Bagian KEDUA
KONFLIK ANTAR UMAT BERAGAMA
DI AMBON & MALUKU
LAMPIRAN – LAMPIRAN
- Lampiran A :PEMBUKTIAN DENGAN 3 FAKTOR, Dalam tiap kasus pada lampiran ini mengandung unsur Tempat Kejadian (TKP), Tanggal / waktu yang berurutan dan Korban rumah / Masjid / Kendaraan.
- Lampiran B : PELANGGARAN PERDAMAIAN AKBAR, Kedua lampiran ini adalah hasil penulisan untuk Harian Suara Maluku yang gagal dimuat. Ditempatkan sebagai lampiran dalam Buku putih ini untuk memperjelas bahwa pihak Kristen telah melakukan perencanaan untuk aksi kerusuhan ini jauh sebelum tanggal 19 Januari 1999
- Lampiran C : MENELUSURI KESALAHAN DANREM 174/PTM KOL. INF. HIKAYAT MENANGANI KASUS BATU GAJAH
- Lampiran D : MAHKAMAH PERADILAN TERHADAP DANREM 174/PTM Kol. Inf. HIKAYAT
- Lampiran E : DAFTAR MESJID YANG DIRUSAK
- Lampiran F : DAFTAR NAMA : GEREJA/ SEKOLAH – KRISTEN PROTESTAN YANG RUSAK AKIBAT KERUSUHAN DI MALUKU TH 1999
- Lampiran G : DATA MUSYAHID PADA KERUSUHAN KEDUA 1999
- Lampiran H : KRONOLOGI PEMBANTAIAN UMMAT ISLAM DI PROPINSI MALUKU UTARA DALAM KISAH DAN GAMBAR
- Lampiran I : KESAKSIAN KORBAN KEBIADABAN KAUM KAFIR DI MALUKU
Lampiran : A
PEMBUKTIAN DENGAN 3 FAKTOR1. Tanggal 16-18 Nov’98 Jam 15.00 WIT
Depan Makorem 174/PTM
Demo kekerasan menghujat TNI dalam rangka membuat TNI mental Break Down (Periode Perencanaan tahap Pematangan situasi).
Korban Mahasiswa UKIM dan UNPATTI luka berat/ringan 70 orang serta aparat keamanan 25 orang luka berat ringan juga.
2. 20 Nov’98 jam 20.00 WIT
Kantor Gubernur Daerah Tingkat I Maluku
Rapat pertanggung jawab DANREM 174/PTM tentang kasus Batu gajah beradarah (lihat lampiran D).
Danrem 174/PTM dilecehkan dan dihujat seperti pengadilan oleh para Pendeta 5 orang dan Pastor juga 5 orang. Sedangkan perwakilan tokoh Islam hanya 3 orang dan yang sempat berbicara hanya 2 orang.
Kolonel Hikayat selaku objek Hujatan tidak diberi kesempatan memberikan tanggapan sebagai jawaban / beladiri
3. 13 Desember 98
Desa Wailete (Kampung Islam)
Penyerangan dan pembakaran desa Wailete (Islam) oleh massa Desa Hative besar (Kristen) yang penyebabnya hanya pesta yang tidak tertib. Tidak ada perlawanan pihak Islam mereka hanya menyelamatkan diri dengan pakaian di badan saja. Seluruh rumah dalam kampung terbakar.
Tidak ada pengusutan yang jelas oleh Polri.
4. 27 Desember’98
Desa Bak Air (kampung Islam)
Pelemparan oleh masyarakat desa Tawiri terhadap rumah-rumah desa Bak Air (Islam) hanya karena Babi dari desa tawiri yang memasuki kebun masyarakat desa Bak Air dilempar. Tidak ada pengusutan dari pihak Polri.
5. 14 Januari 99
Dobo Ibukota Kecamatan P. Aru (Mayoritas Kristen)
Di Dobo kecamatan P.Aru (Mayoritas Kristen) menyerang warga muslim dikampungnya menimbulkan korban 8 orang meninggal. (Pemanasan menjelang tanggal 19 januari Hari H)
6. 16 Januari’ 99
Didesa Batu Merah atas terjadi pelemparan terhadap rumah Imam Masjid Al-Mustaqim oleh pemuda-pemuda kristen dari desa Karang Panjang (Pemanasan pihak Islam tidak mengerti)
7. 19 Januari’ 99
Di kota Kecamatan. Dobo setelah selesai shalat Idul Fitri 1 Syawal 1419 H massa Kristen menyerang lagi masyarakat Islam diperkampungannya. Korban 55 buah rumah milik ummat Islam terbakar. Peristiwa ini sesungguhnya dalam rangka Hari-H Jam-J secara bersamaan dengan peristiwa kerusuha Ambon, tetapi Peristiwa Dobo mendahului beberapa jam kemungkinan ada perubahan waktu tetapi pihak Kristen di Dobo tidak mengatahuinya. (Mendahului pelaksanaan di Ambon)
8. Jam 14.00
Di Desa Batu Merah (Islam) Ambon terjadi pemalakan yang katanya oleh Usman terhadap Yopie sedangkan ummat Islam melihatnya sebagai hal yang terbalik. Berkelanjutan dengan perkelaian massal dan dibakarnya 2 buah rumah yang letaknya diantara desa Batu Merah dan Mardika.
Terbakarnya 2 rumah ini sebagai tanda dimulainya penghancuran terhadap ummat Islam.
9. Jam 16.30
Terjadi di Kampung Waringin Batu Gantung (Islam BBM). Intimidasi dan ancaman oleh masyarakat desa Kudamati dan Batu Gantung (Kristen) untuk menakut-nakuti sambil mengusir warga kampung tersebut yang pada umumnya dari suku BBM agar segera tinggalkan Ambon. Dengan yel-yel Hidup RMS Mena Moeria Menang (Salam Kebangsaan RMS). Masyarakat Islam diberi beberapa waktu sampai malam nanti jam 24.00 untuk segera mengungsi karena akan dilakukan pembakaran kampung itu dan yang tidak mengungsi akan dibunuh.
10. Jam 17.30
Terjadi pengungsian Masjid Raya Al-Fatah Ambon
Pengusiran terhadap penghuni Islam yang berumah di tengah Kampung Kristen (BBM)
Sehingga terjadi ribuan massa Islam mengungsi ke Masjid Al-Fatah Ambon
11. Jam 18.00
Jalan Raya disektor Kampung Kristen
Di jalan-jalan raya pada sektor perkampungan Kristen terjadi pembakaran kendaraan bermotor roda 4 and roda 2 serta ratusan becak milik ummat Islam. Akibat pembakaran ini menimbulkan bekas terbakar pada aspal yang dapat dijadikan saksi bisu yang tidak mungkin berbohong. Pada jalan Raya di sektor Islam tidak terdapat pembakaran kendaraan milik Kristen ( aspal bekas terbakar tidak ada, kecuali pada Kerusuhan II.
12. Jam 18.30 WIT
Kampung Diponegoro diserang oleh kampung Kristen diatasnya dengan lemparan puluhan Bom Molotov dan usaha pembakaran rumah-rumah Muslim di Kampung diatas. Usaha ini dapat digagalkan oleh aparat keamanan yang segera tiba. Kampung Kristen diatas kampung Diponegoro ini tidak terdapat jalan untuk kendaraan roda dua padahal mereka menggunakan bom molotov yang bahan bakunya bensin. Itu menandakan bahwa mereka sengaja menyediakan bahan bakar untuk tujuan pembuatan bom molotov.
Pukul 19.00 WIT
Pembakaran di Kampung Waihaong terhadap sebuah Gereja dan beberapa rumah Kristen yang terjepit diantara dua kampung Islam yang besar oleh para pemuda yang bereaksi atas serangan bertubi-tubi terhadap sejumlah kampung Islam dan pembakaran kenadraan bermotor milik ummat Islam di Jalan-jalan raya pada sektor Kristen.
Pukul 21.00 WIT
Kampung Batugantung Waringin diserang lagi oleh massa Kristen dari Batu Gantung dan Kuda Mati. Massa Islam yang belum mengungsi dipaksa segera meninggalkan kampung ini karena akan dibakar, apabila masih bertahan akan terjadi pembunuhan.
Tanggal 20 Januari 1999 - Pukul 01.00 WIT
TK, SD Yayasan Al Hilal dibakar oleh massa Kristen yang datang dari kompleks Gereja Maranatha ikut dibakar, tempat praktek Notaris Abua Tuasikal, SH.
Pukul 02.30 WIT
Masjid As Sa’adah di kampung Karang Panjang dibakar oleh massa Kristen dari kampung sekitarnya. Masjid ini adalah yang diserang sesudah menyerang Masjid Raya Al Fatah pada pukul 22.00. Masjid ini berhasil dibakar habis padahal baru saja diresmikan setelah melalui proses pembangunan yang panjang selama 9 tahun.
Pukul 02.30 WIT
Kampung Diponegoro atas diserang lagi dan berhasil membakar 3 buah rumah tetapi segera dapat dipadamkan oleh massa Islam.
Pukul 02.30 WIT
Perusakan rumah-rumah Islam disepanjang Jl. Nn. Sar Sopacua dirusak dan dijarah oleh massa Kristen dari kampung sekitarnya.
Pukul 03.00
Pasar Mardika, Pasar Gambus dan Pertokoan Pelita dibakar oleh massa Kristen dalam jumlah besar yang datang dari tempat konsentrasi dari lapangan Merdeka. Pasar-pasar tersebut yang umumnya terdapat Toko, Kios dan tempat usaha ummat Islam, dibakar habis, sedangkan deretan pertokoan milik China diselamatkan.
Pukul 04.00
Rumah-rumah ummat Islam di kampung OSM dibakar oleh ummat Kristen dari arah Kudamati.
Pukul 05.00
Masjid Raya Al Fatah diserang untuk yang kedua kalinya bertepatan dengan sedang berlangsungnya shalat Subuh sehingga menimbulkan kepanikan para pengungsi, tetapi dapat dihalau oleh aparat keamanan dan massa Islam
Pukul 08.00
Kampung Waringin diserang untuk yang ketiga kali oleh massa Kristen dari Batu Gantung dan Kudamati membakar habis rumah-rumah suku BBM di Kampung itu, kecuali Masjid Al Muhlisin berdiri tanpa cacat.
Pukul 08.00
Pembakaran rumah rumah Muslim di Pohon Puleh dan Jl. Baru oleh massa Kristen yang daerah asalnya tidak jelas, sejumlah rumah Islam dan Pasar Buah terbakar.
Pukul 08.30
Masjid An Nur di. Jalan A.M. Sangaji diserang oleh massa Kristen yang datang dari Jl. Anthony Rebook, usaha pembakaran berhasil di padamkan oleh Ummat Islam dan Massa Kristen berhasil dipukul mundur.
Pukul 09.00
Massa Islam dai Jazirah Leihitu bergerak ke Ambon untuk memperkuat pertahanan Masjid Raya Al Fatah, tetapi di tengah jalan dihadang massa Kristen di Kampung Benteng Karang. Terjadi bentrokan fisik yang mengakibatkan rumah-rumah Kristen dan beberapa Gereja dibakar habis. Massa ini berhasil melannjutkan perjalanan ke Ambon tetapi dihadang oleh satuan Brimob di Desa Air Besar Passo. Ketika mereka kembali dihadang oleh massa Kristen di Kampung Negeri Lama, Nania dan Durian Patah. Bentrokan fisik di ketiga desa ini mengakibatkan terbakarnya rumah-rumah Kristen dan Islam serta Gereja.
Pukul 10.00
Masjid Raya Al Fatah diserang untuk yang kedua kali, mereka berhasil mencapai perempatan jalan di depan Masjid Raya Al Fatah, tetapi berhasil dihalau oleh massa dari Waihaong
Pukul 10.00
Massa kristen dari Kudamati dan Batu Gantung Dalam menyerang lagi ke kampung Batu Gantung Waringin dengan tujuan mengusir semua warga BBM untuk keluar dari Kampung tersebut. Pengungsian besar-besaran terjadi lagi ke Masjid Raya Al-Fatah Ambon.
Tanggal 21 Januari 1999
Pukul 06.00. Kampung Diponegoro. Massa Kristen menyerang dan membakar rumah-rumah milik warga Muslim di Diponegoro Atas. Pardeis Tengah (Kp. Islam) Massa Kristen dari arah jalan Said Perintah menyerang serta membakar rumah milik warga muslim di kampung Pardeis Tengah.
Jam 06.10
Kampung Wailette diserang kembali oleh massa Kristen dari Desa Hative Besar. Masjid dibakar serta mengusir semua warga Muslim yang ada.
Kampung Pardeis Tengah kembali diserang, rumah-rumah Muslim dibakar
Jam 16.00
Di Kampung Waihaong bertempat dirumah Edwin Manuputty (Peg. BAPPEDA Tk. I) ditemukan sebuah dokumen RMS yang ditanda tangani oleh Presiden RMS F.J.L. Tutuhatunewa.
Jam 20.30
Di Jalan Baru dan Pohon Pule, rumah-rumah warga muslim diserang dengan menggunakan Panah Api (Panah Wire) dari arah Gereja Silo, sehingga rumah-rumah Muslim yang berada di belakang Gereja Silo musnah terbakar.
Tanggal 22 Januari 1999
Pukul 12.00 WIT Rumah-rumah di OSM diserang oleh massa Kristen dari kampung-kampung Kristen sekitarnya seperti Kuda mati, Benteng Tapal Kuda dll.
Pukul 16.00
Menhankam Pangab Jenderal TNI Wiranto melakukan kunjungan di Ambon dan mengadakan Tatap Muka dengan tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat dan Muspida membicarakan Kasus Kerusuhan Ambon dan mencari solusi damai.
Pukul 18.30
Pangab / Panglima TNI mengeluarkan Instruksi Perintah Tembak Ditempat bagi warga yang membawa Senjata Tajam dan tidak mau menyerahkannya..
Tanggal 23 Januari 1999
Pukul 10.40 di Kampung Mangga Dua, massa Kristen membantai dengan membakar 5 orang Muslim asal Waihaong yang sedang melewati Mangga Dua dengan menggunakan mobil truk, yaitu : La Tisa (Supir ), La Halilu (Peg, Cool Storage), La Haini (Peg, Cool Storage), Baharudin (adik Supir), Mustafa (Anak Lasanu). Mayat-mayat tersebut dibakar kemudian ditimbun dengan sampah.
Pukul 12.00 – 14.00
Kampung Banda (O S M) diserang dengan membakar rumah-rumah milik warga Muslim.
Pukul 14.00
Bertempat di Kampung Tanah rata ( Jl. Jenderal Sudirman ) seorang Aparat Keamanan menembak seorang muslim Pegawai. Kantor Asuransi Jasa Raharja Cabang Ambon),
Jam 21.30 WIT
Di daerah Gudang Arang (Benteng) Massa Kristen melakukan pengroyokan terhadap anggota Kostrad yang berasal dari Bali dan senjata dirampas, Korban dibacok hingga tewas.
Pukul 21.45
Di Jalan Jenderal A.Yani, massa Kristen melakukan penggeledahan KTP terhadap warga muslim yang sedang dievakuasi, Aparat keamanan yang mengawal pengungsi mengeluarkan tembakan peringatan kearah massa Kristen yang bringas itu. Dan salah satu Polwan dibacok oleh massa.
Tanggal 24 Januari 1999
Jam 21.40 WIT di Kampung Karang Tagepe diserang oleh massa Kristen dari Kudamati. Massa melakukan penggedoran terhadap rumah-rumah warga Karang Tagepe dan memerintahkan agar semua laki-laki keluar dari kampung dan mengancam tidak boleh kembali, bagi yang kembali berarti melawan. Sedangkan kaum perempuan masih diberi kesempatan untuk pelan-pelan mengurus dan menyelamatkan anak-anaknya untuk dibawa pergi. Setelah kaum Perempuan keluar dari kampung, pada malam itu juga kampung dibakar habis termasuk Masjid Al Husaim. Pada siang harinya salah satu Imam Masjid kembali ke kampung bermaksud mau menyelamatkan barang yang tersisa, tapi malang Pak Imam tersebut malah dibunuh.
