Lagi-lagi, kita membicarakan sesuatu yang berkenaan dengan
kebudayaan Jawa. Dalam situasi di mana Jawa sekarang dipersoalkan
oleh semua orang, pembicaraan semacam ini boleh jadi dianggap
mengafirmasi apa yang sering dianggap sebagai "dominasi" kebudayaan
Jawa di Indonesia. Akan tetapi, kebudayaan Jawa memang menyuguhkan
'magic' yang tak habis-habisnya. Studi mengenai Jawa tak pernah
membosankan, karena terdapat segi-segi yang terus memikat untuk
dilihat. Salah satu tema yang menarik adalah hubungan antara kejawaan
dan keislaman yang melahirkam sejumlah teori di tangan para ahli.
Persoalan pokok yang tampil di sini adalah berkenaan dengan kedudukan
Islam sebagai agama orang Jawa: apakah Islam di situ masih tegak
sebagai agama yang "pristin", tidak terpengaruh oleh unsur-unsur
lokal, atau justru mengalami "distorsi" ketika mulai bertemu dengan
jenius setempat?
ISLAM DAN KEJAWAAN
Serat Centhini, sebuah karya penting dalam sastra Jawa yang
ditulis pada abad ke-19, saya kira, bisa memberikan sedikit gambaran,
bagaimana agama Islam dipersepsi oleh orang-orang Jawa, terutama oleh
lapisan elite dalam masyarakat ini.
Salah satu teori yang dikemukakan oleh sejumlah ahli adalah teori
mengenai "sinkretisme", atau percampuran antara Islam dengan
unsur-unsur lokal Jawa dalam cara yang tidak genuine dan sedikit agak
dipaksakan. Sebutan "sinkretisme" sebetulnya mengandung semacam
ejekan: bahwa Islam tidak lagi tampil sebagai dalam wujudnya yang
asli, tetapi sudah tercampur dengan unsur-unsur yang eksternal
sifatnya. Islam yang "sinkretis", sebagaimana kita lihat dalam
masyarakat Jawa, dengan demikian menggambarkan suatu genre keagamaan
yang sudah jauh dari sifatnya yang "murni" di tempat asalnya di Timur
Tengah.
Di samping itu, sebutan "Islam sinkretis" sebenarnya mengandung
asumsi tersembunyi, bahwa seolah-olah unsur utama di situ adalah
Islam, sementara kejawaan adalah unsur tambahan yang menyebabkan
unsur utama tersebut mengalami pemiuhan. Dengan demikian, sebutan
tersebut juga memandang kejawaan sebagai "yang lain": unsur eksternal
yang kehadirannya harus diwaspadai. Saya kira ini bisa kita lihat
pada sejumlah tulisan yang menggunakan pendekatan "sinkretisme" dalam
melihat hubungan antara kejawaan dan Islam. Perhatian pertama-tama
diberikan pada Islam sebagai "tradisi besar" yang mempunyai
elemen-elemen kanonik yang bersifat "universal", baru kemudian datang
kejawaan sebagai unsur lokal yang mencerminkan "tradisi kecil" yang
terbatas jangkauannya. Kalau kita baca sejumlah studi yang sudah
klasik selama ini, seperti Clifford Geertz dalam Religion of Java
(1976), akan tampak bahwa kejawaan dilihat semata-mata sebagai unsur
eksternal yang membuat Islam mengalami transformasi bentuk.
