Spiritualitas Sebagai Tren
title: Spiritualitas Sebagai Tren
writer: Sri Sultan HB X
source: Javannese Culture, Mar 5, '08 10:26 AM

Salah satu fenomena yang cukup mengherankan sekaligus menggembirakan pada masyarakat perkotaan adalah kecenderungan mereka pada hal-hal yang berkaitan dengan spiritualitas. Kita bisa menyaksikan misalnya, tren para artis yang melakukan ibadah umroh di bulan suci Ramadhan serta pemakaian simbol-simbol keagamaan secara serentak. Yang lebih menarik lagi adalah munculnya kelompok-kelompok tasawuf ataupun kelompok dzikir di kota-kota besar yang selalu dibanjiri peserta. Contoh konkret lainnya adalah ceramah-ceramah yang dilakukan oleh ustad-ustad muda, seperti Aa Gym ataupun M. Arifin Ilham yang bisa menarik ribuan jemaah masyarakat kalangan menengah ke atas.

Alasan yang mungkin bisa menjelaskan soal itu adalah,

Pertama, adanya kekeringan spiritual yang dirasakan oleh sebagian masyarakat modern setelah mereka hiruk-pikuk tenggelam dalam kehidupan dunianya. Rupanya, setelah mereka mendapatkan semua kebutuhan duniawi, kemudian merasa ada yang tidak seimbang dalam hidupnya.

Kedua, masyarakat modern merasa kehilangan pegangan hidup setelah terlelap dalam kehidupan materialismenya, kemudian mereka mengalami kebingungan epistemologi. Kehidupan kemudian menjadi teralienasi dari mesin-mesin ciptaannya sendiri. Indikasi-indikasi ini akhirnya menimbulkan sebuah tren pencerahan spiritual pada masyarakat modern di perkotaan.

Spiritualitas, sufisme khususnya, yang dianggap sebagai biang keladi kemunduran kejayaan Islam abad pertengahan, kini menjadi tren. Namun berbeda dengan ekspresi spiritual yang ditampilkan oleh sufi-sufi klasik yang lebih suka mengalienasi diri, zuhud, dan tidak suka dengan kehidupan dunia yang materialistis. Spiritualitas perkotaan rupanya lebih akomodatif dan toleran, buktinya para sufi perkotaan menaiki BMW, Ferrari, atau Opel Blazer.

Dari indikasi ini, setidaknya kita bisa menyimpulkan ada lima kecenderungan. Antara lain :

(1) pencarian makna hidup
(2) perdebatan intelektual dan peningkatan wawasan
(3) spiritualitas sebagai katarsis atau obat dari problem psikologi
(4) mengikuti tren dan perkembangan wacana
(5) sikap �mengeksploitasi� agama untuk kebutuhan ekonomi. (1. Dr. Komarudin Hidayat)

Dari kelima kategori kecenderungan masyarakat modern terhadap spiritualitas, mungkin kategori ketigalah yang lebih relevan dengan kecenderungan masyarakat modern sekarang. Alasannya, pertama, komunitas �mistis� modern menghendaki acara-acara spiritual disajikan dalam sajian-sajian yang instan serta dalam paket-paket istimewa yang siap saji. Kedua, komunitas �mistis� modern tidak terlalu mengharapkan penjelasan ilmiah dan rasional tentang pengetahuan keagamaan. Yang mereka harapkan adalah bagaimana sebenarnya dapat merasakan �mistik� itu.

Ketiga, mereka mengharapkan munculnya spirit baru yang lebih mendukung kehidupan berbisnis mereka yang materialistis. Tak heran kalau kemudian banyak acara spiritual yang disandingkan dengan tema-tema bisnis dan ekonomi seperti yang dilakukan Aa Gym.

Namun, bukan berarti kita harus menganggap negatif fenomena yang terjadi pada masyarakat modern sekarang. Kecenderungan masyarakat modern ini layaknyalah kita jadikan sebagai keyakinan, bahwa inilah sebuah religiusitas atau sebagai pintu menuju masyarakat yang beragama. Dengan kata lain, fenomena religiusitas ini adalah pintu gerbang menuju agama, mau dari arah mana pun yang penting pintu agama menjadi terbuka bagi masyarakat modern perkotaan. Sebaiknya, kemunculan kelompok-kelompok spiritual, kelompok-kelompok dzikir, ataupun fenomena sufisme itu seharusnya kita jadikan otokritik terhadap keberagamaan kita.(2. Ma'ruf Mutaqien)

-----------------------------------------------

1.Dr. Komarudin Hidayat, Urban Sufism, Alternative Paths to Liberalism and Modernity in Contemporary Islam, Workshop.

2.Ma�ruf Mutaqien, Eskapisme Masyarakat Modern, Fakultas Syariah, UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Jakarta

�������



 
 






Hosted by:
Edi Cahyono

E-Mail:

Edi Cahyono
Hosted by www.Geocities.ws

1