Bagian Pertama
Idul Fitri Berdarah di Ambon
19 Januari 1999 / 1 Syawal 1419 H

Bab 108
KERUGIAN DAN NESTAPA  UMMAT ISLAM

PUKULAN  yang diderita Ummat Islam kali ini memang sangat telak, artinya pukulan itu betul-betul mengenai sasaran yang mematikan kehidupan Ummat Islam asal Bugis, Buton, Makassar, Jawa, dan Sumatra serta Ummat Islam sekota Ambon dan sekitarnya.
Sasaran pasar tempat beroperasinya perekonomian rakyat kecil relatif seluruhnya terbakar habis dengan segala isinya tak sedikit pun tersisa, kemudian toko, warung, kios, gerobak dorong bahkan sekedar meja tempat berjualan kaki lima dan becak pun ludes di lalap api. Sasaran berikutnya adalah perumahan kemudian jiwa manusia.
Harta benda dan kekayaan yang didapat melalui usaha keras ber-puluh tahun hancur sehingga gambaran kehidupan masa depan pun menjadi gelap.

KERUGIAN MATERIAL

Fasilitas Perekonomian
Pasar Mardika dan Batu Merah berlantai dua yang dibangun sekitar tahun 1989, habis terbakar padahal ini tempat mencari nafkah sekitar 1000 orang dari suku BBM, Jawa, Sumatra dan muslim Maluku yang menghidupkan anggota keluarga  pendidikan anak-anak  dsb.
Di sekeliling pasar terdapat pedagang kaki lima dengan tenda, gerobak, meja, hamparan tikar yang jumlahnya diperkirakan menampung ratusan orang pedagang kecil.
Angkutan kota sekitar 40 buah terbakar habis, mobil pribadi +  20 buah, sepeda motor + 30 buah. Tidak terdapat satu pun kendaraan bermotor pihak Kristen yang dibakar atau dirusak karena terjebak kerusuhan di jalan, mereka diloloskan di semua di sektor perkam-pungan Islam.

Modal kerja
Pasar terbakar dengan segala isinya yang pada umumnya tidak diasuransikan, karena itu setiap pedagang akan sulit bangkit bila tidak mendapat bantuan pemerintah secara khusus atau bantuan dalam kerangka persaudaraan Islam dalam rangka rehabilitasi. Hal ini sangat penting karena berkaitan dengan upaya mengembalikan mereka yang telah exodus. Perlu juga dipahami bahwa kasus ini ummat Islam hanya sebagai objek politik Kristen Indonesia yang  melakukan pembalasan  akibat runtuhnya mereka pada periode Hijau royo-royo dan pembakaran  Gereja serta harta benda Cina sekitar  tahun 1996-1997.

Perumahan
Hampir semua rumah Ummat Islam menjadi sasaran pembakaran apabila penghuni kampung tidak cukup kuat untuk bertahan seperti Kampung Waringin, Kampung Diponegoro Atas, Kampung Banda, perumahan di daerah Ahuru, Karang Panjang dan beberapa rumah di Taman Makmur. Rumah penduduk Islam yang berdekatan dengan keluarga Kristen yang hanya dirusak dan dijarah namun tidak dibakar, karena rumah-rumah itu terancam menjalarnya api ke sekitarnya sedangkan diperkampungan baru menjadi hancur lebur.
Jumlah yang pasti belum diketahui, karena perumahan yang di tengah perkampungan Kristen belum dapat dihitung, masih belum aman dari ancaman. Angka di bawah ini bersifat sementara. (tanggal 15 Februari 1999)

Rumah-rumah:   Dibakar       : 1.489 buah
                         Rusak berat :    390 buah
                        Rusak ringan :    329 buah +
                                              2.201 Buah

Pada umumnya , isi rumah dijarah sebelum dibakar dan dirusak. Sekitar 80% dari lokasi rumah-rumah tersebut tidak cukup aman untuk dibangun kembali sebab berada ditengah atau berdekatan dengan perkampungan Kristen, rasa takut dan trauma masih melekat untuk waktu lama. Dengan demikian banyak tanah milik Ummat Islam yang tidak dapat dimanfaatkan lagi, mungkin sekali akan menjadi milik Kristen.
Kerusuhan belum selesai, korban Ummat Islam setiap hari terus berjatuhan, kerugian di luar kota Ambon semakin besar. Jika TNI tidak berhasil menghentikan kerusuhan ini maka kerugian Ummat Islam harus segera dihentikan oleh Ummat Islam sendiri tanpa bantuan TNI.

