Bagian KEDUA
KONFLIK ANTAR UMAT BERAGAMA
DI AMBON & MALUKU

Bab 2-11
BUKTI-BUKTI PIHAK KRISTEN
SEBAGAI PERENCANA DAN PELAKU KERUSUHAN

SELAMA ini telah terjadi beberapa kali dialog Islam Kristen membahas kasus kerusuhan Ambon, setelah sampai pada materi siapa yang memulai pembicaraan menjadi tidak berujung pangkal. Pihak Kristen dengan berbagai argumen tadinya berskala meyakinkan pihak Islam dan semua yang hadir bahwa Islamlah yang mulai dengan menunjuk kasus Batu Merah–Usman memalak Yopie di sore hari tanggal 19 Januari 1999 di saat ummat Islam sedang merayakan Idul Fitrinya.
Betapa liciknya Kristen dengan akal bulus didukung intelegensia yang tinggi menyiapkan suatu rekayasa untuk menipu banyak pihak termasuk aparat keamanan dan pemerintah. Tetapi pada penyelesaian pada tingkat lebih tinggi permainan seperti itu tidak akan laku. Rekayasa Batu Merah itu lingkupnya taktis, semua orang boleh bicara saling tipu saling membohongi, tetapi begitu pihak Kristen diajak berbicara lingkup strategi maka argumen taktis itu pasti jatuh.
Kasus ini harus dilihat sebagai suatu keutuhan yang menyeluruh (Konprehensif Integrated) mulai 2 a 3 tahun kedepan agar kita bisa melihat secara jelas suatu perencanaan besar. Kalau hanya Kasus Batu Merah tidak akan menjadi seperti ini seperti kata Kapolri pada waktu itu bahwa yang terjadi ini adalah Kriminal murni dan Gubernur pun meyakini sebagai soal sepele.

PROSES PANJANG MEREKA
Dari pengamatan dua sampai tiga tahun kedepan maka pada hari ketiga sudah dapat dipastikan bahwa ini perencanaan besar oleh Kristen Indonesia yang didukung Kristen internasional. Pendapat seperti itu seperti sudah merupakan  aksiomatis (pasti dan tidak mungkin tidak). Seperti pada bab akar permasalahan dijelaskan mulai adanya kasus Hijau Royo-royo, pembakaran gereja-geraja dan milik cina Kristen. Kasus-kasus itupun rasanya hasil rekayasa otak-otak brilyan dengan dana yang besar. Orang seperti itu ada seorang di Indonesia agamanya Kristen, kita yang kurang awasi dia padahal tingkat bahayanya tinggi. Kecurigaan yang besar justru karena orang besar dan pandai seperti itu tidak muncul ke permukaan, sepertinya ia menerima nasib saja setelah turun tahta padahal kita tahu bukan begitu watak politikus yang militer dan militan ini, ia pasti bermain dengan halus sekali dengan menggunakan keahliannya dibidang intelejen. Singkatnya kemajuan Islam dibuktikan dengan Hijau Royo-royo telah menyingkirkan pihak Kristen di Indonesia yang tadinya menguasai berbagai lapangan kepentingan seperti ekonomi dan keuangan serta politiknya, kalau mereka disingkirkan, maka mereka akan melakukan aksi pembalasan dan merebut lagi posisi  Bargaining itu dengan dukungan dan besar dari Kristen sedunia yang hasilnya bisa kita lihat betapa hancurnya pemerintahan Suharto, Habibie dan mungkin sekali pemerintah K.H. Abdul Rahman Wahid. Kita perlu mengkaji tentang membesarnya kekuatan PDI-Perjuangan secara signifikan, jangan dipisahkan dari rencana besar ini, jadi ummat Islam di Ambon sesungguhnya hanya sebagai objek garapan atau menjadi Kelinci percobaan dari rencana besar ini.
Kalau kita yakin bahwa kasus Ambon ini merupakan bagian dari rencana besar maka kita juga harus yakin pula bahwa langkah berikut yang akan dimainkan oleh pihak Kristen adalah didatangkannya Lembaga Hak Asasi Internasional untuk sampai kepada kesimpulan bahwa yang terjadi ini adalah suatu rencana untuk pembersihan Kristen di Indonesia. Bagaimana lembaga HAM internasional yang punya Kristen itu membuktikan bahwa terbukti di Ambon yang terjadi adalah Cristian cleansing bukan Moslem cleansing seperti yang kita katakan. Pembuktian bahwa tidak ada Cristen cleansing di Indonesia adalah urusan pemerintah, TNI dan Polri serta para elit politik di tingkat nasional.
Yang menjadi urusan kita di Ambon adalah membuktikan bahwa acara besar ini merekalah yang merekayasanya dan pembuktian itu bukan sekedar menolong kita ummat Muslim di Ambon, tetapi menolong pemerintah dan negara tercinta RI. Kita buktikan bahwa ummat Islam di Maluku hanya menjadi objek garapan dan konspirasi besar terhadap pemerintah dan bangsa Indonesia sebagai suatu cara untuk merebut posisi bargaining yang kuat agar Kristen di Indonesia tidak boleh diganggu gugat apalagi peranannya dikecilkan.
Karena itulah, kepada semua elit politik dan para tokoh di Ambon menanggapi masalah ini secara proporsional. Bersatulah kita dalam misi berat ini dengan melakukan pembuktian bahwa pihak Kristen dengan rencana besar telah menjadikan ummat Islam di Ambon sebagai objek garapan Kristen Indonesia. Kita juga menghimbau TNI/Polri untuk lebih jelas melihat persoalan ini agar dalam penyele-saiannya tidak menimbulkan persoalan baru yang jauh lebih berat yang nantinya tidak mampu dipikul lagi oleh kita bangsa Indonesia.

