BAGIAN KETIGA
KONSPIRASI GPM, RMS, PDI-P DALAM KONFLIK BERDARAH DI MALUKU JULI-DESEMBER 1999

Ummat Islam Bangkit Membela diri
mempertahankan hak hidup dan kemuliaan agamanya

Bab 3:09 :
SITUASI TERAKHIR  PADA BULAN DESEMBER 1999

MALAPETAKA besar bagi masyarakat Maluku yang akan mening-galkan abad ke-20 memasuki abad 21 atau milenium ke III. Tahun 2000 yang penuh tantangan kemajuan teknologi dan sektor lainnya, bagi masyarakat Maluku justru menghadapi beban yang amat berat baik fisik material berupa kehancuran harta benda dan korban jiwa serta mental spriritual yang hancur terbawa dendam antara warga yang beragama Islam dan yang beragama Kristen. Siapa pun tidak dapat membuat perkiraan kapan kerusuhan ini dapat diatasi bahkan keadaan dari hari ke hari semakin buruk.
Petunjuk Presiden Abd.Rahman Wahid bagi masyarakat Ambon untuk menyelesaikan sendiri masalahnya ternyata menghasilkan keadaan yang semakin buruk. Petunjuk itu telah menggambarkan bahwa pemerintah masih saja berpendapat bahwa akar permasalahan adalah muatan lokal yang sesungguhnya tetap disembunyikan dan yang diangkat ke permukaan justru bukan penyebab pokok. Selama kerusuhan ini pihak Kristen selalu menggunakan muatan lokal sebagai penyebab terjadinya kerusuhan. Hal seperti itu sangat dimengerti karena apabila penyebab yang sesungguhnya ditangani maka aksi kerusuhan akan segera berakhir sebelum tujuan mereka tercapai.

PEMBAKARAN GERAJA SILO.
Gereja Silo adalah gereja yang terbesar kedua milik Kristen Protestan setelah Gereja Maranatha dengan anggota yang besar karena letaknya tepat ditengah-tengah kota Ambon. Gereja ini menjadi amukan massa dan sasaran pembakaran. Aparat keamanan tidak mam-pu mengatasi massa yang sebanyak itu dan mengamuk. Gereja Silo dan beberapa rumah disampingnya habis terbakar.
Umat Islam yang dirasuk kebencian atas pelanggaran perdamaian secara terus menerus sejak dikumandangkan Deklarasi Menahan Diri pada tanggal 7 Desember 1999.
Tiga peristiwa besar yang merupakan pelanggaran pihak Kristen adalah 1) kasus Desa Rumah Tiga, 2) Desa Seri-holo di Seram Barat dan Pulau Buru Utara-Barat. 3) Pelanggaran terakhir yang sangat tidak berkemanusiaan pada tanggal 26 Desember 1999 menjelang berbuka puasa terjadi penculikan terhadap anak berumur 14 tahun bernama Fauzan Fahrul Sarijan yang sengaja diserempet kemudian diculik. Perlakuan biadab dari pihak Kristen ini memancing amarah ummat Islam sekota Ambon yang kemudian mengamuk dan membakar Gereja Silo serta rentetannya selama tiga hari yang korban dipihak Islam mencapai 35 orang syuhada dan 70 orang luka-luka berat/ringan. Korban sekian besar terjadi karena amukan diluar kontrol dan tidak ada seorang pimpinan/tokoh yang mampu mere-dam amarah mereka. Rangkaian peristiwa di atas telah mengabarkan pecahnya kerusuhan Ambon babak III. Serbuan dengan membakar ini telah membuat pihak Kristen begitu takut, mereka mundur dari tengah kota diseberang jalan Imam Bonjol sedangkan wanita dan anak-anak telah diungsikan sampai kedataran tinggi desa Soya.
Serangan dan pembakaran terhenti pada tanggal  30 Desember 1999 setelah komando dan pengendalian (Kodal) berpindah kepada Pangdam XVI/PTM pada jam 06.00 WIT yang untuk mencegah serangan ummat Islam untuk melakukan pembakaran lanjutan diturunkan pasukan dalam jumlah besar mengisi garis demarkasi karena itu serangan Mujahidin yang sedang mendapat kemajuan pesat menjadi terhenti.
Perlu dicatat dan perlu dikenang keberanian yang luar biasa beberapa orang Mujahidin ada yang muda belia dan ada pula yang sudah memiliki cucu. Mereka tidak kalah berani dan gesitnya diban-dingkan dengan para Mujahidin, mereka juga ikut menyerbu memba-kar dan menebas leher. Terkenal salah satu diantara mereka yang memiliki tingkat kekebalan tertentu dia telah tiada dipanggil oleh Allah swt sebagai Syahidah bersama rekan-rekan yang untuk kota Ambon dan sekitarnya telah mencapai sekitar 280 orang diluar korban besar ummat Muslim di Maluku Utara.

Korban kerusuhan babak ketiga ini sangat berbeda dengan babak ke II karena peluru yang menembus para Mujahidin bukan peluru aparat keamanan tetapi dari laras senapan pihak Kristen berupa sniper dari aparat keamanan Kristen yang memihak dan bertindak sebagai bagian dari kekuatan perusuh serta senjata standar militer yang dimodifikasi sehingga tampak seperti senjata rakitan.
Pada tanggal 30 Desember 1999 Presiden menyatakan akan mengirimkan 12 batalyon pasukan ke Ambon memperkuat sekitar 5 Batalyon yang ada di kota Ambon dan sekitarnya termasuk pulau Seram, P. Buru, P. Haruku, P. Saparua dan PP. Maluku Tenggara. Pada hari ini ketika naskah ini ditulis, di Maluku Utara yang kini telah berdiri sendiri terjadi lagi serangan ke kampung Islam dipaksa Tobelo dan Galela menimbulkan korban tidak kurang 250 orang warga muslim ?

Bersambung Ke Bab 3-10

Top

Hosted by www.Geocities.ws

1