|
�...Kehidupan saya dan kehidupan penyair Jawa sejak
berabad-abad, semua menyatu. Segala yang pernah saya alami di Jawa
dan di tempat lain di Bumi ada dalam karya yang janggal, ajaib, dan raksasa itu,
yang kelihatannya begitu cerai-berai, namun intinya begitu sempurna. Saya seakan
ingin mencebur ke sungai yang luas, membiarkan diri ditelan tembang-tembang dan
lenyap dalam gelombang cahaya para penyair yang telah wafat, terikat dengan
silsilah mereka secara penuh rahasia....� Pengakuan Elizabeth D. Inandiak,
warga Prancis, pengakuan orang yang terpesona pada Serat Centhini. Ia
menyadurnya ke dalam bahasa Prancis. Setelah terbit edisi Prancisnya, kini
tafsirnya itu muncul dalam edisi bahasa Indonesia. Iqra kali ini membahas
seluk-beluk bagaimana Elizabeth menenggelamkan diri ke dalam Centhini,
sebuah karya sastra Jawa di era lampau yang sarat perbincangan religius dan
erotisme, sesuatu yang dianggap suci sekaligus kotor itu.
�Ketahuilah dengan baik, Dinda, arti salat. Salat adalah berbicara dengan
zat Allah. Salat adalah memuaskan pikiran pada zat dan bukan lainnya. Dan zat
adalah welas kasihЙ.�
�Cebolang pintar menebak hasrat wanita, ia bisa semaunya memperpendek atau
memperpanjang zakarnya sesuai ukuran farji yang tersaji, ia mengenali setiap
ceruk dan lekuk daging, sumber kenikmatanЙ.�
Yang satu tawakal, yang lain binal. Mungkin tak ada kitab yang di dalamnya
terkandung paradoks seperti di atas. Satu bagian ber-kisah tentang pengelanaan
seorang santri bernama Amongraga memburu �sarang angin�, siang-malam
mengolah gerak hatinya agar tertuju pada yang Ilahi. Dan bagian lain bercerita
ten-tang seorang santri bernama Cebolang yang siang-malam gemar sanggama. Daras
zikir dan pesing nafsu melebur dalam sebuah suluk raksasa yang bila diketik
mencapai 4.200 halaman folio.
Centhini, kitab itu, sudah ada semenjak 1850-an. Terdiri atas 12
jilid, aslinya ditulis mengguna-kan aksara Jawa dengan tinta prada (kuning
emas). Bila ditembangkan, syahdan diletakkan khidmat di atas meja, dan dieja
dengan sada (lidi) aren. Usia-nya lebih dari seratus tahun, tapi sampai
sekarang belum ada terjemahan bahasa Indonesia secara lengkap. Padahal ia
disebut sebagai ensiklopedi Jawa lantaran segala macam pengetahuan lahir-batin
JawaСtermasuk yang kontroversialСdisajikan. Ben Anderson suatu kali mengungkap
Centhini sebagai satu-satunya kitab kuno di Nusantara yang gamblang
mengungkap sodomi.
Almarhum Karkono Kamajaya dengan bantuan dana dari mantan presiden Soeharto
pernah melatinkan seutuhnya 12 jilid. Penerbit Balai Pustaka per-nah
mempublikasi ringkasan Centhini. Para pakar kebudayaan Jawa dari Fakultas
Sastra Universitas Gadjah MadaСProf Baroroh Baried, Prof Sulastin Sutrisno, Prof
Dr DarusupraptaСmemiliki proyek untuk menerjemahkan semua jilid Centhini
ke dalam bahasa Indonesia. Namun, Baroroh dan Sulastin meninggal ketika
terjemahan baru sam-pai jilid 3. Sedangkan Daru wafat tatkala pro-yek itu baru
pada pertengahan jilid 4. Kini Prof Marsono, kolega mereka, mengambil alih
proyek, tapi masih jauh dari rampung.
Tiba-tiba, ia hadir di tengah kelangkaan terjemahan bahasa Indonesia. Seorang
Prancis, seorang man-tan wartawati, tahun 2004 menerima penghargaan dari
Association Des Ecrivains De Langue Francoise atas bukunya setebal 500 halaman
yang berbicara tentang Centhini: Les Chants de Lile a` Dormir Debout,
Le Livre de Centhini. Centhini gaya baru itu dianugerahi gelar buku
Asia terbaik yang ditulis dalam bahasa Prancis sepanjang tahun 2003. Elizabeth
Inandiak, 45 tahun, namanya. Ia tidak menyebut dirinya seorang scholar
atau ilmuwan pakar bahasa Jawa, tapi seorang petualang yang terpana pada
dunia kebatinan Jawa.
