(Dhandhanggula, 356: 155-196)
Mereka sedang tertawa cekikikan, saling mengeluarkan isi hati dan pengalamannya masing-masing, dengan sangat riuh. Pada kesempatan itu, Ni Sumbaling bertanya kepada Ni Daya: �Lah Mbakyu, ketika kau masih muda dahulu, berapa kali kau berumah tangga?� �Hanya dua kali,� jawab Ni Daya, �Pertama dengan kanjeng kiai (suamiku sendiri) dan kedua dengan Adipati Wirasaba.� (155)
�Ketika aku dahulu dijadikan selir olehnya. Padahal waktu itu kami belum lama pengantin baru, kurang lebih baru memasuki bulan keenam. Tentu saja sedang manis-manisnya menikmati bulan madu. (Kami hitung kira-kira) kami telah menikmati permainan cinta yang ketujuh puluh. Karena suamiku sangat cinta padaku, ia selalu mengigau. Siang malam seperti orang bingung, yang ia ucapkan hanya namaku. Demikian juga aku, selalu menangis, jika kami ingat saat-saat manisnya bercinta. (156)
�Apalagi waktu itu aku masih anak kecil yang belum mengerti bagaimana aturan main orang berumah tangga untuk yang kedua kalinya. Aku terus teringat pada suamiku. Setiap kali kami hendak bermain didekati oleh Sang Adipati, badanku selalu merinding karena saking takutnya. Apalagi aku selalu dibujuk dengan berbagai cara serta diberi uang serta pakaian yang serba indah. Namun aku menolaknya. (157)
�Yang aku perhitungkan hanya suamiku. Segala tindak tanduk perilakunya selalu terbayang. Apalagi kami sama-sama masih muda. Sedangkan Sang Adipati sudah tua. Badannya sudah kendur menakutkan. Setiap kali aku didekatinya, aku selalu menangis keras-keras. Hal itu berlangsung kurang lebih sampai setengah bulan. Aku tak pernah mau melayaninya, karena masih selalu teringat pada suamiku.� (158)
Ni Sumbaling bertanya: �Bagaimana awalnya hingga kamu mau melayaninya?� Ni Daya tertawa ngakak. Kemudian ia baru menjelaskan: �Waktu itu hujan sangat deras. Saya di pagedongan, teras rumahnya. Tak disangka dari mana datangnya Ki Adipati sudah tiba. Teman-temanku pergi sambil tertawa cekikikan, selanjutnya pintu rumah dikunci. (159)
�(Sang Adipati) seraya memegang tanganku dengan kuat. Kami meronta, namun kami dipaksa. Aku tak bisa lagi menolak keinginannya. Akhirnya aku pasrah melayani nafsu Ki Adipati.� Sumbaling memotong pembicaraan dan bertanya dengan tertawa: "Tanggung sekali, kok cepat sekali kamu melayaninya?� (Mendengar pertanyaan) mereka yang ada di dekatnya tertawa cekikikan, seperti Nyai Pangulu Tengah. (160)
Saudagar kaya Nyai Pratima, keempatnya sedang berkumpul sambil ngobrol dan tertawa cekikikan yang agak lirih. Sumbaling mendesak bertanya: �Ketika Mbakyu diminta melayani, bagaimana rasanya ketika kena?� Ni Daya menjawab tanpa ragu-ragu: �Karena aku membaui wewangian yang sangat keras, seketika itu aku teringat ketika aku masih muda. (161)
�Itu terjadi saat Adipati menarik kainku hingga terlepas. Aku betulkan lepas lagi. Kainku diraupnya hingga aku terduduk (ndeprok) dan ditariknya. Seraya lambungku diangkatnya, kami berdiri dan dirangkulnya. Aku menangis meronta-ronta. Namun aku dipeluknya kuat-kuat sambil membelai, meremas-remas payudaraku. (162)