Akan tetapi, sebutan yang sama sebetulnya juga bisa berarti
"penaklukan" masyarakat Jawa terhadap Islam yang justru dianggap
sebagai "yang lain". Kejawaan adalah elemen dasar yang membentuk
"kosmos" masyarakat Jawa yang unsur-unsurnya dibangun melalui
percampuran antarpelbagai elemen yang juga datang dari "luar" (di
sini persoalan "yang lain" dalam kebudayaan Jawa menjadi soal yang
rumit, karena amat sukar mengatakan bahwa ada unsur-unsur yang benar-
benar bisa diandaikan sebagai "asli" dalam masyarakat Jawa).
pendekatan ini digunakan oleh Harry J Benda. Dalam studinya yang amat
terkenal, The Crescent and the Rising Sun (kemudian lebih tegas lagi
ia tuliskan dalam Continuity and Change in Indonesian Islam di Asian
and African Studies, vol. 1, 1965), Benda mengemukakan sebuah teori
tentang penjinakan Islam oleh masyarakat Jawa. Benda mendasarkan
teorinya ini atas studinya mengenai perkembangan Islam dalam rentang
waktu antara abad ke-16 hingga ke-18. Pada periode itu, berlangsung
pasang-surut hubungan antara Islam dan kejawaan, yang tercermin dalam
persaingan antara dua kerajaan yang saling berebut pengaruh, yaitu
kerajaan Islam di Demak yang memegang bentuk Islam yang kurang lebih
"ortodoks", dan kerajaan Mataram Islam yang lebih cenderung pada
bentuk Islam yang sinkretik dan heterodoks. (Sebenarnya dalam
lingkungan Demak sendiri, juga berlangsung persaingan yang keras
antara ortodoksi Islam yang tercermin dalam figur wali sembilan dan
heterodoksi Islam yang tampil dalam figur Syeh Siti Jenar).
Teori "domestifikasi Islam" ini mengandaikan bahwa kejawaan tidak
serta merta bisa ditundukkan begitu saja oleh Islam sebagai unsur
eksternal yang sama sekali asing. Kemenangan Mataram atas Demak
menggambarkan kemenangan Islam sinkretik atas Islam ortodoks yang
dikembangkan oleh para wali sembilan. Dengan cara inilah, Benda
mencoba menerangkan kekalahan kelompok Masyumi terhadap aristokrasi
Jawa dan kelompok sekular dalam perdebatan di konstituante mengenai
negara Islam di tahun 50-an. Benda, antara lain, menulis,
Karena itu, dilihat dari kerangka nasionalisme Jawa-sebagai-
pusat, Islam, atau lebih khusus lagi, jenis Islam seperti Masyumi,
harus dilihat sebagai pengaruh yang sejak dari awalnya sudah asing
dan non-Jawa, bahkan malah "non-Indonesia". Pancasila, ideologi resmi
negara, adalah Jawa, teistik, secara samar monoteistik, tetapi yang
pasti bukan Islam. (Saya pinjam dari terjemahan Ihsan Ali-Fauzi
terhadap bukunya Bachtiar Effendi, Islam dan Negara [hlm. 30].
Sejumlah penulis masih menggunakan kerangka yang sama dalam
menganalisa hubungan antara Islam dan pemerintah Orde Baru yang
dianggap juga mencerminkan perpanjangan dari dunia Jawa dalam politik
Indonesia modern. Kemenangan pemerintah Orba di tahun 1984 dalam
"memaksakan" penggunaan Pancasila sebagai asas tunggal kepada
ormas-ormas Islam, dianggap juga sebagai perulangan tema lama
mengenai "domestifikasi Islam". Dalam kaca mata ini, sebutan "Islam
sinkretik" justru menunjukkan keunggulan kebudayaan Jawa yang
dianggap resilien terhadap unsur asing. Sebaliknya, Islam justru
dianggap sebagai unsur luar yang tidak serta merta bisa memaksakan
suatu kepercayaan baru, dan menghapuskan begitu saja kepercayaan yang
sudah lama mengakar.
