|
(Pupuh Balabak, 275: 37-59)
Serat Centhini IV menjelaskan bagaimana posisi berhubungan seks sebagaimana ajaran Jawa. Seberapa dalam dan dari bagian mana pastapurusa (penis) harus dimasukkan ke dalam baga (vagina) perempuan, saat sedang berhubungan seks, dengan melihat tipe-tipe perempuannya.
Pose seksual itu adalah lelaki-perempuan saling berhadap-hadapan dalam posisi duduk timpuh laksana posisi pada saat tahiyat awal. Kemudian kepala perempuan ditundukkan, di mana keduanya sudah dalam posisi siap. Selanjutnya pihak lelaki merangkul iga kanan, sedangkan tangan yang kiri memegang lutut perempuannya dan selanjutnya sesaat kaki dibuka, kemudian kepala didekatkan dan ditidurkan dengan perlahan-lahan, menghadap posisi duduk timpuh lelakinya.
Dalam keadaan paha tak berubah, lutut didekatkan di antara kedua paha perempuan. Sehingga laksana sedang mengapit kedua paha dan lutut lelakinya.
Selanjutnya paha kiri perempuan diselonjorkan ditumpangkan di paha kanan pihak lelaki. Sebagaimana lutut perempuan yang sebelah kiri. Kemudian dijongkokkan dan sesaat berdiri. Singkatnya, jika keduanya sudah sama-sama dalam posisi yang enak, kemudianpihak lelaki segera membaca Bismillah. Setelah itu pirusa (penis) segera dimasukkan secara perlahan-lahan. Jika sudah setengah masuk, segera dilaksanakan dengan menggunakan tata aturan sebagaimana adat kebiasaan yang ada. Pada saat itu, segera pusatkan hati dan pikiran anda. Dan segera saling sambut-menyambut dengan gereget perempuan. Hal itu menunjukkan bagaimana bahagia dan puasnya hati. Cirinya jika segenap bulu-bulu di sekujur tubuh perempuan sudah mulai berdiri. Dan napas mulai terengah-engah. Hal itu sudah hampir mencapai puncak (marlupa). (37-44)
Adapun jika perempuan yang disetubuhi adalah tipe Bongoh, dalamnya pastapirusa (penis) di dalam hese (vagina) usahakan dengan gaya kadya galak sawer (patukannya laksana ular yang galak). Keluar masuknya dengan spontan serta halus dan jangan sampai tergesa-gesa. (46)
Jika perempuan tipe Dhenok dalam memasukkan penis ke dalam hese hendaknya dilaksanakan dengan gaya lir ngaras gandane sekar (seperti meraba baunya bunga). Dalam pikiran usahakan hanya melulu tertuju kepada perempuan yang menjadi pasangannya. (47)
Jika perempuan tipe Sengoh, penis dimasukkan dari (bawah) pesunatan bekas luka sunat, menuju tepat ditengah pintu. Adapun tindak-tanduknya, sebaiknya perempuan direbahkan, dengan posisi kaki agak setengah duduk. Sedang kedua lutut ditekuk dan hanya agak sedikit dibuka. (48-49)
Adapun untuk tipe perempuan (N)demenaake, penis dimasukkan dari bagian bawah sebelah kiri, dengan menggunakan gaya baita layar anjog rumambaka (kapal layar turun ke tengah lautan). Jika penis telah masuk, laksanakan dengan perlahan-lahan. Jika sudah mulai membasah laksana lendir ikan, pada saat itu baru dapat dipercepat. (50-51)
Jika perempuan Sumeh dimulai dari bawah pesunatan hingga tengah-tengah pintu baga (vagina). Tindak-tanduknya, bila telah mengalir lendir, segera dilaksanakan. (52)
Perempuan tipe Manis, penis dimulai dari bawah pasunatan agak ke kiri, dengan gaya lir bremana ngisep sekar (laksana kumbang mengisap bunga). Adapun jika sudah saling bertemu di dalam baga serta sudah mulai membasa laksana lendir ikan, segera percepat, tetapi dengan jarang-jarang. (53-54)
Perempuan tipe Merak ati, dimulai dari bawah pesunatan. Jika sudah mulai manjing dan membelai-belai di dalamnya, gaya penis yang mesti dilaksanakan lir lumaksana pinggire jujurang (laksana berada di pinggir jurang). Sehingga laksanakan dengan perlahan supaya tidak meleset. Jika lubangnya sudah mulai membasah laksana lendir ikan, percepat tetapi dengan tetap memperhatikan desah napas anda. Jika sudah kian cepat keluar masuknya erang napas dari hidung anda juga hidung pasangan anda, pada saat itu baru boleh mengeluarkan mani maya, sebab hal itu bersamaan dengan terbukanya rasa (orgasme) perempuan. (55-57)
Perempuan tipe Jatmika, dimulai dari atas pasunatan, dengan gaya lir mangaras lisah tama (laksana membelai minyak wangi). Raba-raba terlebih dahulu, agar segera terangsang. Di mana di dalam hati mulai kelihatan gereget (keinginan kuat) hingga segera keluar lendir. Pada saat itu sang purusa (penis) segera dimasukkan dalam hese (vagina). Jangan mengabaikan atau nikmati sepuas-puasnya saat-saat keluar rasa yang utama itu. (58-59)
�������
|

|
|
| |
| |
|