PEMBUKTIAN YANG EFEKTIF
Ada empat faktor pembuktian sebagai berikut :
a. Tiga faktor penentu suatu kesimpulan yang akurat. (Tgl/waktu, TKP dan jumlah rumah yang dibakar)
b. Analisis perencanaan strategis dengan penggunaan fakta lapangan sebagai alat bukti.
c. Bukti-bukti lapangan sebagai saksi bisu yang tidak dapat berbohong.
d. Saksi hidup dibawah sumpah.
Dengan keempat alat bukti diatas Ummat Islam telah sampai pada kesimpulan yang mendukung pendapatnya sejak kerusuhan pertama bahwa Kristen merencanakan pembersihan ummat Islam di  Maluku. Silahkan periksa lampiran.

TIGA FAKTOR PENENTU.
Tiga faktor penentu ialah :

a. Tanggal / Waktu
Pada tanggal dan Jam yang tertera telah terjadi penyerangan oleh suatu golongan terhadap golongan lain. Pada hari yang sama terdapat juga penyerangan di tempat lain, karena itu faktor ini mengungkap urutan kejadian dalam sehari (Tgl/Jam)  sehingga terlihat urutan yang jelas karena urutan itu akan memberikan arti khusus, mana yang terjadi lebih dahulu.

b. Tempat Kejadian Perkara ( TKP )
Serangan satu pihak terhadap pihak lain akan terjadi benturan, bila pihak yang diserang tidak tahu akan ada serangan maka mereka tidak siap menangkis serangan itu, mereka tidak bergerak keluar kampung menghadang para penyerang agar pertempuran tidak terjadi di kampungnya sebab bisa berakibat kerugian lingkungan yang dalam kasus Ambon adalah terbakarnya rumah-rumah penduduk.
TKP ini saksi bisu yang tidak bisa direkayasa apalagi dipindahkan. Semua perkampungan Islam yang dibakar adalah karena serangan Kristen, jelasnya TKP ada di areal perkampungan Islam. (Satu bulan pertama dalam daftar kronologis)  TKP berikut juga membuktikan rencana dan pelaksanaan serangan oleh pihak Kristen adalah TKP terbakarnya sejumlah mobil, sepeda motor dan becak milik ummat Islam di areal/sektor Kristen, bukti yang masih membekas sebagai saksi bisu adalah aspal yang terbakar ( Jalan Raya ). Bukti ini harus segera direkam sebelum dihilangkan dengan mengaspal kembali permukaannya, apalagi ada niat menghilangkan bukti tersebut.

c. Korban Rumah yang Terbakar.
Dalam tiap serangan selalu ada korban jiwa dan harta benda khususnya rumah yang dibakar atau dijarah. Untuk kepentingan pembuktian faktor korban jiwa untuk sementara tidak perlu diangkat karena sebagian tidak meninggal di TKP, tetapi ada yang beberapa hari kemudian, jadi dengan penggunaan bukti korban rumah yang dibakar sudah cukup menunjuk adanya penyerangan yang membakar rumah.
Pembuktian ini sangat akurat dapat dilihat pada daftar lampiran  - A Naskah ini.
Pihak Kristen dipersilahkan membuat daftar yang sama dengan menggunakan faktor tanggal waktu yang sama, dimanakah TKP yang akan mereka rekayasakan dan buktikan rumah yang dibakar oleh penyerang. Waktu peristiwa (Tanggal dan Jam) akan mengungkapkan apa yang telah terjadi sebelum hari H Jam J dan kelanjutannya selama ( Cukup ) sebulan.
Dengan amat mudah disimpulkan bahwa serangan–serangan itu dilakukan oleh pihak Kristen dan pasti melalui suatu perencanaan yang matang, dilaksanakan dengan pengendalian dan pengomandoan   yang canggih dan terencana.

