|
Islam dan budaya Jawa hidup berdampingan. Serat Paku Buwono V ini
buktinya.Adapun manusia berasal dari cahaya gaib. Apabila meninggal
atau zaman kiamat, manusia akan kembali pada zat yang gaib. Yakni
pulang ke tempat asalnya, Manunggaling Kawula-Gusti.
Suluk
Serat Centhini, yang meramu khazanah kultur Jawa dan ajaran Islam
dengan merujuk pelbagai Kitab Kuning. Suluk adalah ajaran mistik yang
diungkapkan berupa tembang, sebuah bentuk puisi Jawa. Tak syak, orang
pun bertanya: bagaimanakah hubungan budaya Jawa dengan Islam?
Pertanyaan itulah yang dicoba disahuti oleh sebuah tim peneliti dari Institut
Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Hasilnya
menunjukkan bahwa antara kebudayaan Jawa dan Islam bisa hidup
berdampingan. Daerah pedesaan Jawa, yang dulu menganut tradisi
animistis dan dinamistis, ternyata bisa menerima Islam tanpa kehilangan
makna kultural Jawa.
Penelitian yang dilakukan Drs. H. Muzairi,
MA, dan lima koleganya itu berjudul "Kitab Kuning dan Suluk Serat
Centhini Kajian Tentang Islam dan Budaya Jawa". Ia dipublikasikan dalam
jurnal penelitian IAIN Yogyakarta edisi Mei-Agustus. Terdiri dari 12
jilid, meliputi 3.216 halaman huruf Jawa dan 3.500 halaman tulisan
Latin, sehingga layak disebut sebagai "Ensiklopedi Jawa".
Serat
Centhini adalah puncak karya sastra tulis Jawa klasik karya Raja
Keraton Surakarta Hadiningrat, Paku Buwono V -tatkala menjadi putra
mahkota pada 1814. Sedangkan Centhini, yang berperawakan ramping,
adalah seorang gadis pembantu rumah tangga suami-istri, Jayengresmi
alias Amongraga dan Tembanglaras. Serat yang ditulis bergaya tembang
macapat ini menceritakan pengembaraan Jayengresmi, salah seorang putra
Sunan Giri III, setelah Sultan Agung dari Mataram menaklukkan Kewalian
Giri di Gresik.
Perjalanan Jayengresmi ke arah barat, hingga ke
Banten dan akhirnya kembali ke Mataram, itulah yang ditulis Paku Buwono
V. Isinya beragam, mulai dari bab agama Islam, ilmu lahir batin,
gending, tari, hari buruk dan baik, tembang, sampai masakan Jawa.
Bahkan soal keris, kuda, kesaktian, hingga ke soal hubungan intim
suami-istri yang paling rahasia pun terangkum di sana.
Dikisahkan
pula ketika Jayengresmi bersua dengan Ki Jimat Ngabdul Ngatyanta dan Ki
Sali di Kampung Laweyan, tempat makam Ki Ageng Henis. Ki Sali
menceritakan "Ramalan Tanah Jawa" berdasarkan Jangka Jayabaya dari
Kitab Musarar, yang diedarkan Sech Maulana Ngali Samsujen dari negara
Rum Turki. Ramalan itu juga memaktubkan zaman kacau-balau di Jawa
hingga hari kiamat -berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW.
Seperti disebut Karkono Kamajaya Partokusumo, 82 tahun, seorang pakar budaya
Jawa yang menekuni Serat Centhini selama 17 tahun, kaitan suluk itu
dengan Islam sangat kental. Meskipun harus diakui, serat ini
membuktikan keberadaan sinkretis Islam dan budaya Jawa, yang
memunculkan Islam Kejawen. "Artinya, Islam tak membunuh budaya Jawa,"
kata Karkono kepada Gatra.
Gadis Centhini adalah saksi yang
mendengarkan wejangan agama -tentang syariat, tarikat, hakikat, dan
makrifat- dari Jayengresmi kepada Tembanglaras selama 40 malam. Dari
penelitian itu, ada 20 Kitab Kuning yang dirujuk Serat Centhini.
Misalnya, ada enam kitab fikih (termasuk Taqrib dan Idah), sembilan
kitab akidah, dua kitab tafsir (Jalalain dan Baidhawi), dan tiga kitab
tasawuf, seperti Ihya dan Al Insan Al Kamil karya Abd. Al Karim Al
Jali, sebuah sajian sistematis aliran Wahdah Al Wujud dari Ibn. Al
Arabi.
Dekan Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga, Drs. Taufik
Ahmad Dardiri, SU, melihat bahwa Serat Centhini tak bisa lepas dari
budaya sekitarnya. Sejarah mencatat, kala itu sedang terjadi
transformasi Islam dengan tradisi "sastra Kitab Kuning", atau sastra
pesantren ke dalam sastra dan kebudayaan Jawa.
Bahkan serat ini
juga mempengaruhi karya sastra Jawa sesudahnya -termasuk Ronggowarsito-
yang terkenal dengan Serat Kalathida. Ronggowarsito termasyhur dengan
seratnya yang menamsilkan hubungan manusia dengan Tuhan ibarat kain
dengan baju, ombak dengan lautan, dan angin dengan debu. Mirip dengan
pandangan penyair sufi, Hamzah Fansuri, dengan wahdatul wujudiyah yang
kontroversial itu.
Jika mau ditarik sebuah ilustrasi: proses
Jawanisasi Islamkah yang terjadi, atau Islamisasi Jawa? Boleh jadi,
yang semula terjadi adalah "Jawanisasi Islam", kala tradisi mistis Jawa
mengakomodasi Islam. Tapi ketika mereka menemukan esensi kebudayaan
Islam yang punya "kesamaan" dengan kultur Jawa, "Islamisasi Jawa" pun
berlangsung. Itulah keberhasilan Islam di Jawa. "Islam masuk dengan
pendekatan kultur, bukan dengan kekerasan," kata Karkono.
