Bagian KEDUA
KONFLIK ANTAR UMAT BERAGAMA
DI AMBON & MALUKU

Bab 2-03
PROSES TERJADINYA KERUSUHAN DAN PERKEMBANGANNYA

PADA bab III ini akan dibuktikan bahwa kerusuhan ini telah diren-canakan, disiapkan dan dilaksanakan dengan komando dan pengen-dalian yang canggih oleh pihak Kristen, sehingga dapat disimpulkan bahwa kerusuhan ini didalangi oleh suatu organisasi yang solid dan para tokohnya memiliki kemampuan yang tinggi. Tanpa tingkat soli- daritas yang mantap, sulit untuk menggerakan ribuan orang pelaku untuk melakukan perbuatan biadab dan tak berperikemanusiaan dengan sasaran-sasaran yang terpilih untuk pencapaian tujuan mereka.
Perencanaan yang memakan waktu relatif lama itu bisa tertutup rapat karena ikatan solidaritas organisasi (agama), sejumlah bocoran memang terdengar di kalangan Islam  tetapi ummat Islam dalam kondisi persatuan dan kesatuan berada titik rendah itu tidak mungkin merasakannya sebagai bentuk ancaman dalam waktu dekat. Faktor lain juga adalah karena pada tahun terakhir ini semangat Pela Gandong sedang digalakan di kalangan ummat Islam di pelopori oleh Kakanwil Agama.
Kerusuhan dengan tujuan politik strategis ini dirancang di luar Maluku oleh para tenaga profesional dengan dana yang sangat besar terbukti dari pengerahan tenaga yang begitu besar, mereka yang dihukum dipenjara dan tahanan Polisi mendapat uang rokok Rp 50.000,-/ minggu, keluarganya dijamin kebutuhan hidupnya bahkan untuk masa depan bagi yang mati. Bagi yang mati dalam pertempuran dengan kekuatan Islam keluarganya mendapat santunan khusus yang menjamin masa depan.
Sejumlah fakta yang dapat kita temukan setahun sebelum pecah kerusuhan telah menunjukan dengan jelas betapa kerusuhan ini dirancang untuk kepentingan politik besar yang diperankan oleh RMS dengan tokoh-tokoh GPM sebagai aktor-aktor intelektualnya, GPM yang semula Gereja Protestan Maluku, oleh buletin GMM di sebutkan sebagai Gerakan Protestan Merdeka. Karena itu konspirasi ke arah Maluku melepaskan diri dari NKRI ini janganlah dianggap sesuatu yang boleh diabaikan begitu saja. Ini adalah masalah serius bangsa yang harus ditangani Pemerintah Pusat secara bersungguh-sungguh sebelum menjadi ancaman berat seperti pemaksaan rakyat Aceh untuk merdeka yang terpaksa penangannya menggunakan kekuatan TNI yang besar dan korban yang besar pula.

PROSES KERUSUHAN AMBON
Kalimat Kerusuhan Ambon tidak tepat digunakan untuk peristiwa berat yang terjadi di Ambon ini, karena kerusuhan berskala kecil sampai sedang, pelibatan orang yang terbatas, tidak bersifat menye-luruh dalam semua aspek. Yang tepat adalah perang Agama walau dimulai dari upaya penghancuran masyarakat Islam oleh masyarakat Kristen yang bernuansa politik murni .
Perang terhadap ummat Islam (semula) direncanakan secara matang pada semua aspek mulai strategi, taktik dan teknik sampai pada rencana penggunaan tenaga manusia, alat peralatan, besarnya dana yang akan digunakan, komando dan pengendalian, bagaimana menghadapi penyimpangan rencana, bagaimana mengeksploitasi hasil yang dicapai serta tentu disiapkan rencana cadangan bila rencana pokok gagal. Begitu pula disiapkan rencana evakuasi dan escape bila rencana ini gagal total sehingga para tokoh harus dilarikan ke luar negeri. Begitulah logika kita melihat apa yang didemonstrasikan dalam perang ini.
Rencana yang kompleks itu tentu harus dilakukan secara kompre-henship integral memerlukan pemikiran bersama melibatkan banyak tokoh. Mereka semua tokoh Kristen terlibat langsung maupun tidak langsung, indikasi nyata adalah tidak ada yang bereaksi Mengutuk kerusuhan ini. Masih ingat kita betapa jajaran komponen Nasional mengutuk G 30 S/ PKI, yang tidak mengutuk hanya mereka yang terlibat langsung maupun tidak langsung, begitu juga pengutukan oleh sejumlah besar komponen bangsa terhadap peristiwa Pemboman Masjid Iistiqlal. PGI (Persekutuan Gereja-gereja Indonesia) ikut mengutuk kasus peledakan bom di Masjid ISTIQLAL tetapi mereka membisu untuk kasus Ambon, tiada lain adalah upaya penyem-bunyian dan penyelamatan GPM dan para tokohnya. Karena itu perang antara Kristen melawan Islam di Ambon ini melibatkan totalitas kekuatan Kristen di Ambon, PGI dan Kristen internasional. Suatu kegiatan yang besar di proses minimal melalui langkah-langkah perencanaan, pelaksanaan dan konsolidasi oleh sebuah organisasi yang mapan.

