Pada 1983, Ben Anderson
menulis buku tentang nasionalisme yang kini hampir klasik, Imagined
Communities. Dalam buku tersebut, Anderson menyatakan bahwa
nasionalisme lahir bukan atas dasar ras, agama, atau daerah, melainkan
karena dibayangkan. Bangsa adalah komunitas yang dibayangkan karena
pada dasarnya anggotanya tidak mengenal satu sama lain, tapi dalam
benak masing-masing ada bayangan mengenai keterkaitan mereka sebagai
comradeship, persaudaraan yang horizontal dan mendalam. Imajinasi ini
hadir karena adanya pemahaman tentang waktu homogen dan kosong
(homogeneous, empty time), yang diukur dengan jam dan kalender.
Tesis tentang nasionalisme itu tampaknya masih dipertahankan Ben
Anderson sampai kini, setidaknya seperti terlihat dalam buku terbarunya
yang terbit pada akhir 1998. Buku ini merupakan kumpulan tulisannya
yang merangkum dua tema pokok: nasionalisme dan Asia Tenggara. Lima
esai tentang nasionalisme dalam buku tersebut menunjukkan bagaimana
Anderson mempertegas tesis Imagined Communities dengan memperluas
cakupan temanya, seperti soal dua model identitas modern dan posisi
eksil (exile) dalam nasionalisme di era kapitalisme global.
Ketika membicarakan pembentukan identitas pada masa modern (dalam esai
Nationalism, Identity and Logic of Seriality), profesor international
studies dari Cornell ini tetap menekankan pentingnya surat kabar yang
bisa membawa kondisi keserentakan dalam pembentukan imajinasi tentang
identitas tak terbatas.
Lihatlah Hadji Misbach, seorang haji komunis, yang tidak merasa dirinya
sebagai bagian dari kosmos Jawa, tapi bagian dari identitas
revolusioner, kesadaran ''zaman bergerak" (age in motion) yang berada
dalam satu rangkaian arus perubahan dunia. Ini terjadi pada 1920,
ketika ia berpidato di depan rapat akbar di Delanggu, kota kecil di
pelosok Jawa, tentang apa yang ia sebut sebagai djaman balik boeono
(revolusi) dengan merujuk, lewat surat kabar, peristiwa tumbangnya
monarki oleh kaum Republik di Oostenrijk (Austro-Hungaria). Lewat surat
kabar, Hadji Misbach yang Delanggu membayangkan dirinya berada dalam
keserentakan dengan kaum Republik Austro-Hungaria.
Identitas tak terbatas dan tak terikat ala Hadji Misbach ini, menurut
Anderson, berlawanan dengan identitas satunya yang cenderung terbatas
dan menyempit, yang juga kreasi modernitas. Inilah jenis identitas yang
dibentuk oleh sensus dan pemetaan, yang berpikir dalam kategori
numerik, dan melupakan adanya pecahan dan keragaman. Di sini identitas
dikhayalkan sebagai sesuatu yang utuh, anonim, dan total. Contohnya
adalah identitas berdasarkan etnisitas. Kategori mayoritas-minoritas
dalam nomenklatur politik pada dasarnya adalah ciptaan identitas
berwatak sensus macam ini.
Sementara itu, dalam esai Long Distance Nationalism, Anderson
membicarakan nasionalisme dalam konteks kapitalisme global, di mana
peran kaum eksil sangat menentukan. Agaknya bahasan ini menegaskan,
selain kapitalisme cetak, kapitalisme transportasi yang memungkinkan
rangkaian migrasi besar-besaran sejak abad ke-16 sampai kini harus
dihitung tatkala berbicara tentang nasionalisme. Menurut Anderson, saat
ini eksil politik bisa memainkan peran signifikan sebagai nasionalis
jarak jauh karena, di satu sisi, ia ''bebas" dari negaranya: tidak
membayar pajak dan tidak disiksa atau dipenjarakan rezim; tapi, di sisi
lain, sebagai kelompok yang cukup mapan di Dunia Pertama, ia bisa
mengirimkan uang, senjata, dan pamflet serta membangun sirkuit
komunikasi internasional untuk ''mengobok-obok" negaranya.
Seperti sudah disebutkan, selain menyajikan tema nasionalisme, buku ini
menampung tulisan Anderson tentang Asia Tenggara. Di sini lagi-lagi
kita akan menemukan sosok spesialis ahli Asia Tenggara plus. Ia bukan
saja poliglot (mahir dalam berbagai bahasa), tapi juga esais yang
menulis dengan bahasa yang evokatif dan bertenaga tentang pelbagai
wilayah Asia Tenggara (Indonesia, Thailand, dan Filipina) dengan alur
pikiran yang sering mengejutkan.