Tanggal 2 Februari 1999
Jam 11.00 WIT
Insiden terjadi di Terminal Mardika. Seorang penumpang angkot turun dari mobil dengan tidak mau membayar ongkos ( Pasasi ), Sopir dan Kernet menagihnya tetapi tetap tidak mau membayar bahkan penumpang tersebut lari. Disaat melarikan diri orang yang melihatnya berteriak copet-copet kemudian dikejar massa, pada saat itu aparat keamanan yang bertugas di Pasar mengeluarkan tembakan. Massa semakin panik ditambah lagi Patroli Helikopter juga mengeluarkan tembakan. Tidak berapa lama secara bersamaan/serempak terjadi dibeberapa Instansi Pemerintah yaitu di Dinas Tanaman Pangan, di Dinas Kesehatan, Dinas Perkebunan dan di Kanwil Sosial Karang Panjang yaitu pegawai-pegawai yang beragama Islam dicari dan dikejar untuk dibunuh, oleh massa Kristen, sementara pegawai lain yang melihat membiarkannya. Dari pengejaran itu Pegawai Dinas Kesehatan ( Maryan Maruapey) dicegat dan dibunuh sehingga meninggal dunia. Dalam waktu singkat suasana kota saat itu menjadi tegang yang sangat, sebagian warga/petugas keamanan tidak mengetahui sebab musababnya, hampir semua jalan-jalan diblokkir sehingga jalan-jalan macet total.
Tepat Pukul 11.00 6 Orang Menteri tiba. Di Ambon. Tatap muka para Menteri yang diadakan di Aula Kantor Gubernur hanya dihadiri oleh sebagian Tokoh Masyarakat. Para undangan tidak semua bisa hadir karena hampir semua jalan-jalan diblokade.
Jam 08.30 WIT
Urimessing
Seorang warga Muslim bernama Ali Helmi Tuasamu dibacok oleh 6 orang Pemuda Kristen di jalan Diponegoro. Penyerangan terhadap para pengungsi Muslim dari Karang Tagepe yang berlindung dalam tenda-tenda kompleks Transmisi RCTI/SCTV Gunung Nona. Salah satu orang kena bacok.
Tanggal 3 Februari 1999
Jam 14.00 WIT
Kairatu (Ibu Kota Kecamatan Seram Barat). Warga Desa, Rumberu dan Rumalatu mengadakan Pesta Makan Patita Damai dengan masyarakat Muslim Kairatu. Ternyata dibalik Pesta itu ada rencana jahat kaum Nasrani. Mereka datang dengan membawa Senjata Tajam, Tombak dan Panah sehingga suasana Pesta tadi bukan dijadikan wahana Perdamaian melainkan justru berubah menjadi ajang pertempuran. Dalam insiden itu 4 orang warga Muslim terkena panah Rencana makan patita damai antara warga Kairatu Rumberu dan Rumalatu dengan masyarakat Muslim Kairatu. Pertikaian meluas menjadi pembakaran Pasar, rumah-rumah Muslim disekitar Masjid.
Tanggal, 4 Februari 1999
Jam 05.30 Desa Waraloki yang sedang melakukan Shalat Subuh diserang oleh massa dari Desa Kamariang dipimpin oleh Letda Sitorus, akibatnya 7 orang warga Muslim meninggal dunia.
Jam 10.30
Kota Kairatu kembali diserang oleh Massa Kristen yang datang dari kampung-kampung yang berada di pegunungan, sehingga 40 buah rumah terbakar.
Tanggal 8 Februari 1999
Pukul 11.00 di Desa Batu Merah untuk pertama kalinya dilempari dengan bom-bom rakitan.
Tanggal 13 Februari 1999
Tertangkap 6 orang Kristen asal Maluku Tenggara yang melecehkan Islam dengan menghujat Rasulullah dan menulis “Yesus Maju Terus” pada rumah warga Muslim disimpang tiga air besar STAIN-Ahuru.
Tanggal 19 Pebruari 1999
Warga Kristen di desa Passo melempari mobil penumpang DE. 401 AU yang dikendalikan oleh Sapri.Top
Lampiran : B
Pelanggaran Perdamaian AkbarKristen terbukti tidak berkehendak untuk perdamain karena sasaran yang direncanakan belum tercapai. Pihak Islam sekalipun tidak melanggar perjanjian damai yang telah di ikrarkan. Tidak pernah ada sangsi untuk pihak Kristen yang melakukan pelanggaran sebagai berikut:
1. Kesepakatan damai tanggal 23 Januari 1999 jam 20.00 WIT dihadapan/ disaksikan Menhankam / Pangab yang dilaksanakan di Aula Makorem 174/PTM.
Kamis, 21 Januari 1999
- Menhankam/Pangab Jenderal TNI Wiranto melakukan perte-muan dengan tokoh-tokoh agama di Makorem 174/PTM.
- Pertemuan pukul 20.00 WIT telah diadakan kesepakatan damai yang ditanda tangani oleh kedua kelompok dari masing-masing tokoh/pimpinan Organisasi keagamaan.
- Kesepakatan damai dihadapan Menhankam/Pangab ternyata tidak menghasilkan kemajuan berarti karena sesudah itu masih terjadi tindak kekerasan secara sistematis oleh pihak Kristen sedangkan Pendeta/Pastor penanda tanganan kesepakatan damai tidak bertindak apapun (delay action). Oleh karena itu sejumlah pelanggaran dibawah ini harus dipertanggung jawabkan antara lain:
Jum’at, 22 Januari 1999
- Pukul 15.00 WIT dikeluarkan perintah tembak ditempat bagi yang melanggar ketentuan membawa senjata tajam keluar rumah/dijalan.
- Sepanjang malam terjadi pelemparan batu dan ancaman serangan ke perkampungan Islam.
Sabtu, 23 Januari 1999
- Pukul 10.40 WIT, pembantaian terhadap 5 (lima) warga asal Buton di Mangga Dua, mayatnya ditimbuni sampah, disirami dengan bensin kemudian dibakar termasuk truk yang ditumpangi ikut terbakar.
- Pukul 20.30 WIT, aparat keamanan (Polri) yang beragama Kristen menembak seorang warga Muslim asal Jawa tanpa alasan yang jelas di dusun Tanah Rata desa Batu Merah.
- Pada sore hari warga perkampungan Muslim di kampung Air Mata Cina diserang dan dibakar.
Senin, 1 Februari 1999
- Pukul 14.30 WIT rombongan Wali Kotamadya Ambon serta Dandim 1504 menuju desa Hitu ditahan masyarakat Kristen dengan penghalang jalan.
- Dengan cukup berdialog tidak diijinkan jalan, rombongan mengalah dan kembali dikawal satu regu pasukan.
Selasa 2 Februari 1999
- Pukul 11.00 WIT terjadi kerusuhan yang diawali kasus kecil di pasar Mardika yang ditangani tidak tepat oleh aparat keamanan.
- Seorang tukang copet dikejar oleh aparat keamanan dengan melepaskan tembakan yang menyebabkan masyarakat menjadi panik. Aparat keamanan yang jauh dari TKP pun ikut mengeluarkan tembak dengan cukup gencar.
- Sekitar kira-kira 15 menit setelah peristiwa itu seberang ruas jalan di perkampungan Kristen dipasang barikade.
- Kenderaan ummat Islam yang terjebak pada sektor Kristen dibakar dan supirnya dibunuh.
- Tercatat satu orang terbunuh, satu buah mobil, empat buah sepeda motor dan sebuah becak ikut terbakar. Di beberapa perkantoran yang berada di daerah Kristen, pegawai yang beragama Islam didatangi kelompok tertentu dan diperiksa KTP, beberapa orang nyaris terbunuh sedangkan seorang wanita terkena bacok. Peristiwa yang segera dieksploitasi ini seperti telah masuk dalam skenario.
- Bersama dengan itu sejumlah pejabat yang akan menghadiri pertemuan dengan lima Menteri dilantai III Kantor Gubernur Maluku terjebak barikade, pada umumnya diancam dengan kekerasan.
- Pemukulan terhadap seorang Mahasiswi Unpatti (Ani) oleh masya rakat Galala mengeksploitir situasi menjadi kacau.
- Pukul 13.00 rumah penduduk Muslim di Talake Dalam dilempari massa Kristen dan banyak yang rusak sedangkan seorang warga Bugis dibacok di kampung Belakang Soya.
- Di desa Passo kenderaan Truk dari desa Tulehu dihadang dengan barikade ditengah jalan. Sejumlah massa dengan parang dan tombak langsung memecahkan kaca dan membacok sopir sehingga perlu dijahit 8 jahitan diluar dan 6 jahitan didalam.
Rabu, 3 Februari 1999
- Pukul 08.30 WIT Ali Helau dibacok oleh 5 pemuda di Batu Gajah setelah keluar dari Kantor BRI.
- Pada waktu yang sama juga terjadi serangan dan perusakan rumah di dusun Karang Tagepe Kudamati
- Pelemparan terhadap perumahan Muslim di Batu Meja (belakang Polda) dan warga Muslim terpaksa mengungsi ke Masjid Al-Fatah.
- Pengungsi dari dusun Karang Tagepe yang berada di penampungan RCTI/SCTV diserang lagi oleh massa Kristen.
Kasus Kairatu.
Selasa, 2 Februari 1999
- Sekitar pukul 14.00 atas ajakan pihak Kristen dibuat kesepakatan perjanjian untuk tidak saling menyerang dengan melakukan makan Patita (acara adat), ternyata diketahui bahwa pihak Kristen telah menyiapkan sejumlah parang, tombak dan panah.
- Pihak Kristen menyerang dan timbul korban dipihak Islam yakni 3 orang luka terkena panah dan Imam Masjid (Jalil Usemahu) ditombak di dalam Masjid yang sedang sholat untuk keselamatan ummat Islam.
- Beberapa rumah sekitar Masjid serta pasar ikut dibakar massa Kristen.
Kamis, 4 Februari 1999
- Pihak Kristen menyerang lagi dan membakar sejumlah rumah sehingga keseluruhan berjumlah 40 buah dan bangunan pasar. Pada penyerangan ini tewas seorang warga Muslim.
- Masyarakat suku Buton dusun Alinong diserang dengan batu oleh masyarakat Kristen dari Kudamati.
- Pada pukul 07.00 WIT Dusun Waraloki (desa Kamarian) – Kairatu diserang massa Kristen menimbulkan korban jiwa warga Muslim berjumlah 7 orang, sedangkan rumah-rumah penduduk yang dihancurkan sebanyak 52 buah.
Jum’at, 5 Februari 1999
- Warga Muslim di desa Kairatu mendapat serangan dan membakar sejumlah rumah. Masyarakat telah mengungsi dengan perahu ke pulau Haruku dan pulau Ambon
- Pukul 10.15 masyarakat Muslim dusun Waraloki (desa Kamarian) diserang, tetapi dapat dihalau oleh aparat keamanan karena telah ada perintah tembak ditempat pada tanggal 4 Februari 1999.
- Imam Masjid Karang Tagepe beserta istrinya tewas terkena sengatan aliran listrik di rumahnya dengan kabel tanpa pembungkus yang dilakukan pihak Kristen.
- Perjanjian damai akbar dihadapan Menhankam/Pangab pada tanggal 12 Mei 1999 di lapangan Merdeka Ambon.
Selasa, 11 Mei 1999
- Pembunuhan terhadap 2 (dua) orang warga Muslim desa Tulehu di desa Passo ketika dengan kenderaan menuju ke Ambon.
Rabu, 12 Mei 1999
- Penyerangan dan pelemparan terhadap rumah-rumah penduduk warga Muslim di dusun Tawiri oleh massa Kristen.
Kamis, 13 Mei 1999
- Pembunuhan dan pembantaian 4 orang penumpang bus (warga Muslim) di desa Waai oleh massa Kristen yang sengaja menghadang bus tersebut.
- Bus tersebut tidak dibakar, tetapi penumpang dikejar massa Kristen, beberapa diantaranya berhasil menyelamatkan diri dari amukan massa.
Sabtu, 15 Mei 1999
- Pukul 11.00 WIT terjadi pembakaran 8 buah rumah di Batu Merah oleh massa Kristen Mardika.
- Pembakaran ini terjadi akibat pemuda Kristen kampung Mardika merebut Obor Pattimura yang dibawah pemuda Islam dari desa Batu Merah menuju lapangan Merdeka.
- Di perbatasan desa Batu Merah dan kampung Mardika Obor Pattimura dikembalikan ke desa Batu Merah, sehingga menimbulkan konflik yang nyaris terjadi kerusuhan.
- Akibat kasus Obor Pattimura yang sengaja direkayasa panitia untuk menimbulkan kerusuhan.
- Upacara Obor Pattimura bertepatan dengan peresmian Kodam XVI/PTM oleh Kasad Jenderal TNI Subagyo HS.
Rabu, 14 Juli 1999
- Penebangan sekitar 300 pohon cengkih milik warga desa Siri-Sori Islam (P. Saparua) oleh massa Kristen desa Ulath yang berkelanjutan dengan perkelahian massal yang menimbulkan korban jiwa dipihak Muslim termasuk aparat Kepolisian.
- Pertikaian berlanjut antara desa Siri-Sori Islam dan desa-desa Kristen di pulau Saparua mengakibatkan timbul korban jiwa di kedua belah pihak.
Sabtu, 17 Juli 1999
- Pembakaran Masjid Al-Ikhlas kota Saparua dan rumah-rumah penduduk Muslim.
Selasa, 20 Juli 1999
- Pelemparan bom terhadap perkampungan Islam Diponegoro.
- Penyerangan dilakukan massa Kristen ke perkampungan Islam Diponegoro.
Rabu, 21 Juli 1999
- Pelemparan bom terhadap desa Batu Merah Dalam (Muslim).
Jum’at, 23 Juli 1999
- Diserangnya perkampungan desa Poka/Perumnas (Muslim) dengan lemparan batu yang kemudian dilanjutkan dengan penyerangan oleh massa Kristen.
Sabtu, 24 Juli 1999
- Pukul 00.00 WIT, dilakukan serangan ulang dengan kekuatan yang lebih besar terhadap perkampungan Muslim desa Poka/Perumnas dan Masjid Al-Muhajirin Perumnas, sehingga menyebabkan mengungsinya warga setempat setelah rumah-rumah mereka terbakar.
- Pukul 11.00 WIT, di Kampus Unpatti Mahasiswa Muslim mendapat intimidasi dan diteror Mahasiswa Kristen.
- Pada pukul 16.00 WIT ada inisiatif antara warga di Perumnas/Poka untuk melakukan perundingan agar tidak saling menyerang.
- Tetapi ternyata perundingan tersebut mengalami jalan buntu, karena dipihak Kristen melakukan penyerangan, pelemparan batu, pemboman bahkan pembakaran terhadap rumah-rumah disekitar Perumnas/Poka, desa Poka Pantai dan sekitar Kompleks Masjid An-Nashar serta BTN Tihu/Poka.
- Pembantaian terhadap warga Muslim (Perumnas/Poka) yang bernama Noho Rahawarin oleh massa Kristen di depan Puskesmas Perumnas/Poka – Rumah Tiga.Penanda tangan Ikrar Perdamaian
Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, pada hari ini rabu 22 Mei 1999, bertempat di Lapangan Merdeka Ambon, pimpinan Ummat beragama, tokoh masyarakat/adat, tokoh pemuda, pimpinan paguyuban serta segenap lapisan masyarakat menyatakan dengan bulat ikrar Perdamaian.
Pertama
Bahwa bencana sosial yang terjadi di kota Ambon dan beberapa tempat lain di wilayah Maluku, merupakan tragedi kemanusiaan yang telah menghancurkan harkat dan martabat kemanusiaan kita sebagai ciptaan Tuhan. Tragedi kemanusiaan itu pula telah memporak-porandakan sendi-sendi kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Kedua
Sebagai insan beriman dan bertakwa, kami sungguh-sungguh menyesali semua pengalaman pahit yang memilukan itu dan bertekad untuk membangun kembali hubungan-hubungan kemanusiaan baru yang dimotivasi dengan rasa cinta sesama, saling menghargai dan menghormati dan dengan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, kekeluargaan dan persaudaraan.
Ketiga
Bahwa tekad dan akad untuk membangun hubungan kemanusiaan baru dalam suasana yang penuh damai, mengharuskan kita untuk dengan sadar mengakhiri semua bentuk konflik dan kekerasan, menghilangkan segala bentuk rasa kecurigaan, dendam, kebencian dan permusuhan, dengan terus mengupayakan cara-cara damai yang dialogis dalam menangani masalah-masalah yang belum terselesaikan.
Keempat
Menghargai kebhinekaan, baik agama, suku bangsa, tradisi, adat istiadat, serta terus berupaya menggalang dan mempererat tali persaudaraan dan kesatuan bangsa yang dijiwai oleh semangat dan wawa-san kebangsaan.
Kelima
Mendukung sepenuhnya upaya semua pihak dalam penyelesaian tuntas dan menyeluruh semua masalah yang belum selesai dengan tetap menjunjung azas keadilan, penegakan hukum dan kemanusiaan.
Keenam
Mengharapkan aparat keamanan untuk mengungkapkan dengan terbuka untuk masyarakat para provokator dan mengadilinya sesuai ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku.