A. Periode Perencanaan
Dalam kasus Ambon ini ternyata di proses jauh sebelum tanggal 19 Januari 1999, terlihat jelas dari sejumlah peristiwa yang mendahului. Ada kegiatan perencanaan sbb :

1. Tahap pematangan situasi.
Yaitu upaya-upaya yang dilakukan agar semua komponen yang akan dilibatkan memahami rencana besar, sedangkan aparat keamanan yang di khawatirkan akan menggagalkan rencana harus di lumpuhkan. Khusus untuk membuat aparat keamanan tak berdaya “Mental Break Down” silahkan menelaah tulisan pada lampiran dengan judul “Menelusuri Kesalahan DanRem 174/PTM  Kol Hikayat Menangani Kasus Batu Gajah Berdarah” dan peristiwa Jum'at malam masing-masing pada Lampiran C dan D. Pada dasarnya periode pematangan situasi ini dilakukan dengan hasil yang signifikan. TNI loyo tak punya keberanian bertindak.
Ada sejumlah kegiatan dalam rangka pematangan situasi seperti isu pengusiran BBM dsb.
Tahap Uji Coba / Test Case
Tahap ini diadakan untuk melakukan uji coba terhadap hasil yang dicapai pada tahap pematangan situasi. Apabila berhasil maka kegiatan lebih lanjut adalah memasuki tahap persiapan untuk pelaksanaan, bila test case tidak menunjukan hasil baik pada tahap pematangan situasi maka harus dilakukan evaluasi untuk intensitas khusus.
Uji coba ini dilakukan dengan menghantam ummat Islam di :
a. Wailete, Yaitu mengobarkan kerusuhan di pesta perkawinan suku BBM, pada tanggal 13 Desember 1998 kemudian dilakukan penyerangan terhadap kampung tersebut, membumi hanguskan semua rumah, para penghuni lari menyelamatkan diri dengan pakaian yang dikenakan pada saat itu saja tidak ada penyelesaian oleh aparat kepolisian, harus ditelusuri khusus, mengapa kasus ini  dibekukan. Apakah Polri dan Korem mental Break Down atau pematangan situasi justru menghasilkan kerja sama Kristen dengan oknum aparat keamanan.
b. Kasus Bak Air, Kasus ini idem dito kasus Wailete, pada tanggal 27 Desember 1998 masyarakat Islam di desa Bak Air Tawiri yang sekitar 10 buah rumah disatroni masyarakat desa Tawiri yang ribuan orang hanya karena alasan kecil melempar babi Kristen yang memasuki kebun milik yang Islam.
c.  Kasus Pembunuhan di Dobo Maluku Tenggara pada tanggal 15 Januari 1999.  Di Dobo memang mayoritas Kristen, sering terjadi  perkelahian massal tetapi antar kampung masalahnya sengketa perbatasan dsb. Belum pernah antar konflik agama apalagi dengan korban sampai 8 orang muslim. Polisi pun tidak menyelesaikan secara tuntas.
Demikian juga demonstrasi dengan kekerasan tak berujung pangkal sebelum jatuhnya Pak Harto sampai dengan pemerintahan Habibie dapat dilakukan semaunya tanpa di tanggapi dengan mem-berlakukan aturan dan hukum. Pada dasarnya tahap uji coba ini berhasil dengan baik karena; didukung oleh para tokoh Kristen dengan komentar dan tanggapan yang terus menghujat TNI dan mengagung-kan para demonstran dengan prilaku kekerasan itu.
a) Aparat keamanan tidak berani bertindak atau telah diatur untuk tidak bertindak
b) Masyarakat Islam ternyata tidak kompak, tidak ada pembelaan. Yang Islam tidak terorganisir, tidak punya pemimpin sentral, yang kelompok/kedaerahan pun ternyata lemah.
Karena itu mereka menilai bahwa tahap I dan II pada periode perencanaan ini telah berjalan sesuai rencana sehingga bisa memasuki tahap III / persiapan.