Ing ngandhap punika ka-aturaken tetedhakan purwakanipun Serat Centhini, sinawung ing sekar Sinom
- Sri Narpatmaja Sudibya, talatahingnusma Jawi, Surakarta Hadiningrat, hagnya
ring kang wadu Carik, Sutrasna kang kinanthi, mangunreh cariteng dangu,
sanggyaning kawruh Jawa, hingimpun tumrap kakawin, mrih tan kemba karya
dhangan kang miyarsa
- Lajere kang cinarita, laksananing
Jayengresmi, ya She Adi Amongrogo, atmajeng njeng Sunan Giri, kontap
janma linuwih, Oliya Wali Mujedub, peparenganing jaman, njeng Sultan
Agung Matawis, tinengeran Serat Suluk tambangraras.
- Karsaning
Sang Narpatmaja, babon pangawikan jawi, jinereng dadya carita,
sampating karsa marengi, Nemlikur Saptu Paing, lek Mukharam je warseku,
mrakeh Hyang Surenggana, Bathara Yama Dewari, amawulu wogan su-ajag
sumengka.
- Panca-sudaning Satriya, wibawa lakuning geni,
windu adi mangsa sapta, sangkala angkaning warsi, paksa suci sabda ji (
1742 ) ingkang pinurwa ing kidung, duk Keraton Majalengka, Sri
Brawijaya mungkasi, wonten Maolana saking nagri Jedah.
- Panengran
She walilanang, praptanira tanah jawi, kang jinujug Ngampeldenta,
pinanggih sang maha resi, areraosan ngelmi, sarak sarengat njeng rosul,
nanging tan ngantya lam, linggar saking Ngampelgadhing, ngidul ngetan
anjog Nagri Belambangan.
Serat Centhini
Serat
Centhini menurut Sumohatmoko adalah "Kitab Suluk Tambanglaras, Paksa
Suci Sabda Ji" Paksa Suci Sabda Ji artinya tahun 1942, yaitu pada masa
Sunan Pakubuwono IV, atau enam tahun menjelang dinobatkannya Sunan
Pakubuwono V.
Atas kehendak Pakubuwono V Suluk Tembangllaras atau
Centhini itu dimanfaatkan untuk menghimpun segala macam pengetahuan
Jawa baik lahir maupun batin - termasuk keyakinan terhadap agama - agar
pengetahuan tersebut tidak hilang.
Serat Centhini punika angewrat kawruh maneka warni, pramila ing kang anggarap boten angemungaken priyantun satunggal kemawon.
Ingkang
kadhawuhan angayahi jejibahan angripta punika : Ki Ngabei
Ranggasutrasna, mawi kaparingan pambiyantu para Sujana ingkang sami
lebda dhateng kridhaning kapujanggan, inggih punika :
- R. Ng. Yasadipura II : abdidalem Kliwon Pujangga Kadipaten, sareng
kawisudha dados abdidalem Bupati nama R.T Sastranagara (sumare ing
Pengging)
- R. Ng. Sastradipura, abdidalem Kliwon Carik
Kadipaten lajeng kautus nyarasehaken agami Islam dhateng Mekah.
Sawangsulipun saking Mekah santun nama : Kyai Haji Mohamad Ilhar
(sumare ing Langenharja)
- Pangeran Jungut Mandurarejo, Pradikan ing krajan Wangga (Dlanggu, Klaten)
- Kyai Kasan Besari
- Kyai Mohammad Minhad.
Taksih kathah para Sujan ingkang kadhawuhan ambiyantu panggarapipun serat
centhini wau, inggih punika para sujana ingkang sami amumpuni dhateng
babagan : agami, ngelmi, curiga, turangga, kukila, wisma ( undhagi ),
petangan primbon, pawukon, kasusastran, gendhing, beksan, sekar
ageng-tengahan-macapat, padhalangan, aji jaya-kawijayan, kanoragan,
pangasihan, jampi-jampi, olah-olahan jawi lan taksih kathah
panunggilanipun.
Yang mendapat tugas mengerjakannya adalah tiga orang pujangga keraton, yaitu:
Kyai Ngabehi Ranggasutrasno, dengan menjelajahi P. Jawa bagian Timur, untuk meneliti dan menghimpun pengetahuan.
Kyai Ngabehi Yasadipura II (semula bernama Kyai Ngabehi Ranggawarsita I) menjelajahi Jawa bagian Barat.
Kyai Ngabehi Sastradipura, yang mendapat tugas menunaikan ibadah Haji, dan menyempunakan pengetahuannya tentan Islam.
Isi utama Serat Centhini adalah ajaran yang disebut sebagai Jayengresmi
atau Seh Amongraga yang digambarkan dalam cerita tentang negeri
Blambangan yang terserang wabah.
Dikisahkan negeri Blambangan
(sejaman dengan Majapahit) ketika itu diserang wabah besar. Banyak
orang yang sakit, pagi sakit sore meninggal, dan sore sakit pagi
meninggal. Wabah penyakit tersebut juga menyerbu masuk kedalam istana.
Putri raja Blambangan (Dewi Kayiyan) juga terserang wabah dan sakitnya
sangat parah. Sang Raja telah mendatangkan sejumlah dukun dan tabib,
serta berbagai obat dan jamu telah diberikan, namun sang putrid bemu
juga sembuh.