Tahun 1988 ia tiba di Indonesia sebagai wartawan. Pertemuannya dengan
Centhini yang kebetulan membuat jalan hidupnya berbelok (lihat
Dari Merapi sampai Himalaya). Ia merasa mendapat panggilan. �Semua
sisi kehidupan, termasuk yang saya alami, sepertinya dituturkan di sana,� tutur
perempuan kelahiran Lyon itu. Centhini baginya adalah sebuah karya ajaib
yang isinya mampu meng-ingatkan sambur-limbur gelora perasaan ro-mantis,
kekudusan, sekaligus kemesuman para sas-trawan tersohor Prancis: Rabelais,
Baudelaire, Victor Hugo, Jean Genet, dan Diderot.
Vegetarian yang kini tinggal menetap di perkampungan dalang Desa Pajangan,
Tridadi, Sleman, Yogya ini selanjutnya bukan menerjemahkan mentah-mentah
Centhini. Ia berusaha mencari esensi. Ia tak bisa berbahasa Jawa, tapi
dengan bantuan beberapa kenalan ia menyadur, lalu menguntai sesuai dengan
ekspresinya sendiri. Ia melakukan kreasi yang tak menyimpang dari naskah asli.
Ia mengingatkan kita akan R.K. Narayan, penulis India yang menyarikan ribuan
halaman Mahabharata dalam sebuah novel tipis.
Sekitar 150 tahun lalu, Centhini lahir atas obsesi seorang pangeran
dari keraton Solo, Pangeran Adipati Anom yang tak lain putra Pakubuwono IV dan
kemudian bertakhta sebagai Pakubuwono V. Ia menunjuk tiga pujangga istanaСRaden
Ngabei Ranggasutrasna, Yasadipura II, Raden Ngabei Sas-tradipuraСdan memimpin
langsung penulisan. Pe-nulisan memakan waktu dari 1802 sampai 1810, saat
Ronggowarsito masih berumur delapan tahun.
Ia mengutus tiga pujangga itu melakukan perja-lanan ke seluruh Jawa,
menjaring informasi, mengumpulkan serat-serat di banyak daerah untuk acuan.
Misalnya kitab Jalalen (Jangan Lupa), yang pada abad ke-14 sampai
ke-15 sangat tersohor di Ja-wa Timur. �Itu ajaran periode Singasari dan
Maja-pahit di mana orang-orang Jawa memiliki religi ter-sendiri yang tidak
takluk pada Islam, dan ini diolah dijadikan sumber kekuatan potensial untuk
menggarap Centhini,� tutur KRT Suryanto Sastroatmojo, ahli kebudayaan
Jawa.
Seluruh adegan seks ditangani sendiri oleh Pangeran Adipati Anom. Semula soal
asmaragama diserahkan kepada tiga pujangga di atas, tapi Adipati Anom kecewa
karena masalah sanggama kurang detail ungkapannya. Adipati Anom sendiri
meninggal karena sifilis dan hanya sempat bertakhta selama tiga tahun. Pada
tahun 1850, adiknya, Paku-buwono VII, sebagai penghormatan mempersembahkan kitab
Centhini asli milik keraton jilid 5-9, yang dianggap penuh adegan paling
cabul, kepada Ratu Wilhelmina di Belanda.
Sebagai produk keraton, sesungguhnya Centhini adalah �kitab aneh�.
Tidak berisi cerita tentang kejayaan keraton, tapi justru pengembaraan kaum
pembangkang musuh-musuh sultan. Dengan setting zaman Sultan Agung di abad
ke-17, Centhini adalah kisah pelarian anak-anak Sultan Giri Pra-pen:
Jayengresmi, Jayengsari, Niken Rancangkap-ti. Ketika Giri diserbu Sultan Agung,
mereka tercerai-berai, berjalan kaki, berpencar ke seluruh pulau Jawa,
menghindari pengejaran agen-agen rahasia Sultan Agung.