2. Tahap III : Persiapan
   Pada tahap ini terlihat jelas;
a. Munculnya pemuda AMGPM yang mabuk mabukan dengan aksi memalak angkutan kota di daerah Benteng dan OSM semakin meningkat.
b. Berita tentang Yesus turun di kandang Babi kampung Gudang Arang yang mungkin permainan sinar Laser saja tetapi tampak jelas disambut sekota madya Ambon. Apa yang terjadi dengan Yesus turun ini seakan-akan suatu informasi tentang perintah persiapan yang waktunya sudah dekat pelaksanaan.
c. Parang Panjang yang  diproduksi oleh masyarakat Islam di Jazirah Leihitu ternyata laku keras dan habis di pasar kota Ambon. Padahal parang panjang bukan kebutuhan masyarakat kota yang tidak pernah masuk hutan, parang itu untuk menebas belukar membuka jalan di tengah hutan. Sesuatu kelainan yang tidak ditanggapi aparat keamanan/intelijen.
d. Didatangkan sekitar 200 orang preman Jakarta asal Maluku pada bulan   November 1998 dengan kapal Pelni. Inipun peristiwa aneh yang harus ditangani dengan serius oleh Polri dan Korem apabila naluri intelijen berfungsi atau suatu kesengajaan agar tahap persiapan ini berjalan lancar.
     Menurut prosedur normal, para preman Jakarta ini harus didaftar diambil identitasnya alamat serta kegiatannya selama di Ambon agar mudah diawasi. Mereka dapat dikenakan wajib kumpul pada hari tertentu di Mapolda untuk pengawasan dsb, hal seperti itu wajar-wajar saja karena posisi mereka yang rawan dalam masyarakat pada suasana huru-hara se-Indonesia. Ini semua merupakan hal-hal yang harus di usut ulang untuk dapat menangkap aktor intelektualnya. Begitu hebatnya periode perencanaan itu sehingga berjalan begitu mulus, aparat keamanan pun secara perorangan (katakan begitu) dalam jumlah yang besar mengusai posisi penentu dapat mengatur sehingga tidak ada langkah pasti mengantisipasi kerusuhan yang tanda-tandanya cukup jelas itu.

