SERAT Centhini ditulis tahun 1814-1823 oleh tim yang dipimpin Adipati
Anom Amangkunagara III yang setelah menjadi raja bergelar Sunan Paku
Buwana V (1820-1823). Tebal naskah 4.200 halaman folio, terdiri atas 12
jilid. Tema utamanya adalah perjalanan tasawuf menuju kesempurnaan
hidup. Tokoh protagonisnya adalah Syeh Amongraga dan tokoh antagonisnya
Tambangraras. Kandungan ilmunya sangat beragam, sehingga Guru Besar
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Marsono, menyebutnya
sebagai "Ensiklopedi Kebudayaan Jawa".
Tahun 2002, sastrawan Perancis bernama Elizabeth D Inandiak menerbitkan saduran Serat Centhini dalam bahasa Perancis dengan judul "Les Chants de I ile a dormer debout - le livre de Centhini". Ia juga menerbitkan Serat Centhini dalam bentuk cuplikan.
Tahun 2008 ini, Elizabeth menerbitkan kembali saduran Serat Centhini secara utuh dalam bahasa Indonesia dengan judul "Centhini, Kekasih yang Tersembunyi". Akhir Juli 2008 lalu, launching buku ini diselenggarakan di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) dalam acara "Hari Huru Hara Centhini".
"Jawa punya harta karun tak ternilai, salah satunya adalah Serat Centhini.
Untuk itu, kami menulisnya kembali dalam bahasa Indonesia agar kekayaan
ini tidak lapuk ditelan zaman," kata Elizabeth kepada Jurnal Nasional
di tempat tinggalnya, Dusun Pajangan, Pendowoharjo, Sleman, Yogyakarta.
Berikut kutipan wawancara dengan perempuan yang tinggal antara
Yogyakarta dan Paris sejak tahun 1990 ini.
1. Mengapa Anda tertarik Serat Centhini?
Itu namanya jatuh cinta pada karya sastra. Saya tahu Centhini
pertama kali dalam bentuk ringkasan tiga halaman, ditulis ahli
kebudayaan dan sejarah Nusantara asal Perancis. Itu hanya bagian dari
tiga jilid buku tentang Kebudayaan Indonesia dari masa kuno sampai abad
ke-20. Saya langsung tertarik, tetapi tidak punya akses ke Centhini
asli karena tidak bisa bahasa Jawa. Waktu itu saya sudah 2-3 tahun di
Indonesia. Mulailah saya membuat penelitian, membaca beberapa ringkasan
lain, juga menulis novel dengan tokoh penerjemah Centhini. Sayang, novel itu tidak bagus. Sampai sekarang tidak saya selesaikan, hanya sampai 100 halaman.
2. Apa yang menarik dari tulisan tiga halaman tadi?
Pertama, perjalanan rohani-spiritual, mistik. Kedua, sulap dan seks
bebas. Selain itu, menurut beberapa ahli sastra, Serat Centhini adalah
salah satu karya sastra terbesar dunia. Hanya, belum diterjemahkan
dalam bahasa mana pun. Struktur kisah sangat menarik, rumit, tapi
sempurna. Sangat mistik sekaligus sangat rohani. Punya kekuatan.
Tentang tokoh, bisa di mana dan kenapa, siapa anaknya, kemudian ketemu
lagi. Luar biasa. Saya tidak tahu apakah pada awal abad ke-19, penulis
sudah punya gambaran tentang ini, atau muncul begitu saja. Luas sekali,
sebanyak 4.000 halaman.
3. Anda pernah mengatakan Serat Centhini seagung Mahabharata, maksudnya?
Nilai filsafat, mistik, kekayaan kosakata, dan kebudayaan, bisa
disamakan dengan Mahabharata. Betul-betul karya agung. Di Mahabharata
tokoh mengembara ke hutan karena diusir dari kraton. Tokoh-tokoh Centhini dari
Kerajaan Giri melarikan diri karena diserang. Sultan Agung atau
Pangeran Surabaya dibawa ke Mataram, anak-anak lari, (jadi) tidak
diusir.
Di Mahabharata, setelah di hutan mereka memperoleh
ajaran mistik. Saat hidup sulit bisa lebih terbuka menerima ajaran
dibandingkan ketika hidup dalam kemewahan di istana. Bedanya lagi, di Centhini perang tidak penting. Ada 722 tembang atau pupuh, tentang perang hanya di 16 tembang pertama.
