Sebelumnya saya minta maaf, jika memang tidak ada identitas jelas yang semestinya saya sertakan, bukan karena saya punya niat main main, tapi sepertinya memang lebih baik mba tidak tahu dulu siapa saya Entah apa yang membuat saya berani melakukan ini. mungkin marah, mungkin rasa putus asa. Entah saya ini korban entah saya yang patut di persalahkan, Entah saya ini gila entah saya ini bodoh. Entah saya ini patut di aksihani, entah saya ini sepantasnya di kutuk Tapi kutuklah saya, jika mba rasa itu perlu, dan memang itu yang seharusnya mba lakukan. Mengutuk Saya Semua yang saya alami di luar kendali saya, di luar akal saya sebagai perempuan yang punya hati. Saya Memang pantas di salahkan, karena kebodohan saya, karena kenajisan saya. Tapi sumpah serapah tidak akan mampu merubah keadaan, perut saya akan tetap terus membesar, bukti ada kehidupan lain yang tidak bisa di sangkal. Benih itu... berasal dari seseorang yang seharusnya berbagi cinta dengan mba, yang seharusnya berbagi manisnya pernikahan dengan mba. Sungguh saya tidak ada niat untuk menghancurkan rumah tangga siapapun. Salahkan saya karena saya hanya seorang perempuan, Jika di dunia ini penuh dengan ketidak adilan, perempuan lah yang selalu menjadi peran utama, sebagaimana perempuan lah yang selalu mendominasi setiap penderitaan. Saya tidak menuntut apapun yang memang bukan hak saya. tapi saya menginginkan keadilan bagi anak saya, jika keadilan itu memang masih ada. Andai saja suami mba masih cukup punya hati untuk memperlakukan anak saya seperti manusia, semua rahasia ini akan tersimpanb rapat, Ibu mana yang rela anaknya di rendahkan dan di remehkan begitu saja ??? Suami Mba telah membunuh keinginan saya untuk menyimpan rapat2 rahasia ini..... Saya benar2 minta maaf jika mba harus tau semua ini, Jika mba di posisi saya, mba akan mengerti beban mental apa yang harus saya pikul. Entah kebohongan apa lagi yang keluar dari mulut suami mba begitu mba mengkofirmasi masalah ini, yang pasti kesalahan selalu di lakukan di dua pihak. kami berdua sama2 salah dan khilaf, dan penyesalan tidak akan membawa kami kemanapun, dan kami harus mempertanggungjawabkan kesalahan kami kepada YANG DI ATAS, sebagaimana kami harus bertanggung jawab pada buah hasil khilaf kami yang sekarang ada di perut saya Dari hati yang paling dalam, sekali lagi dan tak akan pernah saya berhenti memohon, maafkan saya, keikhlasan mba untuk memaafkan saya adalah modal awal yang sangat penting bagi saya untuk memulai babak baru saya bersama anak saya.