Ketujuh
Menindak tegas siapa saja yang dengan sengaja atau tidak sengaja melanggar ikrar perdamaian ini, berdasarkan hukum adat dan atau hukum negara.
Dengan adanya ikrar perdamaian yang disaksikan serta diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa seperti disebutkan diatas, sebagai makhluk Tuhan, sudah saat kita semua tunduk dan bersujud di hadapan-Nya seraya memohon ampun atas segala kekhilapan, keteledoran dan kedurhakaan kita.Ikrar Perdamaian di Tanda Tangani oleh :
Ketua MUI Propinsi Maluku : R.R Hasanussi.
Ketua BPH Sinode GPM : Pdt.S.P. Titaley
Uskup Diosis Amboina : Mgr. Joseph Tethol
Remaja Masjid : Husein Tuasikal, SH
Angkatan Muda GPM : Ferry Nahusona, STh
Pemuda Paroki Keuskupan Amboina : F.R. Simon P Matruty
Kecamatan Pulau Saparua : A. Tanalepy
Latupati Kecamatan P.Haruku : R.E Latuconsina
Latupati Kecamatan Amahai : A.L. Loilosa
Latupati Kecamatan Kairatu : Corputy
Raja Hitu Lama : Pellu
Keluarga Sulawesi Selatan : Drs. Abdul Azis Abide
Keluarga Sulawesi Tenggara : Drs La Hamsidi
Serta Masyarakat Bali : DR. Ir. Ngurah Nyoman WiandnyanaKendati ikrar tersebut sudah didengungkan sebelumnya dan sudah ditanda tangani serta disaksikan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Top
Lampiran : C
MENELUSURI KESALAHAN DANREM 174/PTM
KOL. INF. HIKAYAT MENANGANI KASUS BATU GAJAHPERISTIWA demonstrasi Mahasiswa UNPATTI bersama UKIM pada tanggal 18 Nopember 1998 untuk menyampaikan sejumlah tuntutan diantaranya agar TNI tidak berdwi fungsi, telah menimbulkan korban luka-luka pada kedua belah pihak. Demontrasi yang dinilai tidak wajar oleh berbagai pihak ini diperkirakan telah ditunggangi oleh pihak ke 3. Ekses dari kasus batu gajah ini berkelanjutan dengan berbagai hujatan kepada TNI dan tuntutan agar Kolonel Infantri Hikayat selaku Danrem 174/PTM dan Letkol Infantri Gatot Marwoto selaku Kasrem 174/PTM agar diberhentikan dari jabatan mereka dan dituntut agar segera meninggalkan kota Ambon. Banyak pihak termasuk para tokoh dan pejabat menilai bahwa Danrem 174/PTM kurang persuasif, telah melakukan tindakan kekerasan (Represif) terhadap Mahasiswa yang memperjuangkan aspirasi rakyat banyak. Hujatan dan tuntutan lengser nya kedua pejabat tersebut terus berlangsung termasuk polemik di Harian Suara Maluku.
Saya tertarik untuk mengajak masyarakat khususnya Mahasiswa mengerti apa sesungguhnya yang telah terjadi agar cooling down dengan menggunakan media massa Suara Maluku disamping berkomunikasi langsung perorangan pada kesempatan yang ada. Untuk itu pada kolom surat pembaca Harian Suara Maluku terbitan tanggal 5 Desember 1998 saya menulis dengan judul TPF hasil kerjanya dipercepat. Setelah tanggal 18 Nopember 1998, pihak UNPATTI mengumumkan dibentuknya Tim Pencari Fakta (TPF) yang hasil kerjanya menemukan jumlah korban pihak Mahasiswa serta kerusakan pada bangunan umum, selanjutnya tidak ada lagi pengumuman hasil temuan padahal sangat diperlukan untuk mendukung tuntutan Maha-siswa agar Kol. Inf. Hikayat dan Letkol Inf. Gatot Marwoto lengser dan segera meninggalkan Ambon. Banyak rekan yang menyarankan agar saya segera menulis di Suara Maluku menjelaskan pendapat saya bahwa Danrem dan Kasrem setiap saat dapat dicopot dari jabatan asalkan TPF dapat melaporkan kesalahan-kesalahan kedua pejabat tersebut kepada Pangdam VIII/Trikora yang akan menilainya dari aspek militer. Naskah ini disiapkan tetapi Kol. Inf. Hikayat minta agar tidak dimuat ke Harian Suara Maluku karena ia inginkan ketena-ngan apalagi dengan adanya peristiwa Jum'at malam di Kantor Guber-nur, tampak yang bersangkutan sangat terpukul (lihat peristiwa Jum’at malam terlampir). Situasi seperti sudah cooling down mudah-mudahan ada pengaruh dari tulisan-tulisan saya yang lalu diantaranya : “Mahasiswa irama tabuhanmu asyik didengar” – “Saya mengajak Mahasiswa melihat dirinya karena tampak sekali sudah ditunggangi”, Karena batal ke Harian Suara Maluku naskah ini diselesaikan untuk dokumen saja yang barangkali bermanfaat bagi yang ingin memahami duduk permasalahannya. Bila ada tokoh yang mempermasalahkan kembali secara pribadi naskah ini saya sampaikan.
Sebab Terjadinya Tragedi
Banyak pihak menamakannya sebagai suatu Tragedi karena korban yang luka-luka mendekati 100 orang dari kedua belah pihak. Kasus ini tidak terlepas dari kondisi Nasional dimana adanya konspirasi untuk memojokkan TNI bahkan cenderung membuat TNI tak berdaya, sehingga menyebabkan TNI ragu-ragu dan tak berani bertindak. Peristiwa semanggi dan beberapa kasus dimana TNI telah bertindak keras dijadikan acuan untuk terus menghujat TNI karena peranannya selama Orde Baru dengan tuntutan kembali Ketangsi lepaskan Dwi fungsi. Saya melihat konspirasi untuk meruntuhkan TNI berkelanjutan di Ambon dan pasti ada kaitannya secara Nasional.
Di Ambon tuntutan tersebut juga dilaksanakan oleh Mahasiswa UKIM dan UNPATTI dengan kekerasan disamping tuntutan lainnya termasuk muatan lokal. Kebringasan Mahasiswa kedua perguruan tinggi ini sudah terlihat beberapa hari sebelumnya dengan aksi pengrusakan yang tidak jelas sebabnya apalagi tujuannya. Situasi panas dimulai dari aksi demo Mahasiswa UNPATTI pada Sabtu 13 November 1998 yang diijinkan memasuki Makorem 174/PTM tetapi telah berlaku tidak sopan dengan menghujat dan memaki, kemudian demo yang sama tanggal 15 November 1998 dengan tuntutan bertemu Danrem 174/PTM berlangsung sampai malam hari dengan menguasai perempatan Tugu Trikora yang berakhir dengan apa yang disebut sebagai Mahasiswa disergap aparat keamanan di jalan diponegoro yang berakibat dirawatnya beberapa orang. Dari dua demo itu dilakukan demo tanggal 18 November 1998 yang berakhir dengan korban yang besar itu. Jadi peristiwa tanggal 18 November 1998 itu tidak terjadi tiba-tiba tetapi berkembang dari peristiwa tanggal 13 November 1998 dan 15 November 1998, seperti telah diprogramkan oleh pihak ketiga karena itu TNI dihadapkan pada dilema yang dipaksakan dengan menggunakan Mahasiswa kedua Perguruan Tinggi tersebut di atas. Karena itu Danrem 174/PTM harus ekstra hati-hati dan meminta petunjuk Komando atas (Pangdam VIII/Trikora).Betulkah Mahasiswa Ditunggangi?
Mudah-mudahan apa yang saya jelaskan dibawah ini cukup objek-tif sehingga kesimpulan yang kita ambil untuk menjawab pertanyaan di atas mengandung kebenaran (valid). Urut-urutan peristiwa dibawah ini perlu dikaji :
1. Tanggal 14 November 1998 di halaman Makorem 174/PTM Maha-siswa diterima dengan baik, melakukan berbagai tuntutan diantaranya hapus Dwi fungsi TNI dan Menhankam/Pangab agar lengser. Hujatan dan makian sangat memanaskan telinga, apalagi setelah bendera diturunkan setengah tiang tanpa tata cara perlakuan terhadap Bendera Sang Merah-Putih, Kasrem Inf. Letkol. Gatot Marwoto dipaksa membacakan tuntutan Mahasiswa yang ditulis tangan yang tidak kalah dengan tulisan dokter. Karena salah membaca dipaksa mengulang sambil menunjuk-nunjuk hidung perwira tersebut yang kalau tidak menghindar niscaya hidung perwira menengah ini menjadi mainan. Para anggota yang panas melihat perlakuan terhadap pimpinannya tetap beku bagaikan es karena begitu isi perintah pimpinan untuk tidak berbuat apapun kecuali terpaksa karena keselamatan dan keamanan satuan terancam (ada keterangan khusus tentang pengamanan instalasi militer).
2. Dalam perjalanan pulang dari Makorem ketika melewati Markas Yonif 733/BS para demonstran ini melakukan pengrusakan terhadap lampu-lampu hias di pintu gerbang Markas Komando. Hal tersebut bagi anggota jaga merupakan provokasi terang-terangan dan menantang, mereka memaki anggota yang sedang berdiri di pos jaga dengan senjata lengkap dengan peluru tajam. Namun demikian prajurit Yonif 733/BS dalam jumlah yang besar menyaksikan sambil bergeleng kepala melihat keberanian yang tidak pantas dan cenderung menantang.
3. Tanggal 16 november 1998 siang Markas Korem 174/PTM didemo lagi oleh perguruan tinggi yang sama dengan tuntutan bertemu dengan Danrem 1174/PTM Kol.Inf.Hikayat, karena Danrem 174/PTM sedang dalam perjalanan dari Jakarta setelah mengikuti SI MPR, demo dilanjutkan dengan menguasai perempatan Tugu Trikora sampai malam hari dimana gedung PLN yang tak ada hubungan apapun dengan tuntutan Mahasiswa jadi sasaran pelemparan batu. Turun tangannya Rektor ternyata tidak digubris sampai sekitar jam 22.00 mereka berada di perempatan Tugu Trikora. Dari penguasaan Tugu ini mereka tetap menuntut agar Danrem 174/PTM dihadirkan untuk mempertanggung jawabkan penyergapan itu. Tuntutan itu jelas tidak akan dipenuhi karena prosedur Militer tidak membenarkan karena Danrem harus kuasai dulu duduk permasalahannya dan sesungguhnya tak perlu pemak saan di malam seperti itu. Meninggalkan Tugu Trikora ternyata sebagian berputar ke arah Makorem 174/PTM dari jalan A. Yani. Di depan Makorem beberapa anggota yang bertugas jaga diprovo-kasi dengan kata-kata sambil menusuk-nusuk petugas tersebut dengan bambu yang mereka bawa. Pancingan untuk konflik fisik seperti ini, sepertinya tidak masuk akal terutama didepan penjagaan dan malam hari. Kalau tidak masuk akal sebagai inisitif mahasiswa yang terpelajar lantas siapapun aturnya. Pada 2 hari yang sama terjadi juga demo yang dilakukan oleh Mahasiswa UNIDAR dan STAIN tetapi semuanya berjalan mulus tanpa kekerasan tuntutan dan aspirasinya disampaikan sesuai aturan, TNI pun menyambut dengan tepukan tangan tanda seaspirasi.
4. Tanggal 18 November 1998 berulang lagi demo yang dilakukan oleh mahasiswa UNPATTI yang sejak dalam perjalanan sudah melakukan aksi kekerasan dan cari gara-gara dengan para pengendara mobil sepanjang jalan. Jumlah mereka ada yang memperkirakan 7000 orang tetapi saya perkecil saja sekitar 5000 orang. Demo hari ini dihembuskan bahwa akan dilakukan besar-besaran menuntut pertanggung jawaban Danrem 174/PTM terhadap kasus penyergapan karena itu saya sengaja turun ke TKP untuk menyaksikan dari depan gedung RRI Ambon paling dekat maju ke Apotik Vita Farma massa demo sebanyak itu berkumpul di depan Makorem pada jarak yang sangat rapat dengan pintu gerbang tanpa memperhatikan UU No.9 / 98 yang mengatur jarak maksimal 150 meter dari pagar instansi militer. Hujatan dan kata-kata Anjing, Babi, Pendidikan cuma SD sangat menekan moril prajurit yang berhadap-hadapan di pintu gerbang. Batu sudah mulai berkumpul yang sebagian besar diambil dari sungai Batu Gajah yang disaksikan penduduk setempat, berpuluh-puluh tas beribut sudah di transport ke depan Makorem dan dibagi-bagikan. Persiapan seperti itu sangat menghawatirkan karena tampak nekad untuk bentrok adu fisik, barangkali dianjurkan untuk revans peristiwa penyergapan. Dari hasil negosiasi diijinkan 4 orang mahasiswa diterima Danrem 174/PTM untuk berdialog menyampaikan aspirasi. Yang terjadi ternyata lain, keempat anggota delegasi baru memasuki Makorem sekitar 20 meter dari pintu gerbang ternyata mahasiswa mulai menyerang petugas dengan lemparan batu seperti hujan dari langit. Keadaan sudah amat kritis, petugas di pintu gerbang kewalahan, terlihat akan segera jebol dan para demonstrans sebanyak itu pasti berhamburan ke halaman bahkan kedalam ruangan yang ada. Bisa kita perumpa-makan ibarat karet gelang yang ditarik pada kedua belah ujungnya sampai batas maksimal yang bila tidak dikendorkan pasti akan putus. Itulah gambaran bobolnya barikade pak dipintu gerbang. Saya yang didepan Apotik Vita sambil garuk-garuk telapak tangan kapan karet itu dikendorkan sebentar lagi putus dan kalau itu terjadi yang menang adalah Provokator terutama aktor intelektualnya yang mungkin sedang siap-siap meninggalkan kota Ambon. Untunglah tak lama kemudian pasukan barikade itu bergerak maju mengayunkan tongkat menghalau para demo dan bentrokan fisik tak dapat dielakan lagi. Saat gerak maju pasukan PMH itulah secara tidak sadar saya ucapkan EXEL LENT, karena saya sedang membayangkan korban meninggal dunia akan banyak seperti akibat putusnya karet itu. Terlihat jelas bahwa provokator tidak mengacarakan bentuk perwakilan bernegosiasi karena itu kesepakatan dengan petugas segera dipatahkan oleh Mahasiswa dengan serangan batu dengan tujuan menyerbu ke dalam Markas. Bisa kita membayangkan apa yang akan terjadi, baik sesuai skenario atau pun tidak. Berhamburannya sekian banyak Mahasiswa pasti tidak ada pihak yang tidak dapat mengendalikan, mereka akan memasuki semua ruangan dan kantor, gudang senjata dan amunisi serta bahan peledak yang akan di jarah. Semua ruangan akan terbakar termasuk gudang bahan bakar dan bagaimana akibat ledakan bahan peledak dan granat bagi penduduk sekitar Makorem. Senjata dan amonisi di biarkan terbakar atau berpindah tangan. Dalam keadaan begitu regu jaga harus bertindak melakukan penyelamatan, mereka berdasarkan COUSIGNES (Konsinyes) berhak dan wajib melepaskan tembakan untuk menghentikan aksi pengacau keamanan tersebut. Kalau begitu akan berapa banyak korban Mahasiswa calon pimpinan masa depan bangsa ? tidak ada satu pun yang menang yang ada hanya tangis dan air mata, penyesalan tak habis-habisnya Ambon tidak manis lagi bahkan jadi contoh paling buruk se Indonesia. Tetapi ada yang tertawa terbahak-bahak karena berhasil luar bisa, siapa mereka ? tidak ada lain yang kita namakan provokator dan aktor intelektualnya.
5. Sebelum mencapai Makorem, demo yang bergerak melalui Jl. A.M. Sangaji ternyata sudah mulai bertindak bringas. Beberapa bendera Merah Putih yang dipasang di Jl. A.M. Sangaji menggunakan tiang kayu rep 5/3 cm dicabut benderanya dirobek untuk ikat kepala, tiangnya dijadikan tongkat/alat pukul setelah dipatahkan jadi dua. Mahasiswa seperti tak mengerti telah berbuat kesalahan besar merobek Merah Putih. Bagi TNI yang mempertaruhkan nyawanya dan telah menyaksikan korban banyak rekan karena memperta-hankan Merah Putih amat tersinggung atas perbuatan Mahasiswa tersebut apakah ini juga atas suruhan provokator, atau Mahasiswa sedang lupa diri.
