Bagian Pertama Bab 105
Idul Fitri Berdarah di Ambon
19 Januari 1999 / 1 Syawal 1419 H
POLA PELAKSANAAN PENGHANCURAN UMMAT ISLAM DI AMBONMELIHAT suatu pekerjaan besar berlangsung teratur dan berhasil baik, kita berkesimpulan bahwa hal itu mesti telah direncanakan dengan bagus. Kasus Tragedi Idul Fitri Berdarah pada tanggal 19 Januari 1999, telah menunjukkan bahwa pekerjaan besar itu bukan sesuatu yang terjadi begitu saja tetapi lewat suatu perencanaan yang matang oleh mereka yang terlatih untuk itu.
Awal peristiwa berupa apa yang disebut sebagai kasus Batu Merah, ternyata berkembang begitu cepat dengan kesiapan pihak Kristen untuk menyerang seluruh perkampungan Islam, fasilitas perekono-mian, rumah ibadah dan pembunuhan. Keseragaman tindakan pada semua sektor didahului dengan melakukan konsentrasi kekuatan dari berbagai desa di balik kota Ambon sebelah timur (gunung) telah me-nampakkan jelas perencanaan yang bagus itu.PERENCANAAN CANGGIH, LENGKAP DAN TERKOORDINIR
Untuk dapat menilai tingkat kecanggihan suatu rencana pada pekerjaan besar yang melibatkan banyak orang, kerja yang rumit, meliputi area yang luas dan waktu yang amat pendek dapat dibukti-kan dari hasil yang dicapai, prosentase target dan Pelaksanaan yang terkoordinir. Dalam waktu 4 hari pihak perusuh telah mencapai hasil yang luar biasa, dengan korban yang amat dahsyat di pihak Islam.
Pengomandoan Terpusat.
Titik bakar menyala pada + pukul 14.00 WIT di desa Batu Merah. Sekitar pukul 18.00 WIT s/d 20.00 WIT terjadi penyerangan dihampir semua perkampungan masyarakat Islam di dalam Kodya Ambon. Pukul 18.00 (Magrib ± jam 18.45) di hari Lebaran merupakan saat yang tepat sehingga sejumlah Ummat Islam terjebak karena kunjungan bersilaturahmi di sore hari. Pendadakan itu membuat masyarakat Muslim kaget tidak mengerti apa yang sedang terjadi karena itu melakukan perlawanan dengan peralatan seadanya.
Rumah Ummat Islam yang berada di tengah perkampungan Kristen dihancurkan/dibakar oleh kekuatan yang dikirim dari kam- pung lain. Sementara warga setempat berpura-pura melindungi sebe- lumnya. Sasaran seperti ini sudah diplot untuk dihancurkan sehingga hampir tidak ada yang lolos. Pukulan hari pertama ini menimbulkan kekacauan luar biasa terhadap Ummat Islam yang sedang berlebaran, pengungsian besar-besaran menimbulkan beban tersendiri selain harus melakukan perlawanan tanpa persiapan. Serangan hari pertama ini juga merupakan suatu pendadakan yang sukses, kekacauan yang terjadi termasuk aparat keamanan yang juga terdadak telah membuat perusuh memegang inisiatif sampai lebih dari satu bulan.
