Judul : Centhini - Ia Yang Memikul Raganya
Penerbit : Galang Press
Penulis : Elizabeth D Inandiak
Penerjemah : Laddy Lesmana dan Elizabeth D Inandiak
Judul Asli : Les Chants de l�ile a dormir debout - Le Livre de Centhini
Cetakan I : September 2005
Halaman : 214 Halaman
Tetapi, apakah
kematian Syekh Siti Jenar dengan sendirinya mematikan pemikirannya. Ternyata tidak.
Perdebatan pemikiran seperti itu masih mencuat hingga munculnya beberapa kesultanan di
Jawa. Konflik tersebut menjadi tema yang akrab di Jawa pada saat itu. Bahkan, boleh jadi
masih ada sampai sekarang.
PERDEBATAN Islam syariat dan Islam hakekat mewarnai kisah-kisah perkembangan
Islam di Jawa, setelah berdirinya Kerajaan Islam Demak pada abad ke-16. Bahkan,
perdebatan-perdebatan seperti itu akhirnya memunculkan berbagai ketegangan yang
berkepanjangan.
Puncaknya terjadi ketika dewan Wali Sanga menjatuhkan hukuman mati kepada Syekh Siti
Jenar yang dianggap telah menyebarkan aliran sesat.
Dosa yang ditudingkan kepada Syekh Siti Jenar karena menyebarkan ilmu hakekat kepada
orang awam. Hal ini dianggap berbahaya, sebab dikhawatirkan orang awam yang menggeluti
ilmu ini dapat meninggalkan syariat.
Syekh Siti Jenar pun akhirnya dipenggal lehernya oleh Sunan Kalijaga atas keputusan
para wali. Kisah-kisah kesaktian Syekh Siti Jenar pun menyertai dalam cerita tokoh ini.
Tetapi, apakah kematian Syekh Siti Jenar dengan sendirinya mematikan pemikirannya.
Ternyata tidak. Perdebatan pemikiran seperti itu masih mencuat hingga munculnya beberapa
kesultanan di Jawa.
Konflik tersebut menjadi tema yang akrab di Jawa pada saat itu. Bahkan, boleh jadi
masih ada sampai sekarang. Selain Syekh Siti Jenar pada jaman Sunan Giri, ada pula kisah
Sunan Panggung pada jaman Kerajaan Demak dan Ki Bebeluk pada jaman Kerajaan Pajang.
Perdebatan-perdebatan itu, salah satunya, terungkap dalam Serat Cabolek, karya Raden
Ngabehi Yasadipura I, seorang pujangga besar Keraton Surakarta pada abad ke-18. Kitab ini
mengisahkan perilaku aneh Kiai Mutamakin dari Tuban. Namun, kesalahannya akhirnya diampuni
raja.
Nasib seperti Syekh Siti Jenar juga dialami Syekh Among Raga pada jaman Sultan Agung
berkuasa di Kerajaan Mataram. Kisah ini diangkat dalam Serat Centhini, karya sejumlah
pujangga di Keraton Surakarta.
Terlepas dari kontroversi yang ada, Serat Centhini dipandang kalangan satrawan sebagai
karya besar. Karya sastra ini tidak hanya besar dalam kandungannya, tetapi sekaligus besar
dalam hal ketebalannya. Serat Centhini ditulis dengan huruf Jawa kuno dalam bentuk
tembang.
Isinya mencakup berbagai hal tentang Jawa, mulai dari sejarah hingga horoskop Jawa.
Beberapa bagian melukiskan dengan penuh syahwat dan nafsu sehingga menuai banyak kritikan.
Begitu luasnya khasanah Jawa yang termuat, Serat Centhini mencapai ribuan lembar.
Kisah Syekh Amongraga hanyalah sebagian diantara isi Serat Centhini. Kisah ini pula
yang diadaptasi Elizabeth D Inandiak dalam karyanya Ia yang Memikul Raganya. Judul
aslinya, Les Chants de l�ile a dormir debout - le Livre de Centhini.
Ia yang Memikul Raganya adalah sebuah fragmen dari Serat Centhini. Buku ini merupakan
jilid ketiga dari serangkaian jilid yang direncanakan. Jilid pertama berjudul Empat Puluh
Malam dan Satunya Hujan. Sedang jilid kedua berjudul Minggatnya Cebolang.
Jilid ketiga ini mengisahkan pengembaraan Amongraga setelah id meninggalkan isterinya,
dengan dalih mencari dua adiknya yang hilang, menyusul penyerbuan Adipati Pekik di
Surabaya terhadap Keraton Giri di kawasan Gresik sekarang.
Penyerbuan itu atas perintah Sultan Agung di Mataram. Hal itu dilakukan karen Keraton
Giri hendak membangkang dari kekuasan Sultan Agung.
Dalam pengembaraannya, Amongraga berkeinginan menyatu dengan Allah, sehingga ia mabuk
dalam asyik-masyuk. Siapa sebenarnya tokoh Amongraga ini. Ia tidak lain adalah seorang
pangeran keturunan Sunan Giri, salah Satu Wali Sanga yang mendirikan keraton di sebuah
bukit yang kini berada tidak jauh dari Makam Sunan Giri. Nama aslinya Jayengresmi.
Saat Sultan Agung berkuasa, Keraton Giri tidak mau bersujud kepadanya. Karena itu,
Sultan Agung memerintahkan Adipati Pekik di Surabaya untuk menghancurkan Keraton Giri.
