BAGIAN KETIGA
KONSPIRASI GPM, RMS, PDI-P DALAM KONFLIK BERDARAH DI MALUKU JULI-DESEMBER 1999

Ummat Islam Bangkit Membela diri
mempertahankan hak hidup dan kemuliaan agamanya

Bab 3:05
SEMAKIN TAMPAK PERAN RMS

RMS dituduh terlibat sebagai dalang kasus kerusuhan Ambon karena sejak awal sebelum meletus peristiwa 19 Januari 1999, RMS telah menampakkan kegiatannya seperti dalam aksi demo kekerasan pada tanggal 16-18 November 1998 di kota Ambon. Yel-yel hidup RMS telah berkumandang apalagi pick-up putih yang berkeliling kota berisi mahasiswa mempopulerkan Yel Mena Mouria, salam kebangsaan RMS.
RMS sejak berdirinya pada tanggal 25 April 1950 tidak pernah berhasil ditumpas secara ideologis, diantara para tokoh Kristen tetap memimpikan berdirinya RMS. Pada periode 10 Tahun terakhir terasa semangat RMS menjalar diantara generasi muda, pada saat reformasi yang berjalan penuh kerusuhan mereka menunjukkan unjuk rasa kekerasan ingin menaklukkan ABRI.
Karena itu RMS adalah suatu kekuatan laten yang tetap berada pada benak sejumlah tokoh dan pemuda Kristen. Sejumlah dokumen penting tentang aktivitas RMS mempersiapkan kerusuhan banyak ditemukan.

MENGAPA RMS DITUDUH
Mengulangi penjelasan pada buku II Tragedi Idul Fitri Berdarah Buku Putih bahwa terpilihnya RMS sebagai pelaku kerusuhan ini didukung oleh beberapa alasan. Program memperbesar prosentase Kristen di Maluku dilaksanakan dengan mengusir masyarakat Islam dari Ambon dan sekitarnya yang akan berlanjut sampai keseluruhan pelosok Maluku terutama pada daerah-daerah transmigrasi yang telah membuat perimbangan kekuatan Islam–Kristen berubah, pihak Kristenpun sangat berkeberatan karena dampaknya luas bagi kepenti-ngan Kristen yang sebelumnya selalu dominan.
Pengaturan pemerintahan yang akan datang dengan menonjolkan pelaksanaan otonomi daerah yang luas apalagi berkembang sampai menjadi Negara dengan sistem federal maka kekuatan pemerintahan di Maluku dengan segala kebijakannnya akan terus membuat posisi ummat Islam menjadi minoritas yang tidak punya peluang apa-apa lagi. Nasib ummat Islam akan berada tidak jauh seperti dibawah penja-jahan Belanda atau seperti Palestina dan Israel. Inilah salah satu sasaran pihak Kristen yang ratusan tahun membenci dan memusuhi masya-rakat Islam di daerah ini.