Studi-studi mutakhir dalam bidang keislaman makin cenderung
melihat hubungan Islam dan budaya lokal dalam kerangka semacam ini,
yaitu dalam konteks resistensi kebudayaan setempat atas penetrasi
unsur-unsur luar seperti Islam. Dalam nada yang merayakan apa yang
disebut sebagai kondisi postmodernitas, antropolog Islam asal
Pakistan yang kini tinggal di Inggris, Akbar S Ahmed (dalam Islam dan
Postmodernisme), menunjukkan bahwa hubungan antara Islam sebagai teks
besar" dengan kebudayaan setempat sebagai "teks kecil" (dua istilah
ini dari saya sendiri) tidak lagi dilihat dalam kerangka penundukan",
tetapi justru dalam kerangka makin beragamnya ekspresi Islam setelah
bertemu dengan unsur-unsur lokal, termasuk juga dalam kaitannya
dengan pertemuan antara Islam dengan kebudayaan pop. Islam tidak saja
dilihat sebagai unsur yang universal, tetapi juga akomodatif.
Sementara kebudayaan lokal tidak dipandang sebagai unsur "rendah"
yang harus mengalah kepada Islam, sebab jenius setempat ini juga bisa
menolak terhadap unsur-unsur baru. "Sinkretisme Islam" tidak lagi
dipandang sebagai sesuatu yang pejoratif, tetapi justru
memperlihatkan adanya "dialog".
RESISTENSI TERSELUBUNG
Serat Centhini, sebagaimana kita tahu, ditulis oleh sejumlah
pujangga di lingkungan Keraton Surakarta yang diketuai oleh Kanjeng
Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunagara III, putra mahkota Sunan
Pakubuwana IV. Karya yang terkenal dengan sebutan Serat Centhini atau
Suluk Tambangraras-Amongraga ini ditulis pada tahun 1742 dalam
penanggalan Jawa, atau 1814 dalam tahun Masehi. Karya ini boleh
dikatakan sebagai semacam ensiklopedi mengenai dunia dalam masyarakat
Jawa. Sebagaimana tercermin dalam bait-bait awal, serat ini ditulis
memang dengan ambisi sebagai perangkum baboning pangawikan Jawi, atau
katakanlah semacam database pengetahuan Jawa. Jumlah keseluruhan
serat ini adalah 12 jilid. Aspek-aspek ngelmu yang dicakup dalam
serat ini meliputi persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia
keris, kerawitan dan tari, tata cara membangun rumah, pertanian,
primbon atau horoskop, soal makanan dan minuman, adat istiadat,
cerita-cerita kuna mengenai tanah Jawa dan lain-lainnya.
Yang ingin ditunjukkan dalam tulisan ini adalah bagaimana Islam
menjadi elemen pokok yang mendasari seluruh kisah dalam buku ini,
tetapi ia telah mengalami "pembacaan" ulang melalui optik pribumi
yang sudah tentu berlainan dengan Islam standar. Islam tidak lagi
tampil sebagai "teks besar" yang "membentuk" kembali kebudayaan
setempat sesuai dengan kanon ortodokasi yang standar. Sebaliknya,
dalam Serat Centhini, kita melihat justru kejawaan bertindak secara
leluasa untuk "membaca kembali" Islam dalam konteks setempat, tanpa
ada semacam kekikukan dan kecemasan karena "menyeleweng" dari kanon
resmi. Nada yang begitu menonjol di sana adalah sikap yang wajar
dalam melihat hubungan antara Islam dan kejawaan, meskipun yang
terakhir ini sedang melakukan suatu tindakan "resistensi". Penolakan
tampil dalam nada yang "subtil", dan sama sekali tidak mengesankan
adanya "heroisme" dalam mempertahankan kebudayaan Jawa dari penetrasi
luar.
Barangkali, Serat Centhini bisa kita anggap sebagai cerminan dari
suatu periode di mana hubungan antara Islam dan kejawaan masih
berlangsung dalam watak yang saling mengakomodasikan, dan tidak
terjadi kontestasi antara keduanya secara keras dan blatant.
Sebagaimana kita tahu, dalam perkembangan pasca-kemerdekaan,
identitas kejawaan makin mengalami "politisasi" dalam menghadapi
naiknya kekuatan Islam yang cenderung "puritan" dalam kancah politik.
