusi yang tidak sedikit untuk menyembuhkan peradaban dari penyakit seperti korupsi, kolusi, manipulasi, hipokrisi, dan seterusnya.

Lalu, siapa akan menyusul Darmanto, Karkono �Kamajaya�, ataupun Geertz, Feith, Mulder dan Magnis, yang mengikuti dan melestarikan tradisi kepujanggaan Ranggawarsita, untuk kemudian mencoba menjadikan sastra Jawa yang eksploratif sebagai alternatif strategi kultural dalam memperkaya upaya-upaya interpretasi budaya dan falsafah Jawa bagi kepentingan manajemen di masa depan?

�������



 
 






Hosted by:
Edi Cahyono

E-Mail:

Edi Cahyono
Hosted by www.Geocities.ws

1