Jika berbicara mengenai Centhini, pikiran orang tentunya akan
mengembara sana-sini. Banyak orang mengartikan bahwa Centhini identik
dengan naskah yang membahas seputar seksual. Anggapan ini tak
sepenuhnya keliru. Namun sisi lain dari naskah Centhini ternyata sangat
beragam ilmu yang didapatkan dalam naskah ini. Kandungan ilmu teks
dalam Centhini sangat beragam.
Berbagai ilmu yang terkandung dalam
Centhini diantaranya yaitu sejarah, pendidikan, geografi, arsitektur,
pengetahuan alam, falsafah, agama, tasawuf, mistik, ramalan, sulapan,
ilmu magis (kekebalan, sirep dan ilmu penjahat), perlambang, adapt
istiadat, beraneka tatacara diantaranya pindah rumah, perkawinan,
berganti nama, meruwat, upacara selamatan, etika, psikologi, flora
fauna, ilmu botani, obat tradisional, makanan tradisional, kesenian
diantaranya seni tari, suara, karawitan, wayang, pedalangan dan topeng.
Satu hal yang menjadikan Centhini terasa lebih terkenal diantara naskah
lain karena memuat secara detail mengenai seksualitas. Menariknya lagi
semua itu diuraikan secara mendalam dan detil dengan gaya bahasa dalam
bentuk tembang macapat.
Ketebalan naskah Centhini mencapai 4200
halaman. Ada 12 jilid Centhini yang tiap jilidnya rata-rata memiliki
halaman 350. hal ini menjadi istimewa sebab Centhini merupakan naskah
nusantara yang paling tebal. Adapun Centhini ditulis pada tahun 1814
hingga 1823. adapun tim penulis ini yaitu Sunan Pakubuwono V. Tema yang
paling terkenal dari Naskah Centhini adalah Suluk
Tambangraras-Amongraga. Diceritakan dalam tema ini bagaimana perjalanan
Tasawuf menuju kesempurnaan hidup yang penuh dengan warna. Tokoh
protagonis yaitu Syekh Amongraga dan antagonis yaitu dewi Tambangraras.
Berbagai ajaran yang ada didalamnya yaitu tarekat, hakikat dan makrifat
dituangan dalam dialog para tokoh.
Karena keunikan dan keluasan ilmu
inilah maka banyak para tokoh budaya baik itu dalam negeri dan luar
negeri melakukan pengkajian dan studi yang dalam terhadap naskah
Centhini. Elisabeth Inandiak salah satu dari sekian banyak budayawan
asing yang tertarik melakukan kajian dari teks Centhini.
Tujuh Versi
Salah seorang staf pengajar Sastra Nusantara FIB
(Fakultas Ilmu Budaya) UGM dan juga budayawan Prof Marsono memaparkan
pada Joglosemar beberapa waktu lalu bahwa telah ada tujuh versi pustaka
mengenai teks Centhini. Di antaranta yaitu Serat Centhini Baku, Serat
Centhini persembahan Paku Buwana VII ke Negeri Belanda, Serat Centhini
Bahasa Jawa Timur, Serat Centhini Bahasa Jawa pegon, Serat Centhini
Ja-lalen dan Serat Centhini Amongraga oleh Adisasmita. Dari keenam
versi ini berbentuk naskah tulisan tangan huruf jawa dan bahasanya pun
Jawa. Sedangkan Centhini Kekasih yang Tersembunyi oleh Elisabeth
Inandiak yang ditulis menggunakan bahasa Indonesia.
Marsono juga
paparkan bahwa karena kandungan teks yang demikian beragam maka
Centhini sering disebut pula sebagai Ensiklopedi Kebudayaan Jawa, sebab
Centhini menguak segala ilmu yang ada di pulau Jawa.
Menurut
Marsono, bahasa yang ada dalam Centhini adalah bahasa Jawa Klasik dalam
bentuk tembang Macapat. Terkait mengenai pendapat tentang Centhini yang
identik dengan 'pornografi' ia mengungkapkan bahwa pendapat ini datang
karena banyak orang hanya membaca setengah-setengah saja. Bagi yang
ingin dapat banyak ilmu dari naskah Centhini silahkan dibaca
keseluruhan baru anda menyimpulkan, namun kalau ingin yang pornonya
saja ya baca aja setengah-setengah, ujarnya sambil tertawa.
Sementara
itu, Dosen UII, Dra Junanah yang juga pengampu mata kuliah bahasa Arab
menyebutkan bahwa banyak sekali kata-kata yang terdapat pada Centhini
dalam bahasa Arab. Ia mencontohkan kata 'dunia', 'akherat', 'sajak',
'harfiah' dan sebagainya merupakan bahasa serapan dalam bahasa Arab
yang ada pada Centhini.
�������