| title: |
Menyingkap Sejarah Hindu-Jawa |
| writer: |
M. Faliqul Isbah |
| source: |
Komunitas Ruang Baca Tempo, 25, 09, 2008 |
|
Judul Buku: Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa
dan Timbulnya Negara-Negara Islam di
Nusantara Penulis: Prof. Dr. Slamet
Muljana Penerbit: LKiS, Yogyakarta Cetakan:
I, September 2005 Tebal: viii + 303 Hlm
(indeks)
Kenyataan sejarah kadang-kadang
terlalu pahit untuk ditelan dan terlalu pedas
untuk dirasakan. Sejarah adalah kaca benggala yang
memuat pelbagai fakta yang pernah terjadi pada
masa silam. Segala hal yang telah tergores dalam
kaca sejarah, tak kan lagi bisa terhapus. Orang
yang tidak senang mungkin akan berusaha untuk
menyelubunginya atau melupakannya, tetapi ia tidak
akan mampu untuk melenyapkannya. Orang dapat
membuat pelbagai macam tafsir, tapi fakta sejarah
yang ditafsirkan tidak akan
berubah.
Begitupun juga dengan sejarah
keruntuhan Majapahit, yang diiringi bertumbuhnya
negara-negara Islam di bumi Nusantara, menyimpan
banyak sekali fakta sejarah yang menarik untuk
diungkit kembali. Sebagai kerajaan tertua di tanah
Jawa, Majapahit bukan saja menjadi romantisme
sejarah dari puncak kemajuan peradaban Hindu-Jawa,
tetapi juga menjadi bukti sejarah tentang
pergulatan politik yang terjadi di tengah
islamisasi pada masa peralihan menjelang dan
sesudah keruntuhannya.
Buku karya Slamet
Muljana, sejarawan dan juga filolog Universitas
Indonesia ini, selain melacak asal-muasal
keruntuhan Majapahit, juga mencurahkan perhatian
pada peran orang-orang Cina (Tionghoa) dalam
proses islamisasi di Nusantara. Temuan Muljana
membantah sekaligus mengkritik tesis yang telah
lazim diterima oleh banyak sejarawan yang
menyatakan bahwa Islam Nusantara adalah prototipe
lain dari Islam yang berkembang di jazirah Arab.
Menurut Muljana, Islam yang ada di
Nusantara, dan di Jawa khususnya, bukanlah Islam
yang �murni� dari Arab, melainkan Islam hibrida
yang memiliki banyak varian. Berbagai anasir juga
turut menyertai perkembangannya. Dalam buku
ini, Muljana banyak menyitir dokumen-dokumen
sejarah tak resmi, seperti Babad Tanah Jawi dan
Serat Kanda. Padahal keduanya dibuat pada zaman
kerajaan Mataram abad ke-17 dan beberapa sejarawan
sempat mempertanyakan keabsahan tulisan yang ada
dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda. Karena
dalam kedua cerita itu, sejarah dijalin dengan
dongeng sehingga sulit membedakan mana yang
benar-benar fakta dan mana yang hanya fiksi.
Lebih-lebih, kedua cerita itu tidak merujuk pada
sumber sejarah yang dapat dipercaya, seperti
prasasti dan karya sejarah tentang Majapahit dalam
buku Pararaton dan Negarakertagama.
Buku
yang terbagi dalam sembilan bagian ini tak hanya
berpijak pada Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda,
tapi juga pada sejumlah arsip ringkasan Preambule
Prasaran, berita Tionghoa dari klenteng Talang,
sumber berita Portugis, dan dari klenteng Sam Po
Kong Semarang yang ditulis oleh Poortman dan
dikutip Mangaraja Onggang (M.O) Parlindungan.
Residen Poortman tahun 1928 ditugasi pemerintah
kolonial untuk menyelidiki apakah Raden Fatah itu
orang Cina atau bukan sebagai dasar rujukan
awal.