Sang Raja kemudian memerintahkan patih Bajulsengara
untuk mencari obat ke manapun, ke seluruh negeri bahkan ke luar negeri.
Setelah sang patih mencari obat dari desa kedesa, naik turun gunung,
keluar masuk hutan, akhirnya sampai di sebuah pertapaan yang dihuni
oleh seprang petapa yang bernama Kyai Kandabaya.
Sang Patih lalu
menghadap sang Petapa dan menyampaikan maksudnya mencari obat bagi
kesembuhan putrid Raja Blambangan yang sampai saat ini belum ada yang
mampu untuk menyembuhkannya. Rupanya sang Petapa sudah mengerti maksud
kedatangan patih Bajulsengara tersebut, dan mengatakan sebaiknya sang
patih segera pulang saja, karena sesungguhnya yang dapat menyembuhkan
ada dilingkungan keraton Belambangan, yaitu Seh Maulana Iskak (Seh Wali
Lanang) yang sedang bertapa didalam gua dibawah gapura keraton.
Setelah mendengar laporan sang Patih, maka Raja langsung memerintahkan
membongkar dan menggali gapura keraton, dan ternyata di dalamnya ada
seorang petapa Arab yang masih muda.
Patih lalu menceritakan
kepada petapa muda tersebut mengenai sakitnya putri Blambangan dan
permintaan raja agar dapat menyembuhkannya. Ternyata Seh Maulana Iskak
dapat menyembuhkan sang putrid, dan kemudian ia dikawinkan dengan sang
putrid oleh raja Blambangan. Setelah mendapat anak Seh Maulana Iskak
minta ijin isterinya untuk menggenbara menuntut ilmu. Tidak lama
kemudian isterinya meninggal, namun anaknya tidak dirawat oleh
kakeknya, raja Blambangan, bahkan dibuangnya kelaut karena dipandang
"berhawa panas". Anak yang malang itu ditemukan oleh seorang saudagar
yang sedang berlayar ke Gresik. Di Gresik anak tersebut dirawat oleh
Nyai Tandes dan kemudian di sekolahkan ke pesantren Ampel. Setelah
besar anak tersebut bernama Raden Paku yang kemudian bergelar Sunan
Giri yang terkenal itu. Sunan Giri ini membangun padepokan atau
kerajaan Sunan Giri yang meliputi hampir seluruh wilayah Kabupaten
Gresik.
Pethikan "Centhini" pupuh 37. Dhandhanggula, gatra 37
- 49 37 duk uripe neng dunya puniki sadina ddina pan wis sakarat miwah
sawengi wengine manggung sakaratipun melek turu sakarat ugi mila ngaran
sakarat wong neng dunya iku dene ta ing salaminya urip iku neng dunya
tan pegat dening layar segara rahmat 39. Ing tepine graitanen ugi dene
wus aran iku sagara tanpa tepi supradene kaya na tepinipun ngengkol
temen basa puniki kepriye yen kenaa kinira ing kalbu dinuga duga watara
saking kira kira mapan datan keni kajaba kang wus wikan 40. Ing
tepining ingkang jalanidhi. sagara rahmat kang tanpa ombak nanging
gumleger alune samun lamun kadulu sawangane resik tur wening mila kang
sami layar tan nganggo parau nyana tan na pakewuhnya yen tinrajang
telenge keh parang curi mila arang kang prapta 42. Mampan arang iya
angrawuhi ing warnane ya sagara rahmat tur sadina sawengine wong aneng
dunya iku alalangen aneng jaladri jroning sagara rahmat prandene arang
wruh saking kalingan ing tingal kalimput ing pancabayaning ngaurip mila
arang waspada 43. Yen arsa layar maring jaladri sagara rahmat mawia
palwa sarta lawan kamudhine pandoman sampun kantun myang layare dipun
abecik miwah sanguning marga ywa kirang den agung yen tan mangkono tan
prapta ing tepine iya sagara rahmati pan mundhak akangelan 44. Baitane
pan eninging galih kemudhine pan anteping tekat sucining kalbu layare
pandomanipun iku pituduhe guru sayekti sangune ngelmu rasa lakune parau
kalawabn murahing Edat yen tumeka aneng tepining jaladri uga sagara
rahmat (badhe kalajengaken menawi taksih wonten ingkang ngersaaken..)
Kapethik saking "serat centhini latin 1" Yasandalem kanjeng Gusti
Pangeran Adipati Anom Amangkurat III (Ingkang Sinuhun Paku Buwana V)
jumeneng ing Surakarta (1820 - - 1823 M) kalatinaken miturut aslinipun
dening Karkana Kamajaya, Penerbit yayasan Centhini, Yogyakarta, 1991
Islam dan Kejawaan
Serat Centhini, sebuah karya penting dalam sastra Jawa yang ditulis pada abad
ke-19, saya kira, bisa memberikan sedikit gambaran, bagaimana agama
Islam dipersepsi oleh orang-orang Jawa, terutama oleh lapisan elite
dalam masyarakat ini.
Salah satu teori yang dikemukakan oleh
sejumlah ahli adalah teori mengenai "sinkretisme", atau percampuran
antara Islam dengan unsur-unsur lokal Jawa dalam cara yang tidak
genuine dan sedikit agak dipaksakan. Sebutan "sinkretisme" sebetulnya
mengandung semacam ejekan: bahwa Islam tidak lagi tampil sebagai dalam
wujudnya yang asli, tetapi sudah tercampur dengan unsur-unsur yang
eksternal sifatnya. Islam yang "sinkretis", sebagaimana kita lihat
dalam masyarakat Jawa, dengan demikian menggambarkan suatu genre
keagamaan yang sudah jauh dari sifatnya yang "murni" di tempat asalnya
di Timur Tengah.