Pada hari kedua tampak serangan semakin intensif pada semua sektor yang ditujukan pada fasilitas perekonomian yang dilakukan oleh gabungan kekuatan antar kampung yang terkoordinir baik, ter- utama penentuan saat serangan, sehingga aparat keamanan sulit mengalokasikan kekuatan yang terbatas itu. Konsentrasi kekuatan melebihi 5000 orang dengan senjata lengkap di lapangan Merdeka dan halaman Gereja Maranatha digunakan untuk menyerang Masjid Raya Al-Fatah dan sasaran ekonomi seperti pasar, kios , gerobak, becak dan angkutan kota termasuk rumah masyarakat Islam dekat pusat konsentrasi di gereja-gereja lainnya. Pada hari ke 3 barulah diketahui bahwa serangan terhadap Masjid Raya Al-Fatah sesungguh-nya selain akan merebut dan menghancurkan Al-Fatah juga untuk mengikat kekuatan yang mempertahankan Masjid Raya Al-Fatah agar sasaran pertokoan dan pasar dapat dituntaskan tanpa kekuatan Islam yang dapat digerakkan mencegah penghancuran fasilitas pereko-nomian. Serangan sesungguhnya dalam kekuatan besar terhadap Masjid Raya Al-Fatah pada tanggal 20 januari 1999 sekitar jam 22.00 WIT yang berhasil dipatahkan oleh massa Islam termasuk para wanita yang mendorong semangat dengan teriakan Allahu Akbar, tangis dan doa. Suatu peristiwa yang sulit digambarkan hanya dengan tulisan.Perencanaan yang canggih.
Puluhan ribu orang yang terlibat dalam aksi besar seperti ini akan kacau balau bila tidak direncanakan oleh ahlinya, mungkin sekali ia seorang perwira TNI atau mantan perwira TNI, atau orang yang telah disiapkan untuk itu.
Mengamati sasaran yang tepat, waktu yang terkoordinir serta pola yang sama menunjukkan bahwa proses perencanaan dilakukan dengan waktu yang cukup sehingga tiap sasaran telah ditinjau dengan baik. Banyak data yang bisa dijadikan ukuran bahwa aksi besar dan kom-pleks ini disiapkan oleh tenaga yang telah terbiasa atau dilatih khusus untuk itu. Perencanaan yang canggih ini juga terlihat dari segera dibangun-nya barikade/pembatas jalan pada H+1 di seluruh sektor/wilayah yang dihuni oleh masyarakat Kristen dalam rangka menghambat manuver pasukan TNI. Di perkampungan Islam pembangunan pembatas jalan (barikade) seperti ini dari bahan yang mudah disingkirkan seperti bangku kayu panjang dan lain sebagainya dengan tujuan mencegah gerak maju kendaraan dengan kecepatan tinggi serta mem-permudah kedatangan TNI untuk melindungi. Pada ruas jalan antara Batu Gantung dan RSU Haulussy (Kuda Mati) dibangun sekurangnya 6 buah barikade zig-zag serentak untuk menghentikan/memperlambat manuver TNI, manuver TNI terus dikontrol/kendalikan. Pada tiap rintangan jalan tersebut terpampang sekurangnya 6 buah triplek dengan ukuran besar bertuliskan “Bugis,Buton, Makassar Tinggalkan Ambon”. Triplek tersebut disandar-kan pada salib yang didirikan di tanggul penghalang jalan tersebut. Ada juga spanduk di beberapa tempat bertuliskan “Anda memasuki kawasan Israel” dan “Hidup RMS, RMS Yes”, “Mena Moeria Menang” (Salam kebangsaan RMS) dan kalimat–kalimat yang menghujat Islam secara tidak bermoral. Adanya informasi yang telah dibuktikan bahwa beberapa tokoh Kristen telah meninggalkan rumah bersama keluarganya sejak H-2 dan diperkirakan ada kaitannya dengan aksi perusuhan ini. Kedua tokoh yang meng- hilang tersebut terlihat berada pada H+2 di kediaman tokoh ketiga. Dari info ini boleh jadi mereka adalah para aktor intelektualnya. Sejumlah data diperoleh yang mendukung prediksi bahwa kekacauan ini diproses melalui suatu perencanaan yang matang, tinggal lagi apakah TNI cukup profesional dan berkemauan untuk membongkar kasus ini agar anasir-anasir yang berfikiran separatis dan anti Pancasila dapat tergulung sehingga Maluku dapat diselamatkan dari disintegrasi bangsa.Pola Operasi.