4. Mengapa begitu?
Anak tertua Sunan Giri namanya Amongraga, tokoh utama. Amongraga punya
kakak angkat Hendrasmo, orang China beragama Islam. Tapi, aneh, kalau
dia China mengapa punya nama Jawa, padahal larangan bernama China ada
di jaman Soeharto. Pada adegan itu datang utusan Sultan Agung yang
minta Sunan Giri mengikuti aturan Mataram. Sunan Giri bingung, kalau
tidak mau, pasti terjadi perang. Hendrasmo menyarankan untuk tidak
mengikuti aturan Mataram. Katanya, "Tidak apa-apa kalau memang harus berperang."
Lain dengan Amongraga yang memohon agar tidak terjadi perang. Tapi, dia
justru diusir ayahnya. Hendrasmo berperang dan mati, lalu Amongraga
mengembara.
Menurut saya, Hendrasmo dan Amongraga adalah satu
orang dengan dua karakter. Mereka mewakili dua jihad: kecil dan besar.
Jihad kecil ya perang fisik. Nabi (Muhammad SAW) sepulang dari
peperangan mengatakan, baru saja melakukan jihad kecil, dan akan
memasuki jihad besar yaitu perang melawan hawa nafsu. Sebanyak 16 pupuh
menceritakan jihad kecil, dan sebagian besar lain adalah jihad besar.
5. Apa intisari Serat Centhini?
Pengembaraan tokoh. Dalam perjalanan (mereka) mampu memurnikan diri serta membakar nafsu. Dalam Centhini, perang kecil dan perang besar ditulis. Luar biasa.
Beberapa tahun saya bekerja sama dengan Ibu Sunaryati Sutanto, ahli
bahasa Jawa. Kami pilih beberapa pupuh untuk diterjemahkan. Pupuh lain
banyak yang ensiklopedi. Saya ingin mengenalkan cerita kepada pembaca
bukan Jawa. Kalau hanya nama burung akan membosankan. Ada ringkasan
ditulis tahun 1920-an dalam bahasa Jawa. Saya baca semua, kemudian saya
pilih pupuh-pupuh dan diterjemahkan Bu Sutanto ke bahasa Indonesia.
Seluruhnya sekitar 1.200 halaman dari 4.000 halaman. Kemudian saya
terjemahkan dalam bahasa Perancis tanpa mengubah sedikit pun. Ini
sangat sulit. Karena, tembang, salah sedikit saja akan menghilangkan
keindahannya. Keindahan Centhini terletak pada tembang atau musiknya.
Setelah 2-3 tahun bekerja, saya bertemu banyak orang untuk membantu
menafsirkan beberapa bagian yang rumit dan sangat misterius. Saya
bertemu tokoh masyarakat, kiai, ahli tarekat, dan lain-lain. Juga
mencari karya asli. Karena, kadang-kadang yang disebut dalam Centhini sebenarnya buku dari Timur Tengah. Kemudian saya bikin kreasi. Itu sulit, karena bahasa Jawa di Centhini dicampur bahasa Arab.
Awalnya saya takut bagaimana mungkin berani menulis kembali mahakarya
ini. Saya harus punya hubungan batin dengan penyair-penyair Kraton Solo
jaman dulu, dan mencari gaya menulis dalam bahasa Perancis yang luar
biasa indah. Saya bekerja dalam trance cukup panjang. Selama
delapan bulan, sore sampai larut malam, saya baca pupuh-pupuh. Mencari
esensi, arti, ditafsirkan, mencari keindahan. Saya cari beberapa sumber
lain, misalnya karya sastra Timur Tengah, dari penyair ini-itu, dari
sudut lain, dan sebagainya. Kemudian saya masuk lagi semacam trance. Mulailah saya menulis. Dari 10 halaman misalnya, menjadi satu halaman.
6. Hikmah apa yang bisa dipetik bagi kehidupan masa sekarang?
Luar biasa banyak. Ada beberapa pupuh, terutama Amongraga dan Cebolang.
Cebolang adalah remaja putri yang pergi dari rumah untuk mengembara.
