Bagian Pertama Bab 102
Idul Fitri Berdarah di Ambon
19 Januari 1999 / 1 Syawal 1419 H
KONDISI DAN REALITAS BUDAYA YANG KURANG MENGUNTUNGKANADA beberapa kondisi obyektif serta realitas budaya yang tidak menguntungkan sehubungan dengan kondisi kemasyarakatan antara masyarakat yang beragama Islam dengan yang beragama Kristen. Kondisi seperti ini diketahui oleh setiap tokoh muslim di Ambon-Maluku,tetapi tidak pernah ada upaya nyata untuk mengantisipasinya, bahkan cenderung memandangnya secara tidak obyektif dan proporsional, demi kepentingan politis ataupun intres tertentu. Kondisi yang tidak menguntungkan ini telah berlangsung dalam rentang waktu yang panjang dan lama, sehingga menimbulkan akibat yang cukup serius, ibarat api dalam sekam. Kondisi budaya yang dimaksud dapat disebutkan di sini antara lain:
Budaya Pela Gandong
Menurut kisah para tetua adat, budaya Pela adalah suatu pernyataan kekerabatan atau persaudaraan mutlak, suatu semboyan yang memiliki kekuatan pengikat dalam membentuk persatuan dan kesatuan di antara mereka yang ber-Pela, dengan sanksi apabila lara-ngan-larangan (yang ditabukan) dilanggar, maka akan berakibat fatal bagi yang bersangkutan. Oleh karena itu para leluhur betul-betul menjaga diri untuk tidak melanggar. Tetapi generasi muda yang hidup di alam modern ini banyak yang tidak lagi yakin akan sejumlah pantangan itu, dan ternyata mereka biasa-biasa saja, tidak mendapat atau terkena gangguan apapun.
Pada era orde baru, Pela telah digunakan sebagai alat politik untuk kepentingan elit kekuasaan, dalam hal seperti itu pihak Islam tentu jadi objek garapan.
Karena itu terbuailah kita orang Ambon (Maluku bagian tengah), percaya adanya kekuatan metafisis. Beberapa tokoh Islam amat mera-gukan apa yang dikatakan Pela itu, karena kenyataan di lapangan Ummat Islam selalu diperlakukan tidak adil, seperti penderitaan yang dialami ketika dijajah RMS. Ummat Islam dibunuh, kampung dan Masjidnya dibakar. Perlakuan tidak adil yang terjadi sampai hari ini, ternyata saudara Pela tidak pernah membela saudaranya yang disiksa ataupun dibunuh. Akan tetapi anehnya, sejumlah tokoh Islam dengan lantangnya memuji budaya Pela, karena takut tergeser dari jabatan.
Dengan taktik Pela Ummat Islam berhasil dinina bobokkan ratusan tahun, dan tetap tertidur pulas di era reformasi ini. Allah S.W.T telah murka kepada pemimpin yang menipu ummatnya. Secara matematis, Pela juga tidak memiliki daya kohesifitas, karena Pela adalah hubungan desa A dan desa B saja, jadi tidak membuat jaring yang rapat, dari segi prosentase terlalu kecil untuk bisa berperan sebagai perekat. Kepercayaan kepada Pela telah membuat kita membohongi diri sendiri dan tidak waspada terhadap niat busuk golongan Kristen yang memusuhi Ummat Islam berabad-abad lamanya, yang akhirnya kita terima sebagai penderitaan teramat berat pada tanggal 1 Syawal 1419 H yang dikenal dengan nama Tragedi Idul Fitri Berdarah.
Penulis dengan yakin berpendapat demikian karena apabila daya kohesifitas itu benar adanya, maka ummat Kristen tidak mungkin terprovokasi untuk membunuh saudara Pelanya.
Jadi ternyata Pela itu telah digunakan secara efektif sejajar dengan perlakuan ketidak adilan dan diskriminatif, sehingga tertutup semua tipu daya mereka.
Setahun menjelang peristiwa berdarah ini, Pela telah diintrodusir oleh pihak Kristen dengan Gandong. Maka jadilah Pela-Gandong, yaitu suatu penegasan bahwa antara yang Islam dan Kristen itu saudara sekandung, sehingga lagu pun diciptakan sebagai lagu wajib di tiap acara pertemuan. Pela–Gandong begitu gencar dipopulerkan, tetapi akhirnya dapat kita deteksi sebagai langkah pematangan situasi untuk suatu niat jahat pada 1 Syawal 1419 H yang lalu.