Jayengresmi bersama abdi yang setia, Gathak dan Gathuk, dari Gresik lari ke
Mojokerto, Blitar, hutan Lodhaya, Tuban, Bojonegoro, Gunung Merapi, Gunung
Muria, sampai tanah Pasundan. Di tiap daerah, mereka diterima hangat oleh para
kiai, pertapa-pertapa. Jayengresmi menimba ilmu makrifat dan, setelah
maqam agamanya tinggi, ia mengubah nama menjadi Seh Amongraga. Sementara
itu, �punakawannya� menjadi Jamal dan Jamil. Dalam pengelanaannya, sampailah
mereka di Desa Wanamarta, Majalengka, tempat pertapaan alim ulama, Ki Bayi
Panurta. Amongraga lalu kawin dengan putri Ki Bayi bernama Tembang Raras.
Akan halnya sang adik, Jayengsari dan Niken Ranca-ngkapti, ditemani abdi
bernama Buras. Mereka lari ke Pasuruan, dataran tinggi Tengger, Gunung Argapura,
Gunung Raung, Banyuwangi, Pekalongan, dan dataran tinggi Dieng. Di Dieng, mereka
ke daerah bernama Sokayasa, tempat padepokan Syekh Akhadiyat yang bersedih
karena anaknya, Cebolang, minggat dari pesantren.
Separuh Centhini kemudian berisi petualang-an Cebolang yang penuh
erotisisme. Centhini juga menceritakan pengembaraan Jayengraga, adik
Tembang Raras, mencari Amongraga. Sebab, setelah kawin, Amongraga kemudian
meninggalkan istri. Jayengraga bersama kawan-kawannya menelusuri jejak kakak
iparnya. Perjalanan rombongan ini adalah juga perjalanan saru.
Dengan materi seperti itu, Elizabeth bisa menduga bagaimana reaksi para ahli
Jawa ketika ia meminta nasihat. Sebagian berpendapat Centhini terlalu
suci untuk diterjemahkan. Sebagian lagi me-ngatakan Centhini terlalu
kotor untuk dialihbahasakan. Ketakpahaman Elizabeth akan bahasa Jawa semakin
membuat mereka pesimistis. Banyak yang khawatir, bila tak hati-hati, Elizabeth
malah bisa terperosok: memelencengkan atau menodai kan-dungan ajaran
Centhini. Tapi Elizabeth tak putus asa karena ia melihat di dalam
Centhini ada sesuatu yang universal.
* * *
Keyakinan saya kemudian dikuatkan oleh Ibu Sunaryati Sutanto, bekas murid
almarhum Romo Zoetmulder (ahli Jawa kunoСRed).� Sore itu Elizabeth bercerita
kepada Tempo. Sunaryati menerjemahkan dari yang telah dilatinkan oleh
Karkono Kamajaya. �Ya, saya me-nerjemahkan berdasar pesanan
Elizabeth. Bagian-bagiannya Elizabeth yang menentukan,�
tutur Sunaryati Sutanto, 70 tahun. Untuk itu, dosen sastra Universitas Sebelas
Maret, Solo, ini membutuhkan waktu sekitar dua tahun.
Berdasar itu, Elizabeth bergerak. Untuk memperkaya imajinasinya, selama empat
tahun ia mengelilingi sumber-sumber lisan di beberapa kota di Jawa. Dia menemui
para dalang, juru kunci, seniman, dan petani. Ia, misalnya, datang ke juru kunci
makam raja-raja Giri, mengorek sejarah Sunan Giri. Ia berteman akrab dengan
sesepuh juru kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan. Untuk urusan akurasi, ia tampak
hati-hati.
Ia juga merujuk disertasi Mohammed Rasjidi, bekas Menteri Agama di zaman
Soekarno. Dalam tesis doktornya di Universitas Sorbonne 1956, Considerations
Critiques du Livre de Centhini (Pertimbangan Kritis tentang Serat
Centhini), Rasjidi mengkritik banyak kalimat bahasa Arab dan ajar-an Islam
dalam Centhini ngawur. Tesis itu masih tercantum dalam katalog, namun
raib dari rak. Ia akhirnya menemukan di sebuah perpustakaan Jawatan Ketimuran.
Bukunya tak pernah dibaca. Kertasnya masih lengket, belum dipotong. Ia
mendiskusikan bagian-bagian yang dikritik Rasjidi dengan banyak kiai, termasuk
Mustofa Bisri dan Abdurrahman Wahid.