ANALISIS FAKTA LAPANGAN SEBAGAI CARA MENENTUKAN PERENCANAAN STRATEGIS.
Pada Bab IV ( Proses Terjadinya Kerusuhan dan Perkembangan-nya)  titik A diuraikan oleh penulis tentang perencanaan kerusuhan yang dimulai  jauh sebelum terjadinya peristiwa berdarah pada tanggal 19 Januari 1999  Beberapa tulisan pendukung dengan Judul :
a. Menelusuri kesalahan Dan Rem 174/PTM pada Kasus Batu Gajah Berdarah.
b. Jadi Mahkamah Peradilan terhadap Dan Rem 174/PTM Kol. Hikayat.
Kedua tulisan tersebut, ditulis pada minggu terakhir bulan Nopem ber 1997 untuk diterbitkan pada harian Suara Maluku dengan tujuan mengajak masyarakat mengerti duduk permasalahannya, jangan meng hujat Kol Hikayat Dan Ren 174/PTM karena tindakan yang bersang-kutan sangat tepat waktu dan kadarnya tepat sehingga terhindar dari korban yang jauh lebih besar.  Pada waktu itu tercatat beberapa tokoh Cendekiawan Islam juga terbawa menghujat selain mahasiswa Islam Unpatti (PMII )
Kedua tulisan tersebut batal dimuat karena Surat Kabar Suara Maluku karena ternyata menjadi corong propaganda  dan perang urat syaraf Kristen setelah pecah Kasus 19 Januari 1999 yang lalu. Selain itu Kol Hikayat tidak berkehendak mempermasalahkan pelecehan dan penghujatan yang dilakukan oleh pihak Kampus dan Politisi Kristen, Yang bersangkutan tampak cukup stress akibat kasus Jum'at malam yang terlampir dengan judul Mahkamah Peradilan terhadap Kol.Inf. Hikayat.
Jadi analisis fakta lapangan dalam judul ini dapat dipelajari pada  lampiran A, C dan D

SAKSI BISU YANG TIDAK DAPAT BERBOHONG.
1) Rumah yang dibakar, kenderaan roda empat, sepeda motor dan becak dibakar pihak Kristen. Para pemilik yang tidak eksodus dapat dicari untuk membuktikan bahwa BPKB (Buku Pemilik Kendaraan Bermotor) ada tapi tetapi kendaraannya telah masuk tempat penampungan rongsokan kendaraan terbakar di Latuhalat. Kendaraan-kendaraan tersebut telah dipreteli mesin dan bagian-bagian yang masih bisa dimanfaatkan ( suatu kesengajaan ) yang telah direncanakan. Demikian juga dengan bangkai becak yang akhirnya jadi masalah .
2) Aspal yang terbakar akibat pembakaran kendaraan bermotor yang terjebak di sektor Kristen masih membekas, semoga tidak ada rencana pengaspalan baru dengan tujuan menghilangkan bekas aspal yang terbakar itu.
3) Sektor pemukiman Islam tidak terdapat kendaraan pihak Kristen yang dibakar, tidak ada bekas aspal terbakar pada kerusuhan pertama sampai mendekati kerusuhan kedua.
4) Rumah-rumah yang dibakar seperti tertera pada titik C diatas dengan lampiran yang cukup akurat, keseluruhan TKP nya di sektor Islam.

SAKSI  HIDUP YANG  DISUMPAH.
Sejumlah saksi hidup telah menyaksikan sendiri secara langsung sejumlah kegiatan pihak Kristen yang jelas-jelas menunjukkan bahwa kegiatan yang mereka lakukan adalah bagian dari penghancuran Ummat Islam di Ambon pada tanggal 19 Januari 1999. Pembuktian bahwa kegiatan yang besar ini melalui suatu perencanaan yang rapih, canggih dan tuntas maka objek pengamatan dibatasi pada peristiwa / kejadian sebelum hari H jam J dan dan beberapa jam sesudah hari-H Jam-J ( s/d H+1).

Peristiwa sebelum Hari-H Jam-J.
Para penderita  / korban akibat peristiwa
a) Desa Wailete
b) Desa Bak Air
c) Kota Kecamatan Dobo
d) Desa Batu Koneng
e) Dan beberapa kasus lainnya.
Para korban ini berada di penampungan pengungsi dan sebagian sudah eksodus tetapi dengan pencarian secara khusus mereka dapat ditemukan.
Konsentrasi massa dan tindakan penyerangan.
a) Perpindahan massa Kristen dengan sejumlah kendaraan Truk yang melintas diperkampungan Islam dalam rangka konsentrasi mulai jam 12.00 WIT tanggal  19 Januari 1999 disaksikan banyak orang.
b) Penyerangan terbatas kearah Desa Hulung (Islam) oleh Desa Ben-teng Karang, menunjukan mereka tidak sabar menunggu Jam-J.
c) Kasus Dobo berdarah setelah Sholat Jum’at jelas menunjukan rencana yang sama dengan Ambon tetapi mereka mendahului beberapa jam karena kurang Koordinasi.