RMS Memenuhi Persyaratan Watak
Untuk tugas Moslem Cleansing, memang tepat diberikan kepada RMS yang sejak awal telah membenci ummat Islam. Negara boneka ini dibentuk oleh Belanda, naskah proklamasi berdirinya RMS ditanda-tangani pada tanggal 18 Januari 1950 oleh dua orang tokoh masing-masing J.M. Manuhutu dan A. Wairisal dan diumumkan secara terbuka pada tanggal 25 April 1950 oleh Dr. Soumokil. Negara Boneka buatan Belanda ini dibentuk untuk melanjutkan kepentingan Belanda di Maluku, karena itu ummat Islam menolak Negara Boneka ini, yang langsung melakukan perlawanan dimana-mana. Di Maluku pemerin-tahan RMS dibawah tanah tetap berdiri yang melakukan kegiatan tersembunyi, yang dibuktikan dengan adanya penaikan bendera RMS di beberapa tempat pada  tanggal 25 April setiap tahun. Organisasi dan pemerintahan RMS dibawah tanah ini pernah dibongkar pada tahun 1989 oleh Korem 174/ PTM pada waktu itu. Tetapi organisasi dibawah tanah tentu memiliki komposisi, kepengurusan yang berla-pis, diantara mereka ada di pemerintahan termasuk lembaga legislatif dan ormas lainnya. Gerakan dibawah tanah ini semakin kuat setelah pemerintah RI memberlakukan kebijaksanaan Repatriasi eks KNIL asal Maluku untuk dapat kembali ke Maluku, bahkan peluang lebih terbuka setelah ada kebijaksanaan bebas visa kepada turis dari bebe-rapa negara termasuk negeri Belanda. Pendatang asing ini telah ikut menyiapkan berdirinya RMS yang dikaitkan dengan aktivitas RMS di Belanda yang terus menguat, RMS digandrungi di kalangan pemuda.
Korban ummat Islam cukup banyak, para pemuda, tokoh agama banyak yang terbunuh, kampung halamannya dibakar, perlawanan tetap berlanjut, tidak jauh berbeda seperti apa yang terjadi dalam kerusuhan yang berkembang menjadi perang agama ini.
Setelah TNI mendarat di Seram banyak pemuda Muslim berga-bung sebagai prajurit TNI maupun sekedar tenaga bantuan untuk penunjuk jalan, pengangkut amunisi maupun bekerja di dapur umum. Mereka bahu membahu dengan kesatuan-kesatuan TNI yang menda-rat di Seram untuk merebut kembali Ambon sebagai Ibu Kota dari tangan RMS. Akhirnya atas saling bantu antara TNI dan ummat Islam, RMS berhasil ditumpas habis secara fisik dalam beberapa tahun kedepan terutama setelah tertangkapnya Dr. Chr. Soumokil sebagai presiden RMS oleh kesatuan Yon 328 Siliwangi.
Karena itu RMS sangat memusuhi ummat Islam dengan kebencian yang tinggi, dan karena itu RMS sangat memenuhi syarat untuk melaksanakan kerusuhan melakukan pembersihan ummat Islam di Ambon dan sekitarnya bahkan akan berkembang ke Maluku secara keseluruhan dalam rangka menjadikan propinsi yang didominasi kekuatan Kristen dalam rangka berdirinya RMS di Maluku.

RMS Memenuhi Syarat SDM
Walaupun secara fisik RMS telah berhasil ditumpas tetapi ideologi politik yang dipunyai RMS tetap ada di benak sejumlah besar tokoh Kristen di Maluku bahkan yang berada diluar Maluku, terutama yang melarikan diri ke Belanda dan mereka yang sengaja diselamatkan ke Belanda. Dengan demikian RMS tetap eksis di Belanda dalam bentuk Pemerintah RMS di pengasingan, di Maluku ada kekuatan yang bergerak di bawah tanah.
Mereka tetap merencanakan RMS akan bangkit lagi karena ideologi separatis itu tetap ada dan terbuka peluang besar di era reformasi ini setelah Tim-Tim berhasil merdeka berdiri sendiri yang disusul tuntutan Aceh dan Irian Jaya begitu keras. Para tokoh RMS berpen-dapat bahwa mereka lebih berhak untuk melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dibandingkan Aceh, karena tuntutan itu telah dimulai sejak 1950.
SDM RMS yang tersedia di Ambon cukup untuk berdiri sendiri baik kuantitas maupun kualitas. Sumber Daya Alam khususnya kekayaan di laut dan dibawah permukaan laut di perhitungkan mam-pu untuk menghidupi negara sendiri dengan kemampuan SDM yang besar.

