BAGIAN KETIGA
KONSPIRASI GPM, RMS, PDI-P DALAM KONFLIK BERDARAH DI MALUKU JULI-DESEMBER 1999

Ummat Islam Bangkit Membela diri
mempertahankan hak hidup dan kemuliaan agamanya

Bab 3:07 :
PENYELESAIAN SENDIRI

KUNJUNGAN Presiden KH Abdurrahman Wahid yang sekaligus bersama Ibu Wakil Presiden Megawati Soekarno Putri ke Ambon pada tanggal 12 Desember 1999 melakukan pertemuan dengan para tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat dan para tokoh pemuda. Petunjuk dan keputusan Presiden bahwa dalam kerusuhan Ambon hanya dapat diselesaikan oleh orang Ambon sendiri, Pemerintah pusat akan berperan sebagai pendorong dan membantu. Tentu pernyataan itu bukan suatu keputusan asal-asalan, tetapi telah melalui suatu proses analisis dan pertimbangan yang panjang dan mendalam, sampai kepada keputusan menyerahkan penyelesaiannya kepada orang Ambon sendiri adalah pilihan terbaik dari beberapa pilihan yang ada.
Hanya saja bagi orang Ambon/Maluku keputusan itu sama sekali tidak dapat dimengerti, kalau ada yang sependapat mungkin sekali belum sempat sadar akan kekeliruan keputusan itu.
Kerusuhan yang meletus secara terbuka pada tanggal 19 Januari 1999 itu telah berlangsung hampir setahun, tidak ada tanda-tanda akan berakhir. Ketenangan bulan Desember sangat berkaitan dengan kepentingan pihak-pihak yang berselisih, pihak Islam ingin memasuki bulan suci  Ramadhan dengan ketenangan agar dapat menjalankan ibadah dengan khusuk sedangkan pihak Kristen yang merayakan Natal dengan acara ditiap Gereja dan rumah sepanjang bulan Desember 1999 tidak ingin terganggu oleh saling menyerang.

DEKLARASI MENAHAN DIRI
Gubernur Maluku DR. IR. M. Saleh Latuconsina, sekali lagi mengambil inisiatif untuk membangun perdamaian diantara warga yang bertikai. Dari pengalaman gagalnya perdamaian masa lalu kali ini tidak terdengar kata-kata damai, yang digunakan adalah menghentikan pertikaian. Substansi  kedua kata itu sangat berbeda, perdamaian mengandung unsur-unsur berat yang justru sebagai sumber pertikaian, tidak ada damai sebelum unsur-unsur konflik diselesaikan karena itu berbicara tentang damai diantara mereka  yang saling mendendam terlalu berat. Deklarasi  Menahan Diri yang di Deklarasikan Gubernur Maluku M. Saleh Latuconsina pada tanggal 6 Desember 1999 setelah berjumpa dengan para tokoh kedua belah pihak yang bertikai, bertujuan agar kedua belah berupaya menahan diri untuk tidak saling menyerang selama bulan puasa atau sampai sekian hari sesudah memasuki tahun baru 1 Januari 2000, istilah yang digunakan adalah genjatan senjata, tepat kata-kata itu bila untuk waktu sebulan. Deklarasi itu pun di sosialisasikan ke segenap masyarakat, suatu keharusan yang tidak dilakukan pada acara perdamaian di waktu lalu.
Maunya suasana nyaman selama sebulan itu dapat dinikmati oleh kedua belah pihak yang akhirnya sepakat untuk tidak melanjutkan pertikaian. Tetapi apakah sesederhana itu permasalahannya, semen-tara dendam semakin mendalam, kepentingan politik pihak Kristen belum tercapai apalagi para Mujahidin yakin betul bahwa pihak Kristen sengaja melancarkan perang agama yang telah nyata-nyata menghancurkan dan membakar ratusan masjid, menginjak-injak dan membakar Al-Qur’an kitab suci ummat Islam, apalagi dengan kebia-daban mereka menghina Rasulullah saw, para imam masjid dibunuh dengan kejam; sekolah-sekolah Islam  dibakar bahkan Kantor-Kantor Urusan Agama (Kantor Pengadilan Agama, Kandep Agama dan Kanwil Dep. Agama) dibakar, sementara ruang-ruang Kantor Bimas Kristen Protestan, Katholik, Hindu dan Budha di Kanwil Agama diselamatkan tidak diapa-apakan. Bagaimana mungkin ummat Islam melihat ini bukan sebagai tantangan perang agama? Sementara pihak Kristen secara terus-menerus menolak kalau konflik ini dikaitkan dengan kehidupan agama antar kedua kelompok yang bermusuhan. Sikap berpura-pura itu tidak didukung oleh perbuatan nyata sebab penghinaan terhadap agama Islam dan ummatnya terus berlanjut dan terang-terang. Silahkan lihat saja kesepakatan 3 kelompok pemuda yang diikrarkan oleh Pemuda Polnaya beberapa menit setelah Dekla-rasi Menahan Diri oleh Gubernur. Justru kesepakatan para pemuda itu telah mengutuk ummat Islam melihat jelas keterlibatan RMS. Ummat Islam yang lugu tidak mencurigai niat busuk pihak Kristen, seharusnya dihormati pihak Kristen bukan melanggar himbauan Gubernur untuk menahan diri hanya beberapa saat setelah deklarasi diucapkan dan semua yang hadir dari pihak Kristen seperti bersung-guh-sungguh mendukung deklarasi tersebut. Kepalsuan ini justru membuat cacat dukungan untuk deklarasi menahan diri, kalau ada pelanggaran dari pihak manapun hendaknya bertanya lagi pada diri sendiri, adakah ketulusan dan niat baik itu? Sayang sekali kelompok Islam terlalu lugu sehingga terjebak niat busuk Kristen yang disengaja untuk memanaskan kembali situasi.
Selaian itu salah satu faktor penentu adalah sikap Grass Root terehadap ajakan menahan diri, mereka selalu  ingin membunuh  dan membakar melampiaskan dendam agama, batasan waktu sebulan dengan tujuan mulia dikhawatirkan akan ditaati sebagai basa-basi dan memuliakan hari-hari suci dalam agama saja.