6. Penguasaan perempatan tugu Trikora bukan tanpa resiko, saya menganggap-nya sebagai titik rawan karena disitu terdapat Gereja Silo, Masjid An-Nur dan ke utara lagi terdapat Masjid Al-Fatah. Bila disekitar Tugu terjadi benturan fisik maka situasi akan berkembang buruk bila rumah-rumah ibadat itu dilempari oleh orang-orang khusus yang telah disiapkan seakan-akan aksi massa terbuka atau lempar batu sembunyi tangan. Karena itu pengua-saan sektor Tugu Trikora menjadi pertanyaan. Dari gambaran perilaku para demonstaran di atas siapapun tidak percaya bahwa itu direncanakan sendiri oleh Mahasiswa, ada kekuatan lain yang mengatur, Mahasiswanya sendiri tidak menyadari penunggangan tersebut. Jadi Mahasiswa jelas terkena provokasi hanya siapa dia dan aktor intelektualnya yang mana tidak ada pengusutan. Korem 174/PTM terlibat langsung karena itu tidak mungkin melakukannya. Polri secara fungsional harus melakukan pengusutan tetapi seorangpun tidak ada yang ditangkap. Banyak pihak berkomentar bahwa Polda khawatir bahkan takut akan jadi sasaran amukan demo hari-hari berikut. Kalau sudah begini apakah tidak merupakan hal yang amat kita sayangkan ?
7. Issu adanya korban tewas 3 orang Mahasiswa salah seorang Wanita tersebar merata di dalam kota Ambon dari sini terlihat bahwa pemberitaan tersebut sudah direncanakan untuk mengeksplitasi situasi yang sedang panas. Rencana itu segera dipatahkan karena tidak terbukti yang kemudian dibantah Gubernur Maluku setelah menyaksikan korban-korban di RSU Haulussy. Berikut ini kita telusuri proses pengambilan keputusan operasi taktis dilingkungan Militer, bagaimana pelaksanaannya serta hasil yang dicapai termasuk untung-rugi (korban). Dari hasil penelusuran ini dapat kita memberikan penilaian – apakah Danrem 174/PTM Kol Inf. Hikayat dalam menangani kasus Batu Gajah tanggal 18 November 1998 bertindak salah atau tidak.
Proses Pengambilan KeputusanDi Militer semua kegiatan yang berulang dikuatkan tata cara pelak-sanaannya terutama hal-hal penting seperti Operasi Militer. Karena itu keputusan taktis untuk melaksanakan sesuatu operasi diproses melalui suatu prosedur yang berlaku tetap (Protap). Karena itu apabila terjadi kegagalan maka ditelusuri proses pengambilan keputusan maka itu kita sering dengar hasil suatu tim Pencari Fakta menyimpulkan – adanya kesalahan prosedur. Dilapangan keputusan diambil tidak selalu melalui kegiatan administratif, cukup in mind tetapi harus dipenuhi semua unsur-unsur pengambilan keputusan.
Kasus Batu Gajah yang telah ada informasi rencana demo besar-besaran (dengan kekerasan) pasti sudah ditanggapi Korem 174/PTM dengan rencana penanganannya. Ada perkiraan intelejen perkiraan Operasi dan perkiraan komandan, kesemuanya untuk mendapatkan cara bertindak terbaik diantaranya agar tidak ada korban yang tidak perlu.Pelaksanaan Operasi
Ketegangan antara para demo dan pasukan PHH di depan Gerbang Makorem sudah mencapai puncak. Bertepatan dengan itu ada perintah untuk menghalau massa demo yang segera dilaksanakan oleh satuan PHH. Dengan sigapnya Pasukan PHH mengayunkan tongkat untuk menghalau massa demo, sedangkan massa demo bertahan dengan melakukan pelemparan dengan batu yang berakibat timbul korban luka-luka pada kedua belah pihak. Akibat luka itu kedua belah pihak semakin emosional dan keadaan sudah tidak terkendali baik mahasiswa maupun pasukan PHH yang terlihat keluar dari formasi melakukan pengejaran. Bentrokan fisik seperti itu tidak terhindari karena massa demo tampaknya telah siap melakukan benturan itu. Dengan demikian korban yang jatuh pada kedua belah pihak adalah wajar.
Penghalauan dilakukan sampai ke tugu Trikora karena Makorem harus aman serta massa demo harus disalurkan ke empat jurusan yang ada yaitu jalan Imam Bonjol, Jalan AM Sangadji, Jl. Diponegoro dan Jalan Said Perintah agar tidak terkoordinir terpecah di tugu Trikora aksi PHH dihentikan karena berada dititik rawan. Yang disalurkan kejalan Iman Bojol menimbulkan korban materi Korem 174/PTM berupa dua buah mobil dinas dibakar massa demo. Kerugian lainnya berupa kaca pintu dan jendela sejumlah bangunan di sepanjang jalan Diponegoro hancur oleh lemparan massa demo. Keadaan kemudian berangsur reda, korban luka kedua belah pihak dievakuasi ke RS. Haulussy, RS. GPM dan RS. Bhakti Rahayu.Akibat Operasi
Pihak TPF UNPATTI melaporkan terdapat 63 korban luka-luka, terdiri dari 59 Mahasiswa, 1 orang Dosen dan 3 orang masyarakat. Yang perlu dirawat inap 20 orang. Kaca jendela ….. buah dengan kerugian Rp………
Pihak korem melaporkan prajuritnya luka-luka 24 orang dan 2 buah kendaraan dinas dibakar. Hal-hal lain yang lebih prinsip tidak ditangani TPF seperti :
1. Benarkah Mahasiswa tersusupi Provokator ? Siapa mereka dan siapa Aktor intelektualnya.
2. Benarkah aparat melakukan pengejaran sampai memasuki rumah ibadah dan kamar penduduk
3. Buktikan adanya kesalahan Danrem 174/PTM dan laporkan ke Pangdam VIII/TKR agar dapat dipertimbangkan untuk mencopot Danrem 174/PTM dan Kasremnya, juga melakukan tuntutan tetapi tidak bisa membuktikan dimana salahnya.
Dari hasil perawatan korban yang luka-luka di dapat penjelasan bahwa semua korban akibat benturan benda tumpul tidak ditemukan luka akibat peluru tajam, peluru hampa, peluru karet atau sangkur. Sedangkan para Prajurit yang berada di RST pada umumnya akibat terkena lemparan batu; berita yang tersiar di luar bahwa terdapat korban meninggal dunia 3 orang ternyata tidak benar yang langsung dibantah Gubernur melalui TVRI Ambon sehingga keadaan yang sudah memanas segera reda.Penilaian
1. Rencana menjebak Makorem telah digagalkan sehingga perkiraan akan timbul korban yang besar di pihak massa demo dapat dihindari.
2. Provokator gagal memaksakan rencananya karena TNI tidak terpancing bertindak menggunakan alat lain kecuali tongkat, sehingga kekacauan dapat diiliminir.
3. Tidak adanya korban akibat terkena peluru tajam, peluru hampa, peluru karet apalagi sangkur menunjukan adanya pembatasan penggunaan kekerasan (alat).
4. Pasukan tidak menggunakan alat lain seperti barang tajam kecuali tongkat dan lemparan batu yang terdapat di sepanjang jalan Diponegoro hasil lemparan mahasiswa. Hal ini menunjukan pengendalian operasi yang cukup baik dengan disiplin prajurit yang kuat.
5. Korban yang terjadi karena massa demo melakukan perlawanan dan bersedia bentrokan fisik dengan aparat keamanan yang sedang melaksanakan tugasnya mengamankan situasi.
6. Kayu rep yang diisukan ternyata tiang bendera yang dipatahkan untuk dijadikan alat pukul oleh Mahasiswa sendiri.
7. Issu adanya korban meninggal 3 orang mahasiswa tidak berhasil memicu situasi.Kesimpulan
1. Puncak ketegangan tidak terjadi seperti putusnya karet yang dipaksakan semakin tegang dengan demikian korban jiwa yang besar dapat dihindari. Tindakan penghalauan oleh satuan PHH dilaksankan tepat waktu, bila tertunda sekitar 5 menit keadannya menjadi sangat berbahaya.
2. Wewenang yang diberikan kepada Danrem 174/PTM digunakan secara tepat tidak dilampau, dibuktikan semua korban tidak terkena peluru tajam, peluru karet, peluru hampa maupun sangkur.
3. Pasukan PHH tidak berhasil dipertahankan dalam formasi. Semua-nya keluar formasi melakukan pengejaran terhadap Mahasiswa di area jalan Diponegoro. Pengejaran terjadi karena solider sekaligus emosi. menyaksikan rekannya terluka kena lemparan batu.
4. Disiplin pasukan dapat dipertahankan terbukti mereka hanya menghalau/memukul dengan tongkat sebagai perlengkapan yang disediakan komando.
5. Tidak ada korban jiwa, issu adanya 3 mahasiswa meninggal dunia tidak benar.
6. Keseluruhan rencana provokator/aktor intelektual dapat dipatah-kan/gagal.
Dari penjelasan tersebut di atas saya tidak melihat adanya kesalahan Danrem 174/PTM mulai dari keputusannya, pelaksanaannya sampai dengan konsolidasi tidak ditemukan kesalahan sehingga sulit di dapat alasan untuk memintakan Pangdam VIII/TKR menggantikan Danrem 174/PTM Kol. Inf.Hikayat dan Kasrem Letkol Inf Gatot Marwoto.Jadi peristiwa Jum'at malam ( terlampir ) adalah rekayasa untuk mematahkan moril Danrem 174/PTM termasuk Kapolda Maluku Kol. Pol. Karyono. Demikian analisa ini didasarkan pada pertimbangan militer yang barangkali sebagai rekan sipil sulit menerima, tetapi begitulah pimpinan melihat prestasi pelaksanaan tugas prajuritnya. Selanjutnya periksa halaman lampiran, terima kasih.
Mudah-mudahan tulisan ini dapat meredakan suasana panas didalam kota dimana prajurit TNI yang bertempat tinggal diluar asrama militer merasa aman. Pemukulan, pengeroyokan anggota TNI oleh Mahasiswa dan pemuda-pemuda yang bergerombol ditepi jalan bisa segera dihentikan. Apabila tindakan brutal terhadap anggota TNI itu dibiarkan berlarut maka akan terjadi hal-hal yang sulit kita perkirakan.
Lampiran : D
MAHKAMAH PERADILAN
TERHADAP DANREM 174/PTM Kol. Inf. HIKAYATSELESAI Shalat Jum’at tanggal 27 November 1998 seperti biasa saya tidak langsung pulang karena para pengurus Organisasi Ikatan Kekeluargaan Masyarakat Banda yang pimpinannya Dr. Paing Surya-man selalu kumpul dekat pintu keluar bagian depan ngobrol ngalor-ngidul sekurang-kurang setengah jam. Banyak ide untuk Organisasi di hasilkan dari ngobrol ba’da Jum’at itu. Di sayap kanan depan sudah jadi kebiasaan berkelompok generasi muda ada yang mahasiswa sam-pai para sarjana. Ada sekitar tiga orang dalam kelompok kecil sambil bersiap pulang berbicara serius sekali, ketika jalan di dekatnya saya dipanggil, abang dengar ini dulu. Mereka pun menceritakan apa yang terjadi pada Jum’at malam yang lalu di kantor Gubernur ketika ada rapat dengan tokoh agama dari Katholik, Protestan dan Islam. Beta dengar dari sumber berita, ucapannya. Abang percaya ini A-1, sumber-nya tak perlu abang tau. Karena informasi itu menguatkan analisa saya maka saya telusuri hal tersebut dari dua tokoh Islam yang hadir pada acara tersebut yaitu : K.H Abdul Wahab Abu Bakar Polpoke dan Al-Ustadz Abdurahman Khouw sedangkan orang ketiga yang hadir tidak saya cross check karena yang bersangkutan pada kesem-patan rapat itu tidak mendapat kesempatan berbicara karena waktu habis.
Manuver kelompok Kristen memang sedang dalam pengamatan saya karena ada beberapa kasus yang menarik perhatian terutama back up mereka terhadap aksi demo yang terus menerus dan semakin meningkat kualitas pelanggarannya. Kekerasan demo yang tidak memperdulikan aturan telah membingungkan masyarakat kota Ambon karena aparat keamanan seperti musuh mereka, mau dibuat lumpuh tak berdaya. Dengan para demonstran itu pernah saya berdiskusi tentang orang ketiga yang menunggangi aktivitas mereka. Kita sampai kepada suatu kesimpulan bahwa TNI tidak boleh dilumpuhkan sebab ancaman dalam berbagai bentuk akan muncul dan menghancurkan, perbuatan itu ibarat palang pintu telah dipatah-kan dan pintu terbuka lebar siang dan malam maling mudah masuk. Kedua mahasiswa yang gigih mempertahankan pendapat tersebut menerima contoh soal yang saya berikan. “Mari kita buktikan perlu atau tidak Polri itu; Bagaimana kalau kita coba tidak pakai mereka sebulan saja, Polisi dicutikan keseluruhannya sampai dengan Kapolda. Anda bisa memperkirakan apa yang terjadi? Tolong dirinci akibat-akibat itu”, jawabnya: wah contoh Bapak ekstrim, tidak mungkin Polri dicutikan begitu, bisa-bisa berlaku lagi hukum rimba, yang jelas Amplas itu bisa habis dijarah belum lagi saling bunuh karena ada dendam dan ketersinggungan di masyarakat”. Kalau begitu cara demo yang melumpuhkan TNI ini tidak benar dong, keduanya mengangguk, tetapi menolak keras kalau dikatakan ditunggangi. Saya ikut membe-narkan sikap penolakan mereka, saya katakan watak Mahasiswa sebagai masyarakat intelektual tidak mungkin begitu, kecuali punya kepentingan.
Mari kita memasuki judul cerita ini ! rapat pada tanggal 20 November 1998 malam itu dirancang untuk meminta pertanggungan jawab Danrem 174/PTM tentang kasus Batu Gajah berdarah tanggal 18 November 1998. Istilah peratanggungan jawab yang digunakan sumber informasi tidak tepat sebab Danrem hanya bertanggung jawab kepada Pangdam. Karena di lingkungan TNI tugas-tugas seperti yang dilaksanakan oleh Danrem hakekatnya adalah tugas Pangdam dalam bentuk rinci yang dilaksanakan Danrem, jadi tugas itu didelegasikan kebawah tetapi tanggung jawabnya (Responsibility) tidak didelegasikan.
Jadi istilah yang tepat bukan mempertanggung jawabkan tetapi menjelaskan kalau masih kurang jelas silahkan tanya. Beda dengan menjelaskan karena pertanggungan jawab bisa berakibat kena teguran dan sangsinya berat seperti dicopot dari jabatan atau diberhentikan tidak dengan hormat. Yang terjadi malam itu justru Pola pertanggungan jawaban yang oleh pemberi informasi dikatakan sebagai Mahkamah peradilan yang sengaja bersidang untuk mengadili Pelanggaran Pidana oleh Danrem 174/PTM Kol. Inf. Hikayat, masya Allah hebat sekali mereka itu !
Bagaimana ceritanya ? Yang hadir pada barisan pimpinan yakni Gubernur, Danrem serta Kapolda. Pada barisan peserta adalah 5 tokoh Katolik (lengkap), 5 tokoh Protestan (lengkap) dan 3 tokoh Islam (kurang 2 tokoh). Posisi duduk berurutan dari 5 Katolik, 5 Protestan dan 3 Islam yang relatif segaris.
Setelah rapat dibuka Gubernur langsung disambar dengan pertanyaan oleh pihak Katolik yang paling ujung berturut-turut sampai orang terakhir kemudian dari unsur Protestan jadi 10 orang, tidak ada yang melepaskan kesempatan berbicara, berbicara dengan selalu melihat catatan pada buku kerjanya. Kesepuluh tokoh agama itu (Pastor dan Pendeta) berbicara keras, memaki-maki, menghina dan meng-hujat kedua pejabat aparat keamanan itu secara membabi buta, tidak sepantasnya keluar dari mulut orang-orang yang dihormati di masyarakat itu.
