Back
        Saya belum terlalu lama bekerja sebagai dosen pada Fakultas Ekonomi Universitas Andalas Padang. Tepatnya baru sejak tanggal 1 Maret 1999. Kurang lebih 3 tahun 5 bulan yang lalu. Namun dalam masa yang pendek tersebut saya banyak belajar baik dari diri sendiri maupun dari mahasiswa yang saya hadapi di kelas-kelas.
        Salah satu keuntungan yang saya dapatkan dalam masa 3 tahun lebih tersebut adalah pengalaman mengajar berbagai tingkatan usia. Di program S1 dan D3 yang reguler tentu saja saya hanya menghadapi mahasiswa yang mempunyai usia tidak lebih tua dari saya. Namun dalam kesempatan pertemuan di luar program studi tersebut saya mendapat kesempatan bertatap muka dengan orang dengan usia yang beragam. Mulai dari yang tiga atau empat tahun lebih muda hingga yang nyaris seusia dengan orang tua saya. Sama sekali bukan merupakan perkara yang mudah bagi saya unutk menghadapi semua jenis orang tersebut pada bulan-bulan pertama saya bekerja sebagai dosen-bahkan hingga hari ini. Perkara tersebut makin menjadi makin kompleks saat saya menyadari bahwa saya hanya seorang diri di depan kelas, dengan kewajiban "memberi" pada mereka. Parahnya, pernah dalam satu kesempatan sebagian dari mereka memiliki latar belakang pengalaman yang banyak dalam sebuah materi yang saya harus berikan.
        Jelas ini bukan perkara yang mudah mengingat minimnya pengalaman saya, demikian juga level keilmuan saya dalam tiap materi yang harus saya berikan. Tidak jarang saya merasakan ketakutan ketika saya harus "berhadapan" lagi dengan kelas yang sama. Terus terang, pada bulan-bulan awal saya bekerja sebagai dosen tersebut adalah bulan-bulan yang membuat saya kelabakan. Contohnya, ketika saya diberi tanggung jawab mengasuh mata kuliah perpajakan Indonesia. Satu-satunya pengetahuan saya tentang mata kuliah ini adalah dari yang saya dapatkan ketika saya S1 dulu. Itupun dengan nilai yang tidak memuaskan sama sekali. Tapi saya tak bisa mengelak ke mana-mana. Pada saat itu, salah seorang dosen yang mengasuh mata kuliah itu memutuskan melanjutkan studinya dan ia merasa bertanggung jawab agar mata kuliah tersebut tidak terbengkalai selama ia tidak di tempat. Satu-satunya pilihan jatuh pada saya karena hanya saya yang lebih muda dari beliau. Maka, ia "turunkanlah" ilmunya tersebut hanya dengan menyerahkan sebagian buku-buku perpajakan yang ia miliki ditambah dengan janji akan menjawab pertanyaan saya melalui telpon jika saya ingin bertanya....Bulan berikutnya ia berangkat kuliah dan jadilah saya dosen mata kuliah perpajakan.
         Pada awalnya memang kesulitan yang saya temukan masih belum seberapa. Pertanyaan-pertanyaan di kelas masih bisa saya jawab ketika sebuah pertanyaan muncul atau menjanjikan jawabannya pada pertemuan berikutnya jika saya tidak memiliki jawaban pada saat itu (ini cara mengakui kekurangan diri yang saya pelajari dari salah seorang mentor saya yang lain di fakultas). Hingga pada suatu hari saya mendapat telpon dari bekas klien pajak senior saya tersebut. Jelas, tidak mungkin bagi saya untuk menolak pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan saat itu walau lewat telpon demi menjaga nama baik senior saya tersebut. Dua kali ia menelpon dan menanyakan banyak hal pada saya-hal-hal yang saya yakin hanya bisa dijawab oleh konsultan pajak senior. Dan setiap kali ia menelpon, saya selalu