Budaya Jawa masih memegang peran strategis dalam strategi
penyiasatan kultural. Karenanya, �perebutan lahan� di atasnya sulit
dihindarkan. Sering terjadi benturan kepentingan antara hegemoni kekuasaan,
hegemoni kultural, serta semangat menjaga independensi nilai kultural dari
berbagai bentuk intervensi. Dalam perbenturan itu, nilai-nilai budaya Jawa
sering sulit ditangkap. Terlebih yang bersifat imateriil, misalnya kawruh jiwa,
sebuah potret Ki Ageng Suryomentaram dan Raden Ngabehi Ranggawarsita, yang
begitu kabur di hadapan generasi kontemporer.
Dalam hal ini, menarik untuk membuka
Psikologi Jawa, buku yang cukup unik karangan Darmanto Jatman. Ketika
kebanyakan buku dan literatur yang lain mencoba merevitalisasi (atau
mencangkokkan) nilai-nilai kejawaan dalam konteks kontemporer,� buku ini berisi sesuatu yang lebih mendalam.
Menukik ke ruh penghayatan hidup manusia Jawa itu sendiri, sebagai tiang utama.
Ia bukan lagi embel-embel atau aksesori yang harus ditempelkan pada peradaban
modern, melainkan menjadi elan dan pilar utama strategi kebudayaan menghadapi
perubahan.
Melalui buku ini, Darmanto mencoba
menyusun serpih-serpih nilai kejawaan menjadi embrio teori psikologi untuk
memahami lebih mendalam perilaku dan kultur Jawa. Lebih spesifik lagi, ia
berusaha mereaktualisasi ilmu jiwa Jawa dan mendudukkannya sederajat dengan
teori psikologi modern, yang diakuinya betapa berat tugas itu.
Tidak cukup sekadar kecintaan kepada
Jawa, karena itu bisa bermakna chauvinisme kultural. Juga tidak cukup dengan
memanfaatkan semangat dekonstruksi terhadap teori-teori psikologi modern maupun
semangat anti �imperialisme kognitif�, seraya mengukuhkan ilmu jiwa Jawa
sebagai ilmu psikologi asli (indegenous psychology). Dekonstruksi acap kali
identik dengan chaos, atau seolah menjawab satu kekacauan dengan sesuatu yang
juga kacau.
Dibutuhkan suatu kuasa budaya (baca:
ilmu pengetahuan) yang redemtif � yang bersifat penebus � dan tidak koersif �
yang memaksa, untuk mendudukkan ilmu jiwa Jawa ini sederajat dengan psikologi
modern. Buku ini hanya eksplisitasi dan sistematisasi Kawruh Jiwa Jawa menjadi
ilmu jiwa Jawa, agar bisa berdialog dalam dataran analisis yang setara dengan
apa yang dinamakan psikologi modern.
Semangat yang juga melandasi terbitnya
buku ini adalah nasionalisme keilmuan. Urgensi nasionalisme dalam dunia ilmiah
memang bisa diperdebatkan. Tetapi, untuk mengisi kancah bacaan psikologi yang
mengindonesia, buku-buku semacam itu memang perlu.
Psiklogi Indonesia sejauh ini merupakan
psikologi impor yang mengandalkan nilai-nilai �objektif, universal, serta bebas
nilai�, sambil meremahkan nilai-nilai �transubjektif, istorikal, serta kaya
nilai�. Karenanya, perlu digali psikologi yang berurat-akar pada kesejahteraan
masyarakat Indonesia sendiri. Karena Darmanto kebetulan orang Jawa, diangkatlah
ilmu jiwa Jawa sebagai tawaran perspektif baru dalam mengeksplorasi teori.
Seperti toleransi kultural ala kaum
pembela dekonstruksi, Psikologi Jawa juga menawarkan kebebasan penuh kepada
pembaca untuk meletakkan persepsinya sendiri: apakah psikologi Jawa akan
dijadikan alternatif, atau dikombinasikan dengan teori psikologi modern. Yang
jelas, pendekatan psikologi yang lebih manusiawi sangat perlu, ketika
pembangunan terasa semakin mengimaterialkan manusia.
Darmanto menyusun buku ini melalui
prosedur penelitian ilmiah, yang notabene berasal dari Barat. Karena itu, tidak
tepat juga kalau dikatakan bahwa ilmu jiwa Jawa melepaskan diri dari mainstream
ilmiah Barat. Setidaknya, �ketertundukan� pada prosedur ilmiah tersebut,
menandakan sebuah upaya membedah nilai-nilai kejiwaan orang Jawa dengan
menggunakan pisau bedah orang lain. Apakah ini salah, tidak begitu menjadi
persoalan, sejauh tidak terjadi distorsi.
Di bagian akhir buku, ia mengutip ucapan
Ki Ageng Soerjomentaram, bahwa: �di atas bumi, di bawah langit, tak ada sesuatu
yang perlu dicari secara mati-matian, atau ditolak secara mati-matian�. Sebuah
cermin demokratisasi budaya? Penelitian ini dilandasi semangat �to experience
the evidence�, serta �ngelmu iku kelakone kanthi laku�. Ini adalah ajaran
terpenting Ki Ageng. Identik sekali dengan kata mutiara Barat: �no pain - no
gain�.
Mawas diri ternyata bukan sekadar
pelaksanaan suatu doktrin moral, tetapi juga suatu metode untuk memahami
proses-proses kejiwaan manusia. Karenanya �rehabilitasi introspeksi� (baca:
mawas diri) sebagai metode yang sah dalam psikologi bisa dikatakan sebagai
kesimpulan, yang agaknya, juga bisa disarankan sebagai anjuran. Mawas diri
(mulat sarira) sebagai salah satu ajaran vital dalam psikologi Jawa, barangkali
resep ampuh untuk membasmi penyakit kultural yang kini melanda masyarakat kita:
sering membebankan kesalahan kepada orang lain. Ternyata, elan ilmu jiwa Jawa
sanggup memberi kontribusi yang tidak sedikit untuk menyembuhkan peradaban dari
penyakit seperti korupsi, kolusi, manipulasi, hipokrisi, dan seterusnya.
Lalu, siapa akan menyusul Darmanto,
Karkono �Kamajaya�, ataupun Geertz, Feith, Mulder dan Magnis, yang mengikuti
dan melestarikan tradisi kepujanggaan Ranggawarsita, untuk kemudian mencoba
menjadikan sastra Jawa yang eksploratif sebagai alternatif strategi kultural
dalam memperkaya upaya-upaya interpretasi budaya dan falsafah Jawa bagi
kepentingan manajemen di masa depan?
�������