Dalam konteks semacam ini, antara kedua identitas ini (Islam dan
Jawa), terdapat hubungan yang tegang dan penuh prasangka. Ketegangan
ini terus berlanjut hingga dalam pemerintahan Orba.
Serat disusun berdasarkan kisah perjalanan putra-putri Sunan Giri
setelah dikalahkan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya, ipar Sultan
Agung dari Kerajaan Mataram. Kisah dimulai setelah tiga putra Sunan
Giri berpencar meninggalkan tanah mereka untuk melakukan perkelanaan,
karena kekuasaan Giri telah dihancurkan oleh Mataram. Mereka adalah
Jayengresmi, Jayengraga, dan seorang putri bernama Rancangkapti.
Dengan diikuti oleh dua santri, Gathak dan Gathuk, Jayengresmi
melakukan "perjalanan spiritual" ke sekitar keraton Majapahit,
Blitar, Gamprang, hutan Lodhaya, Tuban, Bojanagara, hutan Bagor,
Gambiralaya, Gunung Pandhan, desa Dhandher, Kasanga, Sela, Gubug
Merapi, Gunung Prawata, Demak, Gunung Muria, Pekalongan, Gunung
Panegaran, Gunung Mandhalawangi, Tanah Pasundan, Bogor, bekas keraton
Pajajaran, Gunung Salak, dan kemudian tiba di Karang. Dalam
perjalanan ini, Jayengresmi seperti mengalami "pendewasaan
spiritual", karena bertemu dengan sejumlah guru, tokoh-tokoh gaib
dalam mitos Jawa kuna, dan sejumlah juru kunci makam-makam keramat di
tanah Jawi. Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh itu, dia belajar
mengenai segala macam pengetahuan dalam khazanah kebudayaan Jawa,
mulai dari candi, alamat bunyi burung gagak dan prenjak, khasiat
burung pelatuk, petunjuk pembuatan kain lurik, pilihan waktu
bersanggama, perhitungan tanggal, hingga ke kisah Syeh Siti Jenar.
Jayengsari dan Rancangkapti berkelana dengan diiringi oleh santri
Buras ke Sidacerma, Pasuruhan, Ranu Grati, Banyubiru, kaki Gunung
Tengger, Malang, Baung, Singasari, Sanggariti, Tumpang, Kidhal,
Pasrepan, Tasari, Gunung Brama, Ngadisari, Klakah, Kandhangan,
Argapura, Gunung Rawun, Banyuwangi, terus ke Pekalongan, Gunung
Perau, Dieng, sampai ke Sokayasa di kaki Gunung Bisma Banyumas. Dalam
perjalanan itu, mereka berdua mendapatkan pengetahuan mengenai adat-
istiadat tanah Jawi, syariat para nabi, kisah Sri Sadana, pengetahuan
mengenai wudlu, shalat, pengetahuan (yang terkesan agak bertakik-
takik dan njlimet) mengenai dzat Allah, sifat, asma dan afngal-Nya,
sifat dua puluh, Hadis Markum, perhitungan selamatan orang meninggal
dunia, serta perwatakan Kurawa dan Pandawa.
Melihat luasnya daerah serta lingkup pengetahuan yang dipelajari
ketiga putra-putri Giri itu, tampak sekali ambisi penggubah kisah
dalam Serat Centhini ini untuk "menerangkan" secara menyeluruh "dunia
dalam" orang Jawa. Dengan demikian, serat ini juga bisa digunakan
sebagai titik masuk untuk mengetahui bagaimana dunia Jawa "plausible"
dan bermakna buat orang-orang Jawa sendiri. Sekaligus juga adalah
bagaimana Islam "bermakna" dalam konteks tatanan kosmik mereka.
