My Profile
Kembali ke profil awal - My Home
Apakah diri kita siap mati?
Alangkah sombongnya jika kita mengatakan sudah, apakah kita sudah mengonsentrasikan amal kita hanya untuk mendapat ridho Allah SWT? apakah kita sudah menyapa tetangga kita? apakah kita sudah menyadari akan nikmatNya berupa kesehatan dan kesempatan? apakah kita sudah mengawali tiap aktifitas kita dengan basmallah dan mengakhirinya dengan hamdalah? apakah kita sudah menyumbangkan akal pikiran, harta, dan jiwa kita untuk Islam, perjuangannya, amal usahanya, dan generasi-generasi penerusnya? apakah kita sudah merasa memiliki ilmu yang cukup untuk menjawab pertanyaan malaikat mungkar dan nakir di dalam kubur? apakah kita sudah merasakan apa yang dirasakan saudara kita di Palestina, Iraq, Afghanistan, Chezhnya, Perancis, Amerika, Mindanao, Thailand, bahkan saudara kita sesama bangsa Indonesia? apakah kita sudah mengumpulkan segelas air mata saja selama hidup kita karena ingat Allah? apakah kita tak tahu bahwa air mata itu untuk memadamkan api neraka yang membkar kita di neraka nanti? apakah kita sudah mendahulukan shalat berjama'ah dari hal lain saat mendengar adzan? apakah kita tidak pernah berpikir bahwa di luar sana ada milyaran lagi matahari-matahari yang tiap 100 milyar matahari bergabung dalam 1 galaksi dan masih ada milyaran galaksi-galaksi yang tiap 100 milyar galaksi bergabung dalam 1 nebula dan masih ada milyaran nebula-nebula lain dan begitu juga seterusnya hingga tak terbatas? apakah kita tak pernah berpikir bahwa kita adalah debu bahkan jauh lebih kecil dari itu di tengah padang pasir yang luasnya tak terbatas? Bukankah kita sering melawan kuasaNya dengan kekuatan kita yang padahal jika kita bayangkan diri kita tak akan sama sekali melawanNya? Bukankah kita seharusnya merasa bahwa kita adalah bagian paling kecil di alam semesta? apa yang kita punya? Bukankah segala daya dan kekuatan adalah milik Allah? kenapa kita melawanNya?
Bagaimana jika mati?
Sebelum singgah di terminal awal mnuju perjalanan panjang, coba kita renungi dahsyatnya gerbang sakaratul maut. Sangat berat sekali jika kita bayangkan hingga banyak orang yang tak sanggup melewatinya dan tak jarang yang mati dalam keadaan Masehi, Yahudi, dan kafir atau mati dalam keadaan su'ul khotimah, naudzubillahi min dzalika. Bukankah kita merindukan diri kita, orang tua, keluarga kita, dan saudara-saudara kita muslim mati dalam keadaan mengingat Allah. Sungguh mengerikan bila kita mati di tempat yang penuh maksiat, ditambah kita dalam keadaan lupa dengan Allah, bahkan menantang Allah. Bagaimana nasib kita dalam kubur jika hal itu yang terjadi pada kita? Bukankah Rasul menyuruh kita untuk senantiasa berdoa agar mati dalam keadaan syahid sehingga walau mati dalam keadaan tidurpun kita mati dalam keadaan syahid. Amien. Tapi pernahkah kita berdoa untuk hal tersebut? Ingatlah bahwa Imam Ghazali berkata pada muridnya, bahwasannya yang paling jauh dengan kita adalah masa lalu dan yang paling dekat adalah kematian, yang paling sukar adalah memegang amanah dan yang paling mudah adalah meninggalkan shalat. Kita yang mana? Bisa juga kita mati dan kemudian tidak datang hisab pada kita yaitu : Mati syahid fi sabilillah, ribath (berjaga di perbatasan negeri), meninggal hari Jumat, meninggal sakit perut. Siksa dan nikmat dalam kubur akan selesai jika kiamat berdiri.
Kembali ke profil awal - My Home