Dalam Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan, terjemahan Les Chants de
Lile a` Dormir Debout, Le Livre de Centhini, yang diterbitkan Galang Pers,
Elizabeth memusatkan perhatian pada malam pengantin Amongraga. Amongraga
dilukiskan mengajak Tembang Raras ke peraduan, tapi tak langsung bersetubuh.
Selama 40 hari di kamar pengantin mereka telanjang bulat, namun tak bersentuhan.
Untuk mencapai puncak sanggama, selama 40 malam Amongraga mengajarkan kepada
istri-nya hakikat cinta. Dalam aslinya, ajaran itu datar, tapi Elizabeth
membuatnya bergaya 1001 malam. Setiap halaman menampilkan setiap ajaran.
Terjemahan edisi Indonesia direncanakan terdiri atas empat buku. Buku kedua,
Minggatnya Cebolang, bakal diluncurkan 21 April 2005 di Solo, ber-sama
dalang Slamet Gundono. Kutipan di atas adalah salah satu bagian deskripsinya.
Bagian ketiga, Ia yang Memikul Raganya, bercerita tentang hu-kuman mati
Amongraga oleh Sultan Agung yang oleh Elizabeth dibuat seperti persidangan Al
Hallaj dalam buku Louis Massignon, Le Passion de Hallaj. Buku keempat,
Nafsu Terakhir, berkisah tentang Amongraga yang menitis.
* * *
Elizabeth mengakui, bagian yang paling sulit di-sadur adalah pengembaraan
seksual Cebolang dan Jayengraga. �Sebab, tantangannya adalah bagaimana membuat
adegan cabul bisa ditulis indah tanpa mengubah arti,� katanya.
Cebolang berkali-kali kena sifilis, tapi tak kaok. Ia tampan. Parasnya
dilukiskan seperti Raden Samba dalam pewayangan. Ia pintar menari dan menembang
lagu Gambir Sawit dan Ginonjing. Suaranya getas, renyah. Bersama
empat temannya, Nurwitri, Saloka, Kartipala, dan Palakarti, ia digilai para
perempuan.
Ia pernah menyamar menjadi wanita, masuk ke rumah lalu menindih seorang
janda. Ia pernah melayani hasrat sodomi para warok Ponorogo dan seorang adipati.
Para selir dibuat puyeng karena ia suka mandi di kolam terbuka. Tapi kemudian
dia tobat dan akhirnya kawin dengan Niken Rancang Kapti. Tak kurang dari
Sunaryati Sutanto merasa terkesan. �Cebolang ini sangat nakal. Bikin saya gemes.
Kok ada orang seperti itu,� katanya.
Juga kesablengan Jayengraga bersama pamannya, Kulawirya, dan sahabatnya,
Nuripin. Ia pernah mengajari bermain seks tiga perawan tua sekaligus. Bahkan
seorang genduk anak kecil ingusan pernah diminta memijat kelaminnya. Pada
petualangan Cebolang maupun Jayengraga, Centhini banyak memunculkan
perempuan-perempuan penggoda yang memiliki hasrat seks aneh-aneh: mulai Retno
Ginubah, putri seorang kiai yang suka mengintip adegan sanggama, sampai Ni Jahe
Manis yang berani telanjang bulat di depan umum.
�Deskripsinya terasa jorok sekali. Tetapi asyik kadang lucu, membuat kami
jadi tersenyum-senyum sendiri. Sebab, sulit mencari padanan kata-nya dalam
bahasa Prancis,� kata Elizabeth. Untuk menggambarkan gerakan zakar di saat
persetubuhan, ia misalnya harus membandingkan dengan bandul sumur, sesuatu yang
tak dikenalnya sela-ma ini. �Saya harus tanya sana-sini. Yang saya tanya pasti
tertawa sebelum menjawab pertanyaan saya,� katanya.
Sering Elizabeth memakai kiasan-kiasan untuk menjinakkan adegan vulgar.
