BAGIAN KETIGA
KONSPIRASI GPM, RMS, PDI-P DALAM KONFLIK BERDARAH DI MALUKU JULI-DESEMBER 1999
Ummat Islam Bangkit Membela diri
mempertahankan hak hidup dan kemuliaan agamanyaBab 3:02 :
KONDISI DAN KONFLIK ELIT MENGORBANKAN UMMAT PERJUANGANMembela hak hidup ummat Islam dan kemuliaan agama Islam yang kita lakukan selama hampir satu tahun ini belum selesai. Selama Desember ‘99 keadaan menjadi tenang atau kesepa-katan kedua belah pihak karena kepentingan memasuki bulan Rama-dhan serta perayaan Natal dan Tahun Baru yang biasanya dilakukan sebulan penuh selama Desember.
Setelah bulan Desember belum dapat diprediksi apakah ketena-ngan selama Desember akan berlanjut atau justru pecah lagi kerusu-han baru. Jawabannya sesungguhnya tergantung pada upaya maksi-mal dari kita para elit sebab damai menurut kehendak para Mujahidin sudah jelas disampaikan oleh KH. Aly Fauzy dan KH. Abd. Wahab Polpoke (baca Bab IX pasal 24). Tugas para elitlah memperjuangkan aspirasi itu, walau bukan hal yang mudah. Bila para elit konsisten membawa aspirasi Mujahidin itu maka hubungan keakraban, persatuan dan kesatuan diantara Mujahidin dan para elit akan pulih kembali. Apabila diantara para elit terpecah belah tidak berhasil menyatukan visi dan misi maka mustahil aspirasi para Mujahidin dapat diperjuangkan. Kalau begitu Mujahidin akan berjuang sendiri dengan kemampuan fisik bersenjata. Padahal kita ketahui akhir perang adalah urusan politik.MUJAHIDIN BERJUANG SENDIRI
Sebelum mendekati bulan puasa para Mujahidin dari luar pulau Ambon penuh didalam kota sudah menjadi sangat sempit karena ummat Islam terkurung dalam area sekita 25 % saja dari luas kota. Kampung-kampung bagaikan pasar sampai menjelang pukul 03.00 pagi.
Keberadaan mereka yang begitu banyak didalam kota sebenarnya membesarkan hati, karena sebagian kekuatan pemukul, mereka sangat disegani pihak Kristen. Tetapi dibalik itu mereka menyimpan sejumlah permasalahan. Keluarga yang ditinggalkan di kampung harus mencari nafkah sendiri atau atas bantuan para tetangga, sedangkan mereka di kota Ambon tergantung dari bantuan yang disalurkan lewat tiap posko. Tentu mereka membutuhkan perawatan lain termasuk merokok, makan pun seringkali menjadi masalah. Karena semangat membela agama saja mereka abaikan semua permasalahan itu.
Hak membela Islam adalah fardhu Ain bahkan sebagai suatu hak asasi, artinya hak itu menjadi milik tiap orang tidak boleh dihalangi oleh siapapun. Seseorang dapat menuntut apabila niatnya untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang Mujahidin dihalangi oleh pihak lain. Agama memang menekankan jihad sebagai kewajiban seseorang sesuai kondisi pada waktu itu, kewajiban itu disebut sebagai fardhu ain mendapat ganjaran pahala yang besar bahkan bila sampai gugur diberikan predikat syahid dengan jaminan diterima Allah dan masuklah ia ke dalam syurga. Karena itu berjihad adalah hak setiap orang bahkan merupakan hak azasi seorang Mujahid tidak mengenal dari strata sosial mana ia datang. Bisa dari strata tertinggi dalam masyarakat sampai terendah dan hina dina dimata manusia.
Karena itu sesungguhnya kita para elit adalah Mujahid yang me-ngambil peran untuk memenangkan perang sesuai kemampuan, keahlian dan kesempatan masing-masing. Sebagai fardhu Ain kesem-patan berpartisipasi sebagai Mujahid harus dilakukan dengan upaya khusus dan proaktif. Jadi sesungguhnya kita semua adalah para Mujahid yang sebagian di antara kita belum mengamalkannya, masih berpikir dan mempertimbangkan banyak hal yang kaitannya dengan untung rugi.
