Di Keraton Yogya, juga di tempat asalnya, Keraton Solo,
Centhini sudah tak lagi ditembangkan.
Empat laki-laki berpakaian peranakan, lengkap dengan iket blangkon
mondolan, dan empat perempuan berkebaya janggan warna hitam, duduk
bersila di Bangsal Sri Manganti, Keraton Yogyakarta. Di hadapan mereka, sebuah
meja kecil dengan kitab Babad Mataram beraksara Jawa. Ya, setiap
Jumat mereka memang menembang pupuh Jawa tertentu. Dan Jumat itu mereka
menembangkan bagian Bedhah Madiun, sejarah Madiun.
�Di lingkungan keraton, kami tidak pernah menembangkan teks-teks
Centhini,� tutur Agustina Ismurjilah, 55 tahun, salah seorang penembang
kelompok macapatan Keraton. Seingat dia, selama 30 tahun mengabdi di Keraton
Yogya dengan latihan rutin setiap Rabu dan Jumat sore, teks yang berkisar
tentang sejarah berdirinya Keraton Yogya selalu dinyanyikan.
Entah mengapa, bagi keraton, Centhini seolah-olah masih �tabu�.
Mungkin karena naskah itu bercerita tentang hal-hal yang menyangkut perlawanan
terhadap keraton. Padahal, isi Centhini menyajikan berbagai situasi
mewakili perasaan manusia.
Suryanto Sastro Atmojo, misalnya, ingat kebiasaan eyangnya, Panembahan
Adipati Puger di Lumajang. Menjelang makan siang dan malam, ia selalu
memerintahkan dua abdinya, plus seorang penabuh gender, bergantian menyanyikan
satu episode Centhini, yakni bagian yang menyinggung Seh Amongraga dijamu
dengan aneka hidangan oleh seorang pendeta di satu wilayah. Di saat-saat
menjelang tidur, Centhini juga menemani. Ia merangkul guling, meminta abdinya
menembangkan bagian ketika Seh Amongraga mengajari istrinya teknik-teknik
seksual.
Ismurjilah hanya bisa menduga: �Mungkin di Keraton Solo rutin ditembangkan,
karena asal Centhini dari sana.� Begitukah? Yang jelas, Pangeran Haryo
(GPH) Puger dari Keraton Kasunanan Surakarta menyebut bahwa tradisi caos
macapat (membaca macapat) hanya melantunkan tembang-tembang setingkat
Wulangreh dan Wredatama. Salah satu putra mendiang Pakubuwono XII
itu ingat pembacaan Babad Kartasura. �Centhini, saya tak tahu
kapan pernah ditembangkan di sini,� kata Gusti Puger.
Menurut KRHT Winarnodipuro, tindih caos macapat (pemimpin kelompok
macapatan) di Keraton Solo, teks Serat Centhini terlalu panjang dan
sulit. Lagi pula keraton hanya memiliki teks yang beraksara Jawa, dan kini tak
banyak abdi dalem yang mampu membaca secara benar tulisan Jawa. �Memang sudah
ada Centhini yang dilatinkan (maksudnya oleh KarkonoСRed.), tetapi kami
kurang sreg kalau yang mengalihkan dari huruf Jawa ke huruf latin bukan orang
dalam keraton kita sendiri. Rasanya bagaimana, gitu,� kata KRHT Winarno.
Seingat KRHT Winarno, terakhir kali macapatan yang melantunkan Serat
Centhini dilakukan di hadapan PB XII pada tahun 1970-an. Memang bukan
seluruh bagian Centhini yang dibaca. Tetapi, dia tak ingat persis bagian
mana yang dibaca para abdi. Menurut dia, Serat Centhini sekarang di
Keraton Solo hanya dipajang di perpustakaan Sasono Pustoko. �Tapi kami punya
niatan akan pelan-pelan melatinkan Centhini, lalu Centhini akan
menjadi bagian yang ditembangkan dalam caos macapatan setiap malam
Jumat,� tuturnya.