Apalagi ketika ia berkreasi mempertemukan Cebolang dengan Gatoloco dalam bukunya
Minggatnya Cebolang. Gatoloco adalah tokoh dari Serat Gatoloco,
sebuah serat yang bersama Darmoghandul dalam literatur Jawa termasuk
khazanah �serat porno�. Centhini jilid V-IX sering erotis, tapi juga bisa
lucu. Elizabeth, misalnya, menggambarkan Jayengraga yang nafsunya melonjak namun
istrinya sedang datang bulan. Jayengraga digambarkan dengan kelamin berdiri lari
ke serambi menuju ketiga selirnya. Tapi ternyata mereka juga sedang menstruasi.
Mereka cekikikan.
Mulai jilid V, para penerjemah Centhini memang se-makin hati-hati.
Prof Dr Marsono, ketua tim penerjemah UGM yang melanjutkan proyek rekan-rekannya
yang telah meninggal, merasa macet di situ. �Jilid V memang paling susah.
Rasanya tidak sampai hati menuliskan uraian seksualnya itu secara detail,�
ujarnya. Tapi mereka tak berhenti, dan pada Januari 2005 akhirnya jilid V
terbit. �Khusus jilid V ini sangat saya kontrol,� kata Prof Dr Marsono tegas.
Ia, misalnya, terpaksa menyensor ade-gan sodomi sehingga muncullah gambaran yang
lebih �jinak�. Mereka menyebut kata penis, tapi juga memakai istilah �senjata�
ketika melukiskan sodomi Cebolang dengan Kiai AdipatiСkejadian �berdarah� yang
akhirnya membuat Cebolang menyesal.
Meski tak ingin mengungkap secara rinci, para penerjemah tak sanggup
menghilangkan detail. Karena memang di situlah, baik menurut Elizabeth maupun
Sumarsono, keistimewaan Centhini. �Centhini versi Prancis lebih
terbuka, karena di sa-na hal itu sudah biasa. Kalau saya menerjemahkan persis
seperti yang versi Prancis, masyarakat bisa syok,� kata Laddy Lesmana, dosen
Sastra Prancis UGM, yang membantu Elizabeth menerjemahkan Centhini dari
Prancis ke Indonesia. Tapi Centhini juga menyodorkan satu hal:
transformasi dari cinta yang fisikal menjadi cinta sejati. �Saya kira wajar
Cebolang demikian. Untuk mencari jatidiri, dia harus membongkar sesuatu yang
dibenci masyarakat. Saya dulu juga liar sekali ketika saya remaja. Karena itu,
saya bisa mengerti...,� kata Elizabeth.
* * *
Yang �hilang� dari Centhini kreasi baru Elizabeth adalah rasa
ensiklopedi Jawa, sesuatu yang dalam terjemahan Balai Pustaka Сyang belum
lengkap ituСbisa membuat kita membayangkan betapa dulunya hutan Jawa begitu
masih rimbun. Parak paginya penuh ber-bagai burung, capung, yang kini hilang.
Petilasan, reruntuhan candi, dan mata airnya masih menggetarkan untuk berwudu
dan sembahyang. Dan senja yang mempesona.
Menurut Soerjanto Sastro Atmojo, sesungguhnya Centhini banyak
mendeskripsi-kan keindahan berbagai wilayah pesisiran yang tak tunduk pada
ekspansi Mataram: daerah-daerah Bonang, Ngampel Darto, Kudus, Mojokerto. �Sunan
Nyamplungan, Sunan Badahgas, Sunan Katong tidak hanya mengajarkan agama yang
formal, tapi juga mengajarkan bagaimana cara memupuk tanah, menanam palawija,
untuk bertahan dari tekanan Sultan Agung,� tuturnya.
Itulah sebabnya dalam Centhini banyak bertebaran deskripsi lingkungan
dengan aneka hasil alam yang dapat menerbitkan air liur kita. Soal betapa banyak
adegan sanggama dan informasi yang de-ngan detail memaparkan hari-hari baik
melakukan sanggama, serta tipe-tipe perempuan dengan segala titik-titik
seksualnya, menurut Soerjanto tetap harus dibaca dalam konteks itu. �Kiai-kiai
tersebut mengajarkan agar hubungan seks jangan dilakukan dengan perempuan
sembarangan, tapi perempuan yang bisa menjadi ajang penerus generasi,� Soerjanto
menambahkan.
Elizabeth mengakui terjemahan asli sangat pen-ting untuk melengkapi bukunya.
