Bagian KEDUA
KONFLIK ANTAR UMAT BERAGAMA
DI AMBON & MALUKU

Bab 2-02
AKAR PERMASALAHAN TRAGEDI BERDARAH

DALAM membicarakan sebab akibat atau akar permasalahan tragedi berdarah ini kita harus lebih transparan, tidak menutupi kenyataan yang selama ini menjadi beban mental dalam kehidupan bermasya-rakat dengan pihak Kristen. Terlalu banyak hal yang berbeda antara kedua kelompok ini walau kita hidup dalam wilayah yang sempit dengan interaktif yang tinggi. Perbedaan itu lebih menunjukan dari golongan mana dia. Yang Islam sesuai perkembangan dan pengalaman sejarah merasa lebih dekat dengan budaya saudaranya dari luar Maluku berbeda dengan kelompok Kristen yang dipengaruhi budaya dan kebiasaan Belanda. Perbedaan itu dapat kita lihat dari bentuk pakaian (kain-kebaya), istilah yang dipakai, sikap pandang yang dipengaruhi oleh ajaran agama dsb.
Begitu juga sikap menolak kerja sama dengan Belanda masih tertinggal pada anak cucu yang sudah seratus tahun lebih, yang Islam tetap merasakan diri sebagai anak cucu pejuang melawan penjajah Belanda dengan segala akibat, sementara Kristen di anggap pernah menjadi penjilat Belanda, antara lain mau menjadi serdadu Belanda  yang pernah dengan kejamnya membunuh dan memperlakukan saudara kita yang muslim di Jawa dan beberapa tempat lainnya tanpa perikemanusiaan.
Pela Gandong yang di introduksi oleh Belanda untuk meredam perlawanan desa-desa Islam ternyata tidak dihayati, tapi dirasakan sebagai tipuan apalagi diera modern sekarang ini. Cerita para orang tua tentang sebab terjadinya ikatan Pela Gandong sering tidak masuk akal karenanya para kaum muda sukar menerimanya.
Kalau ada para pendatang yang merasakan kehidupan di desa-desa Islam lebih cepat bisa beradaptasi karena banyak kesamaannya, itu disebabkan karena interaksi desa-desa Islam dengan pedagang dari Jawa, Sulawesi dsb pada waktu lalu sangat kental  yang disertai penyebaran agama Islam dengan cara-cara damai.
Karena banyak perbedaan dan perbedaan kepentingan itu telah membuat kedua kelompok masyarakat beda agama ini berada dalam konflik terselubung sejak lama.
Hubungan perorangan boleh akrab tetapi watak tak bermoral terselip dibalik basa basi penuh keakraban.

