Bagian KEDUA Bab 2-06
KONFLIK ANTAR UMAT BERAGAMA
DI AMBON & MALUKU
POSISI RMS, PDI-P DAN GPMPENGARUH KUAT GPM
Seperti sudah kita ketahui bahwa setiap mereka yang beragama Protestan harus bernaung di bawah organisasi Gereja Protestan Maluku (GPM). Posisi-posisi penting dalam pemerintahan daerah mulai Tk.I s/d Tk.II ditempati oleh mereka yang beragama Protestan kemudian dipertahankan untuk tidak berpindah kepada yang Islam. Aksi seperti itu bergerak secara simultan dengan berbagai cara yang pada dasarnya memberi tekanan kepada pengambil keputusan. Kepentingan Kristen dimenej oleh GPM, kepada para pejabat warga GPM adalah pelaku dari kebijakan yang di tetapkan oleh GPM, karena itu warna pelaksanaan pemerintahan di daerah ini terkesan membawa kepentingan GPM atau golongan Kristen di Maluku.
Dengan demikian betapa solidnya GPM sudah dapat kita perkirakan, para elit Kristen tidak mungkin menghindar dari penguasaan GPM. Dari posisi GPM seperti itu mustahil pimpinan sinode GPM dan para tokoh lainnya tidak tahu-menahu tentang perencanaan dan pelaksanaan kerusuhan ini. Siapapun dia sebagai aktor dibalik peris-tiwa ini adalah anggota GPM, jadi secara tidak langsung GPM pasti terlibat. Perkiraan lebih jauh justru GPM terlibat langsung karena tindak-tanduk perlindungan yang mereka lakukan sambil tidak pernah menyatakan mengutuk gerakan separatis dan anti agama Islam ini. Apa yang terus menerus disampaikan oleh para tokoh Gereja jelas menunjukan posisi mereka masing-masing dalam kasus kerusuhan Ambon ini.POSISI PDI PERJUANGAN
PDI-Perjuangan di Maluku bukan ex PNI Partainya Bung Karno ayah wakil Presiden tetapi ex Parkindo dan ex Partai Katolik. Sebagai partai politik, PDI-Perjuangan sangat berkepentingan dengan perolehan suara sebesar-besarnya, wajah PDI-Perjuangan di Maluku adalah identik dengan wajah Kristen sehingga perolehan suara PDI-P 99% didapat dari mereka yang beragama Kristen. Sementara yang Islam masih bermesraan dengan GOLKAR terutama Maluku Utara yang seakan-akan tidak mau tahu dengan perkembangan dan kesulitan masyarakat Islam yang ada di selatannya. Salah satu bukti kekurang pedulian orang-orang di utara adalah pemaksaan berdirinya Moluku Kie Raha dalam situasi yang sulit ini, sehingga seakan-akan telah mensupport rencana menjadikan Maluku sebagai daerah dominasi Kristen
PDI-Perjuangan akan memperoleh posisi kuat dalam percaturan politik di Maluku apabila Golkar dan Parpol Islam bisa dikalahkan. PDI-Perjuangan walaupun tidak Pro-aktif dalam kerusuhan ini tetapi keterlibatan anggota- anggotanya dengan mengatas namakan GPM/AMGPM dan RMS telah mengusir suara partai Islam dan suara Golkar terutama di Kodya Ambon dan Maluku bagian tengah. Kita pun telah berhasil menditek kehadiran Alex Litay di Ambon menjelang kerusuhan ke II.POSISI RMS
RMS adalah Kristen, terlibatnya beberapa tokoh Islam dalam RMS sama sekali tidak menggambarkan kehendak ummat Islam, para elit itu sejak penjajahan Belanda telah berada diluar sistem perjuangan melawan Belanda menuju Indonesia merdeka. Para elit muslim didalam RMS hanya sekitar 3 orang yang dimasukan dalam pemerin-tahan RMS untuk menarik masyarakat Islam mendukung perjuangan RMS, tetapi nyatanya 100% ummat Islam di luar 3 orang elit tersebut menentang habis-habisan berdirinya RMS, perjuangan melawan RMS telah menimbulkan jumlah kerugian jiwa dan harta benda yang tidak sedikit. Watak masyarakat Islam yang membenci RMS tersebut telah berjuang bersama TNI menghancurkan RMS secara fisik, sayangnya secara mental RMS tetap bersemi disebagian besar elit Kristen yang kini telah menjalar kepada generasi mudanya, RMS tetap latent di Maluku.