Memang yang lebih parah Danrem 174/PTM karena ialah yang terlibat langsung kasus Batu Gajah itu tetapi Kapolda pun tidak sedikit mendapat perlakuan tidak adil dan tidak memperhatikan tata krama diantara pejabat apalagi oleh para tokoh agama, cerita ini obyektif tidak dilebih-lebihkan. Kesempatan berikutnya diberikan kepada KH Abd Wahab Polpoke dan Ustadz Abd.Rahman Khouw, yang ketiga tidak diberi kesempatan karena katanya habis waktu. Kedua tokoh Islam ini membela gigih Danrem 174/PTM dan Kapolda bukan karena tidak terbukti tuduhan kesalahan kedua pejabat tersebut tetapi menolak cara penghujatan yang dilakukan oleh orang-orang terhormat yang kalau di atas mimbar gereja selalu menganjurkan kasih tetapi kenyataan di malam itu lebih kejam dari seorang penjahat-pembunuh. Al-Ustadz Abd. Rahman Khouw secara khusus meminta agar para pemuka agama jangan bermain politik praktis karena itu bukan lapangan kita, bisa-bisa ummat tak terurus. Kita tidak pantas bereaksi keras seperti itu, karena awam apalagi tidak tahu persis peristiwanya sebaiknya kita dengar penjelaskan Danrem Kol. Inf. Hikayat. Ternyata Danrem 174/PTM dan Kapolda Maluku tidak diberi kesempatan membela diri atau menjawab tudingan 10 tokoh agama Kristen tadi. Luar biasa rekayasa acara yang disengaja untuk melumpuhkan kemampuan TNI sebagai pengamanan negara. Acara rapat yang sudah keluar jalur itu ternyata tidak diluruskan/kembalikan sesuai tujuan rapat apalagi waktu terlalu banyak disita pihak Kristen, jadi kalau dihitung secara matematis maka perbandingannya adalah 10 : 2 = 5 : 1. Orang-orang itu telah begitu berani mengambil resiko mematahkan palang pintu, membuka pintu itu lebar siang dan malam padahal keadaan lingkungan pada waktu itu sangat mencekam (situasi nasional sedang memburuk). Kebenaran cerita kasus ini dapat dilakukan cross check kepada kedua pejabat TNI tersebut, Gubernur dan mereka yang hadir, asalkan mau jujur.Dari apa yang terjadi pada kasus di atas saya berkesimpulan bahwa :
1. Acara rapat ini merupakan babak berikut dari upaya melum-puhkan TNI yang justru menghantam titik pusatnya karena itu berhasil secara efektif.
2. Urutan acara telah keluar dari rencana sebab yang normal harus dimulai dengan penjelasan kedua pejabat tersebut (mempersiapkan dulu secara tertulis hadir bersama staf).
3. Bila ada yang tidak puas dengan expose kedua pejabat tersebut dilakukan dengan diskusi tanya jawab. Begitu hebatnya mereka menguasai dan mengendalikan acara rapat, tidak dapat disangkal bahwa ini acara yang direkayasa oleh mereka, sekurang-kurangnya perencana terjebak.
4. Keseluruhannya sudah dirancang jauh sebelumnya terbukti dari polemik di media massa.
Tulisan ini untuk menjadi pelengkap (lampiran) tulisan saya yang baru selesai dengan judul menelusuri kesalahan Danrem 174/PTM Kol.Inf Hikayat menangani kasus Batu Gajah.
Mudah-mudahan kasus ini akan memperjelas kemana arah gerak kelompok yang sedang saya amati itu.Catatan :
Naskah ini diangkat sebagai lampiran buku induk Untuk membuktikan bahwa memang ada program Khusus untuk menghancurkan wibawa TNI Hasilnya sudah kita lihat pada kerusuhan Ambon ini ?
LAMPIRAN E No. NAMA ALAMAT KEADAAN KET
DAFTAR MASJID YANG RUSAK AKIBAT KERUSUHAN
DI KOTA MADYA AMBON - PROPINSI MALUKU TH 1999
Masjid – Musholla T RB RR
1 2 3 4 5 6 7
KECAMATAN : NUSANIWE
1. Al Hikmah Wemi Kec. Nusaniwe Dibakar
2. Sam’iyat Air Louw Kec. Nusaniwe Dibakar
3. Al Mubaraqah Labuhan Raja Kec. Nusanive Dibakar
4. An Nur Kampung Ani Kec. Nusaniwe Dibakar
5. Nurul Bahri Amahung Dibakar
6. Nurul Iman IHU Kec. Nusaniwe Dibakar
7. Kanwil Trans Taman Makmur Kec. Nunaniwe Dibakar
8. Jabal Tsur Bentas Kec. Nusaniwe Dibakar
9. Al Manaar Bentas Kec. Nusaniwe Dibakar
10. Jabal Rahmah Kramat Jaya Kec. Nusaniwe Dibakar
11. An-Nur Komplek TVRI Sta Ambon Dibakar
12. Al Muhajirin OSM Pantai Kec. Nusaniwe Dibakar
13. An-Nashar OSM Atas Kec. Nusaniwe Dibakar
14. Nurul Bahri Wainitu Kec. Nusaniwe Dibakar
15. Kanwil Agama Air Salobar Kec. Nusaniwe Dibakar
16. Hidayatullah Wainitu Kec. Nusaniwe Dibakar
17. Nurul Afiah Komp. RSU Ambon Kec Nusaniwe Dibakar
18. Nurul Mu’min Kamp. Ganemong Kec. Nusaniwe Dibakar
19. Al-Mukar rom Karang Tagepe Kec. Nusaniwe Dibakar
20. Al Musayyim Alinong Kec. Nusaniwe Dibakar
21. Al Muklishin Batu Gantung waringin Kec. Nus Dibakar
22. Al Hijrah Kayu Besi Kec. Nusaniwe Dibakar
23. Al Wahyu Polres Perigilima Kec. Nusaniwe Dibakar
24. At-Taqwallah Air Mata Cina Kec. Nusaniwe Dibakar
KECAMATAN SIRAMAU
25. An-Nur AM Sangadji Kec. Sirimau Dibakar
26. As-Saadah Karpan Kec. Sirimau Dibakar
27. Asy Syuhada Belakang Soya Kec. Sirimau Dibakar
28. Darul Hasanah Wisma Atlit Karpan Sirimau Dibakar
29. Al Muhajirin Kamp. Khairun Kec. Sirimau Dibakar
30. At-Taqwa Batu Bulan Kec. Sirimau Dibakar
31. Al Ikhwan Pasar Mardika Dibakar
32. Baiturridha Hative Kecil Kec. Sirimau Dibakar
33. Ar-Rahman Hative Kecil Kec. Sirimau Dibakar
34. Asy Syukur Hative Kecil Kec. Sirimau Dibakar
KECAMATAN BAGUALA
42. Nurul Amal Halong Batu-batu Kec. Baguala Dibakar
43. Ar Rahman Wabula Halong atas Kec. Baguala Dibakar
44. Baitul Ma’ruf Halong Baru Kec. Baguala Dibakar
45. Al Huda Halong TM Kec. Baguala Dibakar
46. Asy Syukur Halong AB Kec. Baguala Dibakar
47. Nurul H Lata Kec. Baguala Dibakar
48. Al Huda Lateri Kec. Baguala Dibakar
49. Nurul Ishlah Passo Kec. Baguala Dibakar
50. Al Muhajirin Wayari Kec. Baguala Dibakar
51. As Sakinah Waimahu Dibakar
52. Nurul Jihad Larier Kec. Baguala Dibakar
53. Al Falah Larier Dibakar
54. Al Muhajirin Waimahu Kec. Baguala Dibakar
55. Nurul Akbar Air Besar Passo Kec. Baguala Dibakar
56. Al Ikhlas Kamp. Siompu Kec. Baguala Dibakar
57. Al Makmur BTN Passo Kec. Baguala Dibakar
58. Nurul Hijrah Nania Bawah Kec. Baguala Dibakar
59. Al Istiqomah BKPI Poka Kec. Baguala Dibakar
60. Al Muhajirin Wailela Pantai Kec.Baguala Dibakar
61. Al Huda Weilela Perumahan – Baguala Dibakar
62. At Taqwa Hatve Besar Kec. Baguala Dibakar
63. Al Huda Kamp. Dusun Kec. Baguala Dibakar
64. Al Ikhsan Riang Kec. Baguala Dibakar
65. Al Ikhlas Batu Gong Kec. Baguala Dibakar
66. Nurussilmi Wailiha Dibakar
67. Bubussalam Wailiha Kec. Baguala Dibakar
68. Al Muhajirin Hutumuri Kec. Baguala Dibakar
69. Amissalam Rutong Kec. Baguala Dibakar
70. Al Mukmin Leahari Kec. Baguala Dibakar
71. Al Inayah Air Bak Tawiri Kec. Baguala Dibakar
72. Wailawa Wailawa Kec. Baguala Dibakar
MALUKU TENGAH
73. Al Falah Saparua Kec. Saparua Dibakar
74. Al Muhajirin Saparau Kec. Saparua Dibakar
75. Al Huda Gunung Panjang Kec. Saparua Dibakar
76. Al Muhajirin Kairatu Kec. Kairatu Dibakar
77. Ama Ina Kec. Kairatu Dibakar
78. Dusun Siompo Dusun Siompo Kec. Kairatu Dibakar
79. Waimeten Pan Waimeten Kec. Kairatu Dibakar
80. La Ala La Ala Kec. Seram Barat Dibakar
81. Nurul Khairat Batu Naga Kec. Seram Barat Dibakar
82. Nurul Huda Ujung Batu Kec. Salahutu Dibakar
83. Al-Ikhlas Waitatiri Dibakar
84. Waitatiri kampung Waitatiri Kec. Salahutu Dibakar
MALUKU UTARA
85. Bobawa Bobawa Kec. Makian Dibakar
86. Soma Soma Kec. Makian Dibakar
87. Tahane Tahane Kec. Makian Dibakar
88. Malapa Malapa Kec. Makian Dibakar
89. Ngofabobawa Ngofabobawa Kec. Makian Dibakar
90. Samsuma Samsuma Kec. Makian Dibakar
91. Talapao Talapao Kec. Makian Dibakar
92. Mailoa Mailoa Kec.Makian Dibakar
93. Tagono Tagono Kec. Makian Dibakar
94. Matsa Matsa Kec. Makian Dibakar
95. Paleri Paleri kec. Makian Dibakar
96. Tafasoho Tafasoho Kec. Makian Dibakar
97. Ngofagita Ngofagita Kec. Makian Dibakar
98. Sabale Saba;e Kec. Makian Dibakar
99. Ngaimadodere Ngaimadodere Kec. Makian Dibakar
100. Dumdum Dumdum Kec. Makian Dibakar
101. Tabnoma Tabanoma Kec. Makian Dibakar
MALUKU TENGGARA
102. Al-Huda Debut R. Islam Kec. Kei Kecil Dibakar
103. Al-Ichwan Ngursit Kec. Kei Kecil Dibakar
104. Al- Manaf Dian Pulau Kec. Kei Kecil Dibakar
105. Nurul Sholeh Ohoira Kec. Kei Kecil Dibakar
106. Al-Munawar Totoat Kec. Kei Kecil Dibakar
107. Al-Badar Ohoiten Kec. Kei Kecil Dibakar
108. Jami’ Ohoibadar Kec. Kewi Kecil Dibakar
109. Jami’ uf Uf Mar Kec. Kei Kecil Dibakar
110. Madwaer Madwaer Kec. Kei Kecil Dibakar
111. Jami’ Wirin Kec. Kei Kecil Dibakar
112. Al Badrun Letfuan Islam Kec. Kei Kecil Dibakar
113. Al-Mujibah Selayar. Kec. Kei Kecil Dibakar
114. At-Taqwa Madwat Kec. Kei Kecil Dibakar
115. Nurul Iman Warbal Kec. Kei Kecil Dibakar
116. Tarwah Tarwah Kec. Kei Kecil Dibakar
117. Al-Mazar Tamangil Nuhuten Kec. Kei Besar Dibakar
118. Nurul Iman Wurfrafau/ Weer Kec. Kei Kecil Dibakar
119. An Nur Weer Ohoinam Kec. Kei Besar Dibakar
120. At Taqwa Weer Ohoiker Kec. Kei Besar Dibakar
121. Nurul Fajrin Ngafan Kec. Kei Besar Dibakar
122. Al Qoba Vatqidat Kec. Kei Besar Dirusak
123. Ar Ridha Uat Kec. Kei Besar Dirusak
124. Ma Mur Ngan Kec. Kei Besar Dirusak
125. An Nur Waer Maaf Kec. Kei Besar Dibakar
126. Al Mujahidin Mun Kahar Kec. Kei Besar Dibakar
127. Nurul Jannah Nerong Islam Kec. Kei Besar Dibakar
LAMPIRAN F A. KODYA AMBON
DAFTAR NAMA : GEREJA/ SEKOLAH – KRISTEN PROTESTAN YANG RUSAK AKIBAT KERUSUHAN DI MALUKU TH 1999
1. Hanwela Nania Dibakar
2. Marannata Negeri Lama Dibakar
3. Bethabara Batu Merah Dalam Dibakar
4. Sumber Kasih Waihaong Dibakar
5. Betlehem Jl. Anthoni Rhebook Dibakar
6. Gidion Air Mata China Dibakar
7. Pantekosta Jl. Dr. Latumeten Dibakar
B. MALUKU TENGAH
8. Gereja Hila Desa Hila Kec. Leihitu Dibakar
9. Benteng Karang Desa Benteng Karang Dibakar
10. G S J A Desa Banteng Karang Dibakar
11. GPM Parora Desa Parora Dibakar
12. GPM Tomalehu Tomalehu P. Manipa Dibakar
13. GPM Kariu Desa Kariu P. Haruku Dibakar
14. GSJA Kariu P. Haruku Dibakar
15. GST. J. Betlehem Banda Neira Dibakar
C. MALUKU UTARA
16. GPM Sanana Sanana Utara – Malut Dibakar
17. BTHL Indone Sanana Utara – Malut Dibakar
18. Stasi Yohanes Sanana Pariki Diaspora Dibakar
19. Stasi Yohanes Malifut Paroki Tobelo Dibakar
20. SD. Naskat Sanana Dibakar
21. Stasi Yohanes Sanana Pariki Diapora Dibakar
22. Stasi Yohanes Maliput Paroki Tobelo Dibakar
23. SD. Naskat Sanana Dibakar
E. HALTENG
24. Stasi St. Petrus Tidore Dibakar
LAMPIRAN G No Nama Umur Pekerj Alamat Tkp Sebab Keterangan
DATA MUSYAHID PADA KERUSUHAN KEDUA 1999
1 La Muane 32 Sopir Talake Bt.Merah Tembak 27 Juli 1999
2 Irfan Kiat 22 Mhs Bt. Merah Sda Tembak 27 Juli 1999
3 Jamrah 21 Mhs Nani Tembak 27 Juli 1999
4 Muh. Semarang Mhs Bt. Merah Tembak 27 Juli 1999
5 Pelemsen .L 23 Mhs Poka Bakar 27 Juli 1999
6 Ahmad Silawane 17 Mhs Bt.Merah Tembak 27 Juli 1999
7 Affandi Attamimi 15 Smp Talake Taeno Tembak 27 Juli 1999
8 Faisal Launuru 25 Mhs Hila Taeno Tembak 27 Juli 1999
9 Jamil Launuru 25 Hila Tembak 27 Juli 1999
10 Syamsul Lapula 25 Bt. Merah Tembak 27 Juli 1999
11 Jaflul Lating 45 Tani Hila Taeno Tembak 27 Juli 1999
12 Rustam M 20 Soabali Tembak 27 Juli 1999
13 Muhtar Kaliu 15 Bt. Merah Tembak 27 Juli 1999
14 Muhtar R 25 Tembak 27 Juli 1999
15 Majid Ahmad Tembak 27 Juli 1999
16 Husen Ollong Peg. TelkLarike Mardika Tembak 27 Juli 1999
17 Ali Ulath Tembak 27 Juli 1999
18 Kadir Rehalat Tembak 27 Juli 1999
19 Syamsul Latua 21 Sma Tembak 27 Juli 1999
20 Ummar Rehalat 25 Liang Tembak 27 Juli 1999
21 Hi. La Mone 56 Buruh Osm Potong
22 Kadir Arsyad 26 Mhs Talake Tembak 28 Juli 1999
23 Ahmad Mhs Tembak
24 La Ane Mhs Latta Tembak
25 La Ali 27 Latta
26 Salim Selamet Mhs Hitu
27 Nurdin Amir 30 Mardika Kena Bom
28 A Tarabubun 60 Peg.Bkpi Poka Potong
29 Rasbianto Osm Pantai Dibacok
30 P. Asbian
31 La Ala Wailiha Dibacok
32 La Utha Wailiha Dibacok
33 Risman Wailiha Dibacok
34 La Nahia Wailiha Dibacok
35 La Madi Kange 30 Wailiha Dibacok
36 Lampone 65 Wayame Tembak
37 Nurhaya 48 Wayame Tembak
38 Suhartono Galala Aniaya
39 Ahmad Tuhulele Galala St.Hairun Aniaya
40 Ali Tuharea Dipotong
41 Tak Dikenal Dipotong
42 Syabur M. L 35 Galunggung Tembak
43 La Ode Man Dipotong
44 M. Pacinan 42 Btm Atas Merdika Tembak 9 Agustus 1999
45 Rizal Watianan 18 SMEA Osm Pantai Bt.Merah Tembak 9 Agustus 1999
46 Marubu Bt.Merah Bt.Merah Tembak
47 Jalil Karepesina 18 Bt.Merah Bt.Merah Tembak 10 Agustus 1999
48 Amir M. Bone Tembak
49 Haris Tembak
50 La Ade Tembak
51 Husen Wakan Poka Tembak 11Agustus 1999
52 Muh. As Wala 22 Iha - Luhu Aster Tembak 12 Agustus1999
53 Muh. Yusuf K 60 Sepa Kebun Cengkih Tembak 12 Agustus 1999
54 Junaidi Arsyad 15 Siswa K. Kolalam K.Kolam Tembak 12 Agustus 1999
55 Said Kurdi 26 Peg Gg.Melintang Tembak 12 Agustus1999
56 Suwardi Djufri 14 Siswa K.CengkihGng.Melintang Tembak 12 Agustus1999
57 Sukri Mun 23 Bt.Merah Tembak 13 Agustus 1999
58 Effendi Tuharea 22 Bt.Merah Tembak 13 Agustus 1999
59 Saleh 30 Nelayan Bt.Merah Aster/Kisar Tembak 13 Agustus 1999
60 Belum Dikenal Aster Dibakar 13 Agustus 1999 61 A. Rahman Wally Aster Tembak 14 Agustus 1999
62 Muh. Saleh Lestusen Aster Kena Bom 14 Agustus 1999
63 Laka Doa Bin L. 27 Dok Wayane Tembak 14 Agustus 1999
64 Rifan Salong 32 Tani N. L. Poka Kena Bom 12-16Agust 1999