"Kami berdua telah telanjang tanpa sehelai kain pun. Kain Ki Adipati sudah dibuangnya. Byar terlihat jelas miliknya. Sejak saat itu kami pun bercinta, layaknya seperti pengantin juga." "Hem, ah biyang sudah tanggung, hanya memanas-manasi hati dengan cerita percintaan," kata Sumbaling. Kemudian ketiga orang itu mengejar cerita selanjutnya hingga tuntas sekalian. (163)
Ni Daya sedikit tertawa, ketika diminta untuk bercerita selanjutnya yang tidak boleh ada yang terlupa (tan kena sabrebet duren) sedikit pun. Ia kemudian melanjutkan ceritanya, dengan janji ia akan saling bertanya pengalaman masing-masing. Dan semuanya telah sepakat. Ni Daya tertawa, "Setelah aku melihat milik Sang Adipati yang sudah tegang, besar lagi panjang. (164)
"Hatiku berdepar-debar khawatir. Seraya aku segera ditidurkan tengkurap. Katanya to e toe. Aku berusaha menutupnya rapat-rapat pahaku. Ketika hendak dibukanya tetap aku pertahankan. Namun aku segera ditidurinya hingga akhirnya capek juga. Dan pahaku pun lama-kelamaan terbuka. Kanjeng Kiai Adipati segera menancapkan kerisnya, merangsek mengairinya. Tidak imbang denganku. (165)
"Ditekan-tekan tak boleh lepas. Dipapan-papankan sudah mapan, dipaksakan masuknya. Makeneng (merinding) rasanya. Badanku kejang kelejotan, denyut perasaanku meneratap nikmat, merasakan sedu sedan denyut berulang, hingga badanku loyo lemas, berteriak ketika dipaksanya. Aku tak sanggup menahan sakit nikmat ketika mencapai ujung terdalam, hingga aku mendesah histeris, tersaput derasnya hujan. (166)
"Hingga aku seakan tak sadarkan diri, napasku tersengal-sengal, gelap pandang, mataku berkunang-kunang. Tak tahu arah. Bantal terpental. Arah tidurku berubah-ubah, gelangsaran polahku, ke mana-mana selalu diikuti. Namun hujan deras tak kunjung reda. Namun lama-kelamaan mulai reda, demikian juga tangisku. (167)
"Tingkah laku Adipati sangat menjijikkan. Payudara, pipi, disedot digigit-gigit, hingga di sana sini penuh bekas gigi. Ia menggampangkan saja masalah persetubuhan sehingga mudah berganti-ganti pasangan dari yang satu kepada yang lain. Tak bisa dibayangkan. Sekejap kebingungan, namun segera saja pikirannya telah berubah pada yang lain. Selama tak bisa membuka mata sedikit pun. Tingkahnya tak keruan. (168)
"Tak ingat dengan istri-istri sebelumnya. Bocah-bocah kecil pun tak dihiraukannya. Begitu sudah besar segera diboyong diajaknya bermain cinta. Tak juga mau berhenti, bertobat mawas diri sedikit pun. Sekejap pun tak pernah berhenti mengangkang. Mengumbar nafsu tak henti-henti. Hujan deras hingga terang." (169)
Ger, semua tertawa lirih cekikikan. Ketiga orang itu saling mencubiti Ni Daya. Ceritanya membikin orang jadi kepingin saja. Membuat letak duduk mereka beringsutan tidak tahan, terasa tenggorokannya kering, napas tersengal-sengal menahan nafsu, sebentar-sebentar menelan ludah. Mereka saling menjawil satu dengan yang lain, saling berpandangan mata penuh isyarat. Ni Daya bertanya pelan. (170)
"Kalau kau, Mbok Tengah, sudah berapa kali kau menikah?" Ia berbohong, menjawab tiga kali. Ditanya bagaimana perbedaan satu dengan lainnya. Mbok Tengah mesem semu. "Waktu itu aku jadi pengantin mendapatkan jejaka yang masih sangat muda. Kami jadi pengantin sama-sama masih kecil. Namun sayang hanya bertahan dua tahun. Menjadi janda selama enam bulan, aku segera menikah lagi, mendapatkan tetangga dekat saja, yakni Ki Basarodin, adiknya Amad Badar. (171)
