Bagian Pertama Bab 103
Idul Fitri Berdarah di Ambon
19 Januari 1999 / 1 Syawal 1419 H
PERISTIWA WAILETE DAN BAK AIR
SEBAGAI PEMICU TRAGEDI IDUL FITRI BERDARAHPERISTIWA WAILETE DAN BAK AIR SEBAGAI TEST CASE
Penyerangan Masyarakat Hative Besar terhadap Masyarakat Wailete.
Desa Wailete adalah perkampungan yang dihuni masyarakat BBM yang terkenal gigih dalam mencari nafkah, sedangkan Desa Hative Besar dihuni oleh penduduk asli yang beragama Kristen mata penca-hariannya pegawai negeri dan bertani.
Pada pesta perkawinan ada acara joget, sebagai biasanya diluar arena sejumlah pemuda menenggak miras sampai mabuk. Seorang Prada Yonif 733/Linud yang kompinya berjarak + 300 m dari arena joget membuat Pelanggaran karena memakai topi sambil berjoget (aturan setempat), ketika ditegur yang bersangkutan tidak menerima dan terjadi perkelahian dengan para pemuda yang sedang mabuk. Kasus perkelahian di acara pesta merupakan hal biasa dan tidak berke-lanjutan. Untuk kasus ini agak lain karena berkelanjutan timbul sera-ngan ratusan orang dengan batu dan membakar kampung Wailete. Peristiwa penyerangan ini membuat Ummat Islam bingung karena tidak ada relevansi dengan perkelahian di pesta. Serangan dilakukan dua kali pada malam itu dimana tahap kedua dilakukan secara tuntas membakar habis semua rumah sehingga penghuni hanya menyelamat- kan diri dengan baju yang melekat di badan saja.
Tidak pernah ada kejelasan penyelesaiannya bahkan polisi tampak ragu menghadapi ancaman warga desa Hative Besar, keraguan aparat ini tampak jelas sebagai hasil penghujatan selama demo dengan pecahnya insiden Batu Gajah.Dalam rangkaian penghujatan lewat ber- bagai media massa sebagian berpendapat bahwa oknum Polri telah berhasil digalang untuk melaksanakan rencana mereka. Surat kabar Suara Maluku tidak memberitakan peristiwa besar ini secara propor- sional, dua kali pemberitaan yang tidak jelas kemudian menghilang, padahal kasus Batu Gajah diberitakan luar biasa bahkan tulisan-tulisan dengan ungkapan Anjing dan Babi masih berulang selama sebulan.
Ummat Islam yang menjadi panas karena solidaritas Islamiyahnya sebenarnya mengharapkan adanya reaksi protes, pembelaan dan per- tolongan yang memadai tetapi hal itu tidak terjadi karena para pemim- pinnya memang lemah dan tidak ada tokoh pemersatu. Warga masyarakat desa Hative Besar telah membuktikan secara nyata isu yang berkembang bahwa suku BBM dan JS akan diusir dari Ambon.
Setelah aksi pembakaran itu para tokoh desa Hative Besar menge-luarkan pernyataan bahwa mereka tidak akan menerima kedatangan suku BBM lagi ke desa Wailete, karena itu desa Wailete tidak pernah dibangun lagi, bahkan para penghuni yang telah melarikan diri itu tak berani mengunjungi bekas kampungnya. Pemerintah daerah tidak memasukan pembakaran desa Wailete ini kedalam program reha-bilitasi, dianggap bukan dalam rangka kerusuhan Ambon.Penyerangan oleh masyarakat desa Tawiri terhadap desa Bak Air.
Desa Tawiri masyarakatnya beragama Kristen sedangkan desa Bak Air yang hanya berpenduduk sekitar 8 keluarga beragama Islam (desa kecil). Pada suatu hari babi peliharaan masyarakat Tawiri memasuki kebun masyarakat desa Bak Air, hal seperti ini biasa terjadi. Menghalau dengan lemparan batu saja Babi akan keluar dari kebun. Kali ini men- jadi masalah karena ada yang memanas-manasi dan akhirnya kam-pung kecil itu hujan batu. Penyelesaian oleh pihak polisi pun tak membawa hasil apalagi ada pihak yang dihukum.
Terlihat jelas bahwa kerusuhan di atas telah direncanakan sebelum- nya dalam rangka mencoba rencana besar mereka.