Di samping itu, sebutan "Islam sinkretis"
sebenarnya mengandung asumsi tersembunyi, bahwa seolah-olah unsur utama
di situ adalah Islam, sementara kejawaan adalah unsur tambahan yang
menyebabkan unsur utama tersebut mengalami pemiuhan. Dengan demikian,
sebutan tersebut juga memandang kejawaan sebagai "yang lain": unsur
eksternal yang kehadirannya harus diwaspadai. Saya kira ini bisa kita
lihat pada sejumlah tulisan yang menggunakan pendekatan "sinkretisme"
dalam melihat hubungan antara kejawaan dan Islam. Perhatian
pertama-tama diberikan pada Islam sebagai "tradisi besar" yang
mempunyai elemen-elemen kanonik yang bersifat "universal", baru
kemudian datang kejawaan sebagai unsur lokal yang mencerminkan "tradisi
kecil" yang terbatas jangkauannya. Kalau kita baca sejumlah studi yang
sudah klasik selama ini, seperti Clifford Geertz dalam Religion of Java
(1976), akan tampak bahwa kejawaan dilihat semata-mata sebagai unsur
eksternal yang membuat Islam mengalami transformasi bentuk.
Akan
tetapi, sebutan yang sama sebetulnya juga bisa berarti "penaklukan"
masyarakat Jawa terhadap Islam yang justru dianggap sebagai "yang
lain". Kejawaan adalah elemen dasar yang membentuk "kosmos" masyarakat
Jawa yang unsur-unsurnya dibangun melalui percampuran antarpelbagai
elemen yang juga datang dari "luar" (di sini persoalan "yang lain"
dalam kebudayaan Jawa menjadi soal yang rumit, karena amat sukar
mengatakan bahwa ada unsur-unsur yang benar-benar bisa diandaikan
sebagai "asli" dalam masyarakat Jawa). Pendekatan ini digunakan oleh
Harry J Benda. Dalam studinya yang amat terkenal, The Crescent and the
Rising Sun (kemudian lebih tegas lagi ia tuliskan dalam Continuity and
Change in Indonesian Islam di Asian and African Studies, vol. 1, 1965),
Benda mengemukakan sebuah teori tentang penjinakan Islam oleh
masyarakat Jawa. Benda mendasarkan teorinya ini atas studinya mengenai
perkembangan Islam dalam rentang waktu antara abad ke-16 hingga ke-18.
Pada periode itu, berlangsung pasang-surut hubungan antara Islam dan
kejawaan, yang tercermin dalam persaingan antara dua kerajaan yang
saling berebut pengaruh, yaitu kerajaan Islam di Demak yang memegang
bentuk Islam yang kurang lebih "ortodoks", dan kerajaan Mataram Islam
yang lebih cenderung pada bentuk Islam yang sinkretik dan heterodoks.
(Sebenarnya dalam lingkungan Demak sendiri, juga berlangsung persaingan
yang keras antara ortodoksi Islam yang tercermin dalam figur wali
sembilan dan heterodoksi Islam yang tampil dalam figur Syeh Siti Jenar).
Teori "domestifikasi Islam" ini mengandaikan bahwa kejawaan tidak serta merta
bisa ditundukkan begitu saja oleh Islam sebagai unsur eksternal yang
sama sekali asing. Kemenangan Mataram atas Demak menggambarkan
kemenangan Islam sinkretik atas Islam ortodoks yang dikembangkan oleh
para wali sembilan. Dengan cara inilah, Benda mencoba menerangkan
kekalahan kelompok Masyumi terhadap aristokrasi Jawa dan kelompok
sekular dalam perdebatan di konstituante mengenai negara Islam di tahun
50-an. Benda, antara lain, menulis,
Karena itu, dilihat dari kerangka nasionalisme Jawa-sebagai-pusat, Islam, atau lebih khusus
lagi, jenis Islam seperti Masyumi, harus dilihat sebagai pengaruh yang
sejak dari awalnya sudah asing dan non-Jawa, bahkan malah
"non-Indonesia". Pancasila, ideologi resmi negara, adalah Jawa,
teistik, secara samar monoteistik, tetapi yang pasti bukan Islam. (Saya
pinjam dari terjemahan Ihsan Ali-Fauzi terhadap bukunya Bachtiar
Effendi, Islam dan Negara [hlm. 30].
Sejumlah penulis masih
menggunakan kerangka yang sama dalam menganalisa hubungan antara Islam
dan pemerintah Orde Baru yang dianggap juga mencerminkan perpanjangan
dari dunia Jawa dalam politik Indonesia modern. Kemenangan pemerintah
Orba di tahun 1984 dalam "memaksakan" penggunaan Pancasila sebagai asas
tunggal kepada ormas-ormas Islam, dianggap juga sebagai perulangan tema
lama mengenai "domestifikasi Islam". Dalam kaca mata ini, sebutan
"Islam sinkretik" justru menunjukkan keunggulan kebudayaan Jawa yang
dianggap resilien terhadap unsur asing. Sebaliknya, Islam justru
dianggap sebagai unsur luar yang tidak serta merta bisa memaksakan
suatu kepercayaan baru, dan menghapuskan begitu saja kepercayaan yang
sudah lama mengakar.