MENYELESAIKAN SENDIRI  PEMERINTAH HANYA MENDORONG
Pemerintah Pusat lewat Presiden menetapkan agar kerusuhan besar ini diselesaikan  oleh masyarakat Ambon sendiri.
Kalau keputusan itu hasil analisis para pakar, apakah mereka mengira bahwa selama sebelas bulan berlalu ini Pemerintah pusat telah turun tangan menyelesaikan kasus Ambon secara bersungguh-sungguh dan karena gagal (tidak mampu) disimpulkan bahwa yang paling tepat diselesaikan oleh orang Ambon sendiri. Kasus kerusuhan Ambon ini apakah mau diselesaikan atau tidak. Orang Ambon yang telah gagal menyelesaikan selama 11 bulan masih terus dipaksakan untuk mengatasi sendiri. Apa kata masyarakat bawah, Pemerintah tak bertanggung jawab, orang Ambon disuruh saling bunuh terus.
Keputusan seperti itu akan menguntungkan para aktor intelektual yang bermain untuk kepentingan konspirasi politik besar, mereka akan lepas dari pengejaran aparat keamanan dan hukum yang tentunya amat mengecewakan ummat Islam. Sulit dibayangkan bagaimana Ummat Islam dapat menerima kenyataan kalau ada pihak yang telah membunuh, membakar dan menghina agamanya sengaja dilepaskan dari kejaran hukum. Apa sesungguhnya yang ditakuti Pemerintah sampai harus mengorbankan ummat Islam yang justru sebagai korban pihak Kristen. Karena itu kebijaksanaan yang keliru ini harus ditinjau lagi, Pemerintah pusat harus dengan tegar mau menolong ummat Islam di Ambon jangan dihancurkan terus. Kalau terus bersikap begitu niscaya damai sulit dibangun, mengapa antara kehendak dan tindakan Pemerintah bertentangan, gejala apa ini?
Dalam sambutannya Presiden menyatakan kedekatannya dengan para tokoh RMS, bahkan mereka sangat prihatin atas peristiwa Ambon karena itu akan ikut memberikan bantuan kemanusiaan. Bukan main bermain politik sambil mencuci tangan, kini mereka merasa terbebas dari kejaran karena Presiden telah memberikan jaminan.
Ummat Islam di Ambon mengharapkan aparat keamanan dan Pemerintah menghimpun lagi data dan fakta serta melakukan pengu-sutan/pemeriksaan keterlibatan RMS, tangan ummat Islam tidak mampu membuka tabir RMS, tetapi bayangannya tampak jelas dibalik tabir. Jadi kalau RMS diselamatkan seperti itu, dimana sesungguhnya keadilan Pemerintah yang serta merta membebaskan RMS dari jaring yang sudah hampir menjeratnya. Pernyataan Ketua Harian Sinode GPM meminta referendum,Wakil Ketua DPRD Tingkat I/II meminta turun tangan pasukan PBB dan lebih berat lagi surat Tim Pengacara Gereja (TPG) kepada Sekjend PBB dan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton untuk meminta perlindungan. Apakah tidak dapat diperhatikan sebagai konspirasi kuat dari luar Ambon atau justru membuat pemerintah menjadi takut membuka tabir itu. Kalau itu yang terjadi, betapa harus kita pertanggung jawabkan kepada para pahlawan yang telah merebut kemerdekaan dan kedaulatan bangsa dan  negara ini dengan jiwa dan raganya. Tidak bisakah kita menunjukkan kebesaran bangsa ini sejajar dengan bangsa Irak yang siap menderita demi kedaulatan dan kebesaran bangsanya?