Jadi bila RMS juga berwatak membenci Islam adalah hal yang wajar-wajar saja, itu adalah konsekuensi yang justru menjadi kebang-gaan yang Islam sebagai putra bangsa. Konsekwensi anak cucu pe-juang adalah seperti yang kita rasakan sekarang, ini adalah aksi revans RMS atas kekalahannya pada tahun 1950 dari gabungan kekuatan TNI dan ummat Islam Maluku. Karena itu untuk pekerjaan pember-sihan ummat Islam di Ambon dan sekitarnya ini, tidak ada pihak manapun yang paling cocok dan berhak kecuali RMS yang orang-orangnya adalah produk GPM.
Bila dikaitkan dengan perjuangan Oikumene sedunia, maka posisi GPM bukan lagi Gereja Protestan Maluku saja tetapi memang Gerakan Protestan Merdeka seperti penjelasan buletin Gerakan Maluku Mer-deka (GMM). Ternyata menunjuk GPM sebagai penggerak kerusuhan dengan memanfaatkan daya tarik RMS, tidak keliru. Dari hari ke hari penampakan diri GPM sebagai penggagas berdirinya RMS semakin terlihat.
Pernyataan Ketua Sinode GPM Pendeta Semmy Titaley Sth untuk dilakukan referendum di Maluku sudah sangat jelas kemana rencana mereka, GPM telah melakukan kalkulasi yang matang tentang besarnya suara yang akan mereka peroleh untuk memenangkan Referendum yang akan dipaksakan dengan tekanan kekuatan lobby Kristen internasional melalui ekonomi moneter dan politik.
Langkah-langkah penting yang sudah mereka lakukan adalah :
1. Pengusiran ummat Islam dalam jumlah besar keluar Maluku.
2. Secara tidak langsung telah berhasil memisahkan Moluku Kie Raha (MKR) dari Propinsi Maluku sehingga prosentasi Kristen naik Signifikan.
3. Menampung hasil kerusuhan di Maluku Utara yang sebagian ke Ambon dan sebagian ke Sulawesi Utara, yang ke Sulawesi Utara ini akan ditarik masuk Ambon, kita saksikan nanti karena hal itu bukan sesuatu yang sulit.
Mereka memiliki dana besar apalagi kemajuan yang dicapai adalah bagian dari langkah strategi yang ditetapkan bersama dengan pihak kekuatan Kristen di Indonesia.
Kalau analisa ini benar, maka kerusuhan di Maluku Utara seperti-nya masuk dalam program mereka.PRAKTIK TRI PARTIT DI LAPANGAN
Tri PARTIT yang dimaksud adalah GPM pemilik proyek besar sebagai perwakilan kepentingan Kristen di Maluku, yang seharusnya melakukan hal-hal yang direstui agama saja. RMS memang organisasi pem-berontakan jadi tepat menyelenggarakan pemberontakan ini, karena selain berwatak perang ia juga berwatak anti ummat Islam. Sedangkan PDI-Perjuangan yang mau tidak mau anggotanya yang merangkap keanggotaan GPM yang juga adalah RMS harus bersedia melak-sanakan pekerjaan besar boss yang di pimpin oleh RMS. PDI-Perju-angan sebagai lembaga terbebas dari keterlibatan tetapi hasil kerja anggotanya telah menghasilkannya sesuatu yang berharga bagi organisasinya. PDI-Perjuangan yang nyata-nyata sekarang ini telah memetik hasil besar, sedangkan GPM mungkin yang paling celaka karena pemberontakan ini tidak menghasilkan tujuan bahkan wajah dan sidik jarinya tertinggal di dinding-dinding tembok rumah dan bangunan yang dibakar serta pada pegangan parang panjang yang berlumuran darah ummat Islam. Dari pembuktian tersebut, sulit bagi GPM melepaskan diri sebagai pelaku pemberontakan ini.