Melihat jenis-jenis pengetahuan yang dipelajari oleh ketiga
putra-putri Giri tersebut, tampak dengan jelas unsur-unsur Islam yang
"ortodoks" bercampur baur dengan mitos-mitos di tanah Jawa. Ajaran
Islam yang ortodoks mengenai sifat Allah yang dua puluh, misalnya,
diterima begitu saja, tanpa harus membebani para penggubah ini untuk
mempertentangkan ortodoksi itu dengan mitos-mitos dalam khazanah
kebudayaan Jawa. Dua-duanya disandingkan begitu saja secara
"sinkretik", seolah antara alam "monoteisme" dengan
paganisme"/"animisme" Jawa tidak terdapat pertentangan yang
merisaukan.
Seperti telah dikemukakan di atas, dalam serat ini, Islam memang
tidak dipandang semata-mata sebagai unsur eksternal yang "membebani"
unsur lokal, bahkan pertentangan (katakan saja) weltanschauung antara
kedua dunia itu (Islam dan Jawa) sama sekali tidak dipersoalkan.
Begitu saja diandaikan bahwa keduanya commensurable dan saling bisa
bertukar tempat. Tetapi, anehnya, dengan cara seperti inilah Jawa
(sebagaimana ditampilkan oleh serat ini) melakukan "resistensi" (atau
"domestifikasi", dalam istilah Benda) atas Islam. Penggubah serat ini
seolah-olah tidak mau tahu bahwa Islam sebagaimana tampil dalam
korpus standar membawa sejumlah "efek ikonoklastik" atas kepercayaan
setempat. Saya tidak tahu, apakah penggubah serat ini "pura-pura"
tidak tahu, tidak tahu sama sekali, atau sadar mengenai kontradiksi
antara Jawa dan Islam lalu melakukan "pembacaan" yang sifatnya lain.
Saya lebih cenderung pada kemungkinan yang terakhir ini. Kontradiksi
antara Islam dan Jawa yang menjadi tema pokok gerakan reformasi dan
pembaharuan Islam di awal abad dua puluh, sama sekali tidak kelihatan
dalam serat ini. Inilah barangkali "resistensi terselubung"
kebudayaan Jawa atas "teks besar" yang bernama Islam.
Dalam bukunya yang terakhir berjudul Beyond Belief: Islamic
Excurtions Among the Converted Peoples (1998 [penekanan dari
saya-UAA]), VS Naipaul, penulis Trinidad yang berkunjung beberapa
kali ke Indonesoia, membuat suatu kesimpulan yang agak provokatif
mengenai hubungan antara Islam dengan kebudayaan lokal di sejumlah
negara, termasuk Indonesia. Dengan nada sinis, Naipaul, antara lain,
mengatakan,
Islam is in its origins an Arab religion. Everyone not an Arab
who is a Muslim is a convert. Islam is not simply a matter of
conscience or private belief. It makes imperial demands. A convert's
world view alters. His holy places are in Arab lands; his sacred
language is Arabic. His idea of history alters The convert has to
turn away from everything that is his. (Cetak tebal dari saya-UAA)
Saya kira, Naipaul di sini sedang berbicara mengenai apa yang
tadi saya sebut sebagai "efek ikonoklastik" Islam terhadap unsur-
unsur lokal. Kehadiran Islam dalam konteks kultur lokal, dalam
pandangan Naipaul, akan mempunyai dampak penghancuran terhadap yang
terakhir itu. Seandainya statement Naipaul ini bisa dibenarkan dalam
konteks masyarakat Islam di luar Jawa atau Indonesia, untuk konteks
Jawa di mana kita berbicara mengenai Serat Centhini, pernyataan
semacam itu jelas tidak bisa dibenarkan. Membaca Serat Centhini, kita
mendapat kesan bahwa boro-boro Islam ingin menggantikan pandangan
dunia orang Jawa, tempat-tempat suci serta bahasa mereka, seperti
tercermin dalam pengamatan Naipaul itu. Agama "baru" ini bahkan tidak
bisa mengusir sejumlah mitos dan semacam "paganisme" dalam masyarakat
Jawa yang sudah mengakar sejak berabad-abad di sana, seperti kita
lihat dalam jenis-jenis ngelmu yang dipelajari oleh ketiga putra-
putri Giri di atas.