"Hanya itu yang menjadi pengalamanku, persis seperti yang kau ceritakan tadi. (Milik) suamiku sungguh sangat besar dan panjang. Ukurannya sama dengan pergelangan kaki. Kalau besarnya seperti milik Ki Adipati. Hanya menang panjangnya saja. Kami jarang bermain cinta. Namun sekali kami bercinta, kami bisa sangat betah dari sore hingga pagi. Rasanya kalenyeran. (172)
"Sekujur badan bagian dalam terasa merinding. Kami tidak kerasan untuk segera berhenti." Kalau mendengar yang besar, semua mesem penuh rahasia. "Kami selalu bersama-sama, tak ingin berpisah. Tidak berapa lama, kami pisah. Suamiku meninggal. Janda baru empat bulan, aku menikah lagi, juga mendapatkan pengulu bergelar Basarodin." "Lalu bagaimana perbedaannya?" (173)
"Tidak kalah kuat juga!" jawabnya. "Adapun miliknya Ki Penghulu memqang besar. Tapi sangat pendek, laksana cepuk semata. Dari ujung hingga pangkal sama. Gendhol-gendhol di bawah, segenggaman laksana bukit. Kalau kami sedang bercinta di tempat tidur, goblag-gablug beg-beg, seperti diberi tembakau. Grewal-grewel sering lepas. (174)
"Aku kesal, sebentar-sebentar mengepaskan dan menjaganya." Keempatnya tertawa cekikikan, jawil-menjawil. "Layak kalau grewelan terus. La wong mirik (candi) Borobudur, ambalendher, merepotkan. Lah dasar miliknya pendek, perutnya buncit lagi. Tak pernah bisa mentok ke dasar. Saya menduga, pasti mengepaskannya sulit." (175)
Nyai Tengah menjawab sambil bertanya: "Benar dugaanmu, Ni Daya, dia memang sangat kesulitan, napasnya tersengal. Saya batuk saja, eh lepas. Kalau bersin sama copotnya. Mak bul mudah sekali lepasnya. Tak pernah kukuh di tempatnya. Susahnya sangat terasa, karena meski besar seakan mati." Disambut dengan tawa cekikikan. (176)
"Kalau Ni Parti berapa kali menikah?" Ia menjawab hanya sekali saja. "Tapi sering terkena goda, tergila-gila dengan orang bagus. Godaan iblis pertama, kemudian dua kali. Kalau sudah terjadi hatiku menyesal. Setelah ketiga, keempat, aku jadi ketagihan. Hingga tak sempat milih orang yang bagus. Pokoknya asal besar saja. (177)
"Kalau sedang bepergian aku sering suka sekali berlama-lama di satu tempat tidur. Tak pernah menawar-nawar kalau sedang membeli barang." "Benar Mbakyu, yang besar dengan yang kecil. Kalau sedang mendapatkan yang besar lagi panjang, perasaannya melayang, bingung. Obeng (idiom untuk penis)-ku ada enam belas. Pertama-tama kupilih secara merata, mendapatkan empat orang. (178)
"Obeng tiga, yang satunya buruh, wajahnya sangat jelek. Tapi miliknya besar lagi panjang. Melebihi semua yang telah dibicarakan. Jadi, hatiku sudah sangat puas bermain cinta dengan lelaki. Kalau di hari pasaran Pon di Tanjung, aku mikat babu di jalanan. Digarap sepuas-puasnya juga. Perasaanku jadi segar melayang-layang. (179)