KEPENTINGAN KRISTEN
Di negara-negara yang prosentasi Kristennya (dan agama lain) lebih besar dari Indonesia tidak mengembangkan program kerukunan hidup antar ummat beragama, di Indonesia dengan semangat damai diupayakan perlindungan kepada yang minoritas ini dengan tuntunan dan pengawasan pemerintah melalui program pemerintah yaitu kerukunan hidup antar ummat beragama yang seringkali pihak Islam harus mengalah untuk terpeliharanya kerukunan hidup antar ummat beragama. Akibatnya kita terlalu sering menutup-nutupi sesuatu yang seharusnya diangkat ke permukaan, apa pun resikonya sehingga tidak terus menjadi ancaman di bawah permukaan yang justru akan meledak keras setelah terakumulasi.
Program Kristenisasi dan kegiatan membangun kekuatan telah lama diketahui, tetapi selalu ditutupi demi mempertahankan keruku-nan hidup antar ummat beragama. Ini bukan pola yang baik untuk membina kerukunan, hasilnya pasti semu sementara  penyakit yang kecil dibiarkan berkembang terus.
Itulah sebabnya pihak Kristen merasa bebas berbuat tanpa mem-perhatikan kepentingan nasional bersama. Mereka akhirnya merasa lebih dekat dengan bossnya di luar negeri daripada memelihara sema- ngat kebangsaan dan kesamaan dengan saudaranya di dalam negeri.
Karena itu ketika pemerintahan Suharto menahan gerak laju mereka yang dapat merusak Persatuan dan Kesatuan ternyata mereka dengan cepat membangun rencana baru bekerja sama dengan bossnya. Dari segi jumlah penduduk Kristen tidak cukup 20%, posisi bargaining yang lemah itu akan dicarikan pemecahannya dengan mendapat wilayah dominan Kristen yang lebih besar serta tekanan politik, ekonomi/ keuangan dari lembaga internasional seperti IMF dan World Bank yang membuat Indonesia terpuruk dan begitu tergantung pada bantuan keuangan internasional, dengan demikian mereka mendapat-kan satu lagi Bargaining Position yang kuat sekali. Karena itulah mereka ingin membuat Maluku ini menjadi daerah dominasi Kristen. Langkah pertama adalah memisahkan Maluku Utara dari yang ada di Selatan dan Tenggara. Kita boleh mengatakan bahwa rencana berdirinya Propinsi Moluku Kie Raha adalah proyek lama yang tertunda tetapi dipaksakan berdirinya bersamaan dengan rencana menghalau Ummat Islam dari kota Ambon dan sekitar ini bukan tidak ada sangkut pautnya. Percaya atau tidak, penghalauan ummat Islam dari Ambon dan sekitarnya adalah langkah awal, langkah berikutnya adalah peng- usiran keseluruhan masyarakat transmigran yang relatif  beragama Islam. Dengan kekuatan yang besar pihak Kristen dengan mudah menghalau para transmigran karena penduduk yang sedikit menempati areal yang luas.
Kesadaran masyarakat dan para pemimpin Islam pada satu dasa warsa terakhir menimbulkan berbagai perubahan penting di bidang politik dan ekonomi, yang secara tidak langsung menggeser posisi Kristen yang selama ini sangat kuat. Perlu juga di waspadai manuver tokoh-tokoh Kristen Maluku di Jakarta yang kini telah membentuk organisasi pergerakan kemerdekaan yang mereka beri nama PKMJ (Persekutuan Kristen Maluku Jakarta) dengan buletinnya GMM (Gerakan Maluku Merdeka). Edisi khusus GMM dengan judul Menanti Fajar Kemerdekaan di Timur Indonesia jelas terangsang oleh kemerdekaan Timor-Timur (Timor Lorosae) dengan terpisahnya  Maluku Kie Raha, rencana pengembalian warga Maluku exs KNIL dan keturunannya ke Ambon maka pihak Kristen telah punya kalkulasi tersendiri untuk memenangkan referendum yang akan dipaksakan. Mereka juga telah menghitung-hitung besarnya kekayaan Alam dan potensi SDM Kristen Maluku.
Karena itu kasus kerusuhan Ambon ini tidak dilihat sebatas kerusuhan akibat ketidak puasan Kristen terhadap Islam di Maluku saja tetapi harus dilihat dalam kontek kepentingan Kristen Indonesia dan keinginan melepaskan diri dari negara Kesatuan Republik Indonesia. Ditandai dengan isu Hijau Royo-royo  Kristen merasa tersingkir kemudian berusaha mengambil alih posisi itu dengan bantuan Kristen Internasional:  Muncul George Soros yang dengan kekuatan dana Kristen telah berhasil memporak-porandakan moneter Indonesia kemudian merangkak ke bidang ekonomi dan politik mendikte pemerintah Indonesia dalam banyak hal.
Dengan dana yang besar mereka memanfaatkan kekacauan di bidang politik akibat gerakan Reformasi. Kerusuhan yang terjadi di hampir seluruh Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan gerakan Kristen di bawah tokoh-tokoh Kristen Indonesia, demikian pula yang terjadi di Ambon, pada kerusuhan I kita dengar ada petunjuk dari tokoh RMS di Belanda untuk bersiap-siap mengambil kekuasaan di Maluku kalau pemerintah RI jatuh akibat Demonstrasi Mahasiswa dan kerusuhan yang dikobarkan seluruh Indonesia.
Karena itu walaupun umpamanya tidak sepenuhnya benar tetapi ada penilaian beberapa pihak bahwa krisis moneter yang berkembang menjadi krisis ekonomi dan politik di Indonesia adalah langkah strategi kekuatan Kristen internasional untuk menempatkan Kristen di Indonesia dalam posisi Bargaining yang lebih kuat sekaligus proyek kerusuhan Ambon dengan merekut wilayah dominan Kristen sebagai posisi Bargaining yang dengan Timor-timur (sekarang telah lepas), NTT, Irian Jaya, Sulut dan Maluku (diluar Propinsi Maluku Kie Raha) merupakan wilayah yang cukup luas dengan sumber daya alam yang luar biasa (Irja dan Maluku).

