Bagian Pertama Bab 107
Idul Fitri Berdarah di Ambon
19 Januari 1999 / 1 Syawal 1419 H
PELANGGARAN TERHADAP KONSENSUS NASIONALNEGARA Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka pada 17 Agustus 1945, adalah negara yang didiami bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa, agama, bahasa dan budaya. Negara bhineka ini bisa langgeng sampai ke masa depan sangat tergantung kesepakatan kita bahwa hanya karena ada kesepakatan untuk Tunggal Ika. Kesepakatan ini amat penting sebagai jaminan bahwa semua orang dalam negara ini mengakui adanya kebhinekaan sebagai suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri tetapi hasrat untuk bersatu mengikat kebhinekaan itu dalam ketunggalan.
Itulah semangat yang mendasari berdiri tegaknya Republik Indonesia yang tahan terhadap berbagai hantaman separatis. Setiap warga negara Indonesia harus menerima, memelihara dan menjunjung tinggi kesepakatan itu dengan menerima secara ikhlas Pancasila, UUD ’45 dan wawasan kebangsaan sebagai rambu-rambu penyelamatan kehi-dupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.IDE SEPARATIS MENGANCAM PANCASILA
Tragedi Idul Fitri Berdarah dikobarkan dengan tuntutan suku Bugis, Buton dan Makassar meninggalkan Ambon / Maluku yang dalam peristiwa ini pada dasarnya semua pendatang yang beragama Islam dijadikan sasaran penghancuran dengan tujuan agar keseluruhan mereka keluar dari Maluku dan kenyataannya pula penduduk asli yang beragama Islam pun ikut tergusur.
Keinginan seperti itu, yang dicapai dengan kekerasan menun-jukkan bahwa mereka tidak bermain-main tetapi suatu tekad yang sudah final melalui pertimbangan yang matang. Menolak kebhinekaan adalah menolak wawasan kebangsaan, dasar negara dan ideologi Pancasila sebagai konsensus nasional. Sangat boleh jadi gagasan ini dimotori oleh para tokoh yang masih memilih RMS sebagai negara pilihannya. Hal ini dapat dimengerti penolakan terhadap kehadiran suku-suku lain di Ambon/Maluku sejalan betul dengan perjuanagn RMS yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia sejak tahun 1950.
Pada sekitar tahun 1989, Korem 174/PTM yang komandannya pada waktu itu adalah Kol.Inf.Rustam Kastor berhasil membongkar jaringan organisasi RMS di kota Ambon yang mempunyai rencana besar, tetapi mereka tidak punya kemampuan untuk mewujudkannya, tetapi di masyarakat Kristen ide seperti itu didukung. Dalam kasus Batu Gajah ide seperti itu muncul lagi dan pada kasus Tragedi Idul Fitri Berdarah ini mereka menampilkan ide itu tanpa perlu ditutup-tutupi bahkan demonstratif dengan yel-yel RMS, tulisan dan gambar.
Perkembangan baru RMS kalaupun ada peningkatan belum mampu mengorganisir suatu gerakan sebesar Tragedi Idul Fitri Berdarah karena RMS di Ambon hidup berkat adanya pembiayaan (pendanaan) secara teratur dari kelompok RMS di Belanda, semakin aktif menampakkan eksistensinya maka dana yang didapat semakin besar. Jadi RMS dalam kasus ini merupakan pelaku dari kepentingan atau tujuan bersama karena ide sepataris cukup besar pengikutnya di kota Ambon dan Maluku Tengah pada umumnya. Jadi walaupun bukan RMS sebagai pelaku utama tetapi ada kekuatan baru yang tidak jauh berpikir seperti RMS atau dapat kita katakan sebagai RMS baru.
Apabila dalam kasus Tragedi Idul Fitri Berdarah ini keseluruhan pemeluk agama Islam juga dijadikan sasaran penghancuran, tidak lain karena pemeluk agama Islam sejak perjuangan Indonesia Merdeka hingga sampai perjuangan melawan RMS hanya berfikir Maluku dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diploklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Selain penghancuran terhadap suku pendatang yang beragama Islam adalah serangan terhadap integritas bangsa Indonesia. Ide ini tidak boleh diberikan kesempatan untuk berkembang karena mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada dasarnya tidak boleh ada hak hidup bagi kelompok masyarakat yang menginginkan berdiri sendiri terpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukan di Maluku hak hidup mereka.KAUM SEPARATIS: DALANG IDUL FITRI BERDARAH
Tragedi Idul Fitri Berdarah ini amat spesifik, bukan sekedar meng-hantam suku dan agama, dua aspek yang sangat rentan dari SARA. Tetapi sekaligus mengancam agama Islam dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, UUD 1945 dan wawasan kebangsaan. Keseluruhan rambu-rambu bermasyarakat berbangsa dan bernegara itu sebagai kekuatan yang mengikat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia akan dihancurkan oleh kekuatan yang melancarkan aksi Tragedi Idul Fitri Berdarah ini. Tragedi ini jelas dirancang dengan sempurna, dilaksanakan secara berhasil dengan komando pengendalian yang efektif. Kenyataan di lapangan menunjukkan kecanggihan perencanaan yang meliputi hampir semua aspek dalam suatu gerakan politik dengan tujuan besar, bergerak secara serentak pada hampir semua lini, yang di Ambon ini titik berat gerakan mereka pada aspek militernya.
Apabila TNI tidak berhasil membongkar dan menghancurkan organisasi penggerak Tragedi Idul Fitri Berdarah ini maka diwaktu berikut, Negara Kesatuan Republik Indonesia akan terancam terus keutuhannya sebab ide itu latent.
