Back

        Dia melempar kerikil ke tengah
    Air beriak di matanya, kenangannya bergoyang-goyang
    Dia kembali melempar kerikil lebih jauh ke tengah
    Air bercipratan dan angsa pun berterbangan
    Kenangannya bergoyang-goyang
    Ia tidak melempar kerikil lagi

            Heri H. Harris

       
Penulis puisi tersebut lebih dikenal dengan nama samarannya: Gola Gong. Saya tidak bermaksud mengupas puisinya tersebut. Puisinya cukup jelas dan sederhana, namun dengan makna yang dalam. Dalam coretan ini saya hanya ingin meminjam sampiran yang ia gunakan: kerikil yang dilempar ke tengah (danau/sungai). 
         Mari kita bayangkan apa yang terjadi pada danau yang tenang tersebut jika sebuah kerikil kita lemparkan ke tengah sebuah danau. misalnya.
        Sesuai dengan hukum alam sebuah kerikil yang jatuh ke tengah air akan jatuh ke dalamnya. Karena berat jenisnya yang lebih besar dari pada berat jenis air kerikil tersebut akan tenggelam. Tapi tepat sebelum tenggelam, ia menciptakan sebuah gelombang yang berpusat pada tempat jatuhnya. Gelombang tersebut akan merambat melingkar dan makin lama makin lebar. Gelombang tertinggi akan terjadi pada jarak yang terdekat dengan titik jatuhnya kerikil dan gelombang terendah akan terjadi pada titik yang lebih jauh dari titik jatuhnya kerikil. Namun tidak berarti kekuatannya akan hilang sama sekali. Hukum kekekalan energi membuktikan energi tersebut tidak akan pernah hilang, hanya berubah bentuk!
        Sekarang mari kita bayangkan dua orang pada saat yang bersamaan melemparkan kerikil ke tengah danau. Dua gelombang dengan pusat yang berbeda akan tercipta dan pada satu titik keduanya akan bertabrakan. Jika kerikil yang dilempar punya ukuran yang jauh berbeda, kita dapat membayangkan gelombang yang ditimbulkan kerikil yang lebih besar akan menolak gelombang yang ditimbulkan oleh kerikil yang lebih kecil. Gelombang yang besar akan mengalahkan gelombang yang kecil karena energi yang tersimpan pada kerikil yang lebih besar akan lebih besar juga dari pada energi yang tersimpan pada kerikil yang lebih kecil.
        Berikutnya jika lebih banyak kerikil yang dilemparkan ke dalam danau tersebut... Tak diragukan lagi bahwa hasilnya akan sama dengan hasil tabrakan dua kerikil tadi, namun dengan jumlah tabrakan yang lebih banyak dan sering.
        Marilah kita andaikan danau tersebut adalah kehidupan ini dan kerikil tersebut adalah tindakan, kebijakan, perbuatan, atau hanya sekadar senyuman, sapaan, atau lambaian tangan. Sebuah senyuman yang adalah sebuah "kerikil" yang menyimpan energi (dan ingat bahwa energi tunduk pada hukum kekekalan energi) yang dapat menciptakan gelombang yang sama kuatnya dengan sebuah cibiran. Makin besar "kerikil" yang kita lemparkan, makin besar energi gelombang yang tercipta dan makin jauh rambatannya.
        Tak peduli anda siapa, tiap hari anda melempar sebutir kerikil. Sapaan dan layanan ramah tukang ojek pada anda di Senin pagi yang menjengkelkan akan menciptakan gelombang kesejukan. Seorang polisi lalu lintas yang berdiri mengatur lalu lintas di tengah perempatan yang macet di siang hari yang panas akan melempar kerikil keyakinan bahwa anda tidak akan terjebak macet tersebut selamanya. Kerikil pujian yang dilemparkan oleh guru pada seorang murid yang dapat mengucapkan huruf dengan baik untuk pertama kalinya akan menciptakan gelombang yang akan terus merambat hingga berjilid-jilid buku bisa ia tulis. Anak petani yang membuang jerat burung yang telah ia pasang menjadi kerikil yang akan menyelamatkan anak-anak burung dari kelaparan. Lambaian tangan dan sapaan akrab pada seorang teman yang telah lama tidak bertemu dengan anda akan menghapus keraguannya untuk menemui anda lagi.
        Setiap hari kita melempar sebutir kerikil ke tengah danau kehidupan. Anda mungkin hanya seorang petani biasa atau seorang yang sangat berkuasa-dengan ukuran harta dan jabatan, namun hanya anda yang tahu siapa anda ketika anda melemparkan kerikil dan kerikil apa yang saat ini hendak anda lemparkan!    

Back

Hosted by www.Geocities.ws

1