65 Halijah/Bugis Bentas Aniaya 15 Agustus1999
66 La Ongke Galala Tusuk 16 Agustus 1999
67 Djen Sangaji Piru 16 Agustus 1999
68 Supardi Bt.Merah Bt.Merah Tembak 16 Agustus 1999
69 Mapuang S. 21 Bentas Osm Tembak 10-16 Agust 1999
70 M. Marasabessy 42 Pasar Lama T.Viktoria Tembak 21 Agustus 1999
71 Jabir M (Labili) 18 Pelajar Batu Meja T.Viktoria Tembak 21 Agustus 1999
72 La Ode Inu 40 Dagang Btm.Tanjung T.Viktoria Tembak 21 Agustus 1999
73 Ali Wagola 39 Tani Limboro Wailela Tembak 19 Agustus 1999
74 Syahril Silehu 20 Guru Aq Luhu Talake Tembak 26 Agustus 1999
75 Abdul Gafur P 24 Tani Luhu Talake Tembak 26 Agustus 1999
76 Katausa S 37 Tani Luhu Talake Tembak 26 Agustus 1999
77 Muh. Ramli P 26 Pedagang Luhu Talake Tembak 26 Agustus 1999
78 Awad Lumaela 21 Kitetu Talake Tembak 26 Agustus 1999
79 Jabir (Bugis) Balai Kota Tembak 28 Agustus 1999
80 Abd. Gani Ely Laha Tembak 01 Septemb 1999
81 Ronald Laha Tembak 01 Septemb 1999
82 Sulaiman Kaliky 29 Tani Luhu Talake Tembak 26-28 Agust 1999
83 Hi Hujair Watihelu Kamp.Gadihu Kamp.Jawa Tembak 03 Septemb 1999
84 La Aca 15 Aster Dalam Kamp.Jawa Tembak 03 Septemb 1999
85 Hamdun Sabloe 30 Tani Morella Perum.Poka Tembak 26 Juli 1999
86 Min Lisaholit Luhu Ariati 22 Agustus 1999
87 Umar Suneth Luhu Ariati 22 Agustus 1999
88 Arifin Yoyo Luhu Ariati 22 Agustus 1999
89 Duhair Selang Iha-Luhu Iha
90 Ofan Kaisupy Iha-Luhu Iha
91 Ramli Kaisupy Iha-Luhu Iha
92 Ibrahim Samal Iha-Luhu Iha
93 Mansur Tutupoho 31 Tani Kulur Kulur Dianiaya 31 Agustus 1999
94 Alwan Tutupoho 35 Karyawan Kulur Kulur Tembak 31 Agustus 1999
95 Hendra Bugis 16 Siswa Kapaha Kp.Jawa Luka Bakar 01 Septem 1999
96 Aman Silehu Luka Bakar
97 Azhar Tuarita 20 Mhs Tial Tial Tembak 07 Septemb 1999
98 Sedek Rolobessy 14 Smp Tial Tial 07 Septemb 1999
99 La Man 20 Tani Keranjang Ds.Kamiri Tembak 10 Septemb 1999
100 Jusmin 13 Tani Keranjang Ds.Kamiri Potong L 10 Septemb 1999
101 Muh. Taher W 40 Pns Galunggung Pos Kota Tembak 10 Septemb 1999
102 Safwan H. N 35 Seith Pos Kota Tembak 10 Septemb 1999
103 Jamal Nahalehu 28 Pos Kota Tembak 10 Septemb 1999
104 Rahim Bugis 20 Dagang Pasar Lama Pos Kota Tembak 10 Septemb 1999
105 Salahuddin A 13 Siswa Galunggung Galunggung Tembak 10 Septemb 1999
106 Bakri Ingratubun 47 Guru Galunggung Al Fatah Tembak 10 Septemb 1999
107 Sudin Ode 26 Pos Kota Tembak 10 Septemb 1999
108 Jufri Weno 25 Mhs Latu/Waihaong Pos KotaTembak 10 Septemb 1999
109 Jafar Kiat Waihaong Pos Kota Tembak 10 Septemb 1999
110 Panjinuddin 56 Waitatiri Potong 06 Septemb 1999
111 Junaidi Wagola 35 Tani Temi Alang Tembak 13 Septemb 1999
112 Andi Susanto 20 Gemba Gemba Tembak 12 Septemb 1999
113 Rajab La Idi, Spi 34 Swasta Laha Poka Dibacok 27 Septemb 1999
114 Muh. Bin B.L 30 Tani Liang Kairatu Kepala Hil 16 Septemb 1999
115 24 Pedagang Latta Ahuru Tembak 20 Septemb 1999
116 Hasna Evi Rumodar Ahuru 20 Septemb 1999
117 Nasaruddin L 50 Galunggung Ahuru Tembak 20 Septemb 1999
118 La Ugo 50 Tani Mangge-2 Ariati Tumbak 23 Septemb 1999
119 Arifin 25 Tani Luhu Luhu Bazoka 23 Septemb 1999
120 Muh. Yamin P 39 Tani Luhu Ariati Bazoka 23 Septemb 1999
121 Umar Suneth 27 Tani Luhu Ariati Tumbak 23 Septemb 1999
122 Djafar Banda 75 Imam La Ala Masjid La Ala Tembak 20 Septemb 1999
123 Wa Ima 45 La Ala La Ala Tembak 20 Septemb 1999
124 La Tima 70 Marbot La Ala La Ala Tembak 20 Septemb 1999
125 La Husen 55 Chotib La Ala La Ala Tembak 20 Septemb 1999
126 Ahmad R 80 Modin La Ala La Ala Tembak 20 Septemb 1999
127 Wa Leha 55 La Ala La Ala Tembak 20 Septemb 1999
128 Hasyim Payapo 90 Tani La Ala La Ala Tembak 20 Septemb 1999
129 La Baudu 26 Tani Ani La Ala Tembak 19 Septemb 1999
130 Ambona S 16 Sd Tnh. Goyang Ariati Parang 06 Septemb 1999
131 Sarlis Rumuar 47 Tani Tnh. Goyang Ariati 06 Septemb 1999
132 Muhammad M 29 Tani Tnh. Goyang Ariati 06 Septemb 1999
133 Tipidu Hukul 36 Tani Tnh. Goyang Ariati 06 Septemb 1999
134 Hasyim Lestaluhu Kariatu Potong 20 Septemb 1999
135 Ihsan Latuconsina Kariatu Potong 20 Septemb 1999
136 La Boby 20 Septemb 1999
137 Mahfudz Suneth 20 Septemb 1999
138 Adi Cakra 17 Siswa Nania Batu Merah Tembak 04-Oktober 1999
139 Ali Semarang 22 Batu Merah Batu Merah Tembak 04-Oktober 1999
140 Zubaedah 43 Batu Merah Batu Merah Tembak 04-Oktober 1999
141 Letda Rizki 29 Danton Denzipur 3 Batu Merah Tembak 04-Oktober 1999
142 M. Ali Lestaluhu 26 Serda Batu Merah Tembak 04-Oktober 1999
143 La Im 13 Diponegoro Ahuru Tembak 06-Oktober 1999
144 Yahdi L 37 Pns Air Kuning Ahuru Tembak 06-Oktober 1999
145 Hamzah R.K 20 Waihaong Ahuru Tembak 06-Oktober 1999
146 Muhtar Efendy 30 Waihaong Ahuru Tembak 06-Oktober 1999
147 Udin Umanahu 16 Kapaha Ahuru Stroom 04-Oktober 1999
148 Abd. Manar R 40 Ahuru Ahuru Tembak 06-Oktober 1999
149 Muhammad Titi Erang Ahuru Tembak 09-Oktober 1999
150 Haifun Mansyur Bentas Air Salobar Tembak 04-Oktober 1999
151 Rasyid Usia 32 Bentas Air Salobar Tembak 04-Oktober 1999
152 Sari Jayanti P 15 Sole Air Salobar Tembak 04-Oktober 1999
153 Nyong P 18 Siswa Siri Sori Siri Sori Aniaya Oktober 1999
154 Hasan Ali K 40 Tani Siri Sori Siri Sori Tembak September 1999
155 Hasan Ismail K 30 Siri Sori Siri Sori Tembak September 1999
156 Sarifuddin S 21 Siri Sori Siri Sori Aniaya 15-Juli 1999
157 Ubed Kaplale 39 Guru Siri Sori Siri Sori Aniaya 15-Juli 1999
158 Tepasiwa A 34 Pelauw Pelauw Dibacok 08-Oktober 1999
159 A. Rahman T 29 Pelauw Pelauw Tembak 08-Oktober 1999
160 Muhammad Samal Iha-Luhu Ariati Tembak 09-Oktober 1999
161 Umar Syiauta Iha-Luhu Ariati Tembak 09-Oktober 1999
162 La Mini 13 Btm Laha Tembak 16-Oktober 1999
163 Kamal 19 Btm Laha Tembak 16-Oktober 1999
164 Babah 18 Laha Laha Tembak 16-Oktober 1999
165 Harun Dusila 20 Tulehu Tial Tembak 16-Oktober 1999
166 Rinto G.K 19 Larike Btm Kena Bom 09-November ‘99
167 Hasyim R 31 Silale Btm Tertembak 09-November ‘99
168 Abu Bugis 40 Petani Tnh. Goyang Ariati Dibakar Oktober 1999
169 La Hayomu 29 Petani Tnh. Goyang Ariati Dibantai Oktober 1999
170 Ahmad Kaisury 42 Iha-Kulur Ariati Panah 25-Oktober 1999
171 Ahmad S 30 Iha-Kulur Ariati Panah 25-Oktober 1999
172 Saede Anakotta 27 Iha-Kulur Ariati Panah 25-Oktober 1999
173 Faisal Slamet 22 Hitu Ariati Hilang 25-Oktober 1999
174 Arman Lestaluhu Tulehu Suli Tembak
175 Hasyim Laomba 41 Halong Baru Kp. Jawa Tembak 24-November ‘99
176 La Nurdin 14 Oihu Kp. Jawa Tembak 24-November ‘99
177 Lantoga 38 Waihaong Gd. Arang Tembak 20-November ‘99
178 Djafar T 39 Hitu Nania Tembak 20-November ‘99
179 Nasar Lulun 48 Hitu Nania Tembak 21-November ‘99
180 Syamsudin P 17 Hitu Nania Tembak 21-November ‘99
181 Ismail Waliulu 20 Hitu Nania Tembak 21-November ‘99
182 La Toga 24 Tel. Kodok Nania Tembak 21-November ‘99
183 Muh. Tuanani 20 Btm Mardika Tembak 26-November ‘99
183 Amidu 19 Btm Mardika Tembak 26-November ‘99
185 Boby Semarang 16 Btm Mardika Tembak 06-November ‘99
186 Ahmad Mardika Tembak 26-November ‘99
187 Yanto Wala Btm Mardika Tembak 26-November ‘99
188 Nurdin Umamity Air Kuning Mardika Tembak 26-November ‘99
189 Prada Suparno Armed Mardika Tembak 26-November ‘99
190 A. Kadir Pelu Mardika Tembak 26-November ‘99
191 Sulaiman Siwan 25 Btm Mardika Tembak 26-November ‘99
192 Hamid Soamole 19 Air Kuning Mardika Tembak 26-November ‘99
193 Saleh Lausepa 30 Manipa Mardika Tembak 26-November ‘99
194 Umar 24 Galunggung Mardika Tembak 26-November ‘99
195 Sakti Harun 31 Galunggung Mardika Tembak 26-November ’99
196 Basri Tuanaya 23 Soabali Mardika Tembak 26-November ’99
197 Gusaer Lekawa Mardika Tembak 26-November ’99
198 Ali Umarella 20 Tulehu Mardika Tembak 26-November ’99
199 Herry Tuhulele 15 Btm Mardika Tembak 26-November ’99
200 Slamet Divinubun 22 Btm Mardika Tembak 26-November ’99
201 Ismail Waliulu 27-November ’99
202 A. Rahman K Air Kuning Ahuru 27-November ’99
203 Bintarati P. 18 Wakal Mardika Tembak 28-November ’99
204 Sertu La Ali 29 Aspol Perigi Lima Tembak 28-November ’99
205 A.D. Abbas 22 Mardika 26-November ’99
206 Ahmad Samal 28 Tani Buano A. Asaude Tembak 03-Desember 1999
207 Hadiah Samal 30 Tani A. Asaude Tembak
208 La Maolo 21 Swasta Bmt-Tanjung Mardika Terbakar 26-November ’99
209 Asnawi 17 Smp Kbn. Cengik Mardika Terbakar 26-November ’99
210 Abidin Rumalusy 25 Geser Mardika Tembak 26-November ’99
211 Rahmat Lina Waesala A. Asaude Tembak 03-Desember 1999
212 La Bano Sana Huni A. Asaude Tembak 03-Desember 1999
213 Duba Tiang Bender A. Asaude Tembak 03-Desember 1999
214 Arif Fuluh H Masika A. Asaude Tembak 03-Desember 1999
215 La Wao Masika A. Asaude Tembak 03-Desember 1999
216 La Jais Tatinang A. Asaude Tembak 03-Desember 1999
217 La Kao Tatinang A. Asaude Tembak 03-Desember 1999
218 La Hane Tatinang A. Asaude Tembak 03-Desember 1999
219 Lanussi Tatinang A. Asaude Tembak 03-Desember 1999
220 La Jaelani Tatinang A. Asaude Tembak 03-Desember 1999
221 Usman Tatinang A. Asaude Tembak 03-Desember 1999
222 Nazar Watimena Buano A. Asaude Tembak 03-Desember 1999
223 Belum Ada Nama Buano A. Asaude Tembak 03-Desember 1999
224 Belum Ada Nama Buano A. Asaude Tembak 03-Desember 1999
225 Belum Ada Nama Buano A. Asaude Tembak 03-Desember 1999
226 Belum Ada Nama Buano A. Asaude Tembak 03-Desember 1999
227 Belum Ada Nama Buano A. Asaude Tembak 03-Desember 1999
228 Belum Ada Nama Jawasati A. Asaude Tembak 04-Desember 1999
229 Belum Ada Nama Jawasati A. Asaude Tembak 04-Desember 1999
230 Belum Ada Nama Melati A. Asaude Tembak 04-Desember 1999
231 Belum Ada Nama Melati A. Asaude Tembak 04-Desember 1999
232 Belum Ada Nama Melati A. Asaude Tembak 04-Desember 1999
233 Abd. Wakano Hualo Seriholo Tembak 19-Desember 1999
234 Rustam Lyly Hualo Seriholo Tembak 19-Desember 1999
235 Belum Ada Nama Tani Gemba Gemba Dibakar
236 Belum Ada Nama Tani Gemba Gemba Dibakar
237 Ali Latuconsina 55 Ruko Btm Trikora Tembak 27-Desember 1999
238 Suardi Abbas 45 Jl. Baru Trikora Tembak 27-Desember 1999
239 Fahmi Tuanaya 18 Cengkih Trikora Tembak 27-Desember 1999
240 A.R. Waliulu 40 Swasta Air Salobar Trikora Tembak 27-Desember 1999
241 Ahmad Suatrat 20 Pelajar Talake Dlm Trikora Tembak 27-Desember 1999
242 Zulfikar Bin Umar Waihaong Trikora Tembak 27-Desember 1999
243 Dahlan Laitupa Ureng Trikora Tembak 27-Desember 1999
244 Ibrahim Idris 22 Sopir Tantui Trikora Tembak 27-Desember 1999
245 Rifai Killiani 14 Siswa Geser Trikora Tembak 27-Desember 1999
246 Iwan Bugis Swasta Btm-Banjo Trikora Tembak 27-Desember 1999
247 La Kaiku 27 Karya Jl. Baru Trikora Tembak 27-Desember 1999
248 Idrus Ohoibar 22 Swasta Trikora Tembak 27-Desember 1999
249 A.Yani Tanassy 27 Soabali Trikora Tembak 27-Desember 1999
250 M. Saleh R Karya Btm-Dlm Trikora Tembak 27-Desember 1999
251 Hamzah Mahu Trikora Tembak
252 Taufan Kelian Trikora Tembak
253 Rudi Rumra 21 Siswa Waihaong Trikora Tembak 27-Desember 1999
254 Sudin Mony 25 Seith Trikora Tembak 27-Desember 1999
255 Ch. Busri M Swasta Diponegoro Trikora Tembak 27-Desember 1999
256 Johny R. R 19 Siswa Waihaong Trikora Tembak 27-Desember 1999
257 Rusdi Idrus 17 Siswa Kbn. Ceng. Trikora Tembak 27-Desember 1999
258 Zainuddin I 29 Buruh Silale Trikora Tembak 27-Desember 1999
259 M. Tahir Mara 45 Waihaong 27-Desember 1999
260 Acang Galunggung Trikora 27-Desember 1999
261 Nafa Rumau 37 Talake Trikora Tebakar 27-Desember 1999
262 Abas Buton 27 Tahomu Trikora Tembak 27-Desember 1999
263 Alimuddin Mara Waihaong Trikora Tembak 27-Desember 1999
264 Ahmad Anggoda Trikora Tembak 28-Desember 1999
265 M. Amin Rery Trikora Tembak 28-Desember 1999
266 Rasyid Marasy- Trikora Tembak 28-Desember 1999
267 Ali Tuanaya Trikora Tembak 28-Desember 1999
268 La Bani Trikora Tembak 28-Desember 1999
269 Mahdi Kaliu Trikora Tembak 28-Desember 1999
270 Epang Trikora Tembak 28-Desember 1999
271 Modal Usman Trikora Tembak 28-Desember 1999
272 Hanafi Tuahuns Talake Trikora Tembak 28-Desember 1999
273 Nanag Thamrin Trikora Tembak 29-Desember 1999
274 Tomoguru Sangaji 27 Rohumoni Rohumoni Tembak 29-Desember 1999
275 Hasan Sangaji 46 Tani Rohumoni Rohumoni Tembak 29-Desember 1999
276 Haji Sangaji 40 Tani Rohumoni Rohumoni Tembak 29-Desember 1999
277 Amri Sangaji 17 Siswa Rohumoni Rohumoni Tembak 29-Desember 1999
278 Djarapatti Tuhuter 21 Rohumoni Rohumoni Tembak 29-Desember 1999
279 Mahasuji 30 Guru Rohumoni Rohumoni Tembak 29-Desember 1999
280 Modar Wasahuwa 19 Kabauw Rohumoni Tembak 29-Desember 1999
281 Surya Malik 45 Diponegoro Diponegoro 30-Desember 1999
282 Ibrahim Seul TNI Waihaong Waihaong Tembak 30-Desember 1999
283 Ismail Pangura Kramat J Kramat J Tembak 31-Desember 1999
LAMPIRAN H I. Kecamatan Malifut
PEMBANTAIAN UMMAT ISLAM DI PROPINSI MALUKU UTARA
DALAM KISAH DAN GAMBAR
Pada tanggal 18 Agustus 1999
Kristiani dari Desa Sosol dan Wangeotak Kecamatan Kao menghardik dan membakar rumah-rumah warga Malifut yang Islam, mengakibatkan ter-jadinya bentrokan fisik sehingga terjadi korban jiwa bagi warga Islam Malifut sebanyak dua orang.