Kalau para Mujahidin mempertaruhkan nyawa dan semua kecinta-annya di dunia, para elit masih jauh dari kesediaan berkorban seperti itu. Namun apa yang kita saksikan dalam perjuangan ini jumlahnya amat kecil sedangkan jumlah yang besar sedang sibuk dengan 1001 pertimbangan.
Kini kita telah berada pada periode penentu kemenangan perang lewat perjuangan dibidang politik dan hukum. Bila kalah dalam perjuangan ini maka pengorbanan besar para Mujahidin menjadi tak punya arti apa-apa. Begitulah tanggung jawab para elit untuk segera bersatu, mempersatukan kekuatan untuk memenangkan kebesaran dalam perjuangan ini, jangan membiarkan Mujahidin berjuang sendiri sebab kemenangan akan diperoleh hanya bila perjuangan fisik bersenjata sejajar dengan perjuangan diplomatik ( politik).
Menghadapi perjuangan yang berat ini ternyata beberapa pihak telah memanfaatkannya untuk kepentingan kelompok dan pribadi.
Kepemimpinan orde baru tentu mengerti pola-pola rekruitmen untuk membangun kekuatan memenangkan tujuan/ kepentingan tanpa mau tahu dengan perjuangan ummat yang terseok-seok. Hanya sebahagian kecil saja para elit yang konsisten tergabung dalam semangat Jihad Fie-Sabilillah bersama para Mujahidin karena kekuatan yang di bangun untuk kepentingan kekuasaan, maka mereka akan bergeser menjauhi tujuan akhir perjuangan ummat Islam. Mungkin dapat dibuktikan dalam waktu dekat sebab periode perjuangan politik sudah dimulai.KONDISI ELIT
Terdiri dari sekurangnya 3 kelompok yang mapan\bila mau kita dalam maka akan lebih dikenal, dan pengenalan terhadap kondisi ini mutlak perlu agar kita dalam menentukan cara bertindak yang tepat dalam menangani kasus berdarah ini tidak berbuat salah.
a) Kelompok Mujahidin
Para elit dikelompok ini adalah mereka yang istiqomah dalam perjuangan, tidak besar kelompok ini karena yang tampak banyak adalah mereka yang tampil sebagai kelompok Mujahidin yang sesung-guhnya keberhasilan mereka mengkamuflase diri padahal adalah kelompok kepentingan, mereka punya kepentingan tertentu yang pada umumnya bernuansa materi. Justru keberadaan mereka sebagai pahla-wan telah menimbulkan tanggapan negatif ditengah masyarakat yang melemahkan perjuangan.
Kehadiran mereka yang akan berjihad dengan berkeliling di pulau Jawa mencari dana perjuangan adalah para pahlawan yang harus dibe-rikan acungan jempol tetapi sayangnya mereka tidak melakukan pro-sedur yang transparan. Karena itu betapapun kejujuran mereka tetap akan menimbulkan kecurigaan ummat, apalagi ada yang terlihat sema-kin hebat setelah kerusuhan ini, yang lebih khusus lagi terlihat hebat setelah kembali dari Jawa.
Berkeliling mencari dana perjuangan perlu, tetapi harus lewati antara lain:
1. Setiap mereka yang mencari dana darus dilengkapi dengan suatu mandat dari organisasi yang resmi (MUI atau Al- Fatah)
2. Dana yang berhasil dilaporkan kepada pemberi mandat kemudian diinformasikan kepada ummat secara terbuka. Penyerahan dana tersebut disertai dengan daftar pertanggungan jawab yang berisi dari siapa penyumbang, berapa besarnya disertai bukti tertulis minimal lembar ke II kWITansi untuk checking.
3. Dana yang diserahkan telah dipotong pembiayaan seperti biaya perjalanan, biaya penginapan, angkutan dan makan ditambah hak bagi pelaku pungumpul dana.
