9 Pertanyaan untuk Elizabeth D Inandiak: Menggali Harta Karun Serat Centhini
title: 9 Pertanyaan untuk Elizabeth D Inandiak: Menggali Harta Karun Serat Centhini
writer: Heru Prasetya
source: Jurnal Nasional, Jakarta | Jum'at, 15 Agt 2008

SERAT Centhini ditulis tahun 1814-1823 oleh tim yang dipimpin Adipati Anom Amangkunagara III yang setelah menjadi raja bergelar Sunan Paku Buwana V (1820-1823). Tebal naskah 4.200 halaman folio, terdiri atas 12 jilid. Tema utamanya adalah perjalanan tasawuf menuju kesempurnaan hidup. Tokoh protagonisnya adalah Syeh Amongraga dan tokoh antagonisnya Tambangraras. Kandungan ilmunya sangat beragam, sehingga Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Marsono, menyebutnya sebagai "Ensiklopedi Kebudayaan Jawa".

Tahun 2002, sastrawan Perancis bernama Elizabeth D Inandiak menerbitkan saduran Serat Centhini dalam bahasa Perancis dengan judul "Les Chants de I ile a dormer debout - le livre de Centhini". Ia juga menerbitkan Serat Centhini dalam bentuk cuplikan.

Tahun 2008 ini, Elizabeth menerbitkan kembali saduran Serat Centhini secara utuh dalam bahasa Indonesia dengan judul "Centhini, Kekasih yang Tersembunyi". Akhir Juli 2008 lalu, launching buku ini diselenggarakan di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) dalam acara "Hari Huru Hara Centhini".

"Jawa punya harta karun tak ternilai, salah satunya adalah Serat Centhini. Untuk itu, kami menulisnya kembali dalam bahasa Indonesia agar kekayaan ini tidak lapuk ditelan zaman," kata Elizabeth kepada Jurnal Nasional di tempat tinggalnya, Dusun Pajangan, Pendowoharjo, Sleman, Yogyakarta. Berikut kutipan wawancara dengan perempuan yang tinggal antara Yogyakarta dan Paris sejak tahun 1990 ini.

1. Mengapa Anda tertarik Serat Centhini?

Elizabeth D InandiakItu namanya jatuh cinta pada karya sastra. Saya tahu Centhini pertama kali dalam bentuk ringkasan tiga halaman, ditulis ahli kebudayaan dan sejarah Nusantara asal Perancis. Itu hanya bagian dari tiga jilid buku tentang Kebudayaan Indonesia dari masa kuno sampai abad ke-20. Saya langsung tertarik, tetapi tidak punya akses ke Centhini asli karena tidak bisa bahasa Jawa. Waktu itu saya sudah 2-3 tahun di Indonesia. Mulailah saya membuat penelitian, membaca beberapa ringkasan lain, juga menulis novel dengan tokoh penerjemah Centhini. Sayang, novel itu tidak bagus. Sampai sekarang tidak saya selesaikan, hanya sampai 100 halaman.

2. Apa yang menarik dari tulisan tiga halaman tadi?

Pertama, perjalanan rohani-spiritual, mistik. Kedua, sulap dan seks bebas. Selain itu, menurut beberapa ahli sastra, Serat Centhini adalah salah satu karya sastra terbesar dunia. Hanya, belum diterjemahkan dalam bahasa mana pun. Struktur kisah sangat menarik, rumit, tapi sempurna. Sangat mistik sekaligus sangat rohani. Punya kekuatan.

Tentang tokoh, bisa di mana dan kenapa, siapa anaknya, kemudian ketemu lagi. Luar biasa. Saya tidak tahu apakah pada awal abad ke-19, penulis sudah punya gambaran tentang ini, atau muncul begitu saja. Luas sekali, sebanyak 4.000 halaman.

3. Anda pernah mengatakan Serat Centhini seagung Mahabharata, maksudnya?

Nilai filsafat, mistik, kekayaan kosakata, dan kebudayaan, bisa disamakan dengan Mahabharata. Betul-betul karya agung. Di Mahabharata tokoh mengembara ke hutan karena diusir dari kraton. Tokoh-tokoh Centhini dari Kerajaan Giri melarikan diri karena diserang. Sultan Agung atau Pangeran Surabaya dibawa ke Mataram, anak-anak lari, (jadi) tidak diusir.