Studi-studi mutakhir dalam bidang keislaman
makin cenderung melihat hubungan Islam dan budaya lokal dalam kerangka
semacam ini, yaitu dalam konteks resistensi kebudayaan setempat atas
penetrasi unsur-unsur luar seperti Islam. Dalam nada yang merayakan apa
yang disebut sebagai kondisi postmodernitas, antropolog Islam asal
Pakistan yang kini tinggal di Inggris, Akbar S Ahmed (dalam Islam dan
Postmodernisme), menunjukkan bahwa hubungan antara Islam sebagai "teks
besar" dengan kebudayaan setempat sebagai "teks kecil" (dua istilah ini
dari saya sendiri) tidak lagi dilihat dalam kerangka "penundukan",
tetapi justru dalam kerangka makin beragamnya ekspresi Islam setelah
bertemu dengan unsur-unsur lokal, termasuk juga dalam kaitannya dengan
pertemuan antara Islam dengan kebudayaan pop. Islam tidak saja dilihat
sebagai unsur yang universal, tetapi juga akomodatif. Sementara
kebudayaan lokal tidak dipandang sebagai unsur "rendah" yang harus
mengalah kepada Islam, sebab jenius setempat ini juga bisa menolak
terhadap unsur-unsur baru. "Sinkretisme Islam" tidak lagi dipandang
sebagai sesuatu yang pejoratif, tetapi justru memperlihatkan adanya
"dialog".
Resistensi Terselubung
Serat
Centhini, sebagaimana kita tahu, ditulis oleh sejumlah pujangga di
lingkungan Keraton Surakarta yang diketuai oleh Kanjeng Gusti Pangeran
Adipati Anom Amengkunagara III, putra mahkota Sunan Pakubuwana IV.
Karya yang terkenal dengan sebutan Serat Centhini atau Suluk
Tambangraras-Amongraga ini ditulis pada tahun 1742 dalam penanggalan
Jawa, atau 1814 dalam tahun Masehi. Karya ini boleh dikatakan sebagai
semacam ensiklopedi mengenai dunia dalam masyarakat Jawa. Sebagaimana
tercermin dalam bait-bait awal, serat ini ditulis memang dengan ambisi
sebagai perangkum baboning pangawikan Jawi, atau katakanlah semacam
database pengetahuan Jawa. Jumlah keseluruhan serat ini adalah 12
jilid. Aspek-aspek ngelmu yang dicakup dalam serat ini meliputi
persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia keris, kerawitan dan tari,
tata cara membangun rumah, pertanian, primbon atau horoskop, soal
makanan dan minuman, adat istiadat, cerita-cerita kuna mengenai tanah
Jawa dan lain-lainnya.
Yang ingin ditunjukkan dalam tulisan ini
adalah bagaimana Islam menjadi elemen pokok yang mendasari seluruh
kisah dalam buku ini, tetapi ia telah mengalami "pembacaan" ulang
melalui optik pribumi yang sudah tentu berlainan dengan Islam standar.
Islam tidak lagi tampil sebagai "teks besar" yang "membentuk" kembali
kebudayaan setempat sesuai dengan kanon ortodokasi yang standar.
Sebaliknya, dalam Serat Centhini, kita melihat justru kejawaan
bertindak secara leluasa untuk "membaca kembali" Islam dalam konteks
setempat, tanpa ada semacam kekikukan dan kecemasan karena
"menyeleweng" dari kanon resmi. Nada yang begitu menonjol di sana
adalah sikap yang wajar dalam melihat hubungan antara Islam dan
kejawaan, meskipun yang terakhir ini sedang melakukan suatu tindakan
"resistensi". Penolakan tampil dalam nada yang "subtil", dan sama
sekali tidak mengesankan adanya "heroisme" dalam mempertahankan
kebudayaan Jawa dari penetrasi luar.
Barangkali, Serat Centhini bisa kita anggap sebagai cerminan dari suatu periode di mana hubungan
antara Islam dan kejawaan masih berlangsung dalam watak yang saling
mengakomodasikan, dan tidak terjadi kontestasi antara keduanya secara
keras dan blatant. Sebagaimana kita tahu, dalam perkembangan
pasca-kemerdekaan, identitas kejawaan makin mengalami "politisasi"
dalam menghadapi naiknya kekuatan Islam yang cenderung "puritan" dalam
kancah politik. Dalam konteks semacam ini, antara kedua identitas ini
(Islam dan Jawa), terdapat hubungan yang tegang dan penuh prasangka.
Ketegangan ini terus berlanjut hingga dalam pemerintahan Orba.
Serat
disusun berdasarkan kisah perjalanan putra-putri Sunan Giri setelah
dikalahkan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya, ipar Sultan Agung dari
Kerajaan Mataram. Kisah dimulai setelah tiga putra Sunan Giri berpencar
meninggalkan tanah mereka untuk melakukan perkelanaan, karena kekuasaan
Giri telah dihancurkan oleh Mataram. Mereka adalah Jayengresmi,
Jayengraga, dan seorang putri bernama Rancangkapti. Dengan diikuti oleh
dua santri, Gathak dan Gathuk, Jayengresmi melakukan "perjalanan
spiritual" ke sekitar keraton Majapahit, Blitar, Gamprang, hutan
Lodhaya, Tuban, Bojanagara, hutan Bagor, Gambiralaya, Gunung Pandhan,
desa Dhandher, Kasanga, Sela, Gubug Merapi, Gunung Prawata, Demak,
Gunung Muria, Pekalongan, Gunung Panegaran, Gunung Mandhalawangi, Tanah
Pasundan, Bogor, bekas keraton Pajajaran, Gunung Salak, dan kemudian
tiba di Karang. Dalam perjalanan ini, Jayengresmi seperti mengalami
"pendewasaan spiritual", karena bertemu dengan sejumlah guru,
tokoh-tokoh gaib dalam mitos Jawa kuna, dan sejumlah juru kunci
makam-makam keramat di tanah Jawi. Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh
itu, dia belajar mengenai segala macam pengetahuan dalam khazanah
kebudayaan Jawa, mulai dari candi, alamat bunyi burung gagak dan
prenjak, khasiat burung pelatuk, petunjuk pembuatan kain lurik, pilihan
waktu bersanggama, perhitungan tanggal, hingga ke kisah Syeh Siti Jenar.