KERUGIAN MORIL-PSIKOLOGIS
Kerugian  moril psikologis paling berat dan baru pertama kali menimpa Ummat Islam di kota Ambon dan sekitarnya yang berjumlah tidak kurang dari 150.000 jiwa itu. Penderitaan akibat perang memper-tahankan kedaulatan negara dan bangsa betapapun beratnya adalah konsekuensi setiap putra bangsa. Begitu juga penderitaan akibat bencana alam, diterima secara ikhlas dengan penuh keyakinan bahwa penderitaan itu adalah ujian dari Allah yang mudah-mudahan ujian itu akan menjadikan ummat Islam hamba-hamba yang bertaqwa. Tetapi akibat Peristiwa 1 Syawal 1419 H tidak dapat diterima begitu saja karena penyiksaan ini dilakukan oleh mereka yang sama sekali tidak berhak melakukannya terhadap Ummat Islam yang tidak bersa-lah apa pun kepada mereka.
Kerugian moril-psikologis ini bukan saja diderita oleh mereka yang keluarganya terbunuh, harta bendanya habis, lapangan kerjanya hilang dan masa depannya hancur berantakan tetapi, juga oleh mereka yang luput karena rasa takut dan trauma yang kali ini amat berat. Apalagi mereka yang secara langsung menyaksikan pembunuhan yang kejam itu. Serangan membabi buta juga ditujukan kepada beberapa tempat penampungan pengungsi, kepada mereka yang dalam perawatan di rumah sakit dan lainnya.
Beban mental juga menimpa sekitar 5000 pengungsi di Masjid Raya Al-Fatah, yang diserang 3 kali berturut-turut sejak hari H   s/d tengah malam pada hari kedua yang terdiri wanita dan anak-anak. Serangan pihak Kristen sampai 10 meter di depan pagar Masjid dan hampir menerobos hanya dihadapi petugas TNI yang hanya berjumlah + 10 orang  dan para Mujahidin dengan senjata seadanya. Betapa ketakutan para ibu dan anak-anak atas serangan itu bukan sesuatu yang mudah dilupakan, inilah perbuatan biadab yang tidak mungkin diperbuat oleh orang bertuhan.
Yang juga membebani perasaan adalah Ummat Kristen terutama yang muda menampakkan kegirangan atas kemenangan, sehingga di sekolah pun mereka menjadi tidak harmonis seperti sebelumnya dengan rekan yang Islam.
Tidak jelasnya proses penguburan bahkan tak jelas dimana kubur-nya anggota keluarga yang terbunuh. Karena tidak mungkin keluar bergerak dari batas kampung untuk menengok jenazah di rumah sakit atau terbaring di mana, sedangkan pihak Kristen relatif bebas bergerak kecuali memasuki perkampungan Islam.
Dendam Ummat Islam sangat dalam, dari hasil dialog dengan mereka yang mengungsi tampak rasa dendam itu sulit dihilangkan dalam waktu yang lama. Ini suatu kenyataan yang belum ditemukan bagaimana upaya yang dapat menghilangkan dendam itu. Karena itu perlu diwaspadai akan kemungkinan ekses diwaktu yang akan datang. Dendam yang timbul sekarang ini dapat dirasakan sebagai suatu dendam Ummat Islam di kota Ambon dan sekitarnya terhadap Ummat Kristen karena itulah kenyataan di lapangan yang disaksikan dan dirasakan, Ummat Kristenlah yang menghancurkan Ummat Islam. Selain itu dendam seperti ini juga mengendap pada diri pribadi perorangan yang merasakan akibat langsung penyiksaan ini. Dendam pribadi ini amat berbahaya karena bila ia muncul pada waktunya untuk melakukan pembalasan tidak ada tanda atau gejala yang mudah dideteksi.
Di era reformasi yang menuntut sikap pemimpin yang transpa-ransi, tidak memaksakan kehendak dan arogan dengan kekuasannya yang dipikul sebagai amanat Allah SWT, hendaklah berbagai kebijak-sanaan yang diterapkan dalam rangka penanggulangan akibat Tragedi Idul Fitri Berdarah ini mempertimbangkan kondisi psikologi Ummat Islam yang rawan ini jangan semakin dipersakit.
Dengan kebijaksanaan yang menolong akan mengurangi dendam dan memungkinkan percepatan rehabilitasi mental menuju ke arah terciptanya perdamaian alamiah. Ummat Islam tidak berkehendak untuk mendendam siapapun, tetapi yang terjadi ini adalah dendam yang dipaksakan sehingga beginilah kondisi kejiwaan Ummat Islam di kota Ambon dan sekitarnya ?

Bersambung Ke Bab 1-09

Top

Hosted by www.Geocities.ws

1