RMS Memenuhi Syarat Konsepsi
Kita ulangi sekali lagi dalam naskah ini tentang keberadaan RMS dan GPM dalam kerusuhan ini. Masyarakat Protestan di Maluku ...%, Katolik ...% kedua kekuatan ini yang melakukan kerusuhan secara bersama-sama. Dari perbandingan prosentase dapat dikatakan bahwa Protestan yang terbesar dan dominan di lapangan, artinya dilapangan dapat dikatakan pelakunya hampir keseluruhannya anggota GPM (Protestan). Kalau begitu sulit kita bedakan mana RMS dan mana GPM. Dengan kata lain, tidak ada tokoh RMS yang bukan GPM, hanya sebagian kecil saja dari mereka yang beragama Islam.
Mari kita lihat tujuan Oikumene sedunia yaitu Satu Tuhan, Satu Dunia, Satu Gereja, rencana yang besar itu membawa GPM untuk membangun kekuatan Kristen di Maluku. Maluku harus menjadi milik orang-orang Kristen secara serentak, berikutnya ber-tahap sampai habis terutama semua pendatang yang ke Maluku lewat program transmigrasi, sedangkan lainnya terutama para elit akan meninggalkan Ambon karena atmosfer dibawah Kristen tidak akan mendapat kesempatan berkembang. Mereka satu persatu berusaha untuk memiliki peluang kehidupan yang lebih baik di luar Maluku. Yang ada di Maluku hanya masyarakat Islam kelas bawah yang mudah ditekan, diperlakukan diskriminatif dan tidak perlu diperlakukan adil seperti pernah diperlakukan oleh penjajah yang telah menanamkan watak diskriminatif kepada yang Islam.
Karena itu RMS tepat sebagai pelaku kepentingan Kristen, dengan kata lain konsepsi dalam kerusuhan ini adalah untuk membersihkan ummat Islam (Moslem Cleansing) dari bumi Maluku adalah program bersama.

MANUVER ELIT GPM
Perjuangan merebut kemerdekaan seperti Al-Fatah di bawah pimpinan Yaser Arafat Palestina ataupun ketika Indonesia merebut Irian Barat, selalu ada 2 sayap politik dan sayap militer, bila hanya mengandalkan satu sayap sejak awal tidak akan berhasil bahkan bisa dikalahkan.
Begitu juga dengan perjuangan GPM membentuk negara Republik Maluku Selatan. Dengan strategi yang matang para elit Kristen mela-kukan manuver dibidang politik dengan berbagai pernyataan dan tuntutan serta aktivitas di bidang militer (kerusuhan) dimana satu dengan lainnya saling mendukung dan tampak sangat singkron. Dari hari ke hari sesuai dengan kemajuan perjuangan fisik dan perjuangan politik ditingkat nasional dan internasional para elit GPM mulai mengeluarkan sejumlah pernyataan dan tuntutan sehingga semakin jelas kearah dukungan internasioanl, kita tahu bahwa tidak ada pemberontakan di dalam negeri tanpa dukungan luar negeri.