Dalam situasi sekarang, banyak pemuda minum minuman keras, narkoba,
tidak menghormati orang tua, dan seks bebas. Hal yang sama juga terjadi
pada awal abad ke-19. Saya rasa Cebolang tidak sendiri, tapi jarang
diceritakan dalam buku sejarah atau babad kraton. Baru sekarang saya
membaca buku kehidupan remaja jaman dahulu.
Pelajaran lain,
perjalanan rohani itu sangat sulit. Amongraga memberi contoh melakukan
jihad besar setelah jihad kecil selesai. Setelah adiknya yang China
meninggal, ia mengembara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dia
bertapa, dzikir, shalat, dan lain-lain, dikisahkan dalam 3.500-an
halaman.
Pada tembang terakhir dikisahkan Amongraga kalah.
Ketika bertemu Sultan Agung, masih ada dendam karena ayahnya ditangkap
kemudian meninggal di penjara. Nafsu terakhirnya menjadi raja. Ia dan
istri berubah jadi ulat, kemudian dimasukkan dalam kembang
Wijayakusuma. Bunga ini dimakan Sultan Agung dan pangeran Surabaya.
Masing-masing melahirkan anak, dan anak Sultan Agung adalah Amangkurat
I. Pada pupuh terakhir disebut, Amangkurat dikenal sebagai pembunuh
5.000 ulama, tangannya penuh darah.
Banyak yang bertanya-tanya tentang pupuh terakhir. Apakah penulis sudah capek,
kemudian cepat-cepat mengakhiri tembang? Atau ada arti lain? Dalam
tulisan saya, pupuh terakhir berjudul "Nafsu Terakhir". Ini karya yang
menceritakan bahwa kita harus hati-hati. Perjalanan spiritual itu
sangat rumit, sangat sulit. Kita harus waspada supaya tidak didorong
kesombongan.
7. Siapa sebenarnya Centhini?
Pembantu Tambangraras, secara khusus ditulis pada kisah 40 malam. Ia
menjaga pasangan Amongraga dan Tambangraras. Ketika Amongraga pergi
meninggalkan istri untuk mencari adik-adiknya, Tambangraras dan
Centhini juga mengembara. Setelah itu mereka bertemu lagi. Pada saat
bahagia ini, Centhini tidak lagi diceritakan. Mengherankan, lho Centhini pergi ke mana?
Judul "Serat Centhini" memberi penghormatan kepada pembantu. Buku asli
berjudul "Suluk Tambangraras". Saya tidak tahu siapa dan mulai kapan
(dipakai) judul baru itu.
8. Serat Centhini terdiri atas 12 jilid. Bagaimana kalau masyarakat hanya mencari jilid yang menceritakan seks bebas saja?
Seharusnya tidak perlu disebutkan pada jilid berapa adegan seks bebas
itu. Tapi, itulah risiko kalau ke luar dari konteks. Sebagai wartawan
kita tahu, kalau hanya mengambil penggalan kalimat di luar konteks
kalimat sebelum dan sesudahnya, artinya bisa sangat berubah. Kalau
hanya melihat potongan-potongan, Centhini bisa dianggap
berbahaya. Padahal Centhini adalah buku yang menggambarkan dunia nyata
dalam keseluruhan, bahkan kita juga mengalami. Bagaimana kita bereaksi
dan mencari pemurnian dalam perjalanan hidup. Tidak boleh menyalahkan
orang lain. -Kalau ada yang memilih bagian yang "kotor" artinya mereka
memang punya niat kotor sebelumnya. Kalau kita bersih, maka akan
menemukan kebersihan, kalau kotor akan menemukan kekotoran.
9. Cebolang memberi contoh bahwa perjalanan panjang diperlukan agar menjadi baik, bagaimana kaitan hal ini dengan anak muda?
Orang tua harus punya toleransi, harus ingat ketika dirinya remaja.
Anak - walaupun kita membesarkan dengan moralitas dan agama yang ketat
- tetapi mereka kadang melewati jalan yang ssedikit buruk, agak
liar.
Di seluruh dunia, pemuda kurang membaca karena
ada televisi, komputer, internet. Saya tidak tahu apakah ketika saya
masih muda juga akan tertarik dengan karya seperti itu? Tapi, ada juga lho pemuda yang tertarik dengan Serat Centhini.
�������