Pengacauan yang dilakukan kelompok Kristen ini menampakkan pola yang sama di beberapa sektor, yang sangat mencolok adalah :
(1) Tekanan yang dilakukan pada beberapa daerah dalam waktu yang relatif sama sehingga TNI sulit dalam penggerakkan pasukan yang terbatas terutama pada hari H s/d H+1. Tujuan gerakan ini untuk membangun kondisi siap menyerang pada semua sektor kekuatan Kristen. Mereka yakin bahwa kalau tidak memanfaatkan 2 atau 3 hari pertama maka hasilnya akan tertahan karena TNI akan di datangkan dari luar Maluku
(2) Adanya tahapan sasaran dengan prioritas sebagai aplikasi rencana strategi (lihat Bab V) sebagai berikut :Tahap I :
Melancarkan serangan ke seluruh sektor dengan sasaran serangan ke pusat pemukiman Islam. Pada tahapan ini sudah dilakukan pemba-karan untuk menekan moril masyarakat. Tahap I ini bertujuan menim-bulkan kekacauan, kepanikan sehingga terjadi pengungsian besar-besaran yang menimbulkan beban bagi kekuatan muslim sehingga tidak mampu melakukan serangan balas. Dalam keadaan seperti itu mereka menjadi bebas menghancurkan dan membakar fasilitas perekonomian seperti pasar Mardika, Pasar Batu Merah, pasar Gam-bus dan pertokoan Pelita yang dilaksanakan dengan teratur dan mencapai hasil gemilang.
Tahap II :
Yang menjadi sasaran adalah sarana perekonomian yaitu pasar, kios, toko, warung sampai becak milik suku BBM, Sumatra dan Jawa bahkan semua milik Ummat Islam. Sasaran ini dan sasaran pemukiman pada tahap I merupakan satu paket agar BBM dan lainnya tidak punya pilihan lain kecuali exodus dari Ambon.
Tahap III :
Pembakaran pemukiman, rumah ibadah dan pembunuhan, tahap ini dilakukan dengan berhasil maksimal, perintah tembak bagi pembangkang di keluarkan sesudah tahap III ini. Pada hari pertama saja Masjid yang terbakar telah mencapai puluhan buah dan pada hari kedua jauh lebih banyak lagi (lihat lampiran).
Tahap IV :
Menuntaskan sasaran tahap II dan III serta memberikan tekanan psikologis terus menerus agar pihak BBM dan JS tidak punya pilihan lain kecuali ke luar dari Ambon.
Pelaksanaan tahapan operasi tidak mengikat, lebih diutamakan peluang sehingga pada tahap I belum selesai sudah dimulai dengan sasaran tahap II dan seterusnya, tetapi tetap terlihat adanya titik berat penghancuran sesuai rencana yang telah disiapkan.
PELAKSANAAN.
1) Gerakan Massa Kristen.
Pada saat yang relatif bersamaan terjadi konsentrasi kekuatan pihak Kristen yang selanjutnya disebut PERUSUH di tiap kampung. Karena itu sekitar pukul 18.00 WIT secara merata telah terjadi penyerangan terhadap kampung Islam maupun perumahan Ummat Islam di luar perkampungan Islam yang tersebar. Konsentrasi berikut mulai sekitar pukul 21.00 WIT di lapangan Merdeka yang menjelang pagi mencapai jumlah + 5000 orang. Kekuatan ini yang membakar dan membunuh muslimin di pertokoan, pasar, kios dan sebagainya, mereka berasal dari desa-desa pegunungan dan dibalik pegunungan pada pesisir di selatan jazirah Leitimur. Dengan lokasi basis seperti itu mereka mudah melakukan konsentrasi tanpa diketahui aparat keamanan. Kecuali oleh masyarakat Islam Buton yang bertempat tinggal di pegunungan karena mata pencahariannya sebagai petani, berkebun dilereng gunung.
2) Gerakan Massa Islam.