Tanpa kikuk dan kagok, ia bisa berpindah dari satu tema atau area ke
yang lainnya dengan daya pikat yang sama. Hal inilah yang membuat dia
tidak ''habis" tatkala pada 1972 ditangkal ke Indonesia karena
tulisannya dalam Cornell Papers tentang G30S/PKI. Segera saja ia
mendalami studi Thailand dan mulai melihat Indonesia tidak lagi dari
lapangan, tapi dari naskah-naskah kuno. Dan di sinilah justru teruji
tingkat erudisi sarjana yang lahir di Cina dan sampai kini tetap
berkebangsaan Irlandia ini.
Dalam Professional Dreams, misalnya, Anderson menunjukkan aspek
''heterodoks" dan ''radikal" dalam budaya Jawa, dengan menelaah Serat
Centhini (abad ke-18) yang menggambarkan sodomi dan Suluk Gatholoco
(abad ke-19) yang menjadikan penis yang beronani sebagai sang hero
dalam kisah ini (gatho: penis, ngloco: onani). Penis ini digambarkan
jelek, bau, suka berdebat dengan tokoh agama, dan suka mengisap opium.
Anderson menganggap Centhini dan Gatholoco sebagai ungkapan utopia
fantasmagoria khas Jawa (fantasmagoria adalah istilah dari Walter
Benjamin yang artinya ''suasana seperti mimpi"). Fantasmagoria ini,
dalam bacaan Anderson—meminjam analisis Ann Kumar—mencerminkan adanya
antagonisme kalangan seni dan budaya terhadap kelas bangsawan yang
berkedudukan tinggi tapi tak menghasilkan apa-apa.
Dalam kesempatan lain, ketika menulis politik Thailand, Anderson secara
mengejutkan mengaitkan pembunuhan politik di Thailand pada 1980-an
dengan transformasi politik dari kediktatoran birokrat-militer menuju
sistem politik parlementer borjuis yang lebih stabil. Sistem
parlementer adalah sistem yang paling cocok dengan kepentingan borjuasi
baru di Thailand sehingga untuk memperoleh kursi diperlukan segala daya
dan dana. Pembunuhan-pembunuhan politik yang dilakukan demi memenangi
kursi parlemen, seperti yang diduga dilakukan oleh Kamnan Poh menjelang
pemilihannya sebagai Wali Kota Saensuk, adalah indikasi pentingnya arti
parlemen dalam politik Thailand.
Karena menggeluti pelbagai wilayah dan tema, tak ada salahnya jika
perspektif Anderson acap kali mendedahkan suatu ''mambang perbandingan"
(spectre of comparisons). Istilah yang lantas menjadi judul buku ini
dia pinjam dari ungkapan Jose Rizal, el demonio de las comparaciones,
dalam novel nasionalisnya, Noli Me Tangere. Mambang perbandingan itu
sendiri dalam pengalaman Anderson bermula pada 1963 ketika ia
terperanjat mendengar Soekarno mengagumi Hitler—bukan sebagai Hitler
yang fasis, anti-Semit, atau pembantai, melainkan sebagai nasionalis
yang mampu menggerakkan Jerman membangun keagungan Third Reich. Sebagai
orang Eropa yang melihat kejahatan Hitler secara taken for granted, ia
menjadi pening oleh pujian Soekarno terhadap sikap nasionalis Hitler.
Ia seperti dipaksa melihat Hitler dengan teleskop terbalik. Dan
pandangan teleskop terbalik yang selalu menghantuinya bertahun-tahun
setelah itu merupakan momen yang mengilhami cara pandangnya kemudian
yang juga dihantui mambang perbandingan.
Kritik kecil terhadap buku ini: tak ada tulisan Anderson yang berisi
tanggapan baliknya atas kritik dan komentar sarjana lain, misalnya
Ernest Gellner, Partha Cattherjee, dan Homi Bhaba, terhadap tesis
nasionalismenya. Kita tidak tahu bagaimana Anderson mempertahankan
tesisnya. Tapi, bagaimanapun, meski tidak semonumental Imagined
Communities, buku The Spectre of Comparisons tetaplah karya berharga
untuk studi nasionalisme dan Asia Tenggara.
Ahmad Sahal Freedom Institute
�������