Sepasang
GERGAJI
Oleh : Ahmad Muhammad Haddad As-Syarkhani ( Adi Supriadi ) * )
Sepasang suami-istri ditanya, “Apa rahasianya sehingga kalian hidup rukun dan
tidak bercerai?”
“Ah, sederhana saja,” jawab salah satu pasangan itu, “jika seorang di antara
kami berbicara, yang lain tidak harus mendengarkan!”
Sebuah grafiti di sebuah lorong di
Bronx,
New York,
berbunyi demikian: Pernikahan yang paling bahagia terjadi antara seorang pria
tuli dan seorang wanita buta! ” Jika berpikir waras, kita tentu menyadari
meskipun mengandung kebenaran, pesan kedua hal di atas misleading. Meskipun pria
lebih cenderung memilih pasangan berdasarkan pandangan matanya sedangkan wanita
“lebih” cerewet, kunci kesuksesan pernikahan di atas jangan diikuti. Komunikasi
antar pasangan suami istri harus terjadi dan dihadapi, bukan dihindari.
Seorang istri dosen sebuah kampus ternama di Surabaya mengeluh. Ketika pacaran,
pria yang sekarang menjadi suaminya itu begitu romantis dan banyak mengumbar
kata. Saat bulan madu, suaminya masih senang mengajaknya bercakap-cakap. Namun,
dengan berjalannya usia pernikahan, diiringi meningkatnya karier, suaminya
semakin jarang mengajaknya ngobrol, apalagi berbicara dari hati ke hati. Ketika
ada tamu, misalnya, suaminya hanya menggumam ‘Hmmm’ dengan harapan istrinya
segera mengeluarkan minuman dan ‘hmmm, hmmm’ untuk mengeluarkan makanan kecil.”
“Sering kali saya begitu jengkel dan menunggunya sampai mengatakan ‘hmmm’ lima
kali dan saya siram air!” ujarnya.
Meskipun dia belum pernah menyiram suaminya dengan air, ungkapan kejengkelan itu
mewakili banyak istri yang lain. Dalam pelayanan konseling, akan banyak banyak
menemukan pasangan suami-istri yang tidak lagi harmonis karena tidak bisa
menjaga komunikasi. Di Amerika, masalah komunikasi—bersama problem keuangan dan
perbedaan cara mendidik anak—merupakan penyebab utama pertengkaran suami-istri.
Dua masalah berikutnya—finansial dan pendidikan anak—sebenarnya berakar dari
masalah yang sama, kurangnya komunikasi yang sehat.
Kesenjangan komunikasi ini kalau dirunut sampai ke bawah, akarnya adalah
perbedaan antara pria dan wanita. Ada banyak, namun paling tidak ada tujuh hal
yang sangat mendasar.
Pertama, pria memiliki kecenderungan untuk memakai otak kirinya, sedangkan
wanita otak kanannya. Dengan kata lain, pria lebih mendasarkan keputusannya pada
pikirannya, sedangkan wanita perasaannya. Contoh, “Saya pikir engkau tidak
seharusnya melakukan hal itu, Sayang!” ujar sang suami. Dengan nada lembut, sang
istri menjawab, “Saya rasa tindakan saya sudah betul.”
Kedua, pria cenderung berpikir objektif, sedangkan wanita subjektif. “Pa,
hati-hati lho dengan temanmu itu. Saya kira dia ada maunya,” ujar seorang istri.
Sambil tersenyum suaminya menjawab, “Ah, jangan mudah menilai orang dari
penampilannya. Tidak semua orang brewok itu jahat, Ma!”
Ketiga, jika menemui masalah, pria cenderung mengarsipnya di sel-sel abu-abu di
balik kepalanya, sedangkan wanita cenderung mencari solusi. Akibatnya, pria
tetap bisa tidur saat menghadapi masalah, sedangkan wanita pusing tujuh keliling.
Keempat, pria memiliki sumbu kemarahan yang pendek. Sedikit saja terkena
percikan api konflik, bisa meledak menjadi bara amarah. Sebaliknya, dawai wanita
mudah tersentuh oleh rasa bersalah. Itulah sebabnya mengapa wanita lebih mudah
bertobat ketimbang pria.
Kelima, dunia pria adalah dunia kerja, sedangkan dunia wanita adalah dunia rumah
tangga. Pria paling senang membanggakan pekerjaannya, sedangkan wanita paling
demen memamerkan rumahnya. Pria akan merasa kecil jika tidak bekerja. Wanita
merasa malu jika rumahnya jelek.
Keenam, pria lebih senang bicara prinsip, sedangkan wanita rinciannya.
Ketujuh, pria mudah lupa, wanita—seperti gajah—mudah mengingat. Istri teman saya
lebih bisa membaca peta dan menghafal jalan ketimbang dia. Jika mereka pergi
berdua—atau berempat dengan kedua anak mereka maka istrinyalah yang dia andalkan
menjadi co-pilotnya.
Nah, jika kita mengetahui persamaan dan perbedaan pria-wanita, kita bisa belajar
untuk saling memahami. Dengan mengetahui kelebihan dan kelemahan kita dan
pasangan, kita bisa saling melengkapi. Seorang hamba ALLAH yang keras menikahi
seorang wanita yang keras juga. Ketika Banyak orang menanyakan " bagaimana
mereka bisa rukun, hamba ALLAH itu menjawab,“ Jika sepasang gergaji diadu,
dua-duanya akan tumpul. Namun, jika gunung di gergaji yang satu ditempelkan ke
lembah satunya, tidak terjadi saling tusuk!”
Marilah belajar dari Rasululllah SAW bagaimana beliau berkeluarga dan menghadapi
sang istrinya yang tetap sabar ketika menghapai istrinya Aisyah RA yang cumburu,
karena perlu kita sadari bahwa istri atau suami adalah orang yang harus kita
sayangi bukan untuk kita tengkari, kita benci, bukankah ketika kita memutuskan
untuk MENIKAH atas dasar CINTA dimana Cinta memberi makna bahwa kita harus
selalu memberikan yang terbaik, tidak ada yang perlu di sesali yang terpenting
IKHLAS menerima kondisi dia apapun adanya, saling melengkapi adalah solusi
karena setiap kita sebagai Hamba ALLAH mempunyai kekurangan dan kelebihan. dan
sekali lagi SEHATKAN KOMUNIKASI KITA DENGAN PASANGAN KITA. Wallahu Alam
Kepada Yang akan Menikah.....Renungkanlah