Salah satu fenomena yang cukup mengherankan sekaligus
menggembirakan pada masyarakat perkotaan adalah kecenderungan mereka pada
hal-hal yang berkaitan dengan spiritualitas. Kita bisa menyaksikan misalnya, tren
para artis yang melakukan ibadah umroh di bulan suci Ramadhan serta pemakaian
simbol-simbol keagamaan secara serentak. Yang lebih
menarik lagi adalah munculnya kelompok-kelompok tasawuf ataupun kelompok dzikir
di kota-kota besar yang selalu dibanjiri peserta. Contoh konkret lainnya
adalah ceramah-ceramah yang dilakukan oleh ustad-ustad muda, seperti
Aa Gym ataupun M. Arifin Ilham yang bisa menarik ribuan
jemaah masyarakat kalangan menengah ke atas.
Alasan yang mungkin bisa menjelaskan soal itu adalah,
Pertama, adanya kekeringan spiritual yang dirasakan oleh
sebagian masyarakat modern setelah mereka hiruk-pikuk tenggelam dalam kehidupan
dunianya. Rupanya, setelah mereka mendapatkan semua kebutuhan duniawi,
kemudian merasa ada yang tidak seimbang dalam hidupnya.
Kedua, masyarakat modern merasa kehilangan pegangan hidup
setelah terlelap dalam kehidupan materialismenya, kemudian mereka mengalami
kebingungan epistemologi. Kehidupan kemudian menjadi teralienasi dari mesin-mesin ciptaannya
sendiri. Indikasi-indikasi ini akhirnya menimbulkan
sebuah tren pencerahan spiritual pada masyarakat modern di perkotaan.
Spiritualitas, sufisme khususnya, yang dianggap sebagai
biang keladi kemunduran kejayaan Islam abad pertengahan, kini menjadi tren. Namun berbeda dengan
ekspresi spiritual yang ditampilkan oleh sufi-sufi klasik yang lebih suka
mengalienasi diri, zuhud, dan tidak suka dengan kehidupan dunia yang
materialistis. Spiritualitas perkotaan rupanya lebih akomodatif dan
toleran, buktinya para sufi perkotaan menaiki BMW, Ferrari, atau Opel Blazer.
Dari indikasi ini, setidaknya kita bisa menyimpulkan
ada lima kecenderungan. Antara lain :
(1) pencarian makna hidup
(2) perdebatan intelektual dan peningkatan wawasan
(3) spiritualitas sebagai katarsis atau obat dari problem psikologi
(4) mengikuti tren dan perkembangan wacana
(5) sikap �mengeksploitasi� agama untuk kebutuhan
ekonomi. (1. Dr. Komarudin Hidayat)
Dari kelima kategori kecenderungan masyarakat modern
terhadap spiritualitas, mungkin kategori ketigalah yang lebih relevan dengan
kecenderungan masyarakat modern sekarang. Alasannya, pertama, komunitas �mistis� modern
menghendaki acara-acara spiritual disajikan dalam sajian-sajian yang instan
serta dalam paket-paket istimewa yang siap saji. Kedua, komunitas �mistis� modern tidak
terlalu mengharapkan penjelasan ilmiah dan rasional tentang pengetahuan
keagamaan. Yang mereka harapkan adalah bagaimana
sebenarnya dapat merasakan �mistik� itu.
Ketiga, mereka mengharapkan munculnya spirit baru yang lebih
mendukung kehidupan berbisnis mereka yang materialistis. Tak heran kalau kemudian banyak acara
spiritual yang disandingkan dengan tema-tema bisnis dan ekonomi seperti yang
dilakukan Aa Gym.
Namun, bukan berarti kita harus menganggap negatif
fenomena yang terjadi pada masyarakat modern sekarang. Kecenderungan masyarakat
modern ini layaknyalah kita jadikan sebagai keyakinan, bahwa inilah sebuah
religiusitas atau sebagai pintu menuju masyarakat yang beragama. Dengan
kata lain, fenomena religiusitas ini adalah pintu
gerbang menuju agama, mau dari arah mana pun yang penting pintu agama menjadi
terbuka bagi masyarakat modern perkotaan. Sebaiknya, kemunculan
kelompok-kelompok spiritual, kelompok-kelompok dzikir, ataupun fenomena sufisme
itu seharusnya kita jadikan otokritik terhadap keberagamaan kita.(2. Ma'ruf Mutaqien)
-----------------------------------------------
1.Dr. Komarudin Hidayat, Urban Sufism, Alternative Paths to Liberalism and Modernity
in Contemporary Islam, Workshop.
2.Ma�ruf Mutaqien, Eskapisme Masyarakat Modern, Fakultas Syariah, UIN Syarif
Hidayatullah, Ciputat, Jakarta
�������