|
Perihal falsafah kepemimpinan Jawa, misalnya dapat kita telaah dari ajaran: �Manunggaling
Kawula-Gusti�, yang mengandung dua substansi: kepemimpinan dan kerakyatan. Hal
ini dapat ditunjukkan dari perwatakan patriotis Sang Amurwabumi (gelar Ken
Arok) yang menggambarkan sintese sikap �bhairawa-anoraga� atau �perkasa di
luar, lembut di dalam�. Di mana sikapnya selalu �menunjuk dan berakar ke bumi�
atau �bhumi sparsa mudra�, yang intinya adalah kepemimpinan yang berorientasi
kerakyatan yang memiliki komitmen:
�Setia pada janji, berwatak
tabah, kokoh, toleran, selalu berbuat baik dan sosial�.
Sedangkan prinsip-prinsip kepemimpinan Sultan Agung diungkapkan lewat: �Serat
Sastra-Gendhing�, yang memuat tujuh amanah. Butir pertama, �Swadana Maharjeng-tursita�, seorang pemimpin haruslah
sosok intelektual,
berilmu, jujur dan pandai menjaga nama, mampu menjalin
komunikasi atas dasar prinsip kemandirian. Kedua, �Bahni-bahna
Amurbeng-jurit�, selalu
berada di depan dengan memberikan keteladanan dalam membela keadilan dan
kebenaran. Ketiga, �Rukti-setya
Garba-rukmi�, bertekad
bulat menghimpun segala daya dan potensi, guna kemakmuran dan ketinggian
martabat bangsa. Keempat, �Sripandayasih-Krami�, bertekad menjaga sumber-sumber kesucian agama dan
kebudayaan, agar berdaya manfaat bagi masyarakat luas. Kelima, �Galugana-Hasta�, mengembangkan
seni-sastra, seni-suara dan seni tari, guna mengisi peradaban bangsa. Keenam, �Stiranggana-Cita�,
sebagai pelestari dan pengembang budaya, pencetus sinar pencerahan ilmu dan
pembawa obor kebahagiaan umat manusia. Dan yang terakhir, butir ketujuh, �Smara-bhumi
Adi-manggala�, tekad juang lestari untuk menjadi
pelopor pemersatu dari pelbagai kepentingan yang berbeda-beda dari waktu
ke waktu, serta berperan dalam perdamaian di mayapada.
Ada juga ajaran kepemimpinan yang lain, misalnya, �Serat Wulang Jayalengkara�
yang menyebutkan, seorang penguasa haruslah memiliki watak �Wong Catur� (empat
hal), yakni: retna, estri, curiga, dan paksi. Retna atau permata, wataknya
adalah pengayom dan pengayem, karena khasiat batu-permata adalah untuk
memberikan ketentraman dan melindungi diri. Watak estri atau wanita, adalah
berbudi luhur, bersifat sabar, bersikap santun, mengalahkan tanpa kekerasan
atau pandai berdiplomasi. Sedangkan curiga atau keris, seorang pemimpin
haruslah memiliki ketajaman olah-pikir, dalam menetapkan policy dan strategi di
bidang apa pun. Terakhir simbol paksi atau burung, mengisyaratkan watak yang
bebas terbang kemana pun, agar dapat bertindak independen tidak terikat oleh
kepentingan satu golongan, sehingga pendapatnya pun bisa menyejukkan semua
lapisan masyarakat.
Ini sekadar menunjukkan contoh, betapa kayanya piwulang para leluhur, selain
yang sudah teramat masyhur, yang termuat dalam episode Astha-Brata. Atau yang
lain, kepemimpinan ideal berwatak Pandawa-Lima, yang dikawal dengan kesetiaan
dan keikhlasan oleh seorang sosok Semar dan pana-kawan lainnya anak Semar. Di
mana deskripsi, derivasi dan penjabaran serta aplikasinya dalam suatu
kepemimpinan aktual mengundang kajian para budayawan dan cendekiawan kita.
Sementara untuk memahami keberadaan kita sekarang, mungkin ada baiknya jika
membuka lembaran Babad Giyanti. Tatkala Pangeran Mangkubumi sebelum jumeneng
Sri Sultan Hamengku Buwono I bergerilya di kawasan Kedu dan Kebanaran, pernah
berujar secara bersahaja, yang dikutip dalam Babad Giyanti: �Satuhune Sri
Narapati Mangunahnya Brangti-Wijayanti�. Ucapan itu menunjukkan keprihatinan
beliau, bahwa kultur Barat sebagai akses gencarnya politik kolonialisme Belanda
yang mencekik, niscaya akan membuat raja-raja Jawa terkena demam asmara dan
lemah-lunglai tanpa daya.
Keadaan ini harus dihadapi dengan �wijayanti�, untuk bisa berjaya dan tampil
sebagai pemenang. Maka dianjurkannya: �puwarane sung awerdi, gagat-gagat
wiyati�, untuk menjadi pemenang, seorang raja haruslah meneladani sikap tulus
tanpa pamrih, agar bisa menyambut cerahnya hari esok yang laksana biru nirmala.
Ungkapan ini rasanya amat relevan dengan keadaan sekarang ini, karena ada
paralelisme histori, di saat kita menghadapi hantaman derasnya arus
globalisasi, yang mengharuskan kita untuk tidak hanya berpangku tangan,
melainkan harus bersiap diri untuk lebih meningkatkan kualitas dalam semua
aspek kehidupan. Harus �eling lan waspada� menghadapi berbagai godaan dan
cobaan di zaman Kala-tidha ini, di mana banyak hal yang diliputi oleh keadaan
yang serba �tida-tida� � penuh was-was, keraguan, dan ketidakpastian.
�������
|

|
|
| |
| |
|