KONFLIK INI PERANG AGAMA
Yang pertama merasakan konflik ini sebagai perang adalah para Kiyai dan alim ulama’ kemudian para Mujahidin. Para Kiyai dan para Mujahidin serempak melakukan protes atas dibakarnya masjid-masjid pada hari pertama setelah membakar pasar dan tempat usaha milik ummat Muslim, kaum kuffar Nasrani langsung menginjak dan membakar Al-Qur’an di tiap Masjid, mereka dengan sadis membu-nuh para Imam Masjid yang tampak seperti seteru besarnya. Kemarahan kemudian muncul dari segenap ummat Islam ketika mengetahui banyak sekali corat-coret didinding dan tembok menghina Rasulullah SAW, junjungan ummat Islam yang amat dimuliakan, bukan saja lewat coret-coret yang umpatannya terbatas, tetapi melalui obrolan handy talky (HT) setiap malam pada kerusuhan pertama yang penuh ejekan, penghinaan dan entah apa lagi yang tepat dikatakan atas kata-kata kotor yang mencerca seseorang yang tidak ikut bertikai. Ummat Islam tidak dapat menerimanya tetapi mereka terus menghi-nanya, para pendeta dan pimpinan GPM serta keuskupan Ambonia membiarkan semua itu berlangsung berbulan-bulan, mereka lebih kejam dari provokator.
Kalau sampai masjid di hancurkan dan tulisan Allah dipuncak qubah digantikan dengan Salib, apalagi yang harus dikatakan ummat Islam kalau bukan tantangan berperang Agama? Mereka ternyata belum puas menghina Islam, aksi melebar membakar sekolah-sekolah Islam (Madrasah dan pendidikan Islam) kemudian objek terakhir Kantor Agama (KUA, Kandepag, Kantor Pengadilan Agama serta Kanwil Dep. Agama). Kanwil Dep. Agama yang dibakar berturut-turut selama 3 kali ternyata ruang-ruang Bidang Pembinaan Agama Protestan, katholik, Hindu dan Budha tidak di bakar.

Harus berbasa-basi apa lagi ummat Islam mendapat perlakuan penghinaan terhadap kemuliaan agamanya. Sebagian elit berpendapat bahwa semula mereka menjadikan Ummat Islam sebagai golongan yang harus dihancurkan, jadi ummat Islam sebagai subjek/objek politik yang karena pelakunya RMS yang mendendam ummat Islam sejak tahun 1950, maka penghancuran ummat Islam itu tidak ada batasnya. Akhirnya sendi-sendi agama yang rawan menjadi sasaran penghancuran yang menimbulkan perang agama. Sebagian lagi terutama para Mujahidin menyatakan bahwa sejak awal mereka melan carkan perang agama agar penghancuran ummat Islam sekaligus dengan keyakinannya karena keberadaan ummat Islam dengan ajaran agamanya telah dianggap mengganggu dan bertentangan dengan kepentingan Kristen. Apa pula yang mereka kehendaki kalau rumah-rumah penduduk Islam yang telah dijarah ditulisi Love Yesus dan Gambar salib sebesar-besarnya.

BELUM ADA TOKOH YANG MAMPU MENYELESAIKAN
Kondisi ummat Islam tidak menguntungkan untuk mampu menyelesaikan permasalahan konflik ini. Hal tersebut disebabkan karena ummat Islam Tidak menyatu ditingkat elit apalagi antara elit dengan para Mujahidin pelaku pertempuran dilapangan.

