BAGIAN KETIGA
KONSPIRASI GPM, RMS, PDI-P DALAM KONFLIK BERDARAH DI MALUKU JULI-DESEMBER 1999
KESIMPULAN DAN PENUTUPDARI penyajian fakta dan data serta analisis terbatas dalam naskah ini maka ditarik sejumlah kesimpulan sebagai berikut:
DEMIKIAN naskah ini dibuat untuk menanggapi situasi terakhir serta berbagai kebijaksaan yang ditempuh pemerintah untuk menyelesaikan kasus kerusuhan Ambon. Situasi tenang selama bulan Ramadhan / Desember 1999 sebagai suatu kesepakatan bersama kedua belah pihak yang bertikai dapat dipelihara untuk waktu yang lebih panjang kedepan sebagai langkah awal proses rekonsiliasi sejauh kesepakatan tersebut dipatuhi secara jujur dengan menghindari penyebab sekecil apapun yang dapat memicu kerusuhan baru.
- a. Ummat Islam sejak awal kerusuhan hanya membela diri dalam rangka mempertahankan hak hidup dan kemulyaan agamanya, serangan balas yang dilakukan mulai tanggal 27 Juli 1999 dalam skala terbatas itu adalah upaya mengamankan diri dari kemung-kinan tindakan lawan.
- b. Ummat Islam dalam posisi benar dari segi politik maupun hukum, posisi itu akan dipertahankan dengan segala daya upaya secara jujur, obyektif dan konsekuen.
- c. Kerusuhan ini telah berkembang menjadi perang agama sehingga penyelesainnya menjadi sangat sulit.
- d. Kerusuhan ini adalah inspirasi besar untuk kepentingan politik kekuatan Kristen di luar Ambon\Maluku, RMS ditunjuk sebagai pelaku dengan menggunakan ummat Kristen.
- e. Penyelesaiannya seperti ditetapkan Presiden tetap mengandung kerawanan sebab selama 11 bulan berlalu bukan ditangani pihak manapun ternyata gagal total dengan tingkat kerusuhan yang sangat besar baik sarana fisik maupun korban jiwa dan yang luka-luka dengan cacat seumur hidup.
- f. Ummat Islam terutama para elitnya tetap belum berhasil menyatu padukan sikap dalam menghadapi perjuangan dibidang politis yang sangat menentukan nasib masa depan ummat Islam.
- g. Rekonsiliasi dan perdamaian harus berorientasi pada sikap dan aspirasi masyarakat bawah terutama para Mujahidin yang diangkat dalam bentuk persyaratan oleh dua tokoh agama Islam yaitu : KH. Aly Fauzy dan KH. Wahab Polpoke.
- h. Menghadapi masa depan ummat Islam yang akan berada dalam Pemerintahan daerah dengan sistem otonomi seluas-luasnya, harus mampu membangun diri sendiri tidak terlalu menggan-tungkan diri pada pemerintah pusat. Karena itu peran para elit pasca kerusuhan sangat diharapkan ?
Untuk itu ummat Islam perlu tetap waspada karena pengalaman adalah guru yang berharga.
Demikian semoga ada manfaatnya.Bersambung Ke Bab 3-12