Sebab, buku-buku itu memang dibuat untuk lebih bisa dibaca umum. Dan tekad UGM
untuk menuntaskan terjemahan semua jilid Centhini itu juga
menggembirakannya. �Rencananya, kami menerbitkan total 12 jilid. Jilid I sampai
3 yang diterbitkan Balai Pustaka dahulu akan kami revisi sekalian,� tutur Prof
Dr Marsono. Marsono sendiri mengaku senang membaca karya Elizabeth. �Ya, memang,
Bu Elizabeth memiliki cara tersendiri untuk menerjemahkan Centhini,
silakan,� katanya.
Tentunya, suatu ketika, bila dua terjemahan itu sudah tersaji lengkap,
Centhini akan menjadi sti-mulus para sastrawan untuk makin menggali karya
klasik itu. Dan mereka melakukan reecriture, penulisan kembali. Dan
seperti juga di Barat, ke-tika mitologi Yunani dibaca kembali oleh para
sastrawan dengan tafsir-tafsir yang tak sama dengan asli, demikianlah Andre Gide
menulis Theseus, Albert Camus menulis Sisyphus, Jean Giradoux
menulis Perang Troya. Tokoh-tokoh dalam Centhini menyediakan diri
untuk tafsir demikian, karena mereka tak kalah problematik.
Amongraga sendiri termasuk salah satu yang paling problematik. Pada akhir
cerita, Amongraga dan istrinya Tambang Raras berubah wujud menjadi gendon
(ulat). Oleh Sultan Agung, mereka dibawa dalam bumbung bambu. Ulat itu
dipanggang, diletakkan dalam kelopak bunga wijayakusuma. Ulat jantan (Amongraga)
dimakan Sultan Agung, ulat betina (Tembang Raras) dimakan Sultan Pekik.
Dalam sejarah, kita tahu Sultan Agung kemudian menurunkan anak, Amangkurat I,
yang membunuh banyak ulama. Yang menarik, Centhini menggambarkan roh
Amongraga menjelma ke dalam jiwa Amangkurat I. Yang menitis bukan semangat
kesalehannya, melainkan unsur dendam dalam dirinya. Biji kebencian yang selalu
bersemi dalam hati Amongraga terhadap Sultan Agung yang membunuh ayahnya itulah
yang membuat Amangkurat I berwatak pembantai.
Mengapa para pengarang Centhini tega menempatkan Among-ra-ga demikian,
padahal selama hidupnya ia berusaha menyucikan jiwanya? Lalu, apa artinya
perjalanan spiritual Amongraga se-banyak 4.000 halaman? Itulah ke-unikan Jawa.
�Amongraga sulit mencapai puncak kehidupan rohani karena masih ada setitik
keinginan berkuasa yang tak bisa dibersihkan dalam dirinya,� kata Elizabeth.
Satu lagi keanehan ma-nuskrip itu dari awal hingga akhir adalah tokoh Centhini
sendiri. Centhini jarang muncul. Ia nama pembantu Tembang Raras.
Sesungguhnya nama resmi suluk ini adalah Suluk Tembang Raras. Tapi
kenapa Centhini, meski hanya sesekali lebih populer dari nama majikannya?
Mengapa kitab yang menampilkan wejangan keabadian dan erotisisme ini seolah
seluruh intinya ada pada seorang pembantu? �Saya tak tahu, tak tahu,� jawab
Elizabeth sendiri. Ia mengaku itu terus membuatnya berpikir. Centhini dalam
serat ini muncul terutama dalam adegan malam pengantin Amongraga dan Tembang
Raras. Tatkala majikannya berasyik masyuk di balik kelambu, ia setia, menjaga di
luar, bersimpuh di lantai, terjaga sampai fajar. Tatkala Amongraga membeberkan
hubungan tentang roh dan tubuh, ia turut menyerap saksama.
Dan itulah sebabnya mengapa Elizabeth memilih judul Centhini Kekasih
Tersembunyi. Ia menduga: bagi orang Jawa, mereka yang dalam keadaan rendah
hati, tanpa berpretensi mengetahui rahasia Allah, adalah orang-orang yang paling
siap menyelami sangkan paraning dumadi, asal dan usul tujuan kehidupan
manusia.
Ketika Seh Amongraga menutup kelambu. Menatap istrinya. Dan malam undur, lalu
abdi itu menggumam: Manusia tidur. Ketika mati mereka bangun.
�������
|