Jayengsari dan Rancangkapti berkelana dengan diiringi oleh santri Buras ke
Sidacerma, Pasuruhan, Ranu Grati, Banyubiru, kaki Gunung Tengger,
Malang, Baung, Singasari, Sanggariti, Tumpang, Kidhal, Pasrepan,
Tasari, Gunung Brama, Ngadisari, Klakah, Kandhangan, Argapura, Gunung
Rawun, Banyuwangi, terus ke Pekalongan, Gunung Perau, Dieng, sampai ke
Sokayasa di kaki Gunung Bisma Banyumas. Dalam perjalanan itu, mereka
berdua mendapatkan pengetahuan mengenai adat-istiadat tanah Jawi,
syariat para nabi, kisah Sri Sadana, pengetahuan mengenai wudlu,
shalat, pengetahuan (yang terkesan agak bertakik-takik dan njlimet)
mengenai dzat Allah, sifat, asma dan afngal-Nya, sifat dua puluh, Hadis
Markum, perhitungan selamatan orang meninggal dunia, serta perwatakan
Kurawa dan Pandawa.
Melihat luasnya daerah serta lingkup pengetahuan yang dipelajari ketiga putra-putri Giri itu, tampak sekali
ambisi penggubah kisah dalam Serat Centhini ini untuk "menerangkan"
secara menyeluruh "dunia dalam" orang Jawa. Dengan demikian, serat ini
juga bisa digunakan sebagai titik masuk untuk mengetahui bagaimana
dunia Jawa "plausible" dan bermakna buat orang-orang Jawa sendiri.
Sekaligus juga adalah bagaimana Islam "bermakna" dalam konteks tatanan
kosmik mereka.
Melihat jenis-jenis pengetahuan yang dipelajari
oleh ketiga putra-putri Giri tersebut, tampak dengan jelas unsur-unsur
Islam yang "ortodoks" bercampur baur dengan mitos-mitos di tanah Jawa.
Ajaran Islam yang ortodoks mengenai sifat Allah yang dua puluh,
misalnya, diterima begitu saja, tanpa harus membebani para penggubah
ini untuk mempertentangkan ortodoksi itu dengan mitos-mitos dalam
khazanah kebudayaan Jawa. Dua-duanya disandingkan begitu saja secara
"sinkretik", seolah antara alam "monoteisme" dengan
"paganisme"/"animisme" Jawa tidak terdapat pertentangan yang merisaukan.
Seperti telah dikemukakan di atas, dalam serat ini, Islam memang tidak
dipandang semata-mata sebagai unsur eksternal yang "membebani" unsur
lokal, bahkan pertentangan (katakan saja) weltanschauung antara kedua
dunia itu (Islam dan Jawa) sama sekali tidak dipersoalkan. Begitu saja
diandaikan bahwa keduanya commensurable dan saling bisa bertukar
tempat. Tetapi, anehnya, dengan cara seperti inilah Jawa (sebagaimana
ditampilkan oleh serat ini) melakukan "resistensi" (atau
"domestifikasi", dalam istilah Benda) atas Islam. Penggubah serat ini
seolah-olah tidak mau tahu bahwa Islam sebagaimana tampil dalam korpus
standar membawa sejumlah "efek ikonoklastik" atas kepercayaan setempat.
Saya tidak tahu, apakah penggubah serat ini "pura-pura" tidak tahu,
tidak tahu sama sekali, atau sadar mengenai kontradiksi antara Jawa dan
Islam lalu melakukan "pembacaan" yang sifatnya lain. Saya lebih
cenderung pada kemungkinan yang terakhir ini. Kontradiksi antara Islam
dan Jawa yang menjadi tema pokok gerakan reformasi dan pembaharuan
Islam di awal abad dua puluh, sama sekali tidak kelihatan dalam serat
ini. Inilah barangkali "resistensi terselubung" kebudayaan Jawa atas
"teks besar" yang bernama Islam.
Dalam bukunya yang terakhir
berjudul Beyond Belief: Islamic Excurtions Among the Converted Peoples
(1998 [penekanan dari saya-UAA]), VS Naipaul, penulis Trinidad yang
berkunjung beberapa kali ke Indonesoia, membuat suatu kesimpulan yang
agak provokatif mengenai hubungan antara Islam dengan kebudayaan lokal
di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Dengan nada sinis, Naipaul,
antara lain, mengatakan,
Islam is in its origins an Arab
religion. Everyone not an Arab who is a Muslim is a convert. Islam is
not simply a matter of conscience or private belief. It makes imperial
demands. A convert's world view alters. His holy places are in Arab
lands; his sacred language is Arabic. His idea of history alters The
convert has to turn away from everything that is his. (Cetak tebal dari saya-UAA)
Saya kira, Naipaul di sini sedang berbicara mengenai apa yang tadi saya
sebut sebagai "efek ikonoklastik" Islam terhadap unsur-unsur lokal.
Kehadiran Islam dalam konteks kultur lokal, dalam pandangan Naipaul,
akan mempunyai dampak penghancuran terhadap yang terakhir itu.