Perkembangan peristiwa itu ternyata
menjadi sejarah politisasi bahwa Cina dikaitkan
dengan pemberontakan Partai Komunis Indonesia
(PKI) 1926/1927. Maka, sang Residen itu
menggeledah Kelenteng Sam Po Kong Semarang untuk
mengangkut naskah berbahasa Tionghoa yang terdapat
di sana, sebagian sudah berusia 400 sampai 500
tahun, sebanyak 3 cikar (pedati yang ditarik
lembu). Arsip Poortman ini dikutip oleh M.O
Palindungan yang juga menulis buku kontroversial,
Tuanku Rao.
Berpijak pada sumber-sumber
itulah, Muljana mengisahkan bahwa pada 1445, Raden
Rahmad atau Sunan Ampel adalah pendatang asal
Yunan yang bernama asli Bong Swi Hoo, cucu Bong
Tak Keng, penguasa tertinggi Campa. Kemudian pada
1447, Sunan Ampel mengawini wanita keturunan Cina
bernama Ni Gede Manila yang merupakan anak Gan Eng
Cu (mantan Kapten Cina di Manila yang dipindahkan
ke Tuban sejak tahun 1423). Dari perkawinan ini
lahirlah Sunan Bonang yang juga berasal dari
bahasa Cina, Bong Ang.
Putra Gan Eng Cu
yang lain adalah Gan Si Cang yang menjadi Kapten
Cina di Semarang. Tahun 1481 Gan Si Cang memimpin
pembangunan Masjid Demak dengan tukang-tukang kayu
dari galangan kapal Semarang. Muljana menyebutkan
bahwa Sunan Kalijaga yang masa mudanya bernama
Raden Said itu tak lain dari Gan Si Cang.
Sedangkan Sunan Gunung Jati atau Syarif
Hidayatullah, menurut Muljana, adalah Toh A Bo,
putra dari Tung Ka Lo, alias Sultan Trenggana
(halaman 105).
Tak hanya keempat sunan itu
yang keturunan Cina. Dalam buku ini, Sunan Giri,
yang murid Sunan Ampel, juga berasal dari Cina.
Ini dikaitkan dengan ayah Sunan Giri yang bernama
Sayid Ishak, yang tak lain adalah paman dari Sunan
Ampel alias Bong Swi Hoo sendiri. Sementara itu,
Sunan Kudus atau Jafar Sidik juga disinyalir
keturunan Cina bernama Ja Tik Su.
Dalam
kesimpulan buku ini setidaknya ada enam wali yang
merupakan keturunan Cina. Namun, kelemahan
Muljana, sebagaimana ditulis Asvi Warman Adam
dalam pengantarnya, bahwa Muljana hanya
mendasarkan kesimpulannya pada buku yang ditulis
oleh M.O Parlindungan dan tidak memeriksa sendiri
naskah-naskah yang berasal dari klenteng Sam Po
Kong Semarang itu.
Terlepas dari beberapa
kelemahan Muljana dalam mengambil kesimpulan bahwa
enam Wali Songo tersebut mengalir darah Cina,
penggunaan sumber-sumber dalam buku ini tak pelak
menghasilkan sebuah pembacaan sejarah dari
perspektif �lain�, yang berbeda dari pembacaan
dominan yang terlalu mengandalkan
literatur-literatur resmi. Keuntungan yang kita
peroleh dari rekonstruksi dengan cara demikian
amatlah banyak dan berharga. Kita bukan saja
disuguhi versi sejarah yang �tak resmi�, tapi juga
kisah, dongeng, dan fakta-fakta menarik lainnya
yang luput dari perhatian banyak
orang.
Sebelumnya, buku ini pernah
diterbitkan penerbit Bhratara, Jakarta, pada 1968.
Tapi lalu dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung
pada 1971, karena mengungkap hal-hal yang
kontroversial waktu itu tentang enam Wali Songo
berasal dari Cina.
Memang, saat Orde Baru
berkuasa, berbagai hal yang berbau Cina
disingkirkan secara sistematis. Dengan idiologi
pembangunanisme-nya Orde Baru memunculkan sentimen
anti-Cina dalam banyak hal, termasuk dalam
penulisan sejarah. Tapi pada era reformasi yang
telah berusia ketujuh ini, ada baiknya pendapat
Muljana dalam buku ini dikaji ulang dengan pikiran
yang lebih tenang.
M. Faliqul
Isbah, Mantan PU Majalah Arena UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta.
�������
|

|
|
| |
| |
| | |