Hanya saja tokoh-tokoh Partai akan terseret dan terlibat sebagai otak pemberontak dalam posisinya di GPM dan RMS. Oleh karena itu PDI-Perjuangan sangat berkepentingan dengan penyelesaian perang ini agar bagaimana para tokoh PDI-Perjuangan yang terlibat dapat lolos dari kejaran hukum.Keterkaitan RMS,GPM dan PDI-P dalam Kerusuhan.
Jumlah penduduk kota Madya Ambon 311.974 orang terdiri dari :
- Protestan 51,92% = 51,92/100 x 311,974 orang = 161.977 orang
- Katolik 5,55% = 5,55/100 x 311,974 orang = 7.315 orang
- Islam 42,38% = 42,38/100 x 311,974 orang = 132.215 orang
- Budha + Hindu 0,15% = 0,15/100 x 311,974 orang = 467 orangDari penduduk yang beragama Islam sebesar 132.215 orang sekitar 35% berasal dari luar Kodya Ambon termasuk pendatang dari Maluku Utara, Maluku Tenggara dan dari luar Maluku.
- Protestan + Katolik = 161.977 + 17.315 orang = 179.292 orang
Prosentase
- Protestan = 161.977 / 161.977 +17.315 x 100% = 91%
- Katolik = = 9%Dari perbandingan itu dapat kita terjemahkan bahwa yang mela-kukan kerusuhan di lapangan hampir keseluruhannya beragama Protestan = 91%. Warga yang beragama Protestan harus bernaung dibawah organisasi Gereja dalam hal ini Gereja Protestan Maluku (GPM). Jadi dari perusuh di lapangan dapat ditafsirkan bahwa 91% adalah anggota GPM.
Pendukung RMS 99,9% Protestan dan sedikit Katolik, jadi sulit dibedakan antara RMS dan GPM dalam kerusuhan Ambon ini.Kerusuhan di Ambon berakibat exodus di warga Muslim dalam jumlah besar, sehingga pada Pemilu yang lalu suara Partai Islam merosot jauh dan sebagian masih tertahan di Golkar . Karena itulah PDI-Perjuangan menduduki posisi mayoritas tunggal di DPRD Kodya Ambon yang tentunya berpengaruh pada DPRD tingkat I Maluku. Dengan demikian PDI-Perjuangan dapat dikatakan telah mendapat keuntungan besar dari kerusuhan Ambon. Karena anggota PDI-Perjuangan 99,9% Kristen maka PDI-Perjuangan telah telah menyum-bangkan anggotanya pada kerusuhan Ambon walau bukan atas nama organisasi. PDI-Perjuangan di Maluku bukan eks PNI tetapi eks Par-kindo dan Partai Katolik.
Keterikatan tersebut dapat digambarkan sbb :
Dengan pernyataan ketua Sinode GPM Pdt Sammy Titaley STh tentang kehendaknya untuk mendapatkan REFERENDUM, pernyataan ketua PDI-Perjuangan/wakil ketua DPRD TK.I Maluku saudara John Mailoa, semakin jelas menampakkan posisi RMS (separatis) dalam kerusuhan ini adanya upaya untuk membebaskan tokoh GPM yang PDI-Perjua-ngan tersebut dari keterlibatan pada RMS sebagai pelaku kerusuhan.
Karena itu kedatangan 4 orang anggota DPR-RI dari Fraksi PDI-Perjuangan yang dipimpin Mayjen Purn.Sembiring Meliala ada kaitan-nya dengan maksud tersebut di atas sekurang-kurangnya apa yang dapat dipersiapkan sebelum Panitia Kerja (Panja) DPR RI tentang Ambon bekerja ?Bersambung Ke Bab 2-07