PEMBUNUHAN TERHADAP PERSONIL TNI
Perjuangan dan tuntutan rakyat Aceh untuk merdeka ternyata mendapat kemajuan, begitu juga rakyat Irian Jaya sedang menuntut kemerdekaan untuk berdiri sebagai negara Papua Barat yang merde-ka. Pemerintahan Gus Dur sedang dihadapkan pada kesulitan besar. Para elit GPM yang selalu bolak-balik ke negeri Belanda semakin berani menampakkan niatnya untuk melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Gejala yang berani itu dapat kita lihat dari hal-hal sebagai berikut:
1. Pernyataan Ketua Sinode GPM Pdt. Samy Titaley setelah selesai menghadap Wakil Presiden bersama Gubernur dan Ketua Majelis Ulama Indonesia Maluku kepada TVRI yang disiarkan secara luas. Ketua Sinode secara terang-terangan menuntut dilakukannya Referendum di Maluku. Pernyataan ini tidak lain ingin meniru keberhasilan Tim-Tim karena dukungan dan tekanan Lobby Kristen Internasional. Dukungan dan tekanan seperti itu sudah terasa dalam proses penyele-saian kerusuhan Ambon. Karena itu jelas sebagai upaya awal untuk mendirikan RMS lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka telah mempunyai perhitungan tersendiri tentang perkemba-ngan yang akan datang.
Pernyataan DPRD TK I. Maluku periode 1997/1999 kepada Presi-den B.J Habibie pada awal Maret 1999 bahwa kerusuhan di Ambon bukan didalangi oleh RMS. Siapa pun mengerti bahwa DPRD tidak membidangi masalah keamanan karena itu mereka tidak tahu tentang terlibat atau tidaknya RMS, mereka tidak punya perangkat apapun yang mampu menditeksi perkembangan kerusuhan di Ambon. Polda sebagai pemegang Komando dan pengendalian maupun Korem 174/PTM pada waktu itu (Maret 1999) belum mengeluarkan pernyataan tentang keterlibatan atau tidaknya RMS karena masih dalam proses penyelidikan. Bagaimana mungkin DPRD TK I. Maluku bisa begitu cepat mengeluarkan pernyataan ysng bukan kewenangannya. Pernya-taan itu dilakukan dengan persiapan, jadi jelas melewati suatu pertim-bangan yang matang untuk sampai pada mengirimkan delegasi menghadap Presiden. Tentu ada inisiatif makernya yang dari luar sudah dapat diduga siapa dia kalau bukan Zeth Sahuburua yang sejak tahun 1998 sudah diditeksi ada benang merah RMS dibenaknya seperti hasil pengungkapan oleh Korem 174/PTM. Yang disayangkan mengapa Ketua DPRD TK I. Maluku Sdr. Fatah Syah Doa ikut terbawa manuver RMS tesebut dan menjadi ketua delegasi, seharusnya Gubernur mencegah delegasi RMS ini.
Kasus ini enak untuk diusut, mereka yang ikut sebagai delegasi dapat dimintakan keterangan untuk mengusut penggagasannya. Dari kasus DPRD ini akan mudah mendapatkan jalan untuk membongkar sejumlah tokoh yang terlibat gerakan RMS ini.
2. Bantahan keras Pangdam XVI/PTM Brigjen TNI Markus Tamaela dihadapan para tokoh pemuda, tokoh masyarakat dan para Latupatti se-Leihitu di desa Hitu pada pertemuannya bersama-sama Gubernur bahwa RMS tidak terlibat dalam kasus kerusuhan Ambon. Jawaban seperti itu sudah dapat diperkirakan karena sulit dipisahkan mana rencana GPM dan rencana RMS. Max M. Tamaela tidak mungkin mengusut RMS kalau nanti yang terlibat secara langsung sejumlah tokoh GPM.
Kerusuhan yang terjadi sejak 19 Januari 1999 sampai dengan saat pertemuan dengan masyarakat Leihitu sudah cukup waktu untuk dapat membongkar organisasi mana sebagai perencana sekaligus pelaksana kerusuhan ini. Kalau Pangdam XVI/PTM tidak dapat menunjukkan organisasi perencana dan pelaku kerusuhan tiada lain karena RMS -lah perencana dan pelaku semua itu, tetapi akan menjadi masalah besar bila RMS diangkat kepermukaan.
Jadi sesungguhnya membongkar kasus kerusuhan Ambon ini tidak terlalu sulit asalkan ada Political Will. Karena itu bila pengganti Max Tamaela bukan seorang Protestan maka peluang untuk menangkap batang leher RMS terbuka lebar.
3. Pernyataan Wakil Ketua DPRD TK I. Maluku periode 1999/2004 John Mailoa juga membantah keterlibatan RMS dalam kasus kerusuhan Ambon dan sekitarnya. Sekali lagi pernyataan oleh seorang Wakil Ketua DPRD TK I. Maluku tidak profesioanal, bukan kewena-ngannya untuk itu.