TUMPUKAN
Marilah kita lihat, bagaimana penggubah Serat Centhini ini
"menyandingkan" dengan rileks dan tanpa beban antara "ortodoksi"
Islam dengan unsur-unsur yang paganistis. Dalam Kinanthi ke-23, bait
31-27, misalnya, dikisahkan sebagai berikut (saya kutip dari naskah
Serat Centhini yang telah disadur dan diterbitkan oleh Balai Pustaka,
1991).
"Fajar telah menyingsing, mereka (maksudnya: Jayengresmi dan
kedua santrinya, Gathak dan Gathuk) mengambil air wudhu, lalu
sembahyang subuh. Setelah selesai sembahyang, mereka pergi dari
Sugihwaras, tiba di kaki Gunung Pandhan. Mereka mendakinya dan
tibalah mereka di Desa Kedhaton. Mereka menyeberangi sungai yang
mengalir ke selatan, airnya sangat jernih lagi bening. Di sana mereka
melihat tulang-tulang besar berserakan banyak sekali. Jayengresmi
berjalan terus hingga sampai di kaki Gunung Gambiralaya. Tiba di atas
mereka melihat pertapaan yang dikelilingi tanggul ditanami bunga
mawar yang harum semerbak. Di luar pematang jalan sebelah tenggara
terdapat arca batu hitam, sikapnya seperti lelaki memangku alat
kelaminnya. Arca tersebut telah pisah dengan tubuhnya. (Alat
kelaminnya) hanya sebesar pohon pinang. Gathak Gathuk tertawa
terbahak-bahak (ketika melihatnya), karena melebihi kepunyaan arca Ki
Gaprang, kalah panjang dan besar."
Kisah selanjutnya kemudian diikuti dengan pertemuan ketiga orang
itu dengan seorang lurah yang bernama Ki Padhang yang menjelaskan
mengenai beberapa pemandangan yang mereka lihat di Gunung Gambiralaya
itu. Pola pengkisahan dalam serat ini boleh dikatakan mengikuti
sebuah "formula naratif" seperti yang tercermin dalam penggalan yang
saya kutip itu: mereka berjalan, lalu istirahat, menunaikan shalat,
dan kemudian berjalan kembali, dan berjumpa dengan sejumlah tempat
keramat, guru, dan mitos-mitos Jawa kuna. Yang menarik di sini adalah
bahwa ritual shalat diulang-ulang dalam setiap narasi, seolah ingin
menunjukkan bahwa pelaku-pelaku dalam kisah ini adalah orang-orang
yang secara agama adalah taat, dan boleh jadi masuk dalam kategori
"santri" dalam pengertian yang lebih longgar dari yang didefinisikan
oleh Geertz. Identitas kesantrian dan kejawaan bersanding tanpa ada
soal yang merisaukan.
Dan, saya kira, inilah pengertian pokok dari "sinkretisme":
penjejeran dua gagasan kebudayaan tanpa mempersoalkan "kontradiksi"
dan "koherensi logis" dari keduanya, karena paksaan-paksaan yang
sifatnya pragmatis. Sinkretisme mirip sebuah "montase budaya" yang
kita lihat dalam produk-produk kebudayaan pop sekarang ini, dengan
perbedaan pokok bahwa pada yang terakhir ini "motif praktis" yang
dominan adalah kepentingan pasar dan konsumerisme. Sementara pada
sinkretisme, tampaknya motif pokok di sana adalah semacam "dorongan
subsisten" dalam masyarakat Jawa. Yang saya maksud adalah dorongan
agar tetap bertahan "hidup" ketika ada "serbuan" unsur-unsur baru
yang membawa "pandangan dunia" yang lain.