Di luar tembok Keraton Solo, Serat Centhini juga tak laku di kalangan
penggemar tembang macapatan Solo. Dalang Slamet Gundono, yang 21 April nanti
bakal mementaskan Minggatnya Cebolang versi Elizabeth Inandiak, mengakui
belum pernah menyaksikan ada kelompok macapat di Solo yang sering melantunkan
Centhini. �Saya tidak tahu persis mengapa serat itu jarang ditembangkan.�
Waluyo S. Kar, pengajar seni karawitan di STSI Solo, pun mengakui
tembang-tembang Serat Centhini kurang populer di kalangan seniman
karawitan. Waluyo juga tidak tahu persis penyebab ketidakpopuleran
Centhini. �Saya dulu pernah mendengar ada kelompok macapat yang sesekali
menembangkan Centhini. Tetapi, setelah pengasuhnya, Pak Tarman,
meninggal, saya malah tidak tahu apa komunitas itu masih atau tidak,� ujarnya.
Dia beranggapan, ketidakpopuleran penyebaran tembang Serat Centhini
merupakan politik kekuasaan kesenian. Publik, kata dia, akan berkiblat pada seni
yang dibawa oleh penguasa yang memiliki kekuasaan besar. Wulangreh, yang
diciptakan Mangkunegara IV, menjadi begitu po-puler karena Mangkunegara IV
sendiri dulu adalah penguasa yang disegani.
Di Yogya masih lumayan. Meski di keraton tak ditembangkan, masih ada
perkumpulan tembang di luar keraton yang sesekali melantunkan Centhini.
Setidaknya di Yogya sekarang ada dua perkumpulan macapat, yaitu Dharma Winahya
dan Sekar Setaman. Ibu Agustina Ismurjilah adalah juga anggota kedua perkumpulan
itu. Di berbagai sarasehan bahasa Jawa, beberapa kali ia juga menembangkan
Centhini. �Namun, yang saya tembangkan bukan soal bagian seksnya,
melainkan bagian filosofi kehidupan. Misalnya filosofi hidup melalui metafora
gamelan....�
Mengapa Ismurjilah atau yang sering dipanggil Eyang Panji ini enggan
menembangkan bagianbagian yang erotis? �Saya sebagai orang Jawa tidak sampai
hati menembangkan adegan seksual itu,� jawabnya. Ismurjilah mengakui,
Centhini baginya memberikan pelajaran menarik, yaitu bahwa semua manusia
itu sama. Entah wali, pemimpin, priayi atau siapa saja butuh seks.
Tapi, ada beberapa bagian yang dianggap terlalu vulgar. �Misalnya adegan seks
antara seorang pria dan dua orang wanita. Yang satu masih gadis, memang sengaja
diserahkan oleh orang tuanya agar memperoleh pendidikan seks dari laki-laki yang
masih ningrat itu. Yang perempuan satunya menuntun.... Atau, itu lho, ada orang
sakit gonorrhea yang bisa sembuh jika kelaminnya dimasukkan ke dalam
kelamin kuda betina....�
Yang dimaksud Ismurjilah adalah cerita tentang sahabat Jayengraga bernama
Nuripin. Suatu kali ia terkena gonorrhea. Ia meringis-ringis kesakitan.
Oleh Kulawirya, paman Jayengraga, ia diberi tahu obatnya adalah kelamin kuda. Ia
percaya saja. Ia membawa seorang penari ronggeng ke kandang, menyuruhnya
telanjang bulat. Setelah terangsang melihat penari itu, ia langsung memasukkan
kelaminnya ke kelamin kuda betina. Hasilnya, cespleng, ia sehat. Ismurjilah
seperti geli membayangkan hal itu. �Enggak tahu, ya, apakah penyembuhan seperti
itu bisa dipertanggungjawabkan secara medis....�
�������