"Orang-orang sini juga banyak yang telah saya cicipi. Tetapi yang paling sering hanya Ki Kulawirya, berapa kali sudah, saya sudah tak ingat. Ki Pengulu juga sudah. Ya benar, semua kayaknya pernah saya gilir." Tertawa terdengar jorok. Ni Malarsih, ketika itu, begitu mendengar obrolan ngalor ngidul yang saru itu. Hatinya merasa sangat trenyuh (terpukul). "Ya, ta lah, orang sudah sama tua saja kok ya masih ngobrol yang saru!" (180)
Selama Niken Malarsih berkata, Nyai Pengulu Tua mandi keringat, vaginanya basah. Seraya terdengar suara cekikikan, semua juga saling menahan nafsunya. Mereka saling mengungkapkan perasaannya lirih. Ni Malarsih berkata: "Bibi, apa yang dibicarakan, sehingga sampai tertawa cekikikan?" Yang ditanya menjawab. (181)
Ya, hanya tertawa untuk obat supaya tidak tidur semata. Ni Malarsih berkata: "Sumbaling itu, dahulu adalah teledhek (penyanyi Jawa) yang sangat ayu!" Ger, kata teman-teman duduknya. Sesaat kemudian obrolannya terdiam. Kemudian mereka membicarakan masalah lain, mengikuti arus. Namun karena sudah terlanjur, mereka pun ngobrol masalah yang sama lagi. Sumbaling ditanya. (182)
Apalagi ketika ia masih ikut rombongan wayang, belum dewasa saja sudah njajah (mempunyai banyak pengalaman) dari perjaka, sampai orang tua juga. "Sejak aku merasakan bermain cinta, aku belum pernah merasakan sakitnya. Semuanya kurasakan enak semata. Waktu itu, ketika aku masih kecil awal sering saling mencoba dengan sesama anak kecil. Selanjutnya dengan yang besar dan tambah besar lagi. (183)
"Diajak tidur dengan encik, Encik Subedhe, miliknya besar. Dan semua apa yang kalian bicarakan, lebih besar yang saya ceritakan. Tidak cukup di genggaman tangan, bahkan masih lebih. Dua ibu jari saja kalau disatukan masih kesulitan. Ia bergerak manggut-manggut. Dimasukkan ke liang vagina, menutupi seluruh pinggirnya. Walaupun sudah dicoba-coba berulang-ulang, tak masuk-masuk. (184)
"Lama-kelamaan mengeluarkan yiyit (mazi), diusel-uselkan terus-menerus, sehingga lama-kelamaan ujungnya telah terlingkari, mendadak mak bleng masuk mendesak. Sementara itu sebelum bermain pangkalnya sudah saya tali dengan sapu tangan supaya tidak masuk seluruhnya sampai pangkal. Bles-bles masuknya pelan. Lama-kelamaan hingga mencapai pangkal tali saputangan tadi. (185)
"Sejak dimulai rasanya sudah nyang-nyeng, gringgang-gringging (laksana kesemutan), lama-kelamaan merinding kelejotan, rasanya tak terbayangkan. Dengan banyak orang yang telah menjadi pasanganku, rasanya tak ada yang seperti ini. Ngunyer-unyer ngalenyer anyir (berdenyar-denyar nikmatnya luar biasa). Tali saputangan kemudian dilepas, mentok lar-ler-lar-lur. Karena saking besarnya, tak ada sela sedikit pun tersisa. Lae-lae dubilah nikmatnya luar biasa, bahagia yang terkira-terkata. (186)
"Hanya itu pengalaman yang paling berkesan dalam diriku selama aku menjelajah di berbagai wilayah dengan aneka jenis manusia. Dari Cina, Khoja (India), Encik, Jawa. Saya sudah tak bisa menghitungnya lagi. Dengan yang ganteng, jelek, tua, muda, yang panjang maupun pendek hingga sampai yang buntung. Dari yang bentuknya besar kukuh dan kuat, yang bulat panjang dan kenyal sampai yang medok bulatnya. (187)