Dari pihak Giri, perang dipimpin oleh Endrasena, seorang pemuda Cina yang masuk Islam
dan menjadi anak angkat Sunan Giri. Sedang putra Sunan Giri yang paling sulung Jayengresmi
(Amongraga) menentang perang.
Dalam pertempuran itu Endrasena tewas tertembak. Keraton Giri akhirnya dibakar
lawannya. Kekalahan Keraton Giri atas Sultan Agung itu menandai awal pengembaraan
Amongraga. Awalnya, pengembaraan itu untuk mencari adiknya, Jayengsari dan Rangkacapti
yang keduanya telah mengungsi ke tempat lain.
Dalam fragmen ini dikisahkan, Amongraga mengembara ke sejumlah tempat di bekas wilayah
Kerajaan Majapahit. Dijumpainya candi-candi bekas peninggalan kerajaan itu. Ditemuinya
para juru kunci. Bertemu pula dengan orang yang mengaku masih keturunan Raja Brawijaya.
Lalu meneruskan pengembaraannya di timur, di kawasan Gunung Bromo. Di sana bertemu
dengan seorang yang masih menganut agama Budha. Amongraga kemudian mengembara ke barat. Di
wilayah barat Jawa itu, Amongraga berguru kepada Ki Karang. Setelah itu diperintahkan
menemui Ki Panurta di Wanamarta untuk berguru di sana. Sebelum ke Wanamarta, Amongraga
mengunjungi Candi Sukuh di lereng barat Gunung Lamu.
Amongraga akhirnya menemui Ki Panurta. Namun, sebelum masuk ke padepokan Ki Panurta,
Amongraga sempat berdialog dengan dua anaknya, tentang ilmu hakekat. Mengetahui ketinggian
ilmu Amongraga, ia kemudian diijinkan bertemu dengan Ki Panurta.
Di situlah, Amongraga mengaku bahwa dirinya sebenarnya putera Sunan Giri. Amongraga
akhirnya menikah dengan Tembangraras, anak Ki Panurto. Tembangraras memiliki abdi bernama
Centhini.
Permintaan Ki Panurto kepada Amongraga agar puterinya diajari ilmu hakekat. Hal itu
dipenuhi, namun Amongraga juga meminta permintaan. Ia bersedia menikahi dan mengajarkan
ilmu kepada Tembangraras, namun tidak lama setelah menikah dirinya akan melanjutkan
pengembaraan.
Selama empat puluh malam, Amongraga mengajari ilmu itu kepada Tembangraras. Dan, baru
malam keempat puluh itu, keduanya berkumpul sebagai suami isteri. Namun, kecintaan
Amongraga kepada Ilahi jauh lebih besar dibanding kepada isterinya. Malam itu, setelah
isterinya tertidur, Amongraga meninggalkannya untuk melanjutkan pengembaraan.
Ia menyusuri kawasan pantai selatan Mataram. Amongraga juga mengajarkan ilmu di ke
daerah Gunung Kidul. Pengembaraan Amongraga semakin mendekati Keraton Sultan Agung.
Ia membuka hutan Kanigoro (sekarang di wilayah Bantul, Red.) dan mendirikan mesjid di
sana. Orang-orang Gunungkidul berdatangan untuk berguru. Di tempat itu, santrinya mencapai
empat ribu.
Namun, santrinya tak benar-benar taat kepada guru. Mereka seolah tak mempunyai otak,
seperti terkena guna-guna, karena terbawa permainan sihir oleh dua murid Amongraga, Jamal
dan Jamil.
Akhirnya, mereka bukan hanya karena mabuk dalam asyik-masyuk dengan Ilahi, tetapi juga
karena keliaran laku oleh dua muridnya itu. Pria dan wanita tak mengenal tatakrama
perkawinan, mereka bagaikan binatang.
Amongraga berada di sisi mereka dalam doa. Ia mengurangi makan dan minum. Ia telah
habiskan seluruh nafsunya, kecuali satu: membalas dendam rasa malu yang dulunya diderita
ayahhandanya, saat Keraton Giri diluluhlantakkan pasukan Pekik atas perintah Sultan Agung.
Dalam pertapaannya, Amongraga mengepung semua tempat kekuatan Raja Mataram, Gua Langse
di tepi laut selatan, Samudera Padma Merah dan Gunung Merapi. Sementara, para pengikut
Amongraga di Gunung Kidul terus berperilaku aneh. Mereka terbius oleh sihir-sihir dua
murid Amongraga, melakukan ritual dengan telanjang dan lain sebagainya. Mereka juga tak
mau lagi membayar pajak panen.
Hal itu akhirnya didengar Sultan Agung. Sultan memerintahkan Patih Wiraguna dan dibantu
12 ulama untuk menyadarkan Amongraga. Amongraga akhirnya dijatuhi hukuman, dimasukkan ke
dalam bronjong dan digembok. Kerangkeng itu kemudian dibuang ke Samudera Padma Merah.
Kerangkeng itu akhirnya ditelan ombak laut selatan yang ganas. Namun, ada satu
keanehan. Kerangkeng kembali terdampar ke pantai dengan keadaan kosong dan tergembok.
Kerangkeng itu kemudian disampaikan Patih Wiraguna ke Sultan Agung sebagai bukti
keajaiban.
Dikisahkan, di dalam penjara Mataram, Sunan Giri mengenali bahwa Amongraga yang dihukum
ditenggelamkan ke laut adalah putera sulungnya yang dulu diusir karena menolak perang.
�������