BAGIAN KETIGA
KONSPIRASI GPM, RMS, PDI-P DALAM KONFLIK BERDARAH DI MALUKU JULI-DESEMBER 1999
Ummat Islam Bangkit Membela diri
mempertahankan hak hidup dan kemuliaan agamanyaBab 3:06 :
JANGAN MAU DITIPU NASRANI LAGIUMMAT Islam Maluku sesungguhnya sudah kenyang ditipu kaum Nasrani sejak mereka menjadi anak emas Belanda dan kita ummat Islam menjadi budaknya, tetapi sayang pengalaman itu tidak pernah membuat ummat Islam ini jera dan menjadikannya pelajaran berharga. Pela Gandong kembali dibesar-besarkan setelah Pela Gandong membunuh dan membakar jauh sebelum tanggal 19 Januari 1999 lalu. Kini ditiupkan kembali dan ummat Islam diluar Ambon kembali tertipu, menyambutnya dengan antusias sekaligus memasang batang leher untuk ditebas kembali.
Allah swt telah memperingatkan dalam ayat 120 Surat Al-Baqarah, Dia yang Maha mengetahui bukan manusia yang serba terbatas. Tragedi berdarah yang lalu harus yang berakhir tidak boleh berulang lagi, mari kita buatkan prasasti ditiap masjid dengan pahatan ayat 120 surat Al-Baqarah tersebut dan tanggal 1 Syawal 1419 H, agar anak cucu kita terhin-dar dari tipuan yang akan datang. Kalau perlu kita buatkan monumen dendam tetapi membangun kewaspadaan seperti monumen Pancasila Sakti yang pada tanggal 30 September yang diperingati setiap tahun.BUKAN BBM SEBAGAI AKAR PERMASALAHAN
Pada hari H + 4 bersamaan dengan rombongan Pangdam XVI/TKR berkeliling mengumumkan perintah tembak ditempat, Wagub Bidang Kesra Ny. Paula B. Renyaan menyesalkan terjadinya kerusuhan Ambon yang katanya disebabkan kecemburuan terhadap suku BBM, beliau menilai orang Ambon malas, bersikap ambtenar, mau enak saja. Karena itu menjual tanah-tanah peninggalan orang tuanya kepada suku BBM, sekarang menyesal dan bikin perkara.
Penulis membantah penilaian itu agar jangan dikecohkan akar permasalahan sebenarnya. Ternyata bunyi ungkapan seperti itu sama dan serupa dimana-mana bukan main perencanaan itu. Mari kita tanggapi langsung pada objeknya:
1. Kalau ini persoalan yang mendasar dan benar menurut kenyataan, mengapa baru mencuat pada tahun 1998.
2. Mengapa hanya masyarakat Kristen Ambon saja yang merasakan kecemburuan itu, padahal yang paling terkena adalah pihak ummat Islam yang sejak nenek moyangnya telah menekuni peker-jaan non formal yang katanya didominasi suku BBM. Sementara Kristen memilih menjadi pegawai/ambtenar dan serdadu Belanda untuk membunuh bangsanya sendiri yang berjuang untuk kemerdekaan republik tercinta.
3. Apakah pernah ada upaya pemecahan yang baik oleh para intelek-tual GPM lewat dialog kedalam atau keluar, ataukah sengaja dibakar dan dikipasi agar tercipta atmosfer yang panas (ikut dipanaskan oleh reformasi) sebagai peluang bermainnya kepenti-ngan politik Kristen yang lebih besar.
4. Apakah betul kesengajaan itu hanya antara suku BBM dan pihak Kristen saja, apakah ummat Islam telah jauh lebih maju dari ummat Kristen sehingga tidak merasakan kesenjangan itu ? Jangan terus berbohong, akan menyakitkan, rekonsiliasi mustahil akan terwujud, jika dusta ini diteruskan.
5. Kalau masalahnya kesenjangan sosial ekonomi, mengapa tidak bertindak mewakili orang Ambon pada umumnya sehingga yang Ambon Islam juga dibela. Tetapi justru muncul Salib, Love Yesus sekaligus sendi-sendi rawan beragama.
6. Mengapa pada pukulan pertama tidak dapat dibedakan sasaran BBM dan ummat Islam Ambon serta agamanya (Masjid, Kebesa-ran Rasulullah, Al-Qur’an, Imam Masjid, Sekolah Islam dan Kantor Departemen Agama)
Benarkah BBM sebagai sasaran kalau Rasulullah diejek sebagai Lonte lanang (maaf), tulisan ini sudah dihapus didekat Tugu Trikora oleh aparat keamanan
7. Mengapa pula ummat Islam penduduk asli Ambon ikut dibunuh dan dibakar.KEPENTINGAN POLITIK BESAR SEBAGAI AKAR PERMASALAHAN
Bukti-bukti kuat menunjukkan bahwa kasus kerusuhan Ambon ini adalah kepentingan politik Kristen yang besar didukung lobby Kristen inetrnasional dengan menggunakan RMS yang memang latent. Untuk pembuktian sekali lagi bahwa bukan masalah sosial ekonomi sebagai permasalahan pokok (akar masalah) silakan kaji fakta-fakta dibawah ini :
1. Yel-yel RMS dan Mena Moeria Menang
2. Munculnya Salib dan Love Yesus dimana-mana
3. Ambon adalah Israel kecil
4. Pemutar balikan fakta diluar Maluku terutama di Eropa Barat dan Amerika Serikat bahwa di Ambon sedang terjadi tragedi Cristian Cleansing.