B. Periode Pelaksanaan.
Setelah periode perencanaan berhasil dengan sejumlah indikator maka pihak perencanaan kerusuhan/Perang dengan ummat Islam ini telah siap memasuki tahapan pelaksanaan penyerangan/penghancuran.
Selama ini dalam beberapa kali dialog Kristen-Islam memecahkan masalah perang ini berakhir dengan jalan buntu karena pihak Kristen selalu menuduh pihak Islam yang memulai dengan menunjuk kasus Usman memalak Yopie di Batu merah. Ummat Islam waktu itu belum siap berdialog karena kurang waktu dalam suasana kerusuhan mengkaji masalah ini pada lingkup strategi, bila kasus batu merah saja jadi acuan jelas dapat direkayasa tetapi dengan melihat perkem-bangan dan peristiwa-peristiwa setahun terakhir maka dengan mudah melihat bahwa ini suatu perencanaan besar dari pihak Kristen. Jadi perencanaan strategi itu harus juga dilihat dengan kacamata dan pengetahuan strategi, kita jangan terjebak pada permainan taktis.
Untuk acara sebesar ini mereka tentukan hari-H dan jam-J istilah militer untuk menentukan saat tepat suatu aksi militer dimulai, biasanya untuk suatu serangan. Pukulan awal harus terorganisir dengan baik agar memberikan efek pendadakan setelah melalui proses pengrahasiaan sekian lama. Setelah tiba jam J maka semua aktivitas terbuka tidak ada dirahasiakan lagi, komunikasi radio sudah dapat dilakukan yang beberapa menit sebelumnya semua radio tidak boleh digunakan.

Kira-kira penentuan hari-H dan jam-J itu didasarkan atas sejumlah pertimbangan sebagai berikut :
1. Memperingati 50 tahun ditanda-tanganinya naskah proklamasi RMS yang pelaksanaannya pada 18 Januari 1950 oleh J.H. Manuhutu dan A.Waerisal dan di umumkan secara terbuka oleh Dr.Chr.Soumokil pada tanggal 25 April 1950 di Ambon tanggal 25 April ini dijadikan hari ulang tahun RMS.
2. Pada Hari Raya Idul Fitri Ummat Islam sedang mengkonsen-trasikan segenap aktifitasnya untuk merayakan hari kemenangan setelah berpuasa melawan hawa nafsu, haus dan dahaga sebulan penuh.
3. Penentuaan jam 14.00 adalah saat yang paling kritis bagi ummat Islam karena puncak dari rasa kantuk dan lemah physik karena semalam kurang tidur dan sejak pagi menerima tamu atau berkeliling bersiratulrahmi.
Penentun hari-H dan jam-J seperti itu merupakan hasil analisis yang brillian, untuk itu dilakukan proses perencanaan mundur (Back Ward Planning). Penentuan hari-H dan jam-J itu didekati dari faktor penciptaan pendadakan, faktor ini amat menentukan dari suatu serangan. Dengan kerahasian yang tinggi dapat menghasilkan pendadakan yang sempurna (Absolutly Surprise) pendadakan menghasilkan kekacauan di pihak musuh, mereka tidak dapat bereaksi karena tidak ada persiapan, tak menyangka. Reaksi seorang Komandan yang terkena pendadakan sering kali keliru, karena  mereka panik, kacau, tak mengerti apa yang terjadi, melakukan perlawanan dengan apa adanya bahkan dengan tangan kosong menggenggam batu.
Dipihak Kristen lain lagi, kesiapan mereka 100%, terlihat dari kegiatan sebagai berikut:

a. Kegiatan sebelum jam J
Adanya gerak perpindahan dalam rangka konsentrasi kekuatan oleh massa dari pedesaan di Timur kota Ambon, Tawiri dan sekitarnya ke arah Passo, Benteng Karang, Waai dsb. Banyak saksi mata menyadari arti perpindahan itu setelah kejelasan permasalahan pada hari ke 2.
Pelemparan batu ke desa Hulung oleh masyarakat desa Benteng Karang pada hari H-1 malam hari rupanya karena tidak sabar menunggu jam J sebab dendam sudah berkobar-kobar. Penggunaan kain berang (Kain merah pengikat kepala atau melingkar di leher) khas pihak Kristen sudah terlihat sebelum hari H dalam jumlah kelompok-kelompok (Show of Force).

