Centhini, Ensiklopedia Ilmu Jawa
title: Centhini, Ensiklopedia Ilmu Jawa
writer: Rahajeng Kartika Anindita Pramesi
source: Joglosemar, 02-08-2008

Jika berbicara mengenai Centhini, pikiran orang tentunya akan mengembara sana-sini. Banyak orang mengartikan bahwa Centhini identik dengan naskah yang membahas seputar seksual. Anggapan ini tak sepenuhnya keliru. Namun sisi lain dari naskah Centhini ternyata sangat beragam ilmu yang didapatkan dalam naskah ini. Kandungan ilmu teks dalam Centhini sangat beragam.
Berbagai ilmu yang terkandung dalam Centhini diantaranya yaitu sejarah, pendidikan, geografi, arsitektur, pengetahuan alam, falsafah, agama, tasawuf, mistik, ramalan, sulapan, ilmu magis (kekebalan, sirep dan ilmu penjahat), perlambang, adapt istiadat, beraneka tatacara diantaranya pindah rumah, perkawinan, berganti nama, meruwat, upacara selamatan, etika, psikologi, flora fauna, ilmu botani, obat tradisional, makanan tradisional, kesenian diantaranya seni tari, suara, karawitan, wayang, pedalangan dan topeng. Satu hal yang menjadikan Centhini terasa lebih terkenal diantara naskah lain karena memuat secara detail mengenai seksualitas. Menariknya lagi semua itu diuraikan secara mendalam dan detil dengan gaya bahasa dalam bentuk tembang macapat.
Ketebalan naskah Centhini mencapai 4200 halaman. Ada 12 jilid Centhini yang tiap jilidnya rata-rata memiliki halaman 350. hal ini menjadi istimewa sebab Centhini merupakan naskah nusantara yang paling tebal. Adapun Centhini ditulis pada tahun 1814 hingga 1823. adapun tim penulis ini yaitu Sunan Pakubuwono V. Tema yang paling terkenal dari Naskah Centhini adalah Suluk Tambangraras-Amongraga. Diceritakan dalam tema ini bagaimana perjalanan Tasawuf menuju kesempurnaan hidup yang penuh dengan warna. Tokoh protagonis yaitu Syekh Amongraga dan antagonis yaitu dewi Tambangraras. Berbagai ajaran yang ada didalamnya yaitu tarekat, hakikat dan makrifat dituangan dalam dialog para tokoh.
Karena keunikan dan keluasan ilmu inilah maka banyak para tokoh budaya baik itu dalam negeri dan luar negeri melakukan pengkajian dan studi yang dalam terhadap naskah Centhini. Elisabeth Inandiak salah satu dari sekian banyak budayawan asing yang tertarik melakukan kajian dari teks Centhini.

Tujuh Versi
Salah seorang staf pengajar Sastra Nusantara FIB (Fakultas Ilmu Budaya) UGM dan juga budayawan Prof Marsono memaparkan pada Joglosemar beberapa waktu lalu bahwa telah ada tujuh versi pustaka mengenai teks Centhini. Di antaranta yaitu Serat Centhini Baku, Serat Centhini persembahan Paku Buwana VII ke Negeri Belanda, Serat Centhini Bahasa Jawa Timur, Serat Centhini Bahasa Jawa pegon, Serat Centhini Ja-lalen dan Serat Centhini Amongraga oleh Adisasmita. Dari keenam versi ini berbentuk naskah tulisan tangan huruf jawa dan bahasanya pun Jawa. Sedangkan Centhini Kekasih yang Tersembunyi oleh Elisabeth Inandiak yang ditulis menggunakan bahasa Indonesia.
Marsono juga paparkan bahwa karena kandungan teks yang demikian beragam maka Centhini sering disebut pula sebagai Ensiklopedi Kebudayaan Jawa, sebab Centhini menguak segala ilmu yang ada di pulau Jawa.
Menurut Marsono, bahasa yang ada dalam Centhini adalah bahasa Jawa Klasik dalam bentuk tembang Macapat. Terkait mengenai pendapat tentang Centhini yang identik dengan 'pornografi' ia mengungkapkan bahwa pendapat ini datang karena banyak orang hanya membaca setengah-setengah saja. Bagi yang ingin dapat banyak ilmu dari naskah Centhini silahkan dibaca keseluruhan baru anda menyimpulkan, namun kalau ingin yang pornonya saja ya baca aja setengah-setengah, ujarnya sambil tertawa.
Sementara itu, Dosen UII, Dra Junanah yang juga pengampu mata kuliah bahasa Arab menyebutkan bahwa banyak sekali kata-kata yang terdapat pada Centhini dalam bahasa Arab. Ia mencontohkan kata 'dunia', 'akherat', 'sajak', 'harfiah' dan sebagainya merupakan bahasa serapan dalam bahasa Arab yang ada pada Centhini.

�������



 
 






Hosted by:
Edi Cahyono

E-Mail:

Edi Cahyono
Hosted by www.Geocities.ws

1