5. Dokumen RMS begitu banyak yang berkaitan dengan persiapan kerusuhan seperti surat ke Presiden Bill Clinton dan Presiden Soeharto menuntut hak bangsa Maluku yang ingin merdeka.
6. dan sebagainya.
Tidak ada hubungan apapun antara kebencian BBM dengan perbuatan biadab yang dilakukan, ternyata sasaran itu ummat Islam dan agamanya secara keseluruhan tidak pandang bulu pendatang atau penduduk asli.RMS HAMPIR TERJERAT, DILEPASKAN
Data dan fakta keterlibatan RMS cukup banyak tetapi ummat Islam tidak mampu menyingkap tabir penutup dan menangkap batang lehernya karena tidak berhak untuk itu. Aparat keamanan seperti Max Tamaela tidak mungkin membuka tabir kalau didalamnya terdapat sejumlah tokoh GPM. Beberapa catatan dibawah ini menunjukkan gejala dilepaskannya RSM yang sudah hampir terjerat.
Presiden berpendapat bahwa kasus kerusuhan Ambon adalah masalah interen orang Ambon jadi penyelesainnya diserahkan kepada orang Ambon sendiri, Pemerintah pusat hanya mendorong Statement itu membuat RMS merasa lega bisa keluar dari gelanggang sebagai pencuri yang tidak tertangkap.
Diperkuat lagi dengan pernyataan Presiden bahwa beliau mengenal baik para tokoh RMS dan merasa ikut prihatin atas kasus Ambon untuk itu bermaksud memberikan bantuan kemanusian. Memang Presiden kita seorang Kiyai yang jujur dan polos, tidak terasa sedang ditipu.
Tiga kelompok Pemuda dimana Ir. Abdullah Tuasikal mewakili kelompok pemuda Islam mengeluarkan pernyataan mengutuk mereka yang mengisukan keterlibatan RMS. Tidak ada peluang bermain kata-kata dengan susunan bahasa sejelas itu. Ternyata para Mujahidin pun ada yang tidak melihat keterlibatan RMS, bahkan ummat Islam dihujat oleh kelompok itu kita terima dengan tak berdaya. Tidak ada satupun kekuatan politik dan tokoh yang tampil memprotes. Ir Abdullah Tuasikal harus bertanggung jawab atas pelecehan terhadap perjuangan ummat Islam.
Delegasi DPRD Tingkat I Maluku periode 1997/1999 menghadap presiden B.J Habibie pada awal Maret 1999 untuk menyampaikan pernyataan bahwa RMS sama sekali tidak terlibat dalam kerusuhan Ambon. DPRD tidak berhak menyatakan pendapat itu sebab sama sekali bukan haknya. Korem dan Polda Maluku saja belum menyatakan hasil pengusutannya. Jadi memang banyak tokoh RMS telah menyampaikan pengakuan secara tidak sadar atas keterlibatan mereka dengan berusaha melepas tali yang sudah menjerat di leher RMS.
Pernyataan yang sama disampaikan oleh saudara John Mailoa wakil ketua DPRD Tingkat I Maluku dari unsur PDI-Perjuangan Kesalahan ini adalah yang kedua bagi DPRD Tingkat I Maluku, karena takut keterlibatan beberapa tokohnya diketahui, cepat-cepat menyatakan protes bahwa RMS tidak ikut-ikutan.
Pernyataan Ketua Harian Sinode GPM Pdt.Semy Titaley, Sth tentang permintaan referendum adalah kehendak RMS yang disampaikan oleh salah seorang tokohnya di Ambon.
Surat Ketua Tim Pengacara Geraja Maranatha (TPG) nomor khusus 108/1999 kepada Sekjen PBB dan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton untuk minta perlindungan bagi ummat Kristen di Maluku, bukankah ini sikap ketidak percayaan dan memusuhi Pemerintahnya sendiri berancang-ancang untuk berdisintegrasi dengan NKRI.
Bagi ummat Islam, manuver politik Kristen ini harus ditanggapi dengan kemampuan intelektualitas oleh para elite agar kita tidak terjebak. Mudah-mudahan para elit Muslim dikota Ambon cepat sadar bahwa ancaman pihak Kristen semakin membesar ?Bersambung Ke Bab 3-07