b. Kegiatan pada jam J
Cerita Usman yang Bugis (Islam) memalak Yopi (Kristen) dapat saja terjadi sebagai suatu rekayasa, tetapi logika berbicara lain. Usman yang beridul Fitri mustahil melakukan pemalakan, kalaupun itu nyata terjadi perlu di klarifikasi apakah bukan sesuatu yang diatur, karena dengan uang yang besar segala sesuatu bisa terjadi. Hal yang tidak wajar juga telah terjadi, ialah berkelanjutan s/d perkelahian massal saling lempar batu, parang panjang dan tombak dari pihak Kristen sudah diacung-acungkan. Perkelahian antara masyarakat desa Batu Merah dengan masyarakat Kristen asal desa Aboru (P.Saparua) telah merupakan hal yang rutin terjadi antara oknum-oknum yang berseng keta saja, tidak pernah melibatkan massa besar dari agama yang berbeda.
Ketidak wajaran ketiga ialah dibakarnya bengkel sepeda motor dan sebuah rumah didekatnya. Api dan asap hitam membumbung tinggi sekali dapat terlihat jelas dari desa Air Salobar, seperti sesuatu yang telah dipersiapkan dengan baik. Bahan bakar yang tersedia di bengkel tersebut dalam jumlah besar sehingga menghasilkan kobaran api dan asap hitam yang membumbung tinggi.
Asap yang mudah terlihat di seluruh kota sampai ke pinggiran apalagi mereka yang didaerah ketinggian di bagian timur kota yang umumnya beragama Kristen adalah apa yang dinamakan jam J ialah saatnya serangan dimulai, karena itu segera terlihat kesibukan perpindahan massa Kristen bersenjata tajam mulai sekitar jam 16.00 WIT.

c. Kegiatan beberapa jam sesudah jam-J
Pada jam 18.00 sudah dimulai dengan pelemparan batu dan Bom molotov kearah kampung Diponegoro oleh pihak Kristen yang letaknya di atas kampung Diponegoro. Penggunaan bom molotov untuk masyarakat Ambon merupakan hal baru, ternyata pihak Kristen sudah tidak asing lagi pertanda ada latihan, begitu juga tersedia bensin dikampung yang tidak bisa didatangi kendaraan bermotor jelas khusus itu disediakan untuk membuat bom molotov. Pelemparan seperti itu juga terjadi di Batu-Merah  oleh pihak Kristen dari kampung Karang Panjang di atasnya.
Sekitar jam 18.00 WIT sudah mulai dilakukan blokir jalan dengan pohon yang ditebang atau benda-benda lain dalam rangka mengontrol tiap kendaraan yang lewat. Bersama dengan itu sudah mulai dilakukan pembakaran mobil, sepeda motor dan becak milik ummat Islam yang terjebak di sektor Kristen karena pemasangan barikade tersebut.  Pembakaran kenderaan ini meninggalkan bekas dijalan raya (aspal rusak terbakar), dapat dijadikan saksi mati yang jujur.
Demikian pula pada H+1 dilakukan blokade total ruas jalan Batu Gantung  Air Salobar lewat OSM. Semua kendaraan harus melewati ruas jalan Kudamati, sektor Kristen yang paling angker karena mereka besar dalam jumlah dan selain itu daerah ini terkenal sebagai daerah hunian para Preman.
Diruas jalan Kudamati ini ( Jl. Dr.Kayadoe) dipasang sekitar 6 buah barikade sik-sak besar dan kuat dengan bagian yang terbuka hanya sempit sehingga setiap kendaraan harus pelan dan berhati-hati. Tiap barikade tersebut dikuasai oleh puluhan massa Kristen lengkap dengan parang dan tombak. Kendaraan militer yang melakukan pengangkutan pasukan untuk tugas pengamanan ternyata harus mengikuti rute yang ditentukan oleh pihak perusuh. TNI tidak melakukan buka paksa untuk memudahkan manuver pasukan (mental Break Down).
Apa yang kita saksikan ini sebenarnya bukan kejadian kebetulan tetapi sesuatu yang dirancang dalam suatu kerangka strategi. Dapat kita lihat bahwa perjalanan kendaraan pengangkut pasukan pengaman itu sangat rawan sebab jalan yang begitu sempit dan harus bergerak zik-zak, kendaraan bergerak lambat sekali yang setiap saat dapat terjebak diantara dua barikade yang dipasang pas-pasan untuk gerakan truk. Barikade yang dikontrol dengan menggunakan massa  yang besar, mengancam dengan kalimat-kalimat kotor terhadap prajurit diatas truk  menampakan bahwa perencananya seorang militer atau mengerti berbagai taktik militer untuk menekan moril dan menakut-nakuti prajurit.
Yang amat disayangkan  TNI pada waktu itu bersedia dikontrol, seharusnya TNI dengan pasukan yang ada, apalagi tersedia Zipur dengan alat peralatan khusus semestinya membuka jalur jalan Batu Gantung–Air Salobar lewat OSM. TNI  bisa mengancam pihak yang coba-coba lagi membatasi manuver pasukan apalagi mengontrol mereka.
Pada Hari-H sekitar jam 22.00. telah terjadi serangan terhadap Masjid Al-Fatah dari dua arah jalan dimana para penyerang bergerak dari komplkes Gereja Pusat Maranatha karena konsentrasi massa memang disana yang terbesar. Posisi areal konsentrasi ini sangat sentral untuk melakukan penyerangan terhadap Masjid Al-Fatah dan pasar Mardika dan Batu Merah serta Kompleks Perdagangan Pelita yang pada umumnya tempat masyarakat Islam berdagang.
Sasaran pasar dan tempat berdagang ini bernilai sangat menen-tukan dalam rangka mencapai tujuan menghalau BBM dari Ambon, karena itu sasaran pasar harus berhasil dibakar secara tuntas. Untuk memungkinkan rencana itu maka massa Islam dari Talake, Waihaong, Silale, Soabali dan Jalan Baru harus diikat untuk tetap bertahan diobyek vital ummat Islam yaitu Masjid Al-Fatah. Serangan ke Al-Fatah mempunyai dua tujuan yaitu : mengkikat/menahan massa Islam yang berkonsentrasi di Al-Fatah agar tidak bergerak ke arah pasar sehingga pembakaran pasar tuntas dan mengancam keberadaan Al-Fatah itu sendiri.