4. Badan penerima (MUI atau yayasan Al-Fatah) membuat surat tanda terima kasih disertai angka-angka yang diterima (belum dipotong).Dengan cara ini insya Allah tidak akan ada fitnah dan bantuan akan terus mengalir dari seluruh penjuru tanah air. Mereka yang akan berlomba-lomba ke Jawa mencari bantuan tetapi tidak transparan telah membuat perjuangan ini semakin sulit, mereka menggunakannya lebih jahat dari raja Obet.
Yang berikut adalah kelompok Abstain.
Mereka itu belum/tidak menentukan sikap, apakah memihak kepada para Mujahidin atau tetap pihak yang abstain yang pada hake-katnya mereka telah bergabung ke dalam kelompok ketiga yaitu punya kepentingan.
Sudah 11 (sebelas) bulan perang ini berlangsung sehingga kelom-pok abstain ini seharusnya tidak ragu lagi mengambil keputusan untuk bergabung dengan kelompok Mujahidin yang sesungguhnya dan bukan bergabung pada kelompok Mujahidin yang menyamar, karena mereka ini lebih berbahaya dari kelompok Abstain.b) Kelompok Kepentingan
Kelompok ini telah menentukan pilihan untuk tidak masuk kelompok Mujahidin. Mereka memilih mengamankan kepentingan sendiri mungkin sekali karena masa jabatan, peluang lain dan sebagai-nya.
Diantara mereka banyak yang tidak pernah muncul, mereka meng-hilang tidak menampakkan diri, tetapi ada juga diantara mereka muncul dan tampak bergabung tetapi sesungguhnya mereka hanya menyamar.
Lebih buruk lagi dari kelompok kepentingan tersamar ini sebagian mencapai kepentingannya dengan menjadi pengkhianat Islam. Ada yang tidak punya harga diri lagi dengan cara berkolusi dengan musuh Islam terutama bergerak di bidang politik, mereka sudah diketahui. Ada lagi untuk kepentingan materi bersedia membuka rahasia perjuangan diantaranya menjadikan pejabat yang Islam menjadi korban, lihat kasus kaset yang menghancurkan karier seorang Laksamana Pertama sangat disayangkan, menurut para Kiyai mereka adalah munafiq dan darah mereka halal karena itu berhati-hatilah.
Akibatnya pecahnya elit dalam 3 kelompok telah menunjukkan perpecahan yang berat. Ada istilah para elit berjalan di atas ranjau sebab antara satu dengan yang lain saling curiga, jangan-jangan se-orang itu pengkhianat perjuangan. Ada juga menjadi pendorong mobil mogok, semangat untuk mengumpulkan orang mendorong mobil yang mogok tadi, dan suaranya keras bagaikan penentu, tetapi begitu mobil jalan banyak orang yang ikut dengan mobil itu ke medan juang, ia tidak ikut naik kecuali hanya melambaikan tangan dengan seribu alasan.
Kita bertengkar tentang gajah, kita ribut tentang banyak hal tetapi sayangnya tidak ada yang memahami dengan baik apa sesungguhnya Gajah itu dan apa sesungguhnya yang dipertengkarkan. Dalam keada-an seperti itu kita juga tidak berusaha memahami apa yang diperteng-karkan agar konflik segera berakhir tetapi masing-masing cenderung bertahan dengan fahamnya yang dirasakan paling benar.
Dalam kondisi konflik seperti itu bisa muncul sebagai pemimpin, sebab pemimpin yang benar tidak pernah merebut jabatan pemimpin, ia tidak pernah menggembar-gemborkan kemampuannya bahkan lebih tampak Low Profile sebagai perwujudan tanggung jawabnya kepada Allah swt. Masih ada sejumlah tokoh diantara kita tetapi karena kalah bersaing dan sikapnya yang tidak takabbur itu membuat ia lebih kalah di arena seperti itu.
Mudah-mudahan kita semua mau menerima kenyataan dan bersedia mengoreksi diri, tidak ada lagi yang merasa paling hebat padahal yang bersangkutan sesungguhnya telah mengerti dimana kualitasnya. Demi perjuangan membela Islam marilah kita perbaiki diriBersambung Ke Bab 3-03