BAGIAN KETIGA
KONSPIRASI GPM, RMS, PDI-P DALAM KONFLIK BERDARAH DI MALUKU JULI-DESEMBER 1999
Ummat Islam Bangkit Membela diri
mempertahankan hak hidup dan kemuliaan agamanyaBab 3:03
PENINGKATAN KONDISI YANG TERUS MEMBURUKSEKARANG ini kerusuhan fisik material kota Ambon sudah begitu besar diperkirakan sekitar 193 milyar rupiah untuk kota yang sekecil ini, kehancuran pada mental psykologis tidak dapat diukur dan sulit direhabiliter. Dari hari ke hari selama bulan juli sampai dengan awal Desember terus memburuk. Bila hari ini jalur jalan tertentu masih bisa kita lalui walau dengan pengawalan aparat keamanan, besok sudah bagaikan neraka yang mengancam keselamatan ummat Islam. Ummat Islam bagai terkurung dalam penjara, tidak bebas bepergian ke desa diluar kota. Ummat Islam hanya berlindung dari kepercayaan pada aparat keamanan yang melihat jalan siapa yang terus menyerang. Ummat Islam betul-betul sedang berupaya menyelamatkan hak hidupnya, bukan saja nyawa dan harta benda tetapi juga agama dan masa depannya.
a. Kota Terbelah Dua
Sebulan setelah kerusuhan pertama, kota Ambon masih tampak hidup, seluruh ruas jalan terbuka untuk kedua belah pihak. Mereka yang berkepentingan ke Bank, Kantor Pos dan instansi menapun dapat dilakukan tanpa pengawalan aparat keamanan. Pada saat itu aparat mengistilahkan kondisi keamanan seperti sebagai rawan Terkendali. Yang dimaksud adalah keadaan keamanan memang rawan tetapi masih dalam batas-batas dapat dikendalikan walau aparat keamanan bersiaga disemua titik rawan untuk memisahkan kedua belah pihak.
Saling bakar dan bunuh dalam ukuran kecil masih terus berlang-sung terutama malam hari masih sering terjadi penyerangan, bom yang digunakan pun masih sebatas molotov.
Setelah kerusuhan kedua pecah pada akhir Juli yang lalu, keadaan terus memburuk dan hampir tidak ada hari yang menampakkan lebih baik dari kemarin. Kota Ambon terbelah dua dimana bagian yang Muslim hanya sekitar 25 % dari luas kota, berada sepanjang tepi kota mengarah kelaut. Keadaan seperti ini membuat masyarakat Islam berada dalam ruang sempit dan padat bila ada pukulan keras bisa terlempar kelaut.
Pada sektor Islam terpaksa harus membangun fasilitas umum darurat seperti Rumah Sakit. Kantor Pos, Bank, Pasar dan sebagainya. Transaksi dagang dan sebagainya dilakukan di perbatasan pada posisi pos keamanan.b. Transportasi Terpotong-Potong
Masyarakat Islam tidak melewati perkampungan Kristen dan begitu pula sebaliknya. Untuk menuju kota masyarakat pinggiran harus menggunakan transportasi lalu kemudian melanjutkan dengan angkutan darat.
Dengan demikian biaya angkutan menjadi 5 sampai 10 kali lipat, karena itu harga kebutuhan pokok sehari-hari pun menjadi mahal. Sampai dengan media Oktober melintasi jalur Kristen dapat dilakukan dengan pengamanan seorang aparat keamanan, pada bulan Nopember 1999 aparat keamanannya telah menjadi sasaran tembak pihak Kristen.c. Pendidikan Macet Total
Pendidikan hanya berjalan dilingkungan sendiri, kuliah praktis tidak berjalan karena transportasi dan keamanan. Unpatti yang dikuasai sepenuhnya oleh pihak Kristen tidak mungkin dimanfaatkan oleh mahasiswa maupun dosen yang beragama Islam.
Universitas Darussalam yang berada diluar kota praktis tidak ada perkuliahan, yang agak normal hanya STAIN dan Universita Kristen Maluku (UKIM) karena dapat dicapai oleh sebahagian mahasiswa melalui jalur dalam sektor sendiri.d. Kota Mencekam 24 Jam
Sepanjang siang maupun malam bunyi ledakan bom dan tembakan senjata rakitan terus berlangsung diselingi tembakkan aparat keama-nan. Saling menyerang 2 bulan terakhir terjadi setiap hari. Pembakaran dan pembunuhan oleh kelompok kecil dari kedua belah pihak terus terjadi. Kota Ambon sangat menakutkan bagi siapapun karena korban terus berjatuhan siang maupun malam hari.e. Aparat Keamanan Menjadi Sasaran Penembakan
Sejumlah kasus telah menunjukkan bahwa sasaran permusuhan meluas, aparat keamanan yang beragama Islam sudah tidak aman. Mereka bisa disergap walau dalam melaksanakan tugas. Didalam asrama kehidupannya mereka terancam apalagi senjata perorangan telah ditarik dan digudangkan Istilah GALI yang tersebar luas diarti-kan Gerakan Anti Islam.