d. Kegiatan Pada Hari H + 1 dan seterusnya.
Dipagi hari kedua tanggal 20 Januari 1999 sekitar jam 05.00 WIT bertepatan dengan pelaksanaan sholat subuh di Masjid Al-Fatah terjadi lagi serangan pihak Kristen ke Masjid Al-Fatah, pembakaran terhadap pasar dilanjutkan dengan tempat-tempat usaha pihak Islam di luar areal pasar, begitu juga membakar dan pengrusakan rumah muslim di daerah terpencil dan di dalam sektor Kristen. Mereka tahu betul sasaran-sasaran yang harus dihabiskan yang membakar dan menjarah adalah massa Kristen dari luar kampung, jadi memang sudah diatur rapih dalam suatu perencanaan. Pada hari-H+1 tanggal 20-1-1999, pagi-pagi massa Hitu, Mamala dan Morela bergerak ke Ambon untuk memperkuat pertahanan Al-Fatah. Pihak Kristen terus menyerang sepanjang hari dan seterusnya.
MASSA HITU MENYERANG DALAM RANGKA MEMPERTAHANKAN  MASJID AL FATAH
Serangan terhadap Al-Fatah telah terdengar di Hitu lewat telepon, masyarakat Hitu malam itu gelisah sekali sebab Masjid ini dibangun dengan andil besar masyarakat Hitu, mereka menyediakan kayu, batu dan pasir.
Sejak pagi hari masyarakat Hitu telah berkumpul menunggu perintah Bapak Raja. Demikianlah dalam jumlah ratusan mereka menuju Ambon dengan jalan kaki untuk memperkuat pertahanan Masjid Al-Fatah. (Ambon Hitu ± 20 Km).
Desa Benteng Karang (Kristen) yang sehari sebelumnya melempari desa Hulung (Islam) telah punya perkiraan akan datang massa dari arah Hitu, karena itu mereka pun telah siap menghadang kekuatan Hitu. Benturan fisik terjadi dan kekuatan kristen dihalau, rumah dan gereja dibakar habis. Perjalanan dilanjutkan ke arah Passo tetapi dihadang oleh aparat keamanan (Brimob) di Air Besar dan mereka di halau untuk kembali ke desa Hitu lagi. Dalam perjalanan kembali mereka di hadang di desa Negeri Lama, Nania dan Hunuth/Durian Patah, karena itu desa-desa tersebut dibakar termasuk gerejanya.
Jadi manuver kekuatan Hitu adalah dalam rangka membantu pertahanan Masjid kesayangannya Al-Fatah sama sekali bukan untuk tujuan offensif, semata-mata untuk tujuan deffensif murni. Kerusuhan yang besar terjadi adalah ekses yang tidak dapat dihindari karena mereka di hadang oleh pihak Kristen.
Perlu dicatat bahwa apabila manuver Hitu dan desa tetangganya seperti Mamala dan Morela ini tidak di hadang maka sampai dengan 6 bulan kedepan relatif tidak ada pengungsi dari pihak Kristen di seluruh kotamadya Ambon. Desa kecil diantara 2 desa Islam Kaitetu dan Hila, penduduk desa ini didatangkan dari Saparua sebagai serdadu Belanda untuk mengawasi Benteng Amsterdam di desa tersebut sebab masyarakat Islam desa Hila dan Kaitetu tidak mau menjadi serdadu Belanda. Karena desa ini ibarat duri dalam daging maka pada hari H+1 dibakar dan penghuninya mengungsi ke gunung.