Setelah peristiwa terse-but warga Kristen Kao me-ngumpulkan warga-warga Kristen se Maluku Utara (Kecamatan Kao, Tobelo, Galela, Wasilea, Oba Ternate, Bacan, Loloda, Ibu, Sahu, Jailolo dan warga Ambon) di ibukota kecama-tan Kao kurang lebih 16.000 orang yang dilengkapi dengan Bom rakitan, Bom standar, panah, tombak dan bahan bakar minyak (BBM), dan kemudian pada tanggal 24 s/d 28 Oktober 1999. Kaum Kristen menyerang besar-besaran terhadap Ummat Islam Malifut, mengakibatkan semua rumah dan bangunan pemerintah, sekolah-sekolah hangus dibakar dengan mobil tangki BBM, dan jatuh korban jiwa sebanyak 11 orang, dan luka-luka berat luka ringan sebanyak 25 orang. Sementara itu seluruh warga Islam Malifut lari meninggalkan Malifut menuju Ternate.
Warga Islam Malifut yang sempat dibunuh oleh warga Kristen Kao, mayatnya dihancurkan dengan melepaskan kepala kemudian diarak keliling kota, sedangkan isi perut dibongkar, dan kaki dilepas.
II. Kecamatan Tobelo-Galela
Jum’at, 24 Desember 1999, Pukul 20 10.00 BTWI
Menyongsong Natal 1999 di Tobelo, didatangkan pasukan di gereja dari desa Leleoto, desa Paca dan desa Toba, arah selatan Kecamatan Tobelo. Kedatangan pasukan pengaman gereja dari ketiga desa yang didominasi warga Nasrani itu datang dengan perlengkapan senjata dan ikat kepala merah yang diangkut dengan truk milik Jansen Pangkey. Kondisi ini pentingnya mendatangkan kemarahan warga Muslim di Dufa-dufa Tobelo, menurut warga Muslim, mengapa pengamanan gereja dimalam natal itu, harus dengan perlengkapan senjata?
Pada saat yang sama, di Desa Gurua (yang didominasi warga Muslim) arah utara Kecamatan Tobelo, melalui pendeta Yan Rubawange dengan alasan kebersamaan memintakan warga Islam Gurua menjaga gereja di desa disampaikan kepala Posko. Desa Gurua Kecamatan Tobelo itulah, merupakan pertahanan ter-akhir Ummat Islam Tobelo dan puluhan warga Muslim yang mengamankan diri dalam Masjid Al-Muttaqim Gurua, di Bom dan dicincang mayatnya oleh warga Nasrani (korban yang terbantai kurang lebih 30 orang).
Pertahanan di Desa yang mayoritas Islam ini dibobol dan warga Nasrani dengan leluasa melanjutkan ke desa Popilo arah utara kecamatan Tobelo yang juga penduduknya mayoritas Islam, dibantai oleh warga Nasrani. Pembantaian dilakukan di dalam Masjid Muhajirin Desa Popilo sekitar jam 10.00 BTWI dan korban terbantai sebanyak (kurang lebih) 30 orang.
III. Kecamatan Ibu
Pada tanggal 4 Januari warga Kristen Kecamatan Ibu sebanyak 33 Desa menyerang Ummat Islam sebanyak 7 Desa mengakibatkan seluruh rumah dan bangunan Mesjid hangus terbakar, sedangkan orang tua dan perempuan yang tidak dapat melarikan diri dibantai sebanyak 25 orang dan puluhan yang luka berat dan luka ringan. Sementara masyarakat Islam lainnya diselamatkan oleh kapal perang dan diungsikan ke Ternate.
IV. Kecamatan Sahu
Pada tanggal 4 Januari 2000 kaum Kristen kecamatan Sahu bersama-sama kaum Kristen dari Kecamatan Kao dan Ibu serta Loloda menyerang Ummat Islam yang berada di Susupu dan Taba Cempaka mengakibatkan seluruh warga Muslim diselamatkan ke Ternate.
V. Kecamatan Jailolo
Pada tanggal 4 Januari 2000, semua warga Kristen Jailo, Sahu, Ibu, Kao menyerang Ummat Islam di Jailolo dan Sidangoli, Dodinga, Boso, Bobanego, Tabadami, mengakibatkan Ummat Islam lari menyelamatkan diri ke Ternate, sementara ada aparat Kristen berpihak pada Kristen dan menembak kaum Muslimin.
Jum’at 31 Desember 1999.
VI. Kecamatan Gane Barat
Pada tanggal 5 Desember 1999 kaum Kristen desa Boso yang dibantu warga Kristen desa Senga dan Tawa kecamatan Bacan + 3000 orang menyerang warga Islam desa Fulai dan Dolik Kecamatan Gane Barat dengan menggunakan Bom rakitan, panah, tombak mengakibatkan korban jiwa bagi warga Islam sebanyak 12 orang, sedangkan seluruh rumah warga Islam dibakar sehingga warga Islam mengungsi kepulau Makian dan kecamatan Bacan.Catatan :
1. Tragedi berdarah di Malifut, Tobelo, Galela, Sahu, Ibu, Jailolo serta Halmahera Utara ini merupakan tragedi kemanusian terbesar dalam sejarah kerusuhan di Indonesia. Karena pembantaian dilakukan warga Nasrani terhadap warga Muslim berlangsung dalam Masjid. Bahkan satu desa yang penduduk Islam di habiskan didalam Masjid.
2. Tragedi dan kerusuhan yang dimulai oleh warga Nasrani ini mempunyai cara kerja yang sangat rapi dan sistematis. Diduga keras memiliki jaringan konspirasi dengan tragedi Ambon yang dilancarkan oleh RMS (Republik Maluku Sarani = Selatan). Karena tokoh-tokoh kunci dalam tragedi Tobelo, Galela, dan Halmahera Utara dimotori oleh orang-orang Ambon. Seperti pendeta J. Soselissa (pimpinan jemaat Kupa-kupa Tobelo selatan). J. Huwae (mantan camat Tobelo) Ny. May Luhulima (anggota DPRD Tkt. II Maluku Utara, Fraksi PDIP, juga seorang provokator utama).
Serta ditambah tokoh-tokoh Kristen yang berpengaruh di Tobelo, yakni :
Ir. Hendrik (Hei), Namotemo, MSP, (kepala bidang perekonomian BAPPEDA Tk. II Maluku Utara), Drs. Djidon Hangewa, MS (kepala Dinas LLAJ Maluku Utara), Zadrak Tongo-tongo (ketua pemangku dewan adat Hibualamo Tobelo, pegawai statistik kecamatan Tobelo), suami istri Pieter H. SH (pengurus gereja Katholik) dan Dra. Joice Mahura (pega-wai dinas pari-wisata kantor bupati Maluku Utara).
Hanoch Tonoro (pe-gawai kakancam P&K Tobelo) pen-deta Goltom (dari Batak yang menjadi pimpinan jemaat Gamhoku), serta ketua sekolah tinggi Teologia (STT) GMIH Tobelo dan Civitas Academica-nya (di STT-GMIH inilah tempat bagi warga Nasrani me-nyusun strategi dan pelatihan yang menyerang serta pengendalian alat tempur dilakukan dengan bimbingan tenaga resimen Mahasiswa STT-GMIH dan tentunya tenaga ahli dari luar lingkungan STT).
3. Tragedi di Malifut dimotori oleh Drs. Muhta D. Sangaji (Camat Kao), Beni (warga Kao), H.Sangkop pegawai B.I Ternate), Yosep Jabarnase (guru SLTA Kao), Silfanus Bunga, Sh dan lain-lain. Sedangkan finansial dan perlengkapan lain saat terjadi penyerangan didukung oleh beberapa penguasa warga keturunan (Cina) seperti
- Haenart Kusuma ( pemilik KM. Garuda I) yang mengangkut bahan amunisi dari pulau Bobale, hate mengabulkan permintaan itu. Malam itu gereja di Gurua dijaga oleh Muslim Gurua hingga pagi hari. Padahal semua ini hanya sebuah siasat kelompok merah (Nasrani).
Sabtu, 25 Desember 1999
Pukul 20.45 BTWI
Seorang warga Kristen Tobelo purnawirawan Maitimu ini berjalan menuju kearah Gosoma (yang didominan ditempati warga Kristen). Selanjutnya, dalam waktu tidak terlalu lama, terlihat 5 orang pemuda dari Gosoma mabuk dan berteriak-teriak sambil berjalan kearah tempat pasar kaget (berhadapan dengan toko Central Asia). Padahal saat itu Ummat Islam masih melaksanakan sholat Tarawih. Kelakuan 5 orang pemuda ini membuat masyarakat yang ada dilokasi tersebut kaget dan melarikan diri. Disaat itulah, kelima pemuda yang mabuk itu jalan depan gereja Pantekosta, dari sanalah tiang listrik dibunyikan, suasana mulai mencekam.
Minggu-Senin, 26-27 Desember 1999
Pukul 21.05 BTWI.
Amuk masa mulai pecah. Tiang listrik serta lonceng gereja mulai berbunyi dalam kota Tobelo. Pertikaian berdarah terjadi dimana-mana dan tak dapat dicegah. Ummat Islam Tobelo yang selama ini tidak mengetahui rencana jahat dari kelompok merah (Nasrani) berhadapan dengan perlengkapan senjata seadanya. Sebaliknya masyarakat Nasrani Tobelo memiliki perlengkapan yang luar biasa. Menurut saksi, bahan peledak (Bom rakitan), Bom ukuran standar, sangat banyak sampai-sampai diangkut dengan gerobak dan tiap warga merah (Nasrani) membawanya serta amunisi lainnya dengan mamakai peti. Selain bom rakitan, warga merah (Nasrani) juga memiliki senjata otomatis type “MM” dn ranjau darat (informasi yang berkembang perlengkapan canggih untuk memusnahkan ini dikirim dari Philipina dan Australia melalui Angir talaud). Ledakan bom terjadi dimana-mana. Warga muslim Tobelo banyak yang mengungsi di Masjid, terutama ibu-ibu dan anak. Banyak bangunan yang mulai hancur termasuk Masjid-masjid yang ada di Tobelo. Juga penjarahan oleh warga Nasrani terhadap barang-barang milik warga Muslim, terutama yang punya toko.
Kekuatan masa warga Nasrani justru lebih besar dari pada warga Muslim (sekitar 23.000 orang Nasrani berbanding 7.000 orang Muslim). Kekuatan warga Nasrani yang besar itu ternyata para pengungsi yang ada di Tobelo. Dengan kekuatan yang tidak seimbang itu, Ummat Muslim dibuat bulan-bulanan. Bahkan daging dan darah babi mereka tebarkan dijalan-jalan, bahkan ada informasi hingga kedalam Masjid.
Pada hari Senin 27 Desember 1999 di Desa Dokulamo Kecamatan Galela, warga Nasrani melakukan pembunuhan dan pembataian terhadap Imam Mesjid Nurul Huda Desa Dokulamo, bernama Hi. Jaelani Tobuku. Setelah warga Muslim menguburkan jenazah Imam Hi. Jailani Tobuku tersebut, warga Nasrani membongkar kembali kuburan tersebut, dan jenazah Imam lalu di salib dan memasukan daging babi kemulut Imam tersebut.
Tanggal yang sama (27 Desember 1999) juga terjadi pembantaian terhadap warga Muslim yang berlindung di Koramil Tobelo. Pembantaian terjadi di dalam kantor Koramil dan beberapa warga Muslim dicincang dihadapan aparat dan juga dihadapan Danramil Tobelo. Pihak Koramil tak berbuat apa-apa (atau sengaja membiarkan ?)
Selasa, 28 Desember 1999
Posisi warga Muslim Tobelo terdesak oleh pasukan merah. Akhirnya warga Muslim Tobelo digiring hingga ke Masjid Raya Al-Amin Tobelo. Disinilah warga Muslim terkepung dari semua jurusan. Untunglah ada bantuan dari aparat keamanan dan menghalau pasukan merah. Terjadi evakulasi warga Muslim ke kompi C Yonif 732 keadaan kota Tobelo pada hari itu lumpuh total, tidak ada lagi perlawanan warga Muslim terhadap pasukan merah. Dan hari itu juga, rumah-rumah milik warga Muslim di Tobelo di Bumi Hanguskan oleh pasukan merah.
Di Gamhoku (kearah selatan Tobelo), warga Muslim diajak oleh warga Nasrani Gamhoku, melalui pendeta Gultom (orang Batak) untuk menghadiri peringatan Natal bersama yang dilaksanakan di gereja Gamhoku. Didalam gereja itulah, warga Nasrani mengatur rencana untuk menghabiskan warga Muslim dan juga memaksakan warga Muslim makan babi. Ada jatuh korban jiwa dari warga Muslim dalam gereja.