Sesuatu yang amat dibuat-buat lagi, adalah tudingan yang dialamatkan kepada suku Bugis, Buton, Makasar, Jawa dan Sumatera, sebagai orang-orang yang, “Telah merusak Pela-Gandong budaya leluhur orang Maluku”. Sesungguhnya suku-suku pendatang itu termasuk dari Maluku Utara dan Maluku Tenggara tidak ada urusan dengan Pela Gandong. Mereka tidak mengenalnya, tetapi terbukti mereka lebih rukun dibandingkan orang-orang asli Maluku yang terus menerus bermusuhan. (Penjelasan lebih rinci ada pada bagian lampiran !)Republik Maluku Selatan (RMS) sebagai Broker
RMS adalah negara boneka ciptaan Belanda agar memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ummat Islam menentang habis-habisan walaupun banyak korban nyawa, harta dan moril. Karena itu Ummat Islam dimusuhi dan secara sistematis akan dihan-curkan, sebab dalam perhitungan mereka, mustahil RMS bisa eksis bila lebih dari ± 50% rakyatnya menolak. Maka dimulailah penindasan tak berperi kemanusiaan, dan Ummat Islam menerimanya dengan pasrah, karena merasa tak berdaya untuk melawan.
RMS sesungguhnya adalah akronim dari Republik Maluku Sarani (Nasrani dalam ungkapan orang Maluku). Kebencian Ummat Kristen terlihat dalam bentuk kekejaman pemerintahan RMS yang pejabatnya dan angkatan perangnya 99,9 % beragama Kristen. Korban kekejaman RMS persis sebagaimana yang diderita Ummat Islam dalam Tragedi Idul Fitri Berdarah ini. Saling membenci itu masih terasa karena ternyata RMS yang terselubung (latent) sesungguhnya masih eksis. RMS telah ikut berperan dalam Tragedi Idul Fitri Berdarah, bahkan justru sebagai dalang utama. Ini bukan sekedar dugaan tanpa alasan. Pada waktu demonstrasi, 18 November 1998, dapat dengan jelas dan terang-terangan kita saksikan mereka meneriakkan “Hidup RMS”, Mena Moeria Menang. Bukti lainnya, bertebarannya sejumlah tulisan “Hidup RMS” yang sengaja dipamerkan di jalan-jalan, begitu juga pengibaran bendera RMS secara berani di Gunung Nona. Apabila benar RMS di balik tragedi ini, maka tidak mungkin bagi Ummat Islam menerima ide separatis. Oleh karena itu Ummat Islam di Malu-ku akan berjuang habis-habisan melawan pihak yang ingin melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hendaklah kita lebih jeli melihat latentnya RMS sebagai suatu ide separatis yang tetap hidup di hampir semua isi kepala tokoh Kristen. Atas dasar ini, maka jelas adanya suatu konspirasi besar untuk kepentingan politik Kristen Indonesia, dan dalam kerusuhan Ambon, dapat dipastikan Brokernya para pendukung atau agen-agen RMS.Suku Bugis, Buton, Makasar dan Lapangan Pekerjaan
Sejak zaman penjajahan Belanda, masyarakat Kristen Maluku merupakan anak emas, yang mendapatkan perlakuan istimewa oleh sebab kesetiaan mereka kepada majikan penjajahnya, sehingga diang-kat sebagai prajurit-prajurut kepercayaan, dan para ambtenar. Itulah sebabnya, banyak dari mereka menduduki pekerjaan kantoran, sedang pekerjaan non formal kurang diminati.
Suku Bugis, Buton dan Makasar (selanjutnya disingkat BBM) meli- hat adanya peluang yang baik untuk mencari nafkah di Maluku khusus nya Ambon dan sekitarnya, sebagai pusat kegiatan pemerintah- an, perdagangan, pendidikan dan sebagainya.
Karena kegigihan, keuletan dan ketrampilan di bidang yang dite-kuni tanpa kenal lelah itu, mereka sangat berhasil pada aspek sosial ekonomi, yang tentunya berdampak pada aspek lainnya.