Massa Islam yang terkena pendadakan tanpa persiapan apapun hanya mampu bertahan di sektor masing-masing. Mereka tidak memiliki senjata berarti kecuali seadanya. Karena itu mereka tidak pernah menyerang, apalagi belum ada seorang pimpinan yang tampil mengambil prakarsa mengatasi situasi yang tidak menentu itu, kecuali mengharapkan tindakan TNI. Dalam keadaan dimana Ummat Islam hanya mampu mempertahankan diri, terdapat sejumlah pemuda yang cukup heroik siap melakukan serangan balas, tetapi hal itu dicegah oleh para tokoh Islam, karena kita memang akan memenangkan aspek hukum dan politis yang lebih bersifat strategis yang dalam bahasa militer disebut memenangkan perang bukan pertempuran.
Dengan cara itu selama kerusuhan pertama sampai mulainya keru- suhan kedua tercatat dengan baik seluruh TKP berada di kampung-kampung Islam yang akan membuktikan bahwa merekalah yang merencanakan ummat Islam.
Kecuali pada hari kedua massa dari di Leihitu dalam jumlah besar bergerak kekota Ambon yang menimbulkan kerusuhan di beberapa perkampungan Kristen seperti desa Benteng karang, desa Durian Patah/Hunuth, Nania dan Negeri Lama. Pada benturan ini ratusan rumah masyarakat Kristen dan 6 buah Gereja dibakar termasuk perkampungan kecil Kristen yang berukuran kira-kira 50m x 300m yang terjepit diantara dua desa Islam yang besar yaitu Hila dan Kaitetu. Kemampuan menyerang ummat Islam ini dibuktikan oleh kekuatan dari desa Hitu dan beberapa desa sekitarnya yang walau dalam waktu singkat mampu membabat habis desa-desa tersebut ketika mereka kembali ke desanya setelah dicegah oleh Kompi Brimob di Passo untuk memasuki kota Ambon. Peristiwa ini bukan offensif tetapi defensif murni yaitu pemindahan kekuatan dari desa untuk mempertahankan objek vital (Masjid Raya Al-Fatah) yang secara terus menerus diserang oleh pihak perusuh. (lihat lampiran 4 tentang manuver massa Hitu ke kota Ambon bukan dalam rangka opensif)
3). Kemungkinan serangan balas oleh pihak Islam.
Ilmu militer menyatakan bahwa pertahanan yang terbaik adalah menyerang, itu artinya bertahan hanya karena belum siap untuk menyerang, mereka yang bertahan harus segera mempersiapkan diri untuk menyerang. Ilmu militer juga menyatakan bahwa rencana serangan balas adalah bagian tak terpisahkan dari suatu rencana pertahanan. Karena itu paling lambat seminggu setelah terkena pendadakan, Ummat Islam dengan tekad dan semangat Jihad Fie-sabilillah harus sudah melakukan serangan balas, namun beberapa faktor non militer telah menghambat niat tersebut terutama aksi safari perdamaian yang terus dilakukan oleh tim yang dibentuk khusus untuk itu.4) Massa Kristen terus menyerang sampai dengan adanya perin-tah tembak ditempat oleh pangdam VIII/Trikora pada H+3 (hari keem-pat) pada pukul 15.00 WIT setelah shalat Jum’at. Perintah tembak ini berhasil untuk sementara tetapi berikutnya perusuh melakukan aksi yang semakin brutal.
Kesemuanya itu terjadi karena inisiatif masih tetap di tangan pihak perusuh, aktor intelektual tetap mengomandoi dan mengendalikan pasukan Kristen di lapangan.
5) Dalam waktu 4 hari berhasil menyelesaikan sasaran taktis seperti dijelaskan pada Bab V. Namun sasaran strategis seperti dicanang- kan mustahil berhasil di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang di dalam memelihara persatuan dan kesatuan bangsa telah mengikrarkan sejumlah kesepakatan nasional yang dijadikan rambu-rambu dalam beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara ?Bersambung Ke Bab 1-06