KETERLIBATAN RMS DAN GPM
Upaya membuat Maluku sebagai wilayah dominasi Kristen ibarat proyek besar yang oleh pemilik proyeknya diborongkan untuk dikerjakan oleh sebuah perusahaan yang tahu betul daerah, situasi dan kondisi setempat. Karena itu RMS terpilih sebagai Broker. Analisis ini dibenarkan oleh kenyataan dibawah ini :
a. Kalau untuk membersihkan masyarakat Islam di Ambon maka RMS termasuk profesional karena pengalaman tahun 1950, bila Islam setuju maka negara RMS berdiri di Maluku, tetapi karena pihak Islam menentang keras, RMS gagal berdiri dan dihancurkan TNI.
b. Di kepala sebagian besar elit politik dan tokoh gereja (GPM) masih bersemi semangat RMS, pada beberapa tahun terakhir telah merambat kepada generasi muda, militansi mereka di pamerkan dalam kerusuhan. Terakhir GPM dipamerkan sebagai Gerakan Protestan Merdeka (Gerakan Oikumene Sedunia satu Tuhan, satu Dunia, satu Gereja)
c. Sebelum dan selama awal kerusuhan setiap serangan mereka selalu disertai dengan yel-yel hidup RMS dan Mena Moeria menang (salam kebangsaan Kristen), membangga-banggakan Israel bahkan kota Ambon disebut sebagai Israel kecil. Begitu juga corat-coret membesarkan RMS di tembok dan dinding-dinding.
d. Setiap tahun pada tanggal 25 April bertepatan dengan hari ulang tahun RMS selalu dikibarkan bendera RMS di tempat-tempat jauh dari pengawasan TNI/ Pemda.
e. Program Repatriasi dan bebas visa telah menarik turis Belanda asal Maluku yang umumnya exs KNIL sekaligus serdadu RMS datang ke kampung asal. Di sana selain bercerita tentang nikmat-nya keju Belanda mereka bernostalgia tentang RMS dan meng-informasikan kemajuan RMS di Belanda yang pada dasarnya membesarkan hati dan mendorong semangat ber RMS kepada generasi  muda yang hasilnya kita lihat betapa militansinya mereka dalam kerusuhan Ambon Berdarah. Mereka bertujuan melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bila dalam kerusuhan ini mereka mendapat kemajuan berarti pasti akan minta dilakukan referendum untuk merdeka sebab dalam hitungannya jumlah Kristen sekarang sudah jauh lebih besar dari yang Islam.
f. Bukti-bukti lain pada beberapa dokumen yang berhasil ditemukan membuktikan posisi RMS dalam kerusuhan ini.
g. Tanggal 18 Januari 1950 adalah hari ulang tahun penanda tanganan naskah Proklamasi berdirinya RMS oleh H. J.  Manuhuttu dan  A. Wairisal yang baru diumumkan secara terbuka oleh Dr. Ch. Soumokil pada tanggal 25 April 1950 di Ambon yang menjadi tanggal hari ulang tahun RMS (di peringati setiap tahun). Jadi kerusuhan yang digelar tanggal 19 Januari 1999 adalah pilihan tanggal nostalgia.
Sedangkan posisi GPM dalam kerusuhan ini sama sekali tidak dapat dibedakan antara kerja GPM atau RMS. Kedua organisasi ini dikelola oknum yang sama sekurang-kurangnya kelompok yang sama. Semua masyarakat Kristen Protestan harus menjadi warga Gereja yang dalam hal ini adalah GPM (Gereja Protestan Maluku), HKBP-nya orang Batak.

Jadi setiap tokoh RMS pasti anggota GPM, manuver politik GPM jelas bernuansa kepentingan RMS. GPM yang resmi diakui Pemerintah telah terasa sejak lama sebagai RMS berbaju Republik Indonesia, karena itu penampilan para tokoh GPM dalam jabatan-jabatan peme-rintah selalu bersikap minir terhadap masyarakat Islam. Pelaku kerusuhan di lapangan yang dari protestan pasti anggota GPM. Di Kotamadya Ambon (Protestan = 51,92%, Katholik = 5,55% dan Islam = 42,38%).
Perlu diketahui bahwa GPM memerankan kepentingan politik Kristen yang tentunya berbau kepentingan RMS. Ruang kerja ketua Sinode GPM tidak memasang garuda Pancasila dan wakil Presiden melainkan gambar Belanda Tua pendiri GPM pada tahun 1935. (Pada Mei 1999 disaksikan oleh Danrem 174/ PTM dalam kunjungan pamitannya).
Para pelaku kerusuhan sebagian besar adalah dari golongan Protestan karena itu yang bermain biadab di lapangan adalah anggota GPM/ RMS. Kalau para tokoh itu bukan RMS atau tidak melaksanakan kepentingan politik RMS maka kerusuhan ini dapat segera dihentikan atas perintah/ petunjuk/ permintaan Ketua Sinode atau para tokoh Protestan lainnya.
Tidak dapat dibantah bahwa RMS dan GPM sama-sama merancang dan melaksanakan kerusuhan untuk menghalau ummat Islam dari Maluku.