Kondisi Para Elit
Mereka terdiri atas tiga kelompok yaitu yang betul-betul mengab-dikan dirinya untuk melawan Kristen dengan fikiran dan uangnya. Lapisan ini terlalu kecil, hanya beberapa orang. Semangat jihad yang besar pada tingkat elit harus ditambah dengan persyaratan pengab-dian lewat daya pikir karena dari mereka tidak diharapkan keteram-pilan olah berpedang, bertombak atau berpanah. Masalah besar ini memerlukan kemampuan berfikir strategis sebab pihak Kristen jauh lebih unggul dalam olah pikir sehingga mereka terus bermanuver politik yang mencengangkan ummat Islam, mereka memiliki strategi yang jelas dan dioperasikan dengan pengendalian yang efektif sementara yang Islam tidak memiliki hal itu.
Kerlompok kedua adalah mereka yang bersikap menunggu, bergerak bila didorong tetapi segera berhenti bila daya dorong hilang. Kondisi kelompok ini membingungkan karena tidak jelas orienstasi-nya. Termasuk ke dalam kelompok ini adalah mereka yang tampak aktif tapi sesungguhnya berkaitan dengan kepentingan materi. Keberadaan mereka amat berbeda dengan kelompok pertama yang berjuang dengan dananya walau sedikit tetapi ikhlas tanpa mengharap apapun kecuali ridho Allah swt
Kelompok ketiga adalah mereka yang jauh dari perjuangan, mengutamakan kepentingannya bahkan ada yang bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.  Dengan demikian dapat digambarkan betapa sulitnya ummat Islam dalam perjuangan ini. Pada saat-saat sulit sejak bulan September 1999 dan perjuangan politik telah memasuki tahapan serius tidak terlihat tanggapan  yang berarti kecuali berlaku suasana yang rutinitas.

Hubungan antara Para Elit  dan Mujahiddin
 Sedikit sekali para elit yang masih berpengaruh dan diterima para Mujahidin yang disebabkan kurangnya kepercayaan para Mujahidin akan kemauan dan kemampuan peran para elit dalam perjuangan. Kekalahan dibidang politik termasuk pelanggaran perdamaian secara bertubi-tubi dan serius tidak mendapat reaksi yang memadai apalagi melakukan tuntutan dengan keras. Hal yang menimbulkan kerugian ummat Islam itu terus menerus terjadi tanpa ada suatu pemikiran kearah pemecahannya. Dapat kita rasakan betapa pelecehan psy war dilakukan tanpa mampu melakukan pembalasan. Begitu pula tidak adanya strategi yang jelas baik pada perjuangan fisik bersenjata maupun dibidang politik membuat kepercayaan Mujahidin  merosot karena ternyata mereka dibiarkan berjuang sendiri hanya dengan mengandalkan semangat saja.
Dalam kondisi di mana persatuan dan kesatuan seperti itu menjadi ragu apakah ummat Islam memiliki konsep yang jelas dalam perju-angan menyelesaikan konflik melawan pihak Kristen terutama untuk menghadapi proses penyelesaian konflik seperti yang ditetapkan/diarahkan oleh Presiden yaitu orang Ambon menyelesaikan sendiri. Jika tidak, maka yang akan terjadi adalah pihak Islam akan dikalahkan secara politis atau kemenangan tidak seimbang dengan apa yang diha-rapkan untuk perbaikan masa depan sehingga tetap merupakan kerug-ian besar. Konflik diantara para elit bisa meningkat terus akibat tidak adanya langkah bersama yang tepat dan lebih-lebih apabila konflik kepentingan meningkat.
Diminggu kedua Desember 1999 telah diberitakan secara luas beberapa kegiatan yang berkaitan dengan proses penyelesaian keru-suhan Ambon. Sejak akhir November 1999 Panitia Kerja DPR (Panja DPR) untuk mencarikan solusi penyelesaian kerusuhan Ambon sudah bekerja secara intensif dan akhir Desember ini akan ke Ambon. Didalam Panja itu ada tokoh PDI-P seperti Jacob Tobing dan Sembiring Meliala, para elit Islam di Ambon tak bereaksi sedikit pun untuk menyiapkan diri. Ada lagi rencana panggilan 19 tokoh dari kedua belah pihak yang bertikai ke Jakarta serta diacarakan 100 Pemuda Maluku di Jakarta akan ke Ambon dalam waktu 3 atau 6 bulan untuk mengupayakan rekonsiliasi dengan mendekati kedua belah pihak yang bermusuhan. Kalau bukan MUI Maluku siapa lagi yang harus mempersiapkan kelompok Islam? Sayang, MUI Maluku terus beku tak mengerti apa yang harus diperbuat pada saat kritis seperti sekarang ini ?

Bersambung Ke Bab 3-08

Top

Hosted by www.Geocities.ws

1