Jika Serat Centhini kita jadikan sandaran penilaian, maka suatu
kesimpulan sementara yang bisa kita katakan mengenai Islam dan Jawa
adalah bahwa agama itu hanyalah "menambahkan" sejumlah hal baru pada
struktur pandangan dunia yang sudah ada sebelumnya. Dengan demikian,
tak ada yang dibuang dari khazanah lama, dan unsur-unsur baru yang
datang belakangan juga tidak diandaikan akan "menggantikan" yang
lama.
Jika kita melihat struktur pandangan orang Jawa melalui "optik"
Serat Centhini, kelihatan sekali bahwa di sana terdapat "tumpukan"
sejumlah unsur-unsur kebudayaan satu di atas yang lainnya, dan
membentuk lapisan-lapisan yang tak saling berkaitan. Masing-masing
lapisan tidak mengandaikan sebagai terusan dari yang lain dalam suatu
bentuk "kontinuitas budaya". Juga tidak mengandaikan adanya semacam
"diskontinuitas budaya", di mana lapisan yang satu dianggap
mengakhiri lapisan sebelumnya. Artinya, dalam hal ini kita tidak bisa
berbicara mengenai "arkeologi" kebudayaan Jawa, setidak-tidaknya jika
kita mengandaikan Serat Centhini sebagai dasar studi. Sebab, dalam
suatu arkeologi, diandaikan adanya semacam "retakan-retakan" yang
memutuskan lapisan-lapisan kebudayaan satu dari yang lainnya, dan
masing-masing lapisan merupakan consummation atau penyempurnaan dari
yang sebelumnya.
Pengamatan ini memang bernada generalistis, dan sangat
spekulatif. Tetapi, jika kita melihat Serat Centhini, maka kesan-
kesan seperti yang saya kemukakan itu memang amat kuat sekali.
PASCA-CENTHINI: JAWA "BARU" ?
Bagaimana orang-orang Jawa pada periode-katakan saja-"pasca-
eenthini" memahami hubungan antara Islam dan kejawaan? Adakah
perubahan yang mendasar dalam pandangan-pandangan yang sebelumnya
bernada sinkretis itu? Sebuah kesaksian kontemporer dari keluarga
Jawa sebagaimana dituturkan oleh Hersri saya kira layak dikutip di
sini (saya ambil dari tulisan Hersri Between the Bars yang dimuat
dalam buku Silenced Voices suntingan John H McGlynn yang terbit
baru-baru ini). Cerita Hersri ini saya kira mewakili semacam corak
yang umum dalam keluarga Jawa dari kelas bawah. Cerita ini terjadi di
tahun 1947/1948.
Hersri adalah orang yang tumbuh dalam keluarga abangan dan tidak
mengenal "kesetiaan" yang fanatik terhadap agama-agama resmi. Sikap
yang longgar ini tercermin dalam jawabannya ketika suatu ketika ia
ditanya oleh gurunya di kelas, "Apa agamamu?" Ia kebingungan, karena
di rumah tidak pernah memperoleh pengajaran mengenai kesetiaan yang
eksklusif terhadap agama tertentu. Kakaknya yang sulung dikirim oleh
ayahnya ke Sekolah Katolik di Muntilan, bukan dengan kesadaran
mendalam agar anaknya belajar agama itu. Tetapi, Sekolah Katolik di
daerahnya lebih menerapkan disiplin yang keras ketimbang sekolah
lain, sehingga dengan demikian ayahnya berharap agar kakaknya yang
ndablek itu bisa dijinakkan. Kakaknya yang lain belajar di Sekolah
Taman Siswa. Sementara kakaknya yang nomor tiga dikirim ke Sekolah
Muhammadiyah, juga bukan dengan alasan agar belajar Islam dengan
baik, tetapi karena kakaknya yang satu ini tidak diterima baik di
sekolah umum atau Protestan. Bapaknya sendiri selalu berkata bahwa
semua agama adalah baik, dan sering ikut dalam acara selamatan desa
yang biasanya juga menggunakan sejumlah ritual Islam (seperti tahlil,
misalnya). Tetapi ia tidak pernah menjadi Muslim. Terhadap pertanyaan
yang membingungkan dari gurunya itu, Hersri akhirnya menjawab, "Saya
mengikuti semua agama yang ada." Seluruh murid di kelasnya tertawa.