"Hingga yang lancip laksana tunas bambu juga sudah pernah. Bahkan yang bendhol, kecil pangkalnya juga pernah. Selain itu pada saat bekerja, kami pernah digarap rame-rame tiga orang, delapan orang bahkan dua belas orang sekaligus dengan berbagai gaya dan pose. Dari miring, telentang, sampai tengkurap. Bahkan jongkok, jengking sambil berjalan merangkak hingga berdiri di atas, juga dipangku dengan manja. (188)
"Namun yang menjadi kesukaannya, jika aku digarap tidak begitu banyak orang. Sebab jika aku digarap ramai-ramai, aku sudah bosan. Pada saat itu sering aku tinggal tidur. Kalaupun melek, sering aku lamur dengan mencari kutu." Mendengar cerita itu mereka tertawa berbisikan. "Dan lagi," lanjutnya, "bagaimana bisa mengalahkan jika digarap ramai-ramai, ganti berganti, tak pernah bisa berubah pose. (189)
"Namun berganti gaya berganti rasa juga. Meskipun sehari semalam aku juga betah. Malah makin banyak rasanya. Laksana gatal yang dikukur. Laksana sakit gudikan dikukur. Tapi itu terjadi di sekujur tubuh. Itulah layaknya orang yang sedang tergila-gila. Peribahasa, jika orang sedang terkena akan melayang-layang seketika. Itulah rasanya lelaki." (190)
Ya, lah, laksana sebuah peribahasa, ada satu pelajaran. Orang yang sedang terlarut dalam pembicaraan demikian, selama mendengar pembicaraan yang sangat menyenangkan hati, takut malu untuk ikut ngomel. Melihat yang bukan-bukan. Pura-pura meludah kecah-kecuh, namun telinga tak lepas sepatah pun, semuanya sudah tercatatnya. (191)
Namun lama-kelamaan sekujur tubuh terasa tegang, matanya jelalatan berkedip-kedip. Selama duduk badan terasa panas dingin. Ia sudah enam kali keluar masuk kamar kecil. Kemudian beringsut lagi untuk keluar, alasannya mau kencing. Padahal sesungguhnya hanya akan melihat, miliknya yang kian membengkak tegang, keras laksana batu, kalaupun dipukul suaranya pasti kemlothak. (192)
Sesampainya di luar kemudian duduk, bekah-bekuh heh-heh ah, ya ta lah sambil memijit-mijit selangkangannya. Pinggangnya ditekak-tekuk, namun kenyataannya tak juga sembuh. Ia mengaduh sambil berujar, "Meskipun hanya orang ngomong saja, ternyata membikin badan sakit!" Lama-kelamaan berdiri sambil menjengking, ngulet, mengungkung sampai kayang. (193)
Hatinya yang kaku mendesah pelan. Telapak kakinya dientak-entakan. Ia merasa ada sesuatu yang merembes, ngampet terasa ingin kencing. Kemudian lari kencang menuju kamar belakang, sudah tak tahan. Namun belum sampai tempat yang dituju sudah telanjur keluar, kocar-kacir di jalan, hingga kainnya basah kuyup kena ompol. (194)
Namun tetap saja belum sembuh. Ia meringis seperti orang sakit ayan, sebentar-sebentar air liurnya menetes, wajahnya semburat, tak bisa disembunyikan. Ia sangat menyesal. Ya itulah, karena mendengar omongan yang tak keruan. Kemudian ia menggenggam miliknya, tetap saja tak bisa ditahannya. Bahkan sampai dicubit-cubitnya. (195)
Keempat orang itu sudah tergila-gila asmara. Karena seriusnya pembicaraan, semua keluar yiyit (mazi)-nya. Selama pembicaraan berlangsung terus merembes. Karena deras mengalir hingga membasah ngecap di kain. Mereka saling bertanya-tanya sambil tertawa ngakak, mengajak mandi jinabad wajib, karena keluarnya air mani. Keempat orang itu seraya pergi. (196)
�������