Tampaknya ada upaya keras tokoh GPM di DPRD TK I. Maluku untuk melepaskan diri dari keterlibatan mereka, kita ketahui bahwa PDI-Perjuangan di Ambon bukan PNI partainya Bung Karno, tetapi eks Parkindo dan partai Katholik, mereka adalah para perusuh dan tokoh perencana kerusuhan, maka itu pernyataan saudara John Mailoa wakil ketua DPRD TK I. Maluku bukan mewakili lembaga tetapi sebagai ketua PDI-P Tk.I Maluku.
4. Pernyataan Letjen Tias Tiyarso KABIA pimpinan Badan Inteljen ABRI tentang keterlibatan RMS sebagai pelaku kerusuhan harus dilihat sebagai suatu pernyataan atas bukti yang dihimpun dan telah melalui proses analisa yang mendalam. Pernyataan itu tidak sepantas-nya ditolak oleh berbagai pihak apabila tidak membela RMS. BIA yang wilayah operasionalnya meliputi seluruh wilayah Nusantara tentu mempunyai orang-orang yang dipasang untuk memonitor perkembangan tiap daerah, terutama di daerah-daerah yang memin-takan dilakukannya referendum seperti di Maluku. Tokoh-tokoh ini telah jelas terlibat langsung untuk mempercepat proses terbentuknya negara RMS yag terlepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sedang bergolak. Pernyataan Gubernur untuk meminta rincian dari KABIA tentang keterlibatan RMS pun sangat disayangkan karena apa yang dinyatakan KABIA Ambon, tempat kedudukan Pemerintah Daerah TK I. Maluku, Polda Maluku dan Kodam XVI/PTM yang seharusnya dengan sejumlah fakta dan data yang dihimpun selama 10 bulan sudah dapat menduga adanya keterlibatan RMS atau Badan lain sebab tidak mungkin kerusuhan sebesar ini tanpa digerakkan oleh suatu organisasi. Kecuali fakta dan data serta berbagai gejala yang tampak jelas sengaja dihilangkan atau tidak berkehendak untuk diolah karena tahu siapa-siapa yang ada dibalik gerakan ini.
Jadi seharusnya pernyataan ini dijadikan dasar kuat untuk terus mengejar organisasi dan aktor intelektual yang ada dibelakangnya. KABIA dalam menyampaikan pernyataan itu kapasitasnya sebagai pejabat intelejen bukan seseorang yang boleh berbicara seenaknya tanpa harus bertanggung jawab.
Jadi kalau ada niat yang kuat untuk membongkar RMS sebagi pelaku kerusuhan untuk kepentingan politik yang besar, seharusnya pernyataan KABIA dijadikan acuan untuk memperkuat upaya mem-bongkar RMS dan bukan beramai-ramai membantah dan menanggapi secara tidak wajar. Itulah sikap pejabat negara dan putra bangsa yang berkewajiban mempertahankan NKRI dari disintegrasi.
5. Pernyataan BAKIN yang diungkap Harian Republika tentang diselundupkannya 12 koli senjata jenis FNC ke Maluku segera dibantah oleh Pangdam XVI/PTM Brigjen TNI. Max Tamaela dalam waktu berselang dua hari dari penyataan BAKIN. Pernyataan Pangdam XVI/PTM itu cukup mengagetkan tentang menolak adanya penyelundupan itu sebab yang namanya penyelundupan tentu melalui jalan berliku-liku menghindari aparat keamanan dan mata orang luar. Wilayah Maluku yang begini luas terlalu terbuka untuk suatu penyelundupan yang didukung kekuatan luar negeri, apalagi 12 koli senjata itu memasuki desa Kristen yang hanya ada aparat keamanan yang bera-gama Kristen yang justru mendukung proses itu. Kondisi wilayah Maluku khususnya di pulau Seram yang dipedesaannya berpenduduk homogen Kristen dan Islam merupakan tempat yang gelap untuk suatu penyelaman atau menghilangkan jejak. Pengawasan wilayah laut yang lemah serta alat transportasi laut yang canggih dapat memonitor posisi aparat keamanan untuk dihindari atau menggunakan alat angkut tradisional sehingga dapat mengelabui aparat keamanan di laut
Jadi logikanya aparat keamanan harus menggunakan waktu yang lama untuk penyelidikan agar bisa sampai kepada pendapat bahwa tidak ada penyelundupan dimaksud. Bila pernyataan dalam waktu dua hari seperti yang dilakukan Pangdam XVI/PTM Brigjen TNI Max Tamaela jelas sebagai upaya mengamankan kedatangan senjata-senjata tesebut. Tidak akan ada senjata sebanyak itu kalau tidak ada kerusuhan yang telah mengarah pada persiapan pemberontakan.
