Centhini Kembali ke Indonesia
title: Centhini Kembali ke Indonesia
writer: --
source: Suara Pembaruan Daily

Elizabeth D InandiakFragmen berjudul "Nafsu Terakhir" diangkat sutradara Bondan Nusantara dari jilid terakhir "Serat Centhini". Fragmen tersebut dipentaskan Didik Ninik Thowok dan Gareng Rakasiwi di Yogyakarta, baru-baru ini.

Ratu Wanda dan suaminya Pangeran Pekik akhirnya harus mati di tiang gantungan atas perintah sang menantu, Amangkurat I. Padahal, Ratu Wanda telah bertindak sebagai mak comblang dan menjodohkan Pangeran Tejoningrat (anak Amangkurat I) dengan Hoyi, salah satu selir ayahnya.

Ratu Wanda (diperankan Hagi Sundari) bersikeras bahwa tindakannya adalah benar dan akibat kesewenang-wenangan Amangkurat I, rakyat di bumi Mataram telah menderita. Bendungan yang didirikannya, bukanlah untuk mengairi sawah rakyat, melainkan untuk mengalirkan air demi memenuhi hasrat para selirnya yang jumlahnya ratusan.

Petikan fragmen tersebut merupakan secuil cuplikan dari Serat Centhini atau juga disebut Suluk Tambanglaras atau Suluk Tambangraras-Amongraga, salah satu karya sastra terbesar dalam kesusastraan Jawa Baru. Serat Centhini digubah atas kehendak Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom di Surakarta, seorang putra Kanjeng Susuhunan Pakubuwana IV yang kemudian bertahta sebagai Sunan Pakubuwana V.

Sangkala Serat Centhini, berbunyi paksa suci sabda ji, atau tahun 1742 tahun Jawa atau tahun 1814 Masehi. Sumber Serat Centhini ini adalah kitab Jatiswara (1711) zaman Sunan Pakubuwana III namun tidak diketahui siapa pengarangnya.

Melalui sepotong fragmen yang dipentaskan di aula Lembaga Indonesia Prancis (LIP) Yogyakarta, Jumat (24/7) malam, Elizabeth D Inandiak yang menerjemahkan Serat Centhini ke dalam bahasa Prancis, ingin mempersembahkan 12 jilid Serat Centhini kepada bangsa Indonesia.

Lalu siapakah Amangkurat I yang dituturkan dalam fragmen tersebut. Dikisahkan, Amongraga bernama asli Jayengresmi adalah putra Sunan Giri setelah dikalahkan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya, ipar Sultan Agung dari Kerajaan Mataram.

Serat Centhini disusun berdasarkan kisah perjalanan putra-putri Sunan Giri, yakni Jayengresmi, Jayengraga/Jayengsari, dan seorang putri bernama Ken Rancangkapti.

Karya ini bisa dikatakan sebagai ensiklopedi mengenai dunia masyarakat Jawa. Serat ini meliputi beragam macam hal dalam alam pikiran masyarakat Jawa, seperti persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia keris, karawitan dan tari, tata cara membangun rumah, pertanian, primbon (horoskop), makanan dan minuman, adat-istiadat, cerita-cerita kuno mengenai Tanah Jawa.

Lalu siapakah Centhini. Dalam untaian kisah itu, dituturkan Centhini adalah abdi setia dari istri Amongraga yang bernama Tembangraras. Tokoh figuran ini ternyata menjadi "pewarta" seluruh suluk dan pitutur serta syiar para Syeh pada zamannya.

"Namaku Centhini. Aku memang cuma seorang abdi, tetapi kutembangkan pengembaraan edan luar batas, pengembaraan dua putra serta seorang putri belia yang terpaksa lari dari Kerajaan Giri karena diserbu tentara Sultan Agung di abad XVII".

Dalam kekalutan peperangan, si sulung kehilangan kedua adiknya. Selama saling pergi mencari itulah kedua putra dan sang putri mencicipi semua kebijaksanaan dan segala pelanggaran yang tumbuh subur di Tanah Jawa di candi-candi yang terlantar, di puncak foya-foya mewah, di hutan belantara yang dikuasai jin-jin mbalelo, di mulut-mulut gua yang pekat, di asrama panas pondokan serta di kedalaman terang samudra.

Mereka mengajak orang-orang yang mereka temui di jalan di kekacauan pengembaraan mereka sendiri: pedagang keliling, para penembang, penggamel, ledek, banci, sastrawan sufi, pelacur, petapa Buddha-Siwa, pandai besi, dukun, guru kanuragan, kecu, segala orang bebas, pelarian atau paria yang, di luar kekuasaan, menemun serta mengutak-utik jaringan khayal syahwat dan roh Tanah Jawa. Begitulah untaian kata awal Elizabeth D Inandiak ketika memperkenalkan kembali Serat Centini.

"Pekerjaannya" menyadur Kitab Centini ke dalam bahasa Prancis adalah atas keinginan Duta Besar Perancis untuk Indonesia Thierry de Beaucé pada tahun 1996. Di samping pada hari ini saduran Serat Centhini diterbitkan kembali dalam bentuk utuh di bawa judul: "Centhini, Kekasih yang Tersembunyi".

Menurut Elizabeth, Thierry de Beaucé terpesona dengan kisah Serat Centhini dan memutuskan Kedutaan Besar Perancis di Indonesia akan membiayai sebuah saduran Serat Centhini yang terancam sirna itu. "Agar jangan sampai terlupakan dan kandungannya terwariskan dalam bahasa yang megah dan indah. Serat Centhini adalah salah satu karya sastra terbesar dunia. Namun dua belas tahun yang lalu belum diterjemahkan ke dalam bahasa apapun," ungkap Elizabeth yang mulai menerjemahkan Serat Centhini pada tahun 2002. [SP/Fuska Sani Evani]

�������



 
 






Hosted by:
Edi Cahyono

E-Mail:

Edi Cahyono
Hosted by www.Geocities.ws

1