Karena itu korban aparat keamanan yang beragama Islam terus bertambah. Suasana Oktober – November 1999 mencekam siang apalagi pada malam hari.
Keadaan seburuk ini adalah akibat penanganan oleh aparat keamanan dan pemerintah daerah yang tidak mempunyai keberanian. Persoalan diambangkan begini lama tidak ada upaya menembus akar permasalan, masyarakat dibiarkan terus saling membunuh.
Konsep penyelesaian tidak jelas tampak dari tidak adanya operasi teritorial oleh Kodam maupun operasi khusus Kepolisian oleh Polda. Yang tampak hanya penyebaran pasukan dalam jumlah besar diseluruh titik rawan didalam dan diluar kota Ambon bahkan ke P. Haruku, P. Saparua, P. Seram dan P. Kai di Maluku Tenggara. Pasukan itu bertugas untuk mencegah kedua belah pihak yang bersengketa tidak berkelahi secara massal sedangkan perkelahian perorangan diluar pengawasan aparat keamanan setiap saat bisa terjadi. Pasukan besar itu hanya bertugas sebagai pembatas bukan mendinginkan kedua belah pihak.
Karena itu sulit diperkirakan kapan perang antara Kristen dan Islam di Maluku ini akan berakhir, bahkan dikhawatirkan akan terus meningkat semakin buruk. Keterlibatan oknum aparat Kristen dan Islam harus dilihat prosesnya jangan hanya melihat akibat saja.
Sejak awal peristiwa aparat keamanan dari oknum Kristen sudah memihak, lihat bagaimana pemutar balikan fakta oleh oknum pejabat Polda. Ummat Islam hanya menanggapinya dengan penuh kepriha-tinan. Berikutnya terbawa oknum Kodam XIV/ PTM yang beragama Kristen. Gerakan Anti Loreng Islam dimana setiap prajurit Islam jadi sasaran penembakan termasuk korban sejumlah anggota marinir. Korban aparat keamanan yang gugur sebagai prajurit dianta-ranya beberapa perwira.
Melihat korban Mujahidin oleh oknum aparat keamanan Kristen sejak awal peristiwa membuat prajurit yang beragama Islam terangsang ukhuwah Islamnya, apalagi korban prajurit Islam digotong/ ditolong oleh saudaranya yang Islam dengan terus mengumandangkan Allahu Akbar tanda turut mendoakan semoga mereka diterima oleh Allah SWT sebagai Syuhada. Proses ini terjadi alamiah sekali karena mereka mengerti ajaran Al-Qur’an bukan mereka mengkhianati Sumpah Prajurit dan Sapta Marga tetapi mereka dihadapkan pada tantangan yang dilihat dengan mata kepalanya sendiri. Para Mujahidin yang melihat ini sebagai perang agama tidak dapat dipungkiri kalau masjid dibakar dan dirusak, kubah masjid dipasangkan Salib meng-ganti tulisan Allah, Rasulullah saw. dihina dan dilecehkan lewat tulisan dan obrolan di HT, para imam Masjid dibunuh dan ada yang cacat seumur hidup, apalagi mereka terbunuh di dalam Masjid. Kalau Al-Qur’an diinjak-injak dan dibakar, sekolah Islam dimusnahkan, Kantor Urusan Agama (Kandepag, Kanwil Depag dan Kantor Pengadilan Agama) dibakar, apakah bukan mengajak perang agama? Kalau Salib dan Yesus terus dikedepankan dalam tiap serangan apa pula yang harus ditutupi? Bukankah Islam hanya membela diri mempertahankan hak hidup dan berusaha agar agamanya tidak dihina lagi.
Silahkan pelajari keseluruhan proses kerusuhan ini, siapa yang sesung-guhnya merencanakan ini semua. Jangan mau begitu saja menerima pemutar balikan fakta, jangan mau dibohongi. Bila seluruh perbuatan biadab itu dipertanggung jawabkan oleh ummat Kristen yang memulai pertikaian. Maka ummat Islam siap mulai proses damai, asalkan proses itu jujur dan ikhlas.
Dari manapun Tim yang akan mengupayakan rekonsiliasi, silahkan pelajari dulu permasalahannya secara menyeluruh agar tidak menimbulkan kema-rahan Mujahidin dan para Syuhada, bawalah kepentingan keadilan yang sesungguhnya dan tinggalkan kepentingan pribadi, apalagi kepentingan politik golongan tertentu.
Tolong berhati-hati jangan menimbulkan kemarahan Mujahidin karena mereka bukan saja akan mengamuk, tetapi parang yang terhunus ditangannya mengancam setiap pengkhianat. Rasakan dan hayati dengan baik dendam akibat junjungannya dihina secara amat biadab, seakan-akan Rasulullah telah ikut menyakiti mereka. Tidak benar akar permasalahannya adalah kecemburuan sosial dsb. Ini konspirasi besar yang dimainkan RMS yang membenci orang Islam dengan ajarannya. Jangan ada tokoh yang mengecilkan arti dendam agama ini, karena telah memberikan arti lebih menjauhkan peluang rekonsiliasi, marilah kita bersikap objektif agar upaya mencarikan perdamaian setapak demi setapak mencapai kemajuanBersambung Ke Bab 3-04