Seandainya statement Naipaul ini bisa dibenarkan dalam konteks
masyarakat Islam di luar Jawa atau Indonesia, untuk konteks Jawa di
mana kita berbicara mengenai Serat Centhini, pernyataan semacam itu
jelas tidak bisa dibenarkan. Membaca Serat Centhini, kita mendapat
kesan bahwa boro-boro Islam ingin menggantikan pandangan dunia orang
Jawa, tempat-tempat suci serta bahasa mereka, seperti tercermin dalam
pengamatan Naipaul itu. Agama "baru" ini bahkan tidak bisa mengusir
sejumlah mitos dan semacam "paganisme" dalam masyarakat Jawa yang sudah
mengakar sejak berabad-abad di sana, seperti kita lihat dalam
jenis-jenis ngelmu yang dipelajari oleh ketiga putra-putri Giri di atas.
Tumpukan
Marilah kita lihat, bagaimana penggubah Serat Centhini ini "menyandingkan"
dengan rileks dan tanpa beban antara "ortodoksi" Islam dengan
unsur-unsur yang paganistis. Dalam Kinanthi ke-23, bait 31-27,
misalnya, dikisahkan sebagai berikut (saya kutip dari naskah Serat
Centhini yang telah disadur dan diterbitkan oleh Balai Pustaka, 1991).
"Fajar
telah menyingsing, mereka (maksudnya: Jayengresmi dan kedua santrinya,
Gathak dan Gathuk) mengambil air wudhu, lalu sembahyang subuh. Setelah
selesai sembahyang, mereka pergi dari Sugihwaras, tiba di kaki Gunung
Pandhan. Mereka mendakinya dan tibalah mereka di Desa Kedhaton. Mereka
menyeberangi sungai yang mengalir ke selatan, airnya sangat jernih lagi
bening. Di sana mereka melihat tulang-tulang besar berserakan banyak
sekali. Jayengresmi berjalan terus hingga sampai di kaki Gunung
Gambiralaya. Tiba di atas mereka melihat pertapaan yang dikelilingi
tanggul ditanami bunga mawar yang harum semerbak. Di luar pematang
jalan sebelah tenggara terdapat arca batu hitam, sikapnya seperti
lelaki memangku alat kelaminnya. Arca tersebut telah pisah dengan
tubuhnya. (Alat kelaminnya) hanya sebesar pohon pinang. Gathak Gathuk
tertawa terbahak-bahak (ketika melihatnya), karena melebihi kepunyaan
arca Ki Gaprang, kalah panjang dan besar."
Kisah selanjutnya
kemudian diikuti dengan pertemuan ketiga orang itu dengan seorang lurah
yang bernama Ki Padhang yang menjelaskan mengenai beberapa pemandangan
yang mereka lihat di Gunung Gambiralaya itu. Pola pengkisahan dalam
serat ini boleh dikatakan mengikuti sebuah "formula naratif" seperti
yang tercermin dalam penggalan yang saya kutip itu: mereka berjalan,
lalu istirahat, menunaikan shalat, dan kemudian berjalan kembali, dan
berjumpa dengan sejumlah tempat keramat, guru, dan mitos-mitos Jawa
kuna. Yang menarik di sini adalah bahwa ritual shalat diulang-ulang
dalam setiap narasi, seolah ingin menunjukkan bahwa pelaku-pelaku dalam
kisah ini adalah orang-orang yang secara agama adalah taat, dan boleh
jadi masuk dalam kategori "santri" dalam pengertian yang lebih longgar
dari yang didefinisikan oleh Geertz. Identitas kesantrian dan kejawaan
bersanding tanpa ada soal yang merisaukan.
Dan, saya kira, inilah pengertian pokok dari "sinkretisme": penjejeran dua gagasan
kebudayaan tanpa mempersoalkan "kontradiksi" dan "koherensi logis" dari
keduanya, karena paksaan-paksaan yang sifatnya pragmatis. Sinkretisme
mirip sebuah "montase budaya" yang kita lihat dalam produk-produk
kebudayaan pop sekarang ini, dengan perbedaan pokok bahwa pada yang
terakhir ini "motif praktis" yang dominan adalah kepentingan pasar dan
konsumerisme. Sementara pada sinkretisme, tampaknya motif pokok di sana
adalah semacam "dorongan subsisten" dalam masyarakat Jawa. Yang saya
maksud adalah dorongan agar tetap bertahan "hidup" ketika ada "serbuan"
unsur-unsur baru yang membawa "pandangan dunia" yang lain.
Jika Serat Centhini kita jadikan sandaran penilaian, maka suatu kesimpulan
sementara yang bisa kita katakan mengenai Islam dan Jawa adalah bahwa
agama itu hanyalah "menambahkan" sejumlah hal baru pada struktur
pandangan dunia yang sudah ada sebelumnya. Dengan demikian, tak ada
yang dibuang dari khazanah lama, dan unsur-unsur baru yang datang
belakangan juga tidak diandaikan akan "menggantikan" yang lama.
Jika
kita melihat struktur pandangan orang Jawa melalui "optik" Serat
Centhini, kelihatan sekali bahwa di sana terdapat "tumpukan" sejumlah
unsur-unsur kebudayaan satu di atas yang lainnya, dan membentuk
lapisan-lapisan yang tak saling berkaitan. Masing-masing lapisan tidak
mengandaikan sebagai terusan dari yang lain dalam suatu bentuk
"kontinuitas budaya". Juga tidak mengandaikan adanya semacam
"diskontinuitas budaya", di mana lapisan yang satu dianggap mengakhiri
lapisan sebelumnya. Artinya, dalam hal ini kita tidak bisa berbicara
mengenai "arkeologi" kebudayaan Jawa, setidak-tidaknya jika kita
mengandaikan Serat Centhini sebagai dasar studi. Sebab, dalam suatu
arkeologi, diandaikan adanya semacam "retakan-retakan" yang memutuskan
lapisan-lapisan kebudayaan satu dari yang lainnya, dan masing-masing
lapisan merupakan consummation atau penyempurnaan dari yang sebelumnya.