Kondisi nasional yang terus memburuk dan perkembangan terakhir Tim-Tim akan memperkuat semangat separatis, kekuatan yang menggerakkan Tragedi Idul Fitri Berdarah telah terilhami oleh kemajuan yang dicapai Tim-Tim.Benarkah RMS Sebagai Pelakunya ?
Pada tahun 1989 Korem 174 / PTM berhasil membongkar jaringan organisasi gelap RMS di kota Ambon dan sekitarnya, dimana rencana membangun kekuatan bersenjata di pulau Seram berhasil dipatahkan. Seorang Mantan Perwira Menengah TNI-AD berpangkat Letkol. Inf.(purn) Ony Manuhutu (Jakarta) dilibatkan untuk menuntaskan rencana sekaligus memimpin kekuatan bersenjata di lapangan. Gudang senjata TNI milik LANTAMAL siap dibongkar untuk merebut senjata dan amunisi dengan dukungan seorang bintara pegudang.
Adanya repatriasi masyarakat asal Maluku dari negeri Belanda dan semakin baiknya transportasi serta adanya kebijaksanaan bebas visa maka kunjungan wisatawan Belanda dan warga negara Belanda asal Indonesia semakin besar jumlahnya ke Ambon. Pada umumnya mereka adalah keluarga eks KNIL sebagai serdadu RMS yang dibawa ke Belanda, mereka adalah pimpinan dan anggota RMS, maka pasti RMS di kota Ambon dan sekitarnya telah berkembang menjadi lebih kuat lagi. Kondisi nasional akibat reformasi yang berkembang penuh kekerasan dengan kerusuhan yang terus menerus memporak-porandakan berbagai aspek kehidupan bangsa telah menimbulkan peluang bagi RMS untuk tampil dengan rencana melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, ide yang telah berkembang sejak tahun 1950 yang terus melekat di banyak masyarakat Ambon yang beragama Kristen. Ada instruksi dari RMS di negeri Belanda untuk bersiap-siap mengambil alih kekuasaan di Maluku apabila akibat Reformasi Pemerintah Republik Indonesia jatuh.
Aparat kepolisian dan Teritorial TNI-AD tampak kurang sungguh-sungguh dalam mendeteksi perkembangan RMS, apalagi sejak Mei 1998 aparat kemanan lebih disibukkan pada huru hara reformasi total yang tidak terkendali.
Apa yang ditemukan di lapangan terlihat para tokoh dengan manuver politiknya, corat-coret, yel-yel adanya bendera RMS yang sempat dikibarkan di Gunung Nona, maka dugaan bahwa RMS adalah Pelaku Tragedi Idul Fitri Berdarah ini perlu diamati terus. Sejumlah dokumen melalui penemuan Tragedi Idul Fitri Berdarah bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, peristiwa ini adalah bagian dari suatu konspirasi besar dari rencana besar dengan dukungan kekuatan luar negeri.
Usaha Tim-Tim untuk melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia pasti memperkuat semangat kekuatan RMS untuk melanjutkan perjuangannya.
Kalau masyarakat Islam Maluku dijadikan sasaran penghancuran sistematik karena pihak Kristen di DPRD Tk I Maluku mengabulkan keinginan beberapa tokoh Maluku Utara untuk mendirikan propinsi sendiri Moluku Kie Raha (MKR) yang meliputi Dati II Maluku Utara dan Dati II Halmahera Tengah. Yang perlu dicurigai bahkan perlu ditelusuri lagi, ide ini termasuk rencana strategis RMS atau bukan.
Kehadiran utusan DPRD Tk.I Maluku ke Jakarta menghadap Presiden B.J. Habibie untuk menyatakan bahwa RMS tidak terlibat dalam kerusuhan Ambon justru memperbesar kecurigaan kita terhadap beberapa tokoh GPM sebagai pimpinan dan anggota DPRD Tk.I Maluku tersebut. Masalah keamanan bukan porsinya DPR, apalagi pihak Polda Maluku dan Korem 174/PTM saja belum menya-takan ketidak terlibatan RMS.
Tekanan kuat Word Bank dan IMF terhadap pemerintahan Suharto dan pemerintahan B.J. Habibie tidak dapat dilepaskan dari kerusuhan yang terjadi di Ambon yang tentu berangkai dengan apa yang disebut Hijau royo-royo dan jatuhnya sejumlah tokoh Kristen seperti Benny Moerdani yang menggembala program Kristenisasi, begitu juga sejumlah tokoh lainnya.
Walaupun analisis ini menunjukkan RMS sebagai Pelaku utama, tetapi tidak tertutup kemungkinan ada organisasi bentukan baru tetapi tetap membawakan ideologi separatis yang tujuan akhirnya adalah memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Oleh karena itu marilah kita melihat keterlibatan RMS ini dalam konstelasi yang lebih besar dan luas, berkaitan dengan kondisi nasional dan internasional dimana upaya penghancuran kemajuan Islam dimotori oleh lobby Kristen internasional.
Menghilangnya tokoh Benny Moerdani dari percaturan politik nasional kurang diwaspadai, padahal ia seorang ahli intelejen terke- muka di Indonesia dengan kemampuan luar biasa. Mustahil setelah diturunkan dari tahtanya ia akan menerima begitu saja, ia pasti akan bergerak di bawah permukaan yang hasilnya telah kita lihat bagaimana pemerintah orde baru di bawah Suharto maupun Habibie dihancurkan dan begitu tergantung pada negara asing khususnya Amerika, IMF dan World Bank ?Bersambung Ke Bab 1-08