BAGIAN KETIGA
KONSPIRASI GPM, RMS, PDI-P DALAM KONFLIK BERDARAH DI MALUKU JULI-DESEMBER 1999

Ummat Islam Bangkit Membela diri
mempertahankan hak hidup dan kemuliaan agamanya

Bab 3:04
KETERKAITAN GPM, RMS DAN PDI PERJUANGAN

SEJAK  awal peristiwa ini perusuh mendemonstrasikan RMS sebagai pelaku kerusuhan ini. Yel-yel dan corat-coret membanggakan RMS terlihat dimana-mana selain menghujat agama Islam. Demikian pula dengan pembunuhan dan pembakaran disertai teriakan Mena Moeria Menang terdengar mengiringi aksi kekejaman tersebut telah mengi-ngatkan ummat Islam kepada peristiwa 49 tahun yang lalu ketika RMS diproklamirkan pada tanggal 25 April 1950 oleh Dr. Soemokil. Karena itulah ummat Islam yakin RMS, jelasnya kelompok perusuh ini, menghendaki berdirinya RMS terpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

KETERKAITAN RMS, GPM DAN PDI-P DALAM KERUSUHAN
Jumlah penduduk kota Madya Ambon 311.974 orang terdiri dari :
* Protestan 51, 92 % = 51, 92 % X 311.974 orang = 161.977 orang
* Katolik 5,55 % =  5,55 % X 311.974 orang = 7.315 orang
* Islam 42,38 % = 42,38 % X 311.974 orang = 132.215 orang
* Budha + Hindu 0,15 % =  0,15 % X 311.974 orang = 467 orang

Dari penduduk yang beragama Islam sebesar 132.215 orang sekitar 35 % berasal dari luar kota Ambon termasuk pendatang dari Maluku Utara, Maluku Tenggara dan dari luar Maluku.
* Proestan + Katolik = 161.977 + 17.315 orang = 179.292 orang
Prosentase
* Proestan = 161.977/ 161.977 + 17.315 = 91 %
* Katolik = 9%
Dari perbandingan itu dapat kita terjemahkan bahwa yang melakukan kerusuhan di lapangan hampir keseluruhannya beragama Protestan = 91 %. Warga yang beagama Protestan harus bernaung dibawah organisasi Gereja dalam hal ini Gereja Protestan Maluku (GPM). Jadi dari perusuh di lapangan dapat ditafsirkan bahwa 91 % adalah anggota GPM.
Pendukung RMS 99,9 % Protestan dan sedikti Katolik, jadi sulit dibedakan antara RMS dan GPM dalam kerusuhan Ambon.
Kerusuhan di Ambon berakibat eksodus di warga Muslim dalam jumlah besar, sehingga pada pemilu yang lalu suara Partai Islam merosot jauh dan sebagian masih tertahan di Golkar. Karena itulah PDI-Perjuangan menduduki posisi mayoritas tunggal di DPRD Kodya Ambon yang tentunya berpengaruh pada DPRD tingkat I Maluku. Dengan demikian PDI-Perjuangan dapat dikatakan telah mendapat keuntungan besar dari kerusuhan Ambon. Karena anggota PDI-Perjuangan 99,9 % Kristen maka PDI-Perjungan telah menyumbangkan anggotanya pada kerusuhan Ambon walau bukan atas nama organi-sasi. PDI-Perjuangan di Maluku bukan ex PNI tetapi ex Parkindo dan Partai Katolik.

Dengan pernyataan ketua sinode GPM Pdt Sammy Titaley STh tentang kehendaknya untuk mendapatkan REFERENDUM, pernya-taan ketua PDI-Perjuangan/ wakil ketua DPRD TK. I Maluku saudara John Mailoa, semakin jelas menampakkan posisi RMS (separatis) dalam kerusuhan ini adanya upaya untuk membebaskan tokoh GPM yang PDI-Perjuangan tersebut dari keterlibatan RMS sebagai pelaku kerusuhan.
Karena itu kedatangan 4 orang anggota DPR-RI dari fraksi PDI-Perjuangan yang dipimpin Mayjen Purn. Sembiring Meliala ada kaitannya dengan maksud tersebut di atas sekurang-kurangnya apa yang dapat dipersiapkan sebelum Panitia Kerja (Panja) DPR-RI tentang Ambon bekerja ?

Bersambung Ke Bab 3-05

Top

Hosted by www.Geocities.ws

1