Pengamatan
ini memang bernada generalistis, dan sangat spekulatif. Tetapi, jika
kita melihat Serat Centhini, maka kesan-kesan seperti yang saya
kemukakan itu memang amat kuat sekali.
Pasca-Centhini: Jawa "baru"?
Bagaimana orang-orang Jawa pada periode-katakan saja-"pasca-Centhini" memahami
hubungan antara Islam dan kejawaan? Adakah perubahan yang mendasar
dalam pandangan-pandangan yang sebelumnya bernada sinkretis itu? Sebuah
kesaksian kontemporer dari keluarga Jawa sebagaimana dituturkan oleh
Hersri saya kira layak dikutip di sini (saya ambil dari tulisan Hersri
Between the Bars yang dimuat dalam buku Silenced Voices suntingan John
H McGlynn yang terbit baru-baru ini). Cerita Hersri ini saya kira
mewakili semacam corak yang umum dalam keluarga Jawa dari kelas bawah.
Cerita ini terjadi di tahun 1947/1948.
Hersri adalah orang yang tumbuh dalam keluarga abangan dan tidak mengenal "kesetiaan" yang
fanatik terhadap agama-agama resmi. Sikap yang longgar ini tercermin
dalam jawabannya ketika suatu ketika ia ditanya oleh gurunya di kelas,
"Apa agamamu?" Ia kebingungan, karena di rumah tidak pernah memperoleh
pengajaran mengenai kesetiaan yang eksklusif terhadap agama tertentu.
Kakaknya yang sulung dikirim oleh ayahnya ke Sekolah Katolik di
Muntilan, bukan dengan kesadaran mendalam agar anaknya belajar agama
itu. Tetapi, Sekolah Katolik di daerahnya lebih menerapkan disiplin
yang keras ketimbang sekolah lain, sehingga dengan demikian ayahnya
berharap agar kakaknya yang ndablek itu bisa dijinakkan. Kakaknya yang
lain belajar di Sekolah Taman Siswa. Sementara kakaknya yang nomor tiga
dikirim ke Sekolah Muhammadiyah, juga bukan dengan alasan agar belajar
Islam dengan baik, tetapi karena kakaknya yang satu ini tidak diterima
baik di sekolah umum atau Protestan. Bapaknya sendiri selalu berkata
bahwa semua agama adalah baik, dan sering ikut dalam acara selamatan
desa yang biasanya juga menggunakan sejumlah ritual Islam (seperti
tahlil, misalnya). Tetapi ia tidak pernah menjadi Muslim. Terhadap
pertanyaan yang membingungkan dari gurunya itu, Hersri akhirnya
menjawab, "Saya mengikuti semua agama yang ada." Seluruh murid di
kelasnya tertawa.
Apakah ini cerminan dari sinkretisme seperti
yang disebut di muka? Boleh jadi. Tetapi sikap permisif secara
"teologis" ini lama-lama makin pudar, karena proses yang lain juga
sedang berlangsung, yaitu apa yang sering disebut sebagai
"santri-isasi" orang Jawa. Saya pernah mendengar cerita seorang jemaat
Gereja Kristen di kawasan Pulo Mas mengenai proses "baru" yang sedang
berlangsung dalam masyarakat Jawa itu. Dahulu, cerita si jemaat ini,
jika ada jenazah di desanya (di Madiun), sudah menjadi adat yang lazim
bahwa seluruh warga desa dari agama apa pun akan mengurusnya. Sekarang,
setelah sejumlah fatwa MUI dikeluarkan mengenai larangan orang Islam
terlibat dalam ritual agama lain (termasuk seremoni kematian,
tentunya), pelan-pelan orang makin sadar akan "identitasnya" sebagai
orang Muslim atau Kristen atau yang lain. Orang Jawa makin menyadari
bahwa ada gejala lain yang muncul ke permukaan: gejala untuk menganggap
sikap "permisif" secara teologis sebagai hal yang tidak lagi wajar.
Proses
ini, tampaknya sudah berlangsung sejak lama, meskipun resonansinya baru
tampak dengan "keras" akhir-akhir ini. GWJ Drewes (dalam artikel
berjudul Indonesia: Mysticism and Activism, yang dimuat dalam buku
suntingan Gustave von Grunebaum, Unity and Variety in Muslim
Civilization, [1955]), pernah mengemukakan pengamatannya di tahun 50-an
mengenai proses Islamisasi di tanah Jawa. Ia mengatakan bahwa,
[T]he
Islamization of Indonesia is still in progress, not only in the sense
that Islam is still spreading among pagan tribes, but also in that
peoples who went over to Islam centuries ago are living up more and
more to the standard of Muslim orthodoxy.
Kecenderungan yang
kita lihat akhir-akhir ini tampaknya memang makin cenderung membenarkan
apa yang dikatakan oleh Drewes itu. Tetapi semacam caveat tetap harus
dikemukakan di sini. Jika kecenderungan makin "ortodoks" di kalangan
masyarakat Jawa seperti dikemukakan oleh Drewes itu benar-benar
terjadi, maka harus pula dipertimbangkan kenyataan bahwa dalam pemilu
tahun lalu, partai-partai Islam mengalami kekalahan yang dramatis.
PDI-P yang mempunyai basis luas di kalangan masyarakat Jawa yang
abangan, memperoleh suara yang besar.
Ulil Abshar-Abdalla, Ketua Lakpesdam-NU, Jakarta.
�������
|

|
|
| |
| |
|