Bagian Pertama Bab 106
Idul Fitri Berdarah di Ambon
19 Januari 1999 / 1 Syawal 1419 H
PENANGGULANGAN KERUSUHAN OLEH TNIBERBAGAI upaya tokoh agama ternyata gagal total untuk menghen-tikan niat menyerang massa Kristen, sedangkan massa Islam memang hanya defensif. Jadi tidak akan menibulkan ancaman, kecuali oleh massa Islam di desa di luar kota, yang dalam upaya mempertahankan Masjid Raya Al-Fatah keluar dari desanya menuju kota Ambon. Oleh karena itu harapan satu-satunya yang dapat mengatasi keadaan adalah tindakan TNI yang tegas sesuai petunjuk Panglima TNI dan Kapolri. Untuk dapat merebut inisiatif dari tangan perusuh maka kekuatan TNI harus diperbesar. Namun penanganan oleh TNI sangat menge-cewakan Ummat Islam.
KETERBATASAN PASUKAN
Keterbatasan pasukan TNI di Kodya Ambon pada hari H menye-babkan kerusuhan berkembang dengan cepat dan menimbulkan korban yang besar baik manusia maupun harta benda. Pasukan TNI tampak tidak dapat bertindak apa-apa yang oleh beberapa prajurit menjelaskan bahwa belum ada perintah kecuali menempati pos ini dan melakukan bela diri bila diserang dan terancam keselamatannya.
Pada H+1 sore telah ada penambahan pasukan, tetapi gerakan massa Kristen tidak terhalang, bahkan mereka seakan-akan mema-merkan kekuatan di depan hidung prajurit TNI. Tidak ada perintah yang jelas membuat para prajurit mengeluh apalagi karena merasa terancam pada sektor tertentu. Massa Kristen mengetahui betul akan hal ini apalagi tembakan yang terus dilakukan hanya berupa peri-ngatan dengan peluru hampa. Dalam waktu 1 minggu kekuatan TNI terus bertambah yang dengan kekuatan TNI lokal telah mencapai 3 Batalyon serta adanya perintah tembak ditempat. Dengan kekuatan sebesar itu barulah TNI mampu menekan aksi-aksi lawan, untuk sementara keadaan kota Ambon cukup tenang walaupun ketegangan masih terasa terutama di malam hari.
Setelah 2 minggu peristiwa berdarah ini terjadi ternyata 1 Batalyon Kostrad (Yonif 515) ditarik yang seharusnya belum saatnya karena situasi belum terkendali (otak penggerak dan organisasi pelaku kerusuhan masih utuh). Pengurangan pasukan ini membuat perusuh melakukan aksi penyerangan kembali.PERINTAH TEMBAK DI TEMPAT
Pada H+2 telah ada penambahan pasukan lagi sehingga keselu-ruhan terdapat 14 SSK dari TNI AD, TNI AL dan Brimob Polri. Dengan tambahan personil TNI maka Kota Ambon dikuasai TNI walaupun aksi massa Kristen masih terus berlangsung terutama bila malam hari.
Pada tanggal 22 Januari 1999 (H+3) dikeluarkan perintah tembak di tempat oleh Pangdam VIII/ Trikora pada sekitar pukul 15.00 WIT. Efek dari perintah itu sangat terasa dengan segera turunnya aktifitas pihak massa perusuh. Tindakan lanjut dari keputusan Pangdam VII/Trikora berupa pembersihan aksi massa yang secara seporadis melaku-kan pengacauan, hasilnya stabilitas keamanan semakin baik.
Perintah tembak di tempat ini ternyata tidak dilaksanakan dengan konsekwen hingga secara massa Kristen masih juga melakukan teka-nan yang berakibat korban jiwa dimana-mana termasuk gugurnya seorang prajurit TNI dari Yonif 515 Kostrad karena dibacok pihak perusuh beberapa jam sesudah perintah tembak di tempat yang sangat jelas di dengar dan dimengerti oleh semua pihak.
Dari keseluruhan pelaksanaan operasi terkesan TNI lambat bertin-dak, tampak seperti delay action yang disengaja, tetapi itulah hasil yang dicapai perusuh pada babak I / pematangan situasi dimana TNI dibuat tak berdaya.
Banyak kejadian, banyak fakta dan data yang dapat mengungkap tragedi ini ternyata berlalu begitu saja, TNI tidak tanggap untuk memanfaatkan sebagai bukti atau titik awal pengusutan, tak ada usaha untuk merekam bukti dan data.