berusaha memancingnya untuk mengutarakan garis besar masalahnya terlebih dahulu sebelum kemudian saya memintanya menelpon 10-15 menit kemudian. Kesempatan yang singkat tersebut saya gunakan untuk lari ke kamar dan menebar seluruh buku pajak di sekeliling telpon. Dan kemudian, ketika telponnya kembali datang, saya telah siap dengan jawaban-jawaban. Saya tidak tahu apakah ia tahu saya bukan orang yang bisa menjawab semua pertanyaannya atau tidak, atau sebaliknya ia puas dengan jawaban-jawaban saya. Yang jelas sejak kejadian tersebut ia tidak pernah lagi menelpon, hingga awal tahun ini.
        Pengalaman-pengalaman tersebut mengingatkan saya pada tulisan sebuah baju kaos yang saya baca ketika sedang naik sebuah angkot di Padang. Tulisannya begini: "It is not about how good you are but how bad you want it". Sebuah tulisan dengan makna yang dalam. Saya sendiri mengakui, jika pada saat itu saya tidak "ditinggal" sendirian mengasuh mata kuliah (yang kebetulan memang staf pengajarnya kurang) dan jika saya tidak mengganggap bahwa setiap kesempatan tatap muka di kelas adalah kesempatan untuk "menyelamatkan muka", maka saya tidak akan pernah bisa bertahan hingga sekarang.
        Saya menyadari bahwa saya sendiri sering kali kehilangan motivasi untuk selalu bekerja keras dalam apapun yang saya kerjakan. Saya tidak pernah lupa tulisan di kaos itu-walaupun tulisan itu saya baca sudah cukup lama (mungkin 5 tahun yang lalu-saya tak ingat persisnya tahun berapa) dan hanya sekilas ketika pemilik kaos tersebut membalikkan punggungnya ke arah saya malam itu-namun sering kali saya "lupa" maknanya. Satu-satunya cara agar saya bisa "ingat" selamanya adalah dengan sedikit nyinyir di kelas ketika saya mendapatkan satu-dua mahasiswa bermalas-malasan di kelas saya. Seminggu yang lalu ketika saya mengajar mata kuliah perpajakan, saya membebani mahasiswa dengan tugas-tugas setiap sesi kuliah. Pada satu kesempatan itu saya minta mereka mengerjakan sebuah soal dengan variasi yang berbeda dari contoh-contoh soal yang pernah saya berikan sebelumnya melalui modul. Saya biarkan mereka mengerjakan kasus tersebut dan menunggu hingga seluruh mahasiswa tersebut berhenti menulis. Jawaban mereka kemudian saya cocokkan dengan jawaban saya, dan saya puas dengan jawaban mereka SEMUA. Saya kemudian bertanya apakah soal tersebut mudah atau sulit bagi mereka. Mereka semua diam. Karena tidak ada jawaban, pertanyaannya saya ubah menjadi apakah soal tersebut sulit. Mereka semua menjawab YA. Ketika saya tanya apakah mereka BISA, semuanya menjawab BISA.
        Inilah cara saya untuk terus menyadarkan diri saya sendiri dan mereka, mahasiswa saya. Tak ada yang MUDAH tapi dengan memiliki semangat bahwa kita BISA, maka tak ada yang TIDAK MUNGKIN.
        Setiap hari kita akan selalu berhdapan dengan sebuah rintangan dan sebuah pertanyaan-yang mungkin bernada keraguan-apakah kita bisa mengalahkan masalah tersebut. Hanya sebuah jawaban yang bisa meruntuhkan rintangan tersebut: BISA!      
 
Padang, 27 Juli 2002
Saya berterima kasih pada seorang sahabat yang menyelipkan sebuah kartu pos bergambar seorang atlet yang sedang melakukan lari gawang ketika kami terakhir bertemu di bandara. Sahabat yang pada suatu waktu pernah saya "nyinyiri" dan "membalas" perlakuan saya dulu dengan sebuah tantangan.   
         
Back         

Hosted by www.Geocities.ws

1