Bagian KEDUA
KONFLIK ANTAR UMAT BERAGAMA
DI AMBON & MALUKU

Bab 2-04
CARA PANDANG PIMPINAN TNI TENTANG KEPEMIMPINAN  PUTRA DAERAH

MENGERJAKAN suatu pekerjaan memerlukan keahlian kemampuan khusus sehubungan spesifikasi pekerjaan baru itu. Tetapi rumusan yang benar itu sangat bersifat normatif, penggunaannya masih harus didalami lagi, mungkin diperlukan persyaratan tambahan dan barang kali persyaratan tambahan itu justru sebagai penentu. Karena itu faham yang normatif itu harus disesuaikan dengan akar permasalahan dari soal besar yang memerlukan keahlian. Kasus kerusuhan Ambon ini bukan konflik budaya, ini adalah kepentingan politik yang dipaksa kan sehingga timbul konflik antar pemeluk agama yang berbeda tetapi dalam waktu singkat konflik itu sudah berkembang menjadi konflik agama yang aplikasinya telah meningkat menjadi perang agama.
    Beragama adalah keyakinan seseorang terhadap ajaran agamanya yang mengatur banyak hal diantaranya hal-hal yang berkaitan dengan agama lain yang diyakini kebenarannya oleh orang lain.
Dalam ajaran agama-agama yang ada banyak hal yang berbeda. Perbedaan itu seringkali menimbulkan konflik diantara masyarakat dari kedua agama yang berbeda itu. Apalagi perbedaan itu telah dimanfaatkan untuk menghina dan mengejek agama yang dianut lawannya.
    Setelah melihat kenyataan dilapangan, apakah Karel Ralahalu dan Max Tamaela masih dapat menempatkan dirinya sebagai mana seorang prajurit sejati yang memegang teguh Sapta Marga dan Sumpah Prajurit untuk menyelesaikan masalah konflik agama Islam dan Kristen padahal ia berada pada pihak yang beragama Kristen?

1. Pimpinan TNI  berkeyakinan bahwa Karel Ralahalu dan Max Tamaela yang orang Maluku itu pasti mengerti kultur dan budaya Maluku untuk bagaimana  melerai sengketa yang sedang terjadi antara masyarakat yang beragama Kristen dengan yang beragama Islam. Pimpinan TNI juga yakin bila orang Maluku/Ambon yang telah berprestasi dan mendapat pangkat yang tinggi akan disegani, dihormati, didengar petuahnya menjadi anutan dan panutan. Pandangan normatif itu belum diuji dengan kondisi lapangan yang spesifik Ambon/Maluku ini.Ada 2 hal yang lepas dari pengamatan pimpinan TNI :
    a. Hubungan Islam Kristen sesungguhnya penuh konflik sejak nenek moyang orang Maluku karena yang Islam berperang mela-wan Belanda/Penjajah sedangkan yang Kristen dimanja karena bersedia menjadi serdadu yang membunuh saudaranya yang Islam. Diseluruh Pulau Jawa dan Sumatra khususnya di Aceh sejak nenek moyang mereka berperang melawan penjajah Belanda bukankah yang dihadapi adalah serdadu Belanda berkulit hitam dan beragama Kristen yang berasal dari Maluku? Kekejaman mereka sudah diketahui jauh lebih bengis dari majikannya Belanda.
    b. Sampai sekarang (Sebelum Kerusuhan) antara dua golongan masyarakat ini masih saling membenci. Yang Islam membenci Kristen karena diperlakukan tidak adil serba dipersulit karena mereka telah lama menduduki posisi kunci. Yang Kristen merasa-kan kemajuan yang Islam sesudah selesai RMS cukup pesat dan kini mengancam posisi kunci, karena itu sikap diskriminasi dan tidak adil bertujuan menendang saudaranya yang Islam. Pela Gandong dikedepankan sebagai gerak tipu untuk menutupi ketidak adilan dan kebencian Kristen kepada yang Islam. Dikala-ngan Islam menjadi terpecah belah karena ada yang bersedia ditipu tetapi ada yang secara ksatria menolak Pela Gandong dan yakin akan kemampuannya siap bersaing secara jujur.
    Kondisi seperti itu tidak dimengerti oleh pimpinan ditingkat Nasional, kampanye Pela Gandong telah membuat para elit ditingkat pusat terbawa salah mengerti. Hal seperti itu juga dapat kita lihat diantara beberapa elit asli putra daerah yang sangat mengerti budaya Pela Gandong tetapi entah demi apa, tetap menggembar-gemborkan hebatnya Pela Gandong seperti berada diluar sistem keyakinan Islam dalam kerusuhan yang hampir memasuki waktu setahun dengan korban jiwa dan harta yang luar biasa dikedua belah pihak
    Benarkah yang Islam ikut berbangga kalau ada Kristen yang berprestasi dan apakah juga sebaliknya? Tolong dikaji dan disurvei. Bisa terjadi sebaliknya, keberhasilan Kristen bisa menda-tangkan kecemburuan yang Islam dan bila Islam yang berhasil akan menimbulkan kecemburuan yang Kristen. Tolong di bedakan sikap basa-basi dengan yang ada di hatinya yang dalam bathin masing-masing.

2. Setiap ummat Protestan harus menjadi anggota organisasi Gereja yang di Maluku adalah organisasi Gereja Protestan Maluku (GPM).
Max Tamaela menjadi anggota GPM harus dekat dengan pimpinan Sinode GPM dan para tokoh Gereja. Dalam kerusuhan ini para pelaku ± 85% Protestan jadi mereka adalah anggota GPM, para pimpinan juga anggota GPM. Kalau begitu bagaimana mungkin Max Tamaela mengejar para aktor intelektual dan organisasi penggeraknya yang sebagian besar anggota GPM dan tokoh Gereja. Diperlukan Kapolda Maluku dan Pangdam XVI/PTM yang terbebas dari pengaruh lingku-ngan agar ia dapat bertindak objektif menyelamatkan Maluku dari upaya memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia ?

Bersambung Ke Bab 2-05

Top

Hosted by www.Geocities.ws

1