Apakah ini cerminan dari sinkretisme seperti yang disebut di
muka? Boleh jadi. Tetapi sikap permisif secara "teologis" ini lama-
lama makin pudar, karena proses yang lain juga sedang berlangsung,
yaitu apa yang sering disebut sebagai "santri-isasi" orang Jawa. Saya
pernah mendengar cerita seorang jemaat Gereja Kristen di kawasan Pulo
Mas mengenai proses "baru" yang sedang berlangsung dalam masyarakat
Jawa itu. Dahulu, cerita si jemaat ini, jika ada jenazah di desanya
(di Madiun), sudah menjadi adat yang lazim bahwa seluruh warga desa
dari agama apa pun akan mengurusnya. Sekarang, setelah sejumlah fatwa
MUI dikeluarkan mengenai larangan orang Islam terlibat dalam ritual
agama lain (termasuk seremoni kematian, tentunya), pelan-pelan orang
makin sadar akan "identitasnya" sebagai orang Muslim atau Kristen
atau yang lain. Orang Jawa makin menyadari bahwa ada gejala lain yang
muncul ke permukaan: gejala untuk menganggap sikap "permisif" secara
teologis sebagai hal yang tidak lagi wajar.
Proses ini, tampaknya sudah berlangsung sejak lama, meskipun
resonansinya baru tampak dengan "keras" akhir-akhir ini. GWJ Drewes
(dalam artikel berjudul Indonesia: Mysticism and Activism, yang
dimuat dalam buku suntingan Gustave von Grunebaum, Unity and Variety
in Muslim Civilization, [1955]), pernah mengemukakan pengamatannya di
tahun 50-an mengenai proses Islamisasi di tanah Jawa. Ia mengatakan
bahwa,
[T]he Islamization of Indonesia is still in progress, not only in
the sense that Islam is still spreading among pagan tribes, but also
in that peoples who went over to Islam centuries ago are living up
more and more to the standard of Muslim orthodoxy.
Kecenderungan yang kita lihat akhir-akhir ini tampaknya memang
makin cenderung membenarkan apa yang dikatakan oleh Drewes itu.
Tetapi semacam caveat tetap harus dikemukakan di sini. Jika
kecenderungan makin "ortodoks" di kalangan masyarakat Jawa seperti
dikemukakan oleh Drewes itu benar-benar terjadi, maka harus pula
dipertimbangkan kenyataan bahwa dalam pemilu tahun lalu, partai-
partai Islam mengalami kekalahan yang dramatis. PDI-P yang mempunyai
basis luas di kalangan masyarakat Jawa yang abangan, memperoleh suara
yang besar.
Apakah yang bisa kita simpulkan dari perkembangan baru ini?
Tampaknya memang Jawa-Serat-Centhini belum menunjukkan tanda-tanda
kepudaran, bahkan mungkin semacam resiliensi baru mulai dikembangkan.
Meskipun perkembangan-perkembangan baru yang menuju ke arah
Jawa-pasca-Centhini juga mulai memperlihatkan gejalanya. Dalam pemilu
yang terakhir, kontestasi antara kedua Jawa ini kita lihat dalam
kontroversi mengenai pemilihan Megawati sebagai calon Presiden.
* Ulil Abshar-Abdalla, Ketua Lakpesdam-NU, Jakarta.
�������