Kondisi kota Ambon dan sekitarnya begitu tegang tidak akan tenang dalam arti yang sesungguhnya ummat Islam selama 5 bulan terus diserang dengan korban jiwa dan harta benda yang terus berjatuhan sedangkan di pihak Kristen korban harta benda hanya kecil karena TKP (tempat kejadian perkara) selalu diperkampungan Islam. TKP ini akan dijadikan saksi bisu bahwa Kristen yang menyerang. Bila Islam yang menyerang maka TKP berada di kampung Kristen. TKP dibuktikan yang terbakar dengan bekas rumah-rumah dan Masjid .
Konflik berkembang terus, semakin parah dengan berbagai kasus sampai pecah kerusuhan II.

C.  Konsolidasi Yang Gagal dan Pelibatan Badan Dunia
Setelah melakukan penyerangan selama 4 bulan pihak Kristen belum berhasil mencapai tujuannya menghalau Ummat Islam dari kota Ambon dan sekitarnya. Suku BBM yang eksodus karena terpukul keras terpaksa meninggalkan Ambon, tetapi mulai bulan Mei 1999 mereka secara bertahap kembali ke Ambon, keluarga mereka tetap di Bau-Bau, Ujung Pandang, Palu dsb. Para kaum lelaki kembali bukan untuk mencari nafkah di Ambon dan melihat sisa-sisa miliknya saja, tetapi mereka kembali untuk membalas dendam. Dari hari ke hari jumlah mereka semakin besar, sehingga merupakan ancaman bagi pihak Kristen sehingga serangan Kristen untuk beberapa bulan kedepan terhenti.
Karena itu pihak Kristen tidak sempat melakukan konsolidasi baik karena pihak Islam semakin menguat dan mengancam maupun karena pihak Kristen sesungguhnya tidak mencapai sesuatu sebagai tujuannya, Bahkan telah timbul kerugian personil yang cukup besar bila dibandingkan dengan kerugian pihak Islam. Ada yang bertanya mengapa bisa begitu, jawabnya karena setiap kali akan menyerang mereka mabuk dan dipacu dengan obat- obatan Narkoba yang membuat orang berani tanpa perhitungan. Kalau RMS sebagai broker gagal diperkirakan akan ada cara lain, tentu yang lebih besar dari RMS yaitu kekuatan lobbi Kristen internasional yang sebagai bukti, pada Minggu pertama kerusuhan telah merata masyarakat Kristen di Eropa Barat dan Amerika Serikat mengetahui adanya pembersihan Kristen oleh yang Islam di Indonesia (Christian Cleansing) seperti pembakaran gereja tahun 1996-1997 di Jawa ?

Bersambung Ke Bab 2-04

Top

Hosted by www.Geocities.ws

1