Bagian KEDUA Bab 2-13
KONFLIK ANTAR UMAT BERAGAMA
DI AMBON & MALUKU
PERKEMBANGAN KE DEPANKEHIDUPAN rukun yang kita rasakan sebelum kerusuhan terjadi haruslah kita akui sejujur-jujurnya bahwa yang terjadi itu adalah kepura-puraan, kita tutup rasa curiga dihadapan, tetapi dibelakang kita berkeluh kesah menerima perlakuan yang terasa kurang adil. Rasa mengalah terus sejak jaman penjajahan Belanda kita terima sampai 54 Tahun Indonesia Merdeka.
Kita akui bahwa dalam hubungan berkawan orang-perorangan begitu akrab dan manis tetapi dalam hubungan besar antara masya-rakat Kristen dan masyarakat Islam selalu ada sesuatu yang menggan-jal karena Kristen dalam hubungan orgnisasi memiliki tujuan yang mendiskriditkan pihak Islam. Hal seperti itu menjadi rahasia umum bagi kita ummat Islam, mereka begitu solid sehingga bisa merenca-nakan banyak hal dan berjalan mulus.
Peristiwa Idul Fitri Berdarah ini merupakan puncak dari rencana jahat yang selama ini dilaksanakan. Melihat tujuan pembersihan Muslim di Ambon (Maluku) tampaknya mereka belum berhasil, karena itu apakah benar kasus ini akan segera berakhir mengingat kedua belah pihak belum siap memasuki fase penghentian permusuhan.KERUKUNAN SEMU.
Kerukunan antara masyarakat Islam–Kristen selama ini semu, karena secara teratur lewat GPM dipompakan terus kebencian terhadap masyarakat Islam. Setelah terjadi kerusuhan yang telah berkembang menjadi perang agama ini, maka kerukunan yang semu itu telah sirna diterjang banjir darah dan amukan api yang membakar pada kedua belah pihak. Dendam yang dalam dan kebencian akibat saling bunuh dan bakar itu terus berkembang. Kalau begitu bagaimana prospeknya ke depan? Semua itu sangat tergantung pada proses penyelesaian ke depan, bila penyelesaian itu jujur, normal sesuai kaidah hukum yang berlaku tidak perlu ada kepentingan lain maka upaya penyelesaian akan bisa berhasil. Sekali lagi penyelesaian itu bisa berhasil bila ada kemauan yang keras tanpa ada embel-embel kepentingan apapun. Yang salah dihukum jangan mencari-cari yang akan disalahkan (Kambing Hitam). Apabila hal itu terjadi maka pihak yang ditugaskan menyelesaikan akan ikut bertanggung jawab karena tidak akan selesai permasalahan ini dalam arti sesungguhnya. Mengapa begitu ? Pihak Kristen akan terus memaksa kehendaknya di waktu yang akan datang sedangkan yang Islam tetap mendendam karena mendapat perlakuan tidak adil berikutnya yang dipaksakan dalam proses penyelesaian. Karena itu perdamaian semakin jauh dan kehidupan penuh curiga semakin berkembang, ada garis imajiner yang memisahkan kehidupan kedua masyarakat ini untuk waktu yang lama.
Tetapi kemungkinan yang lebih baik terbuka lebar asalkan ada kejujuran, objektivitas dan kemauan baik (Political Will). Penyelesaian yang jujur itu tidak akan menimbulkan kerugian bagi masyarakat banyak Kristen sebab mereka sekedar alat untuk mencapai tujuan politik GPM/RMS yang terkait dengan kepentingan Kristen se-Indonesia / se-Dunia. Mereka akan terbebas dari berbagai tuntutan, yang dikejar adalah elit dan tokoh yang menjadi aktor intelektual.
Di masyarakat Islam justru terjadi hal sebaliknya sebab masyarakat Islam secara keseluruhan telah dijadikan objek kepentingan politik pihak Kristen (dalam hal ini Para Aktor Intelektual). Orang perorangan ummat Islam telah menjadi sasaran pembunuhan, pembakaran dan pengusiran (pembersihan). Mengatasi permasalahan dendam ummat Islam jauh lebih berat karena kerusuhan ini telah memasuki sektor paling rawan (Agama).
Memahami permasalahan seperti itu maka perdamaian dimulai dengan penyelesaian masalah pokok yaitu organisasi perencanaan dan penggerak kerusuhan (Moslem Cleanship) harus dibongkar para elitnya ditangkap, diperiksa, diajukan ke pengadilan dan dikenakan hukuman sesuai aturan hukum bagi ide separatis dan kejahatan berencana ini. Sesudah tidak ada lagi otak penggerak ide separatis atau kepentingan politik tertentu barulah perdamaian itu dapat diwujudkan secara alamiah tidak dipaksakan. Seremonial sebesar apapun tidak punya makna, bila semangat untuk hidup damai itu belum ada, perasaan dan pikiran mereka masih dipenuhi keinginan mengusir Islam dari Maluku.MEMBANGUN PERDAMAIAN YANG SESUNGGUHNYA.
Kita harus merubah cara berfikir yang seremonial dan prestatif, upacara besar mengacarakan damai tidak jadikan lahan yang subur untuk menanam pohon perdamaian. Pohon itu keliru berbau prestatif untuk kepentingan elit padahal kita sadar betul bahwa lahan itu gersang pohon perdamaian segera kering dan mati. Marilah kita cari lahan yang benar-benar subur karena cukup unsur hara didalamnya. Kita perlu menghilangkan dulu hama yang selama ini telah menim-bulkan penyakit seberat ini. Pangkas habis oknum dan organisasi perusak itu, baru kita kembangkan semangat hidup rukun tidak de-ngan cara paksa tetapi nikmatnya hidup rukun menjadi daya tarik yang alamiah. Program kampanye perlu karena harus diprogramkan diperkenalkan dan dirangsang, diajak mau mengerti menutup pelu-ang anasir yang akan menggagalkan. Di atas lahan semangat hidup rukun itulah kita tanamkan bersama pohon perdamaian itu.
Insya Allah akan tumbuh perlahan, akarnya menguat tahan terpaan angin keras, ia tumbuh semakin subur kalau kita pelihara terus diberi pupuk dan hilangkan setiap hama yang menempel.
Maluku milik kita semua sebagai bagian tak terpisahkan dari negara kesatuan RI yang direbut dari penjajah dengan jiwa, darah dan air mata??Bersambung Ke Bab 2-14