Kedua kasus tersebut diatas sangat memukul perasaan Ummat Islam, yang hanya dapat menerimanya dengan sabar sebagai hal yang terbiasa sejak nenek moyangnya yang selalu diancam. Inilah sebuah test case yang dinilai berhasil mendeteksi keberanian, persatuan dan kesatuan serta kesiapan Ummat Islam se Ambon untuk berperang. Kesabaran Ummat Islam yang tengah menyongsong bulan Ramadhan itu dianggap suatu kelemahan terutama penilaian terhadap suku BBM yang kurang kompak. Atas dasar penilaian demikian itu tampaknya dijadikan peluang untuk mengobarkan Tragedi Idul Fitri Berdarah. Hal ini terbukti dengan tiba-tiba didatangkan ratusan preman dari Jakarta, eks konflik Jalan Ketapang Jakarta sebagai pelaku di lapangan. Dikaitkan dengan Tragedi Idul Fitri Berdarah, maka kedua kasus diatas harus dianggap sebagai bagian yang tak terpisahkan, atau sebagai babak pertama dari seluruh babak yang berjudul Tragedi Idul Fitri Berdarah. Seandainya ummat Islam di Ambon menyatakan protes keras kepada pihak Kristen yang berpura-pura tidak tahu maka mereka akan ragu memasuki babak kedua yaitu adegan Tragedi Idul Fitri Berdarah. Dengan kata lain Tragedi Idul Fitri Berdarah itu belum tentu bisa terjadi karena uji cobanya tidak berhasil, Ummat Islam masih siap dan kompak, siaga menghadapi setiap kemungkinan.
Begitu pula Polri, jika betul-betul profesional dan bersungguh-sungguh dalam menangani kasus diatas, termasuk datangnya ratusan orang kiriman itu, maka peristiwa yang amat menyakitkan Ummat Islam se Indonesia ini mungkin tidak akan terjadi. Begitu juga kegeli-sahan masyarakat luas akibat munculnya kabar burung bahwa akan ada kekacauan besar ketika Shalat Idul Fitri. Jadi sesungguhnya tra-gedi ini merupakan ketidak-profesionalan TNI atau lemahnya TNI akibat penghujatan. Jelas ini merupakan peluang yang mulus bagi golongan untuk merencanakan rencananya.
Marilah kita lihat tragedi ini sebagai salah satu bukti rencana stra-tegis pihak perusuh yang teratur dan terencana, sehingga berhasil demikian baiknya. Banyak gejala yang nampaknya janggal, seperti peran Kakanwil Departemen Agama dan sejumlah tokoh Kristen, yang terus menerus menggembar-gemborkan Pela-Gandong, termasuk Menteri Agama, Malik Fajar (Kabinet yang lalu), isu yang menekan moril suku BBM dan kita saksikan banyaknya pendatang yang mengungsi meninggalkan Ambon selama bulan puasa. Brigjen. TNI.(Purn) Rustam Kastor, penulis buku ini, telah mulai menulis beberapa judul tulisan di Suara Maluku, untuk membangun semangat pengamanan lingkungan yaitu membentuk security belt dan security net untuk menghadapi kemungkinan berkembang ancaman kerusuhan di Ambon. Bahkan tulisan lainnya mengingatkan tentang adanya perkembangan situasi yang kurang menguntungkan itu. Perlu pula dicatat bahwa ajakan untuk menyiapkan naskah khotbah Idul Fitri secara bersama, guna membantu Ketua MUI sebagai Khatib ternyata gagal, padahal itulah saatnya mengingatkan Ummat Islam akan peringatan Rasulullah saw. tentang kewajiban belajar memanah, berkuda dan berenang bagi setiap anak lelaki yang tiada lain adalah ingin mengajak Ummat Islam untuk menghadapi secara khusus situasi buruk yang sedang berkembang. Begitu pula pada awal November 1998, Brigjen (Purn.) Rustam Kastor dan Ustadz Abd.Rahman Khouw pernah melakukan rapat dengan para tokoh muda dan beberapa tokoh agama, untuk menjajaki dibentuknya suatu wadah untuk menghimpun ormas Islam yang tidak terorganisir untuk mengantisipasi perkem- bangan yang semakin panas. Usaha ini tidak berlanjut karena pihak Pemda dengan dimotori Kakanwil Depag telah mulai mengajak pihak Kristen untuk membentuk Satgas dan melakukan do’a serta ikrar bersama, dengan harapan supaya tidak terpengaruh oleh kerusuhan yang terjadi di beberapa daerah di tanah air.
Pembentukan Satgas yang diisi oleh beberapa personil dari Islam dan Kristen tidak ditanggapi oleh pihak Kristen, tidak lain karena Satgas akan menghalangi rencana pihak Kristen menyiapkan keru-suhan ?Bersambung Ke Bab 1-04