Apakah ada operasi intelejen yang khusus untuk menemukan senjata-senjata itu? Senjata-senjata itu tidak dipamerkan di alam terbuka tetapi telah tersimpan rapih dipedalaman atau sedang digunakan berlatih membangun kekuatan bersenjata. Kalau analisis ini benar maka TNI dan Polri yang ada di Ambon akan menghadapi ancaman besar. Kita perlu ketahui bahwa mengahadapi gerilya mem-buat kalkulasi perbandingan antara kekuatan gerilya dan anti gerilya adalah 1:10. Kita juga perlu sadari bahwa yang menjadi sasaran 12 koli senjata itu untuk menumpas habis ummat Islam seperti yang kita saksikan dalam kerusuhan selama 11 bulan ini. Karena itu semua pedesaan Islam akan di mangsa, TNI/Polri sebesar apapun tidak akan mampu melindungi ancaman terhadap ummat Islam tersebut. Silahkan menghitung, 4 Batalyon yang ada kewalahan menghadapi massa yang relatif tak bersenjata standar militer kecuali senjata rakitan dan bom buatan sendiri. Bila 12 koli senjata tadi telah melengkapi mereka dan berada di hutan dan gunung mustahil bila di kejar. Solusi yang paling tepat, ummat Islam dipedesaan dilengkapi dengan senjata yang sama agar bersama TNI/Polri menghadapi gerilya yang sasa-rannya bukan aparat keamanan tetapi rakyat banyak tak bersenjata. Masyarakat desa yang hidupnya dari hasil hutan tidak akan mungkin kehutan lagi dan dapat kita bayangkan kondisi Maluku pada waktu itu. Karenanya Max Tamaela harus segera diganti sebelum keadaan menjadi sangat buruk.
6. Ditemukannya 20 pucuk senjata di loteng Gereja di desa Waai dan di Kariu sudah menjadi rahasia umum, bagaimana tindakan aparat keamanan mengejar persiapan pemberontakan ini. Apabila isu ini tidak benar seharusnya aparat kemanan secara transparan mengklarifikasi-kannya, jangan membiarkan masyarakat Islam selalu dalam ketakutan.
7. Kedatangan Menteri dalam Negeri Letjen Pur. Suryadi Sudirja ke Ambon untuk bertemu dengan para tokoh di kota Ambon ditang-gapi secara dingin. Acara pertemuan yang begitu penting tidak diha-diri oleh para tokoh GPM, hanya oleh mereka pada lapisan kedua. Penolakan terhadap utusan Presiden ini dibuktikan lagi dengan diblokirnya semua jalan darat yang dapat mengancam keselamatan Menteri Dalam Negeri. Beliau terpaksa harus menggunakan angkutan laut dengan pengamanan yang ketat. Ada informasi dari aparat keamanan yang bertugas di daerah desa Laha bahwa jembatan besi di desa Tawiri di blokir dengan pagar besi yang dilas pada tangan jembatan. Apa sesungguhnya manuver para tokoh GPM ini kalau bukan aksi tidak mengakui pemerintah pusat, gejala ini harus dikaji sebaik-baiknya karena bukan peristiwa biasa.
8. Penerimaan Calon Tamtama Kodam XVI/PTM yang sedang diproses tahun 1999/2000 telah menunjukkan iktikad buruk karena terdiri dari + 90% beragama Kristen. Selama ini jumlah yang beragama Islam jauh lebih besar karena mereka terdiri dari putra daerah yang beragama Islam dan Kristen yang sama besarnya ditambah para pendatang yang sudah lama di Maluku dan sengaja datang ke Ambon dari luar Maluku seperti Sulawesi Selatan, Buton dan Jawa untuk menjadi Calon Tamtama.
Tidak dapat dijadikan alasan bahwa pendaftaran dari golongan Islam sedikit, mereka tidak bisa menembus areal Inmindam/Ajendam XVI/PTM untuk mendaftar karena daerah itu rawan bagi yang Islam. Pengerahan harus dilakukan juga disektor Islam. Karena itu penempatan Tantama ex pengerahan tahun 1999/2000 gelombang kedua ini harus keluar Maluku, apabila tidak mereka dapat terbawa memperkuat kekuatan bersenjata RMS.
a.  Usul pengosongan desa-desa yang selama ini di huni oleh masyarakat Buton yang dimulai oleh nenek moyangnya lebih dari 100 tahun yang lalu tiada lain agar aktivitas RMS tidak terpantau oleh TNI.
Pembunuhan terhadap pesonil TNI
Kalau selama ini pembunuhan dan pembakaran ditujukan kepada ummat Islam, maka memasuki bulan November 1999 kekuatan Kristen meningkatkan aksinya membunuh aparat keamanan khusus-nya dari TNI yang dilakukan dengan senjata rakitan laras panjang.
Aksi membunuh TNI di berbagai tempat telah menunjukan posisi Kristen sebagai lawan Pemerintah dan aparat keamanan semakin jelas, sulit membedakan mereka sebagai kekuatan Kristen yang melakukan kerusuhan menghabiskan ummat Islam dengan posisi mereka sebagai kekuatan RMS memusuhi Negara/Pemerintah yang syah.

Berbagai kasus pembunuhan terhadap aparat keamanan sebagai berikut:
1)  Pada tanggal….-11-1999 menembak 3 orang anggota Rindam XVI/PTM di Passo yang sedang menggunakan kendaraan angkutan umum. Seorang tewas ada 2 orang luka-luka.
2)  Pada tanggal…..-11-1999, menyergap sebuah truk Zidam XVI/PTM di daerah Passo kemudian membantai 2 anggota yang sdang bertugas mengangkut bahan bangunan untuk rehabilitasi bangu-nan rumah dinas. Jenazah ditarik keluar kendaraan kemudian disiram bensin dan dibakar.
3)  Pada tanggal …-11-1999, menembak seorang anggota Armed di posnya desa Batu Merah, korban gugur terkena tembakan tepat dikepalanya.
4)  Pada tanggal….-11-1999, membobol tembok Asrama Polres P.Ambon dan PP Lease kemudian menyerbu ke dalam markas untuk membongkar gudang senjata dan amunisi, tetapi berhasil digagalkan. Seluruh anggota Polres yang beragama Islam dengan keluarganya lari keluar asrama karena tidak dilengkapi senjata. Kapolres Letkol Pol. Drs. Gufron dan keluarganya terpaksa mengungsi ke kampung Islam di dekatnya.
5)  Pada tanggal … 11 - 1999, anggota Kodim (Abubakar) P.Ambon disergap di Asrama OSM, dipukul sampai babak belur kemudian sepeda motornya dibakar.
Pada tanggal 30-11-1999 + jam 23.00 KM Dobonsolo merapat di bekas pelabuhan Gudang Arang, tidak sandar karena pelabuhan kecil, dangkal dan jembatannya telah lama rusak tidak digunakan. Ketika kapal tersebut bertolak dari Benoa Bali. Kapolda Bali telah menginformasikan kepada Kapolda Maluku bahwa KM Dobonsolo membawa barang yang patut diduga senjata dan amunisi. Polda Maluku dan aparat keamanan telah berada di pelabuhan untuk melakukan pemeriksaan ternyata kapal tersebut merapat dibekas pelabuhan Gudang Arang.
Adpel pelabuhan Yos Sudarso, Sutejo telah memerintahkan Kapten Kapal untuk merapat di pelabuhan Yos Sudarso, tetapi berdasarkan informasi Kapten Kapal bahwa sesudah petunjuk Adpel ada perintah dari Kepala Pelni Frans Rumfebe agar menu-runkan penumpang yang beragama Kristen di bekas pelabuhan Gudang Arang (lego Jangkar). Setelah diperiksa ternyata dilakukan oleh pihak ke tiga (?). setelah selesai menurunkan penumpang dan barang, kapal tersebut berpindah ke pelabuhan TNI-AL di Halong.
Pangdam XVI/PTM maupun Kapolda Maluku belum bisa mem-berikan keterangan (tanggal 1-12-1999). Di darat para penjemput cukup banyak, hal ini menunjukkan bahwa kapal tersebut mera-pat di pelabuhan Gudang Arang sudah dipersiapkan.
6)  Pada tanggal 28 November 1999 pimpinan DPRD Tk. I Maluku dan anggota dari unsur PDI-Perjuangan serta beberapa tokoh GPM menuntut dilakukan alih Komando dan Pengadilan Operasi dari Kapolda kepada Pangdam XVI/PTM dengan alasan Kapolda tidak mampu menyelesaikan kerusuhan. Jelas sekali rekayasa mereka padahal Kristen yang terus menyerang. Tuntutan alih Pemerintah ternyata memahami tuntutan alih Kodal itu untuk maksud tertentu sehingga tidak dipenuhi ?

Bersambung Ke Bab 3-06

Top

Hosted by www.Geocities.ws

1