TNI bahkan telah ikut membuat korban dengan menembak yang tidak bersalah, para prajurit Polri/Brimob yang beragama Kristen amat dicurigai keberadaannya karena memihak secara terang-terangan, ternyata mereka telah digalang sebelumnya agar ikut mengambil bagian.
Pada dasarnya TNI dinilai masyarakat tidak profesional dan tidak tegas. Perintah tembak ditempat bagi yang membawa senjata tajam keluar rumah akan ditindak dengan tembak ditempat ternyata serangan dalam jumlah ratusan orang bersenjata lengkap hanya dihalau dengan tembakan peringatan. Masyarakat Islam amat prihatin dan menyatakan protes sebab korban di pihak Islam terus berjatuhan, apalagi Safari Damai prakarsa Gubernur terus dipaksakan yang membuat Ummat Islam percaya bahwa lawanpun akan berdamai.SIKAP TNI MENGECEWAKAN UMMAT ISLAM
Tanda–tanda jelas adanya persiapan.
Sejumlah tanda-tanda cukup jelas menampakkan adanya persiapan pihak Kristen untuk melaksanakan aksi Tragedi Idul Fitri Berdarah ini. Tanda-tanda itu sama sekali tidak menarik perhatian TNI (Polda Maluku dan Korem 174/Pattimura), tidak jelas apa alasannya sehingga TNI tampak tidak profesional. Dengan demikian lawan bisa lebih leluasa mempersiapkan diri. Tanda-tanda tersebut diantaranya :
1) Adanya issu yang cukup terbuka + 3 bulan menjelang Tragedi Idul Fitri Berdarah bahwa suku BBM dan JS akan diusir dengan kekerasan dari Ambon. Akibatnya pada bulan Ramadhan banyak exodus keluar Ambon di luar kebiasaan karena jumlah yang banyak. Tokoh Kristen mencoba mengalihkan tanggung jawab atas kenyataan ini dengan menyatakan bahwa mereka ingin berlebaran tidak ada hubungannya dengan isu pengusiran akhir-akhir ini.
2) Produksi parang panjang dari desa-desa jazirah Leihitu meningkat, tetapi habis di pasaran. Parang panjang digunakan untuk ke hutan atau kebun karena itu tidak dibutuhkan masyarakat kota. Dalam Tragedi Idul Fitri Berdarah ini pihak Kristen dalam penyerangan-nya menggunakan parang panjang ( + 50% ) sedang yang lainnya tombak dan sebagainya, sedangkan pihak Islam hampir tidak ada parang panjang kecuali parang pendek untuk dapur. Aparat keamanan tidak menggubris info produksi parang ini.
3) Rata-rata para pejabat bukan asli Ambon/Maluku tidak mema-hami permusuhan Islam–Kristen yang latent, sehingga tidak tertarik membaca situasi dan menganggapnya hal yang mustahil. Begitu juga kalangan TNI yang tampak betul tidak dapat mengen-dalikan para perwira sampai dengan tamtama Kristen yang bersikap berpihak sehingga operasi penanggulangan menjadi tidak berjalan dengan baik apalagi sangat merugikan Ummat Islam yang hanya bertahan saja. Ada pihak yang menilai pelibatan oknum yang memihak ini akibat adanya pihak keluarga mereka yang terkena / korban kerusuhan. Pendapat itu sangat tidak benar karena yang paling banyak korban adalah keluarga dari prajurit- prajurit yang beragama Islam (BBM). Yang jelas aksi ini disiapkan dengan baik sehingga dukungan dari berbagai pihak telah dipersiapkan.
4) Peregangan hubungan harmonis antara Kapolda Maluku dan Danrem 174/PTM dianggap persoalan pribadi tidak mende-teksinya sebagai suatu rekayasa dalam rangka melemahkan TNI dalam bertindak. Gubernur menilainya sebagai akibat sikap arogansi Danrem 174/PTM yang lebih muda usia.
5) Peristiwa Wailete dan Air Bak berlalu begitu saja padahal kasus SARA (Suku dan Agama), sekecil apapun harus mendapat prioritas penanganan sampai tuntas dan transparan karena kasus ini amat rawan sebagai komoditi yang empuk dalam menimbulkan kerusuhan massal.