Di Mahabharata, setelah di hutan mereka memperoleh ajaran mistik. Saat hidup sulit bisa lebih terbuka menerima ajaran dibandingkan ketika hidup dalam kemewahan di istana. Bedanya lagi, di Centhini perang tidak penting. Ada 722 tembang atau pupuh, tentang perang hanya di 16 tembang pertama.

4. Mengapa begitu?

Anak tertua Sunan Giri namanya Amongraga, tokoh utama. Amongraga punya kakak angkat Hendrasmo, orang China beragama Islam. Tapi, aneh, kalau dia China mengapa punya nama Jawa, padahal larangan bernama China ada di jaman Soeharto. Pada adegan itu datang utusan Sultan Agung yang minta Sunan Giri mengikuti aturan Mataram. Sunan Giri bingung, kalau tidak mau, pasti terjadi perang. Hendrasmo menyarankan untuk tidak mengikuti aturan Mataram. Katanya, "Tidak apa-apa kalau memang harus berperang." Lain dengan Amongraga yang memohon agar tidak terjadi perang. Tapi, dia justru diusir ayahnya. Hendrasmo berperang dan mati, lalu Amongraga mengembara.

Menurut saya, Hendrasmo dan Amongraga adalah satu orang dengan dua karakter. Mereka mewakili dua jihad: kecil dan besar. Jihad kecil ya perang fisik. Nabi (Muhammad SAW) sepulang dari peperangan mengatakan, baru saja melakukan jihad kecil, dan akan memasuki jihad besar yaitu perang melawan hawa nafsu. Sebanyak 16 pupuh menceritakan jihad kecil, dan sebagian besar lain adalah jihad besar.

5. Apa intisari Serat Centhini?

Pengembaraan tokoh. Dalam perjalanan (mereka) mampu memurnikan diri serta membakar nafsu. Dalam Centhini, perang kecil dan perang besar ditulis. Luar biasa.

Beberapa tahun saya bekerja sama dengan Ibu Sunaryati Sutanto, ahli bahasa Jawa. Kami pilih beberapa pupuh untuk diterjemahkan. Pupuh lain banyak yang ensiklopedi. Saya ingin mengenalkan cerita kepada pembaca bukan Jawa. Kalau hanya nama burung akan membosankan. Ada ringkasan ditulis tahun 1920-an dalam bahasa Jawa. Saya baca semua, kemudian saya pilih pupuh-pupuh dan diterjemahkan Bu Sutanto ke bahasa Indonesia. Seluruhnya sekitar 1.200 halaman dari 4.000 halaman. Kemudian saya terjemahkan dalam bahasa Perancis tanpa mengubah sedikit pun. Ini sangat sulit. Karena, tembang, salah sedikit saja akan menghilangkan keindahannya. Keindahan Centhini terletak pada tembang atau musiknya.

Setelah 2-3 tahun bekerja, saya bertemu banyak orang untuk membantu menafsirkan beberapa bagian yang rumit dan sangat misterius. Saya bertemu tokoh masyarakat, kiai, ahli tarekat, dan lain-lain. Juga mencari karya asli. Karena, kadang-kadang yang disebut dalam Centhini sebenarnya buku dari Timur Tengah. Kemudian saya bikin kreasi. Itu sulit, karena bahasa Jawa di Centhini dicampur bahasa Arab.

Awalnya saya takut bagaimana mungkin berani menulis kembali mahakarya ini. Saya harus punya hubungan batin dengan penyair-penyair Kraton Solo jaman dulu, dan mencari gaya menulis dalam bahasa Perancis yang luar biasa indah. Saya bekerja dalam trance cukup panjang. Selama delapan bulan, sore sampai larut malam, saya baca pupuh-pupuh. Mencari esensi, arti, ditafsirkan, mencari keindahan. Saya cari beberapa sumber lain, misalnya karya sastra Timur Tengah, dari penyair ini-itu, dari sudut lain, dan sebagainya. Kemudian saya masuk lagi semacam trance. Mulailah saya menulis. Dari 10 halaman misalnya, menjadi satu halaman.