BERKEMBANG MENJADI PERANG AGAMA.
RMS yang sejak pembentukannya telah berhadapan dengan ummat Islam dan karena ummat Islam tidak menyetujui kehadiran RMS dengan semangat separatisnya maka negara boneka ini tidak berhasil bertahan terhadap gempuran TNI. Karena itu RMS memang berwatak membenci ummat Islam. Jadi apabila RMS yang melaksanakan pencapaian tujuan politik Kristen tersebut di atas, maka sudah dapat dibayangkan bahwa mereka akan sangat kejam dan tak berperike-manusiaan, mereka bukan saja membunuh, bakar Muslim (BBM) yang semula dimaksudkan suku pendatang Buton, Bugis dan Makasar yang menjadi pesaing ekonomi, tetapi keseluruhan ummat Islam yang ada di kota madya Ambon. Penghancuran ummat Islam dengan tujuan politik itu dalam pelaksanaannya justru menghantam Masjid-masjid, membakar dan menginjak-injak Al-Qur’an, menghina dan menista junjungan Nabi Besar Muhammad SAW dengan membuat patung/ boneka dan digantungkan karton di leher berisi tulisan penghinaan yang luar biasa, tulisan-tulisan di dinding, tembok dan lebih menya-kitkan lagi secara sengaja penghinaan dilakukan melalui obrolan 2 orang yang berisi penghinaan. Setiap malam ummat Islam di provokasi dengan obrolan seperti itu lewat Handy Talky (HT). Karena itulah serangan yang menghancurkan ummat Islam ini yang semula untuk kepentingan politik justru menerobos pada aspek SARA yang paling rawan yaitu agama.

Pada hari pertama (19 Januari 1999) sekita jam 22.00 Masjid Raya Al-Fatah diserang melalui dua poros (Jln. A.Y Patty dan Jln. Anthony Rhebok) berangkat dari tempat konsentrasi mereka di halaman Gereja Pusat Maranatha. Serangan terhadap Masjid Al-Fatah ini dilakukan 3 kali dengan kekuatan diatas 1000 orang bersenjata tombak, parang, panah dan lemparan batu, mereka berhasil dihalau oleh 1 regu aparat keamanan dan para pemuda bahkan kaum ibu yang mengungsi di Al-Fatah. Serangan kedua pada hari kedua tanggal 20-1-1999 jam 05.00 saat persiapan sembahyang subuh di Al-Fatah, serangan ke 3 sekitar jam 23.00 tanggal 20-1-1999. Keseluruhan serangan tersebut gagal tetapi mereka sempat mencapai pagar depan Al-Fatah. Karena itu ummat Islam yakin bahwa yang dilakukan oleh Kristen ini adalah perang agama (Perang Salib). Bukti ini terlihat jelas pada ruas jalan Kudamati, dibuat sekitar 6 buah barikade yang di atasnya di pasang salib besar sekitar 1,5 meter tingginya dan di salib tersebut di sandarkan tripleks 1 lembar utuh dengan tulisan Buton, Bugis Makasar segera tinggalkan Ambon.

Dengan kata lain tujuan, politik yang menjadikan ummat Islam sebagai sasaran penghancuran yang dalam hal ini ummat Islam sebagai subjek dan objek politik, ternyata yang dihantam juga agama Islam. Dalam kaitannya dengan SARA maka tujuan politik menghancurkan ummat Islam sebagai golongan masyarakat (SARA antar golongan) berkembang/ menembus area terlarang yaitu agama (SARA) sebagai unsur yang paling sensitif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pelanggaran yang dibuat pihak Kristen ini seperti tidak mau tahu dengan faham ajaran Islam dalam membela agamanya, mereka tidak mengerti semangat Jihad Fie Sabilillah.
Akar permasalahan yang semula untuk kepentingan politik ternyata menerobos masuk pada konflik agama. Dengan demikian akar permasalahan  kepentingan politik itu telah dikalahkan dan tidak punya arti lagi karena akar yang baru (Agama) jauh lebih berat, ber-bahaya, karena itu penyelesaiannya seperti tidak ada harapan lagi, korban kedua belah pihak sudah sangat besar apalagi Pemerintah dan TNI telah berbuat sejumlah kesalahan prinsip dalam penanganan kerusuhan ini yang justru menjauhkan pihak-pihak yang bermusuhan semakin jauh

Bersambung Ke Bab 2-03

Top

Hosted by www.Geocities.ws

1