6) Kedatangan sekitar 200 preman Jakarta eks kasus jalan Ketapang yang pada umumnya beragama Kristen harus diperkirakan mempunyai tujuan tertentu apalagi ada niat balas dendam kepada Ummat Islam. Tokoh Milton (pimpinan preman Ambon) disebut–sebut sebagai pimpinan rombongan dari Jakarta tetapi meng-hilang begitu saja, secara keseluruhan tidak ada langkah antisipasi terhadap para preman ini sehingga mereka bebas bergerak mematangkan situasi menjelang 1 Syawal 1419 H. seharusnya mereka didata dan diberikan peringatan dan perhatian khusus dengan pengawasan ketat oleh aparat keamanan.Operasi Pengamanan Mengecewakan disebabkan oleh:
1. Tak mengerti latar belakang permasalahan.
Banyak terjadi permasalahan diluar perkiraan pejabat TNI seperti keberpihakan, informassi yang tidak sampai ke alamat, pergerakan pasukan yang justru menjauhi ancaman dan sebagainya merupakan hal yang diluar dugaan, sementara Ummat Islam merasa-kan bahwa para pejabat dalam menangani peristiwa berdarah ini seperti tidak mengetahui latar belakang konflik yang telah berakar dan berkembang ratusan tahun.
2. Peristiwa ini oleh TNI dirasakan sebagai pendadakan.
Seharusnya TNI tidak terdadak bila simbol-simbol yang tampak ditanggapi dengan pendekatan intelejen dan teritorial yang profesional. Pasukan yang terbatas, daerah yang bergolak begitu cepat mencakup seluruh kota membuat TNI kesulitan mengalokasikan kekuatan karena belum ada rencana operasi menanggapi perkembangan situasi.
3. TNI Ragu Berindak.
Sekitar pukul 18.00 WIT pada hari H semua ruas jalan dalam sektor pemukiman Kristen telah diblokir dengan penghalang jalan (barikade) seperti pohon ditebang, drum berisi batu dan sebagainya. Manuver TNI dihambat, tetapi TNI tidak berani membuka barikade-barikade tersebut dengan kekuatan sebagai penanggung jawab keamanan. Begitu juga dalam menghadapi serangan-serangan lawan, TNI relatif tak berbuat apa-apa walaupun sudah ada perintah tembak di tempat,
4. Banyak bukti-bukti di lapangan tidak direkam untuk pengusutan bahkan membiarkan mereka pamer kekuatan dengan menyanjung-nyanjung RMS dan menghina Negara Kesatuan Republik Indonesia.
5. Tidak ada ketegasan perintah.
Semua prajurit tempur diturunkan ke lokasi krisis tak tahu akan berbuat apa terhadap aksi lawan yang cenderung memanfaatkan kon-disi TNI. Prajurit bingung karena tidak ada perintah yang jelas kecuali bela diri bila terancam.
6. Perintah tembak di tempat.
Dua peristiwa besar yaitu tanggal 2 Februari 1999 dua jam menje-lang tibanya 5 orang menteri di Ambon dan serangan terhadap ibukota kecamatan Kairatu di pulau Seram. Secara terang-terangan lawan melanggar larangan membawa senjata tajam keluar rumah secara besar-besaran, tetapi penanganannya oleh TNI tetap tidak jelas sehingga korban dipihak Ummat Islam terus berjatuhan.
7) Inisiatif tetap di tangan musuh.
Dalam ilmu militer dikatakan bahwa dalam perang (pertempuran) ciptakan pendadakan, rebut inisiatif, pegang terus inisiatif, maka perang / pertempuran itu akan dimenangkan.
Pihak perusuh berhasil menciptakan pendadakan, Ummat Islam dan TNI menjadi kehilangan kendali sehingga para perusuh terus mendikte kemauannya, dimana pun mereka akan menyerang, dengan kekuatan berapa, kapan saja dan dengan cara apa saja dapat mereka lakukan. Inisiatif itu tidak berhasil direbut TNI dari tangan perusuh, karena itu kerusuhan terus berlanjut. Kelemahan TNI sebagai hasil babak I diekspliotasi oleh perusuh semaksimal mungkin. Inipun suatu bukti perencanaan yang canggih dalam menyiapkan kerusuhan ini.
Tahapan–tahapan terakhir ini berkembang isu yang memancing Ummat Islam untuk keluar menyerang, para tokoh Islam yang telah bekerja keras menahan amarah ummatnya,tetapi sejauh mana kemam-puan mereka kalau TNI tidak bertindak tegas terhadap provokasi dan intimidasi lawan
Menghimpun kekuatan untuk melakukan serangan balas adalah salah satu bentuk mematahkan inisiatif yang dipegang perusuh. Tekad Jihad Fie sabilillah tidak mungkin dilakukan walau kemampuan untuk itu sudah diorganisir tetapi tidak mungkin dilaksanakan karena sedang asyik bersafari damai ?Bersambung Ke Bab 1-07