Peristiwa sesudah Hari-H Jam-J. (sesudah kira-kira 3 Jam 17.00 )
a) Penyerangan terhadap Kampung Waringin di Batu Gantung pada tanggal 19 januari 1999  ±  jam 16.30  WIT
b) Pelemparan Bom Molotov ke desa Batu Merah Dalam  dari arah Karang Panjang pada tanggal 19 Januari 1999 Jam 18.00 yang letak-nya diatas Desa Batu Merah Dalam.
c) Pelemparan Bom Molotov ke kampung Diponegoro oleh Kristen diatasnya. Bom Molotov belum dikenal oleh masyarakat Islam. Tidak ada aksi perlawanan dengan Bom.
d) Tersedianya Bensin untuk membuat Bom Molotov di desa Kristen diatas Kampung Diponegoro merupakan hal khusus karena di desa tersebut tidak ada yang memiliki kendaraan bermotor karena letak desa tersebut dibagian yang tinggi ( bukit ). Dengan kata lain bensin tersebut sengaja disediakan untuk membuat Bom Molotov.
e) Konsentrasi massa Kristen di Lapangan Merdeka dan Komplek Gereja Maranatha yang pada sekitar jam 21.00 tanggal 19 Januari 1999 sudah mencapai  ± 5000 orang ( Taksiran orang pasar yang melintas dekat Gereja dan lapangan Merdeka). Massa diperkira-kan sebagian besar dari kampung-kampung digunung dan dibalik gunung di timur kota Ambon. Perpindahan ini cukup aman karena tidak diketahui desa Islam kecuali penduduk suku Buton di pegunungan yang telah melapor hal itu ketika menjadi pengungsi di Al-Fatah dan THR
f) Serangan Pertama terhadap Masjid Raya Al Fatah pada hari H Jam 22.00 oleh massa dari lapangan Merdeka melalui jalur Jl. A.Y. Patty dan Jalan Anthony Rhebook.
g) Serangan yang sama kearah masjid Raya Al Fatah pada Hari H + 1 ±  Jam 05.00. saat shalat Subuh di Masjid.
h) Penggunaan Parang Panjang dengan jumlah yang banyak dan seragam serta menggunakan atribut  ikat kepala merah.
i) Corat-coret di dinding dan tembok membanggakan Israel dan RMS, menghina Rasulullah SAW dan Yel-yel  Mena Moeria menang (Salam Kebangsaan RMS) pada hari pertama ke kampung Waringin dll.
j) Barikade yang menutup jalan Batu Gantung – Air Salobar lewat OSM dialihkan lewat Kudamati yang dihadang juga dengan Barikade Zig-Zag untuk mengontrol setiap kendaraan  termasuk Truk pengangkut Pasukan. (suatu rencana taktis yang baik)
k) Pemasangan Salib dengan tulisan mengusir suku BBM serta pernyataan sebagai basis Israel mulai  H + 1 pagi di jalan Dr. Kayodoe (Kudamati).
l) Pembakaran Pasar dan Toko-toko milik ummat Islam pada H Jam 22.00 s/d H + 1 dan berkelanjutan dimana-mana dalam kota Ambon.
m) Becak dalam jumlah besar terjebak disektor Kristen, yang tidak dibakar diakui sebagai milik gereja dan perorangan hasil membeli dari pemilik orang Islam yang sudah eksodus. Cerita bohong yang sulit diterima apalagi sebelum ini tidak ada penarik becak orang Ambon baik Islam maupun Kristen, penarik becak hanya dari Buton.
Semua kegiatan tersebut diatas yang melibatkan banyak orang  (hasil konsentrasi) dengan sasaran begitu luas tidak akan jalan kalau terjadi secara kebetulan.
    Tindakan itu seragam, terkoordinir, sasaran tepat.  Pada H + 2 mulai membakar dan menjarah rumah milik orang Islam. Setiap rumah seperti sudah diplot dalam peta karena dimana pun rumah Muslim mereka tahu dan didatangi oleh kelompok pembakar dari tempat lain, masyarakat Kristen setempat berpura-pura mencegah tetapi sesungguhnya mereka ikut memastikan letak sasaran ?

Bersambung Ke Bab 2-12

Top

Hosted by www.Geocities.ws

1