6. Hikmah apa yang bisa dipetik bagi kehidupan masa sekarang?

Luar biasa banyak. Ada beberapa pupuh, terutama Amongraga dan Cebolang. Cebolang adalah remaja putri yang pergi dari rumah untuk mengembara. Dalam situasi sekarang, banyak pemuda minum minuman keras, narkoba, tidak menghormati orang tua, dan seks bebas. Hal yang sama juga terjadi pada awal abad ke-19. Saya rasa Cebolang tidak sendiri, tapi jarang diceritakan dalam buku sejarah atau babad kraton. Baru sekarang saya membaca buku kehidupan remaja jaman dahulu.

Pelajaran lain, perjalanan rohani itu sangat sulit. Amongraga memberi contoh melakukan jihad besar setelah jihad kecil selesai. Setelah adiknya yang China meninggal, ia mengembara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dia bertapa, dzikir, shalat, dan lain-lain, dikisahkan dalam 3.500-an halaman.

Pada tembang terakhir dikisahkan Amongraga kalah. Ketika bertemu Sultan Agung, masih ada dendam karena ayahnya ditangkap kemudian meninggal di penjara. Nafsu terakhirnya menjadi raja. Ia dan istri berubah jadi ulat, kemudian dimasukkan dalam kembang Wijayakusuma. Bunga ini dimakan Sultan Agung dan pangeran Surabaya. Masing-masing melahirkan anak, dan anak Sultan Agung adalah Amangkurat I. Pada pupuh terakhir disebut, Amangkurat dikenal sebagai pembunuh 5.000 ulama, tangannya penuh darah.

Banyak yang bertanya-tanya tentang pupuh terakhir. Apakah penulis sudah capek, kemudian cepat-cepat mengakhiri tembang? Atau ada arti lain? Dalam tulisan saya, pupuh terakhir berjudul "Nafsu Terakhir". Ini karya yang menceritakan bahwa kita harus hati-hati. Perjalanan spiritual itu sangat rumit, sangat sulit. Kita harus waspada supaya tidak didorong kesombongan.

7. Siapa sebenarnya Centhini?

Pembantu Tambangraras, secara khusus ditulis pada kisah 40 malam. Ia menjaga pasangan Amongraga dan Tambangraras. Ketika Amongraga pergi meninggalkan istri untuk mencari adik-adiknya, Tambangraras dan Centhini juga mengembara. Setelah itu mereka bertemu lagi. Pada saat bahagia ini, Centhini tidak lagi diceritakan. Mengherankan, lho Centhini pergi ke mana? Judul "Serat Centhini" memberi penghormatan kepada pembantu. Buku asli berjudul "Suluk Tambangraras". Saya tidak tahu siapa dan mulai kapan (dipakai) judul baru itu.

8. Serat Centhini terdiri atas 12 jilid. Bagaimana kalau masyarakat hanya mencari jilid yang menceritakan seks bebas saja?

Seharusnya tidak perlu disebutkan pada jilid berapa adegan seks bebas itu. Tapi, itulah risiko kalau ke luar dari konteks. Sebagai wartawan kita tahu, kalau hanya mengambil penggalan kalimat di luar konteks kalimat sebelum dan sesudahnya, artinya bisa sangat berubah. Kalau hanya melihat potongan-potongan, Centhini bisa dianggap berbahaya. Padahal Centhini adalah buku yang menggambarkan dunia nyata dalam keseluruhan, bahkan kita juga mengalami. Bagaimana kita bereaksi dan mencari pemurnian dalam perjalanan hidup. Tidak boleh menyalahkan orang lain. -Kalau ada yang memilih bagian yang "kotor" artinya mereka memang punya niat kotor sebelumnya. Kalau kita bersih, maka akan menemukan kebersihan, kalau kotor akan menemukan kekotoran.

9. Cebolang memberi contoh bahwa perjalanan panjang diperlukan agar menjadi baik, bagaimana kaitan hal ini dengan anak muda?

Orang tua harus punya toleransi, harus ingat ketika dirinya remaja. Anak - walaupun kita membesarkan dengan moralitas dan agama yang ketat - tetapi mereka kadang melewati jalan yang ssedikit buruk, agak liar. 

Di seluruh dunia, pemuda kurang membaca karena ada televisi, komputer, internet. Saya tidak tahu apakah ketika saya masih muda juga akan tertarik dengan karya seperti itu? Tapi, ada juga lho pemuda yang tertarik dengan Serat Centhini.

�������



 
 






Hosted by:
Edi Cahyono

E-Mail:

Edi Cahyono
Hosted by www.Geocities.ws

1