Rabu, 29 Desember 1999
Di Desa Togolius arah selatan Tobelo yang penduduknya beragama Islam seluruhnya dibantai oleh warga merah (Nasrani) dalam jumlah korban sekitar 400 orang. Tanggal 2 Januari 2000 mayat-mayat di kebumikan jum’at 31 Desember 1999.
Pasukan merah Nasrani yang dipimpin oleh pendeta J. Soselissa dan G. Huwae (mantan Camat Tobelo) bergerak ke Gurua beserta grup Drum band, dengan pengeras suara (megaphon) pendeta J. Soselissa (anjing asuh RMS ?) mengucapkan kata-kata sebagai berikut : “Orang Islam di Indonesia harus dihabisi karena bikin kotor jangan takut, maju terus karena ada bantuan dari Belamda, Inggris dan Australia. Jadikan Tobelo sebagai Israil ke-2. Tokoh-tokoh Islam si Gurua harus ditangkap hidup-hidup seperti H. Abd. Rahim, H. Ahmad (Imam Desa Gurua) dan H. Husri Hakim...” (ucapan ini sempat didengar oleh beberapa Muslim Gurua).
Lampiran I
KESAKSIAN KORBAN KEBIADABAN KAUM KAFIR DI MALUKUKebiadaban massa Kristen terhadap umat Islam di Maluku memang sungguh keterlaluan. “Ini merupakan peristiwa keji yang lebih sadis dari apa yang dilakukan PKI.” Tegas Camat Galela. Drs. Lehwan Marzuki (Republika, 5/1). Dibawah ini hanyalah segelintir dari saksi hidup yang berani memberi kesaksian seputar kekeja-man umat Kristen di Maluku.
Muflih M. Yusuf (15 th) SMP Al-Khairat Kelas III, Desa Popelo, Tobelo: Rabu (21/12/99) pk. 09.00 WIT. Orang-orang Kristen dari Kampung Kusur Telaga Panca, dan Kao menyerang Desa Togolihua yang Muslim. Kami, ribuan umat Islam, berlindung ke Masjid Al-Ikhlas. Masjid dikepung lalu di bom (bom pipa rakitan, menunjukkan bahwa pihak Kristen sudah mengadakan persiapan sebelumnya). Orang-orang kafir itu juga memanah ke dalam Masjid dengan panah yang telah dilumur darah babi. Sebagian dari mereka melempari Masjid dengan batu-batu besar hingga banyak tembok Masjid yang bolong.
Kami yang ada di Masjid kebanyakan anak kecil dan ibu-ibu akhirnya menyerah setelah satu jam di gempur perusuh Kristen. Orang-orang kafir itu lalu menyerbu ke dalam Masjid, lebih dari 500 orang Islam lari keluar Masjid. Ada yang masuk hutan, ada pula yang menyerah. Tubuh saya berlumur darah, mungkin sebab itu mereka mengira saya sudah mati. Di sekeliling saya ada banyak sekali, sekitar 600 orang syahid dengan kondisi amat menyedihkan. Dalam penyerangan itu, saya lihat banyak muslimah yang ditelanjangi orang Kristen. Walau para muslimah itu berteriak-teriak minta ampun, tapi dengan biadab mereka diperkosa beramai-ramai di halaman Masjid dan di jalan-jalan. Setelah itu mereka di bawa ke atas truk, juga anak-anak kecilnya, katanya mau dipelihara oleh orang Kristen. Para muslimah yang tidak mau ikut langsung dicincang hidup-hidup. Orang kafir itu saling berebutan mencincang bagai orang berebutan mencincang ular.
Seorang muslimah digantung hidup-hidup lalu dibakar. Pukul 13.00 WIT, perusuh Kristen itu membakar habis Masjid dengan lebih 600 tubuh syuhada didalamnya. Saya yang penuh luka bakar dengan susah payah keluar dari Masjid lewat tembok yang bolong. Saya mencari orang Islam yang masih hidup, tapi tidak ada. Semua rumah penduduk Muslim juga sudah terbakar. Saya akhirnya bertemu dengan seorang Polisi Muslim dan dibawa ke Polsek. Saya dirawat selama tujuh hari bersama korban yang lain. Dan kini saya berada di suatu tempat di Ternate.
Ibu Musriah (40 th) Pengungsi asal Makian Talaga:
Saya juga berlindung di Masjid yang sama. Lebih dari 50 laki-laki Muslim dicincang termasuk suami saya. Bagian belakang kepala saya juga mereka tebas dengan golok, tapi alhamdulillah saya masih hidup. Telapak tangan saya ini ditembus panah. Saya dan tiga orang anak lainnya diselamatkan aparat Muslim.
Ibu Nurain (20 th):
Suami saya, Asnan, telah syahid dibunuh orang kafir. Saya sendiri dalam peristiwa yang sama kena panah di panggul kiri. Di dalam Masjid, ibu-ibu dan anak-anak kecil banyak yang ketakutan. Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, banyak anak-anak usia balita diambil oleh orang Kristen dengan paksa. Saya memohon dengan lemah agar saya dan anak saya yang masih kecil (3 th) jangan dibunuh. Akhirnya bersama enam Muslimah lainnya, saya diikatkan kain merah di kepala dan di masukkan ke atas truk. Kami melewati Desa Kupa-kupa, di Desa Usosiat, anak saya diambil dan diserahkan ke rumah pendeta. Saya waktu di Masjid juga melihat ada seorang Muslimah yang masih gadis dibakar hidup-hidup gara-gara tidak mau melayani syahwat orang kafir itu.
Ibu Yani Latif (17 th) :
Suami saya telah syahid. Anak saya, yang masih bayi, Nita (13 bulan) diambil orang Kristen. Dengan truk saya juga dibawa ke Desa Kupa-kupa, tapi saya melarikan diri dan kembali ke Togolihua. Masjid Al-Ikhlas telah jadi puing dengan tumpukan mayat yang telah hangus terbakar.
Syahnaim (25 th):
Dua anak saya berusia enam dan tujuh tahun diambil orang Kristen. Sedang adik-nya, Awi (2 th) dicincang mereka hingga syahid. Saya melihat sendiri, bagaimana sadisnya Bahrul (32 th) dibunuh orang kafir. Mayatnya disalib, dan naudzubillah, kemaluannya dipotong. Lalu potongannya itu disumpalkan ke mulut mayatnya. Seorang anak balita, Saddam (5 th) digantung lalu dibelah dari atas ke bawah seperti ikan. Nenek Habibab (80 th) digantung di pohon jeruk yang diikat dengan rambutnya di pohon lalu dicincang.
Hamida Sambiki (18 th):
Muslimah ini diambil paksa oleh orang Kristen dari Masjid An-Nashr Desa Popelo. Ayahnya yang berusaha menahan dibantai. Para perusuh Kristen merencanakan mau mengawinkan Hamida dengan anak pendeta di Tobelo. Namun oleh seseorang yang mengaku keluarga Nasrani, Hamida berhasil diselamatkan ke Polsek Tobelo. Hamida saat di Masid An-Nashr melihat pembantaian umat Islam oleh perusuh Kristen. Munir (25 th) dibakar hidup-hidup dan mulutnya disumpal koto-ran manusia, Haji Man (70 th) dipenggal lalu kepalanya yang sudah terpisah dengan tubuh-nya itu ditusuk dengan panah dan dibuat mainan diputar-putar di dalam Masjid. Hamida juga melihat bagaimana se-orang Muslim, Malang (50 th), dibunuh secara sadis. Kemudi-an jantungnya diambil. Orang kafir yang mengambil jantung-nya berkata, “Ini buat hadiah lebaran”
Ridwan Kiley (29 th) dan Ibu Rahmah Rukiah:
Keduanya penduduk Desa Lamo, Kecamatan Galela. Menuturkan kesaksiannya, setelah selamat dari neraka pembantaian orang Kristen di Galela (26/12), di Islamic Centre, Ambon, seperti dikutip Republika (5/1). Pada ahad sore (26/12/99), Kecamatan Galela yang didiami mayoritas Muslim diserang massa Kristen dari tiga Kecamatan mayoritas Kristen: Loloda, Ibu, dan Tobelo. Penyerangan di Galela, juga menimpa Desa Lamo. Pukul 14.00 siang lebih dari 7.000 massa Kristen menyerang. Sekitar 200 warga Muslim Desa Lamo bertahan. Perlawanan itu dipimpin Imam Masjid Nurul Huda, Drs. Lamo, H. Jaelani. Saat itu, masa Kristen memotong puluhan ekor babi disepanjang kampung dan darahnya dilumuri kesenjata-senjatanya. “Wanita-wanita mereka juga bertelanjang dan menari-nari di sepanjang kampung,” kata Ridwan dan Ibu Rukiah. Tak berapa lama, serentak dilakukan dan Desa Lamo dikepung. Dalam pertempuran, Imam Djailani menemui syahid. Dengan sadis mayat Imam Djailani di salib dan ditempatkan di perbatasan Desa Lamo dan Kampung Duma. Setelah beberapa jam tergantung di tiang salib, baru pada malam harinya mayat Imam Djailani diturunkan dan dikuburkan oleh warga Muslim yang berhasil menyelamatkan diri.
Imran S. Djumadil (37 th), Muslim Ternate:
Awalnya adalah serangan orang Kristen terhadap umat Islam di bulan Oktober 1999 di Ternate, bisa jadi merupakan rembesan dari kasus Ambon. Sepekan setelah penyerangan itu 13 November, saya di datangi pasukan Sultan Ternate, Mudafarsyah. Sultan itu beristeri tiga, ada yang Islam ada yang Kristen hingga akidah Mudafarsah tak jelas. Sultan menyusun daftar nama seratus orang Islam Ternate yang akan dihabisi. Disamping kebenciannya terhadap Islam, Sultan amat berambisi unutk jadi Gubernur Maluku Utara.
Untuk itu, semua orang Islam yang berpengaruh harus dihabisi. Pada 13 November 1999 siang, saya ada dirumah. Tiba-tiba datang lima belasan orang pasukan Sultan lengkap dengan golok dan atributnya hendak menculik saya. Namun batal disebabkan warga sekitar dengan cepat menolong saya. Pasukan Sultan dikenal dengan istilah Pasukan Kuning. Sejak itu saya yang tergabung dalam Jamiatul Muslimin kian sulit berdakwah. Keamanan tidak ada lagi di Ternate. Saya keluar dari tempat kerjaan karena ditekan Sultan.
Akhirnya saya berencana untuk bawa isteri dan anak saya tiga orang, yang terkecil 5 th dan terbesar 10 th ke Jakarta. Pada 20 November, saya mengantar keluarga ke pelabuhan, berangkat dengan KM. Lambelu. Pukul 16.30 waktu setempat, kami meluncur ke pelabuhan Ahmad Yani. Ternyata disana sudah siap seratusan Pasukan Kuning lengkap dengan golok. Di pintu masuk pelabuhan saya dikepung aparat keamanan yang ada di sekitar tak berbuat apa-apa.
Saya langsung dibawa ke Pendopo Keraton Sultan Ternate. Anak-anak saya saat itu sudah naik kapal bersama neneknya. Isteri saya tidak berangkat. Sampai di Pendopo, sekitar dua puluh menit mereka bersitegang, apa saya akan di bawa ke Pendopo atau dibawa ke tempat lain. Saya sendiri sudah bertawakal pada Allah, merasa ajal sudah dekat. Di Pendopo saya dikelilingi ratusan Pasukan Kuning. Mereka histeris, bernafsu sekali ingin mencincang saya. Lalu, anak perempuan Sultan, keluar dan berkata, “Jou (bahasa Ternate, artinya ‘Yang Dipertuan’) suruh Imran dibawa ke batalyon.” Saya segera diseret ke instalasi Militer Yon 732 Ternate.
Entah kebetulan atau memang sudah direkayasa, hari itu semua tentara yang piket beragama Kristen. Begitu saya digelandang masuk, dua orang tentara mengejek, “O”, ini orangnya yang mendanai kerusuhan dengan uang 300 milyar!” Perasaan takut saya langsung hilang, saya malah ketawa mendengar fitnah yang malah terasa lucu. Kredit saya di bank saja belum lunas, bagaimana saya punya uang 300 milyar? Jika saya ada uang begitu besar, mugkin saya tidak tinggal di Ternate. Ada pula yang bilang, “Kamu ini yang menghina komandan Batalyon!” Saya padahal tidak tahu siapa komandan Batalyon ataupu wakilnya.
Ternyata setelah belakangan saya ketahui bahwa komandannya seorang Katholik. Tanpa banyak bicara, saya akhirnya langsung disiksa. Sepuluh orang bergantian menyiksa. Dari Pasukan Kuning ada empat orang, dan tentara dari Yon 732 enam orang, semuanya kafir. Sekujur tubuh saya dipukul dengan popor senjata M-16 dan tendangan sepatu laras. Baju saya compang-camping penuh berlumur darah. Mereka juga menggunakan tang untuk mencabut kuku jari saya, tapi alhamdulillah tidak bisa. Lalu mereka ambil korek api. Dinyalakan dan dimasukkan ke dalam mulut saya.
Api yang berkobar itu menghanguskan bibir saya. Belum puas dengan itu, orang-orang kafir itu menyulut tangan saya dengan rokok berkali-kali. Tendangan dan poporan senjata asih saja bertubi-tubi mendarat di tubuh. Badan saya hancur. Itu dilakukan sejak pukul 17.00 sore hingga jam sepuluh malam. Semua baju saya disobek-sobek, hingga hanya celana dalam yang tersisa. Saya tidka pingsan, tapi mata saya sudah tertutup, tidak bisa melihat. Kepala saya jadi besar, bengkak-bengkak. Saya hanya bisa beristigfar pada Allah SWT.
Isteri saya ketika pertama kali menjenguk bilang bahwa saya seperti Gajah Mada. Ketika keluar, doker bilang bahwa tulang saya sudah remuk semua dan tak mungkin pulih. Tapi Maha Besar Allah, setelah di rontgen, dokter bilang bahwa tak ada satu tulang pun patah. Beberapa orang yang menjenguk saya pingsan karena tidak tahan menyaksikan keadaan diri saya yang tidak karuan wujudnya. Mengerikan. Banyak yang menganggap bahwa saya sudah meninggal. Dari omongan para penyiksa itu, saya biasa dengar bahwa mereka berniat mau menghabisi saya pagi harinya.
Namun Alhamdulillah, isteri saya dan teman-temannya berusaha agar saya bisa dikeluarkan. Mereka menghubungi Sultan Bacan dan Komandan KODIM. Komandan KODIM tidak ada, digantikan wakilnya, yang menggantikan adalah teman saya, Pak Slamet. Dia itulah yang menghubungi Polres untuk mengirim satu truk pasukan Brimob dari Kalimantan ke Yon 732. Akhirnya saya bebas sekitar jam dua malam. Saya yang hanya bercelana kolor dikembalikan ke rumah. Esoknya saya dirawat di RSU Ternate selama tiga hari, tapi karena keadaan tidak aman, saya dilarikan ke salah satu Kabupaten di Tedore.
Di sana saya diobati secara tardisional, sekitar 18 hari. Hari ke-20 saya diloloskan dengan KM. Ciremai untuk diobati di Jakarta. Tanggal 20 Desember 1999 saya tiba di Jakarta, pukul 12.00 WIB. Pada hari yang sama, jam 15.00 WIB, saya diterima oleh Presiden Gus Dur dan Wapres Megawati. Saya yang tadinya berharap banyak pada pemimpin bangsa malah jadi pesimis. Betapa tidak, ketika saya diperkenalkan oleh Thamrin Amal Tomagola-Sosiolog UI kepada mereka, “Inilah salah satu korban kebiadaban yang ada di Maluku Utara, yang dilakukan oleh orang-orang Kristen di sana.” Saya berharap ada sedikit empati akan nasib saya dengan menanyakan bagaimana kesehatan saya selama ini. Tapi ternyata tidak. Gus Dur mungkin tidak bisa melihat kondisi saya, tapi Megawati yang terang-terangan melihat saya ternyata hanya diam saja. Mega sama sekali tidak menanyakan saya.
Saya kecewa dengannya. Saya akhirnya berkumpul dengan keluarga di pengungsian di Jakarta dengan kondisi seadanya. Saya hanya bisa berdoa pada Allah agar saudara-saudara saya di Maluku bisa selamat, “Ya Allah, tunjukkan bahwa yang haq itu haq dan yang bathil adalah bathil.”
( Rizki Ridyasmara sumber :Tim Investigasi Pos Keadilan Peduli Ummat Ternate).Bersambung Ke Bab 3-00