Apabila mau jujur, masih ada suku lain lagi yang sama uletnya dengan suku BBM ini, yaitu suku Toraja yang beragama Kristen. Maka jika masyarakat Maluku merasa tergeser dalam berbagai bidang usaha, sesungguhnya mereka sedang bersaing menghadapi 6 suku yaitu BBM, Jawa, Sumatera dan Toraja yang hampir merebut semua pekerjaan di bidang sarana umum, termasuk pengemudi angkutan kota yang + 60% adalah suku Buton, dan hampir 100% pengemudi becak. Meningkatnya kondisi sosial ekonomi keenam suku tersebut menimbulkan gesekan dengan masyarakat Maluku/Ambon khususnya yang beragama Kristen. Sedangkan yang beragama Islam dapat menerimanya, karena mereka berada pada pekerjaan non formal lainnya bahkan menyatu dengan keenam suku pendatang tersebut sejak ratusan tahun lalu. Kecenderungan ini terus berkembang dengan posisi keenam suku tersebut semakin kuat. Bila pada rencana pengusiran pendatang hanya suku BBM saja yang diangkat ke permukaan, maka dalam pelaksanaannya terdapat 5 suku yang dibabat yaitu Bugis, Buton, Makassar, Jawa, dan Sumatera. Adapun suku Toraja tidak dijadikan sasaran, tentu bukan tanpa alasan, sebab suku ini beragama Kristen.
Meningkatnya tingkat kehidupan suku BBM dan Jawa, Sumatera ini telah menimbulkan kecemburuan sosial yang tidak masuk akal.Kediaman Masyarakat BBM pada Lokasi Rawan Konflik
Dahulu di Maluku masyarakat Islam dan Kristen terpisah mutlak dalam pemukiman yang berbeda (Homogen). Hal ini disebabkan sejarah perjuangan Ummat Islam yang menentang Belanda, sedangkan Kristen yang lebih akomodatif dan bekerjasama. Selain itu penyebaran agama Kristen yang memboncengi kolonisasi/penaklukan membuat desa Islam dan Kristen menjadi terpisah.
Suku BBM dan pendatang lainnya sukses dalam perbaikan sosial ekonomi, sehingga berhasil membeli tanah dan membuat rumah serta mengembangkan usaha. Karena keterbatasan tanah dan tidak pernah berpikir adanya kerukunan hidup antara ummat beragama yang semu sebagai akibat sejarah masa lalu, mereka membangun rumah sampai ke tengah perkampungan Kristen, atau mengelompok dalam jumlah kecil di dekat kampung Kristen. Karena itu kecemburuan berkembang di lahan subur. Sebagai masyarakat yang beragama Islam dan Kristen bertetangga sesungguhnya mereka berada pada kondisi rawan sebab kerukunan yang ada terlalu semu. Apa yang kita saksikan dalam Tragedi Idul Fitri Berdarah ini telah menjadi bukti akan kekhawatiran yang selama ini menggantung.Kerukunan Hidup Antar Ummat Beragama yang Semu
Memang benar, pernah disuatu masa dahulu, kehidupan antar ummat beragama di Maluku begitu baik sehingga sering dijadikan contoh sebagai yang terbaik di Indonesia, bahkan tentunya terbaik sedunia. Akan tetapi, yang sebenarnya terjadi bukan suatu kerukunan tetapi terpaksa rukun, karena pihak Islam sejak dijajah Belanda memang tak berdaya dalam banyak hal, termasuk tidak berdaya tampil membela hak asasinya, sehingga menerima begitu saja perlakuan yang tidak adil ini. Persaingan hidup terus berjalan secara tidak fair, karena pihak Kristen menguasai posisi-posisi kunci di lembaga pemerintah, sementara kaum muslimin diperlakukan secara diskriminatif.
Itulah gambaran kerukunan masyarakat Islam Maluku, sesudah RMS berhasil membangun diri, pelan tapi pasti walau dalam kuantitas yang lebih kecil. Takut tersaingi membuat kerukunan itu menjadi semu, walau kita tetap berpura-pura amat rukun karena malu sebagai contoh terbaik se-nusantara. Ketidak rukunan itu terus meningkat karena perebutan peluang maju dimana yang muslim selalu terkena diskriminasi dan ketidakadilan karena kelompok Kristen memang sejak dulu telah menduduki posisi penting yang enggan mereka lepaskan, dan mereka sadar bahwa memberikan peluang kepada generasi muda Islam akan mengancam dominasi mereka di masa depan, lebih-lebih dengan adanya kenyataan, bahwa Islam sebagai mayoritas di bumi Indonesia, semakin menambah kekhawatiran mereka. Diskriminasi itu dapat dilihat nyata dimana hampir semua instansi pemerintah didominasi pihak Kristen. Inilah wujud pembo- hongan diri, sengaja tidak mau melihat kenyataan bahwa kerukunan itu semu dan dipaksakan. Para tokoh Islam tidak pernah mengantisi- pasi ancaman yang berbahaya ini, karena persatuan dan kesatuan di antara tokoh Islam yang dapat berfungsi sebagai faktor penangkal, masih memerlukan penanganan yang lebih baik lagi.
Perlakuan tidak adil itu tampak mencolok pada instansi Peme-rintah yang vital seperti bidang pendidikan yang menyiapkan SDM. Di bawah ini terlihat kondisi di Universitas Pattimura.No Fakultas Jumlah Dosen Jumlah Keterangan Islam Kristen
1. HUKUM 1 74 75
2. TEKNIK 4 71 75
3. PERTANIAN 11 161 172
4. FISIP 32 36 38
5. EKONOMI 18 37 55
6. FKIP 30 129 159
7. PERIKANAN 1 110 111J u m l a h 97 648 745
Sumber : Buku Biru Universitas Pattimura Ambon Tahun 1997
Kecemburuan Akibat Ketidakadilan
Dalam kenyataan keseharian, posisi kunci penentu kebijaksanaan dan pengambilan keputusan di Maluku, berada hampir 90% dalam genggaman tokoh Kristen. Oleh karena itu Ummat Islam merasa ter-kunci setiap akan melangkah. Mereka yang pernah berkhianat kepada bangsa ini, malah justru mendapatkan jauh lebih banyak manisnya gula kemerdekaan. Sedangkan Ummat Islam yang nenek moyangnya berperang habis-habisan menentang penjajah justru mendapatkan perlakuan yang tidak adil, diskriminatif dan amat menyakitkan.
Dalam pembuktian perjuangan melawan penjajah justru Pattimura diperlakukan tidak proporsional, ia sejak lama diakui sebagai pahla-wan nasional dan diperkenalkan sebagai pahlawan nasional asal Maluku dengan segala kisah cerita yang direkayasa. Padahal Pattimura yang beragama Kristen itu berjuang tidak lebih dari 2 bulan saja. Selanjutnya dia tertangkap dan dihukum mati setelah melalui proses hukum yang memakan waktu. Tidak banyak catatan sejarah tentang perjuangan Pattimura, bahkan gambar wajah Pattimura pun meru-pakan hasil rekayasa. Dan yang lebih penting lagi, masih belum jelas, dari kisah 3 orang pejuang Maluku masing-masing mempunyai akses kuat sebagai pahlawan Pattimura, dimana 2 orang adalah Islam.
Seminar yang pernah diadakan tidak berani membuka tabir lebih lebar lagi, karena khawatir Pattimura yang sudah diakui sebagai pahlawan nasional menjadi objek bulan-bulanan. Pahlawan nasional Nuku yang beragama Islam, baru saja diakui pemerintah pada tahun 1997 setelah diperjuangkan Ummat Islam, padahal kepahlawanan Nuku luar biasa, disegani Belanda, pernah menguasai seluruh wilayah Maluku sampai daratan Irian Jaya. Perang Tidore pada tahun 1780-1805 yaitu selama 25 tahun telah mengukir kepahlawanan Nuku menghantam penjajah Belanda di seluruh wilayah Maluku sampai dengan daratan Irian Jaya, dengan bukti pemeluk agama Islam di sekitar Fak-Fak dan pedalaman kabupaten Manokwari. Belum lagi kita bicarakan kepahlawanan sejumlah tokoh dari kerajaan–kerajaan Islam selain Tidore. Cara masyarakat kota Ambon dan sekitarnya dan masyarakat Kristen Maluku di perantauan merayakan hari Pattimura setiap tahun tidak masuk akal bila dibandingkan suku lain merayakan pahlawan asal daerahnya. Ummat Islam Maluku sesungguhnya tidak dapat menerima cara seperti ini, apalagi acara pagi yang menyita waktu shalat Subuh, adalah suatu rekayasa. Kecemburuan pun akhir-nya bagai api dalam sekam, menunggu saatnya pecah konflik, dan sejak dulu, siapa peduli ini semua.Fakta-fakta yang Mempertegang Situasi
Bersambung Ke Bab 1-03
- a. Kasus Wailete dan Bak Air yang tidak ditangani secara tuntas, dimana pihak masyarakat BBM dan Ummat Islam diperlakukan tidak adil. Ummat Islam walau tidak puas ternyata para tokoh dan pemimpinnya tidak memberikan reaksi memadai padahal mereka adalah para pimpinan organisasi Islam. Kasus ini sebagai suatu uji coba untuk mengetahui reaksi Ummat Islam, sudah waktunya dipukul atau belum.
- b. Kedatangan Ratusan Preman dari Jakarta eks Jalan Ketapang. Kedatangan para preman ini seharusnya dianggap sebagai ancaman, karena itu mereka perlu didata, diambil identitasnya dan diawasi oleh pihak kepolisian, agar tidak dimanfaatkan dalam Tragedi Idul Fitri Berdarah ini. Dari data, info dan kasus yang timbul satu-dua bulan sebelum Idul Fitri, seharusnya aparat keamanan sudah dapat memastikan apa yang akan terjadi. Preman ini ternyata datang bukan karena keinginan sendiri, melainkan mereka dibayar untuk pekerjaan tertentu. Kedatangan mereka dalam jumlah begitu besar secara serentak mestinya sudah harus dicurigai. Fakta ini seharusnya dapat dijadikan titik awal pengusutan Kasus Tragedi Idul Fitri Berda-rah, dengan memeriksa para preman yang sengaja didatangkan ke Ambon itu. Tetapi hal ini tidak dilakukan, sampai sekarang.
- c. Pembentukan Satgas, Posko dan Do’a Bersama. Langkah antisipasi dengan membentuk satgas, posko dan doa bersama sesungguhnya cukup baik, tetapi karena tidak ada tindak lanjutnya kegiatan-kegiatan tersebut justru telah menurunkan tingkat kewaspadaan Ummat Islam karena percaya telah ditangani pejabat. Ketiga kegiatan tersebut lebih berbau politis, formalitas dan seremo- nial. Para pejabat lebih mementingkan kepentingannya dengan ber- bagai gagasan semu yang menyesatkan. Karena itu ummat yang telah begitu menderita, harkat dan martabatnya diinjak-injak menuntut tanggung jawab mereka yang mengagasi itu semua, terutama tanggung jawab dari semua tokoh penadatangan seruan kerukunan itu. Kalau mau jujur kita harus akui bahwa apa yang telah dilakukan dengan sejumlah rencana bagus di atas telah dimanfaatkan dengan baik untuk menuntaskan rencana para perusuh, betapa ketidak peduliannya mereka terhadap rencana pembentukkkan SATGAS. Perlu diketahui bahwa keberadaan SATGAS dapat membuka niat pelaksanaan Tragedi Idul Fitri Berdarah. Mereka pasti tidak bersedia mengisi formasi Satgas itu karena bisa menghalangi niat mengobarkan Idul Fitri Berdarah, kemudian do’a bersama rasanya hasil rekayasa mereka dengan cara yang begitu tersohor seakan-akan gagasan brilyan kita. Do’a bersama itu meninabobokan kita semua. Merekapun merasa bergerak lebih bebas dengan itu
- d. Insiden Batu Gajah tanggal 18 November 1998. Demonstrasi dengan tuntutan dwi fungsi TNI sudah ditangani pemerintah pusat, karena itu demo tanggal 18 November 1998 dengan kekerasan, sesungguhnya dapat dibaca memiliki tujuan tertentu. Di antaranya merusak wibawa TNI, uji kemampuan, agar ragu bertindak yang kesemuanya itu sebagai babak awal Tragedi Idul Fitri Berdarah. Keterlibatan mahasiswa Islam adalah gerak tipu atau kamuflase belaka. Mereka awam dengan konspirasi yang ada. Kita memang lalai membaca situasi, Ummat Islam telah tergiring untuk ikut menghujat Danrem 174/ Pattimura Kol.Inf.Hikayat, yang lainnya abstain tidak menetukan sikap, entah karena tidak mengerti atau takut, padahal tindakan Danrem 174/Pattimura harus mendapatkan acungan jempol seperti tulisan Brigjen (Purn) Rustam Kastor, pada harian Suara Maluku (periksa lampiran 9 dan 10). Penghujatan terhadap TNI dengan ucapan anjing dan babi serta sejumlah umpatan yang tidak pantas, adalah uji coba awal dalam rangka rencana yang besar, ternyata TNI semakin menciut tak punya nyali. Kondisi TNI ini merupakan sukses kelompok Kristen. Kemampuan intelejen TNI di daerah ini telah dilumpuhkan, TNI dibuat ragu bertindak, tak berinisiatif mengambil langkah antisipasi dan pencegahan terhadap serangkaian gejala ancaman. Insiden Batu Gajah ini telah dibesar-besarkan oleh para tokoh Kristen.Dengan menggunakan berbagai cara, mereka menghujat TNI secara tidak proporsional. Hanya yang disayangkan adalah mengapa TNI mau dipatahkan begitu saja tanpa melihat niat buruk yang dipersiapkan, dikaitkan dengan tugas pokok dan tanggung jawab TNI sebagai tulang punggung keamanan dan keselamatan bangsa dan negara?
- e. Hubungan Danrem 174/Pattimura dan Kapolda Maluku. Bukan saja berita yang dibicarakan sejumlah pejabat, tetapi dari cara menghadapi dan menangani sejumlah kasus yang menyangkut tanggung jawab aparat keamanan tidak berjalan seperti apa yang diharapkan, banyak masalah yang terlewat begitu saja seperti penje-lasan pada bagian-bagian depan naskah ini. Kondisi seperti ini dapat terjadi karena beberapa faktor penyebab, tetapi kita tidak boleh mengabaikan adanya pihak yang sengaja membuat jarak ini. Dalam penanganan demonstrasi dengan kekerasan telah tampak adanya konflik, tidak terlihat kerja sama yang baik apalagi tentang pemegang komando. Tidak berlebihan apabila konflik antara dua penanggung jawab keamanan ini diklasifikasikan sebagai bagian dari suatu konspirasi. Dengan kata lain jarak yang merenggang antara kedua pejabat tersebut adalah suatu hasil operasi penggalangan oleh lawan. Jadi bukan masalah pribadi seperti kata beberapa pihak.
- f. Pertemuan Jum’at malam tanggal 20 November 1998. Prakarsa Kakanwil Agama untuk menurunkan suhu ketegangan antara TNI dan mahasiswa dan tokoh-tokoh Kristen, dengan diadakan-nya pertemuan antar tokoh agama yang dipimpin oleh Muspida Tk I Maluku (Gubernur). Karena kesalahan teknik atau suatu rekayasa para pembantu Gubernur yang mengatur penyelenggaraan pertemuan, keadaan menjadi tegang karena sengaja dibuat. Begitu acara pertemuan dibuka secara bergiliran dan sistematis, para tokoh agama Kristen mulai menyerang dan menghujat Danrem 174/PTM. Sepuluh pembicara pertama, yaitu 5 pendeta dan 5 pastor menghujat habis-habisan Danrem 174/Pattimura dengan kata-kata yang tidak sepantasnya dikeluarkan dari mulut seorang Pastor dan Pendeta. Giliran berbicara berikutnya bapak K.H.Abd.Wahab Polpoke yang isi pembicaraannya melulu memprotes keras sikap permusuhan yang berkembang dalam rapat, yang tujuan pokoknya untuk menurunkan suhu panas di masyarakat dengan TNI, tetapi justru menyeleweng dari tujuan rapat yang sebenarnya. Acara pertemuan ini telah kecolongan, karena pihak mereka yang diundang adalah tokoh yang memiliki tingkat intelegensia yang tinggi, rata-rata sarjana bahkan strata-2, sementara dari Ummat Islam para tokoh agama yang tak mengerti politik dan tak mungkin melakukan rekayasa. Mereka memang ahli kitab kuning, dan yang menjadi anda-lannya adalah berfikiran bersih dan ikhlas, dan datang untuk maksud damai. Rapat yang salah prosedur itu dan menyimpang jauh dari tu-juan rapat ternyata tidak diluruskan oleh pimpinan rapat.Tokoh Islam yang mampu mengimbangi berfikir para tokoh Kristen tersebut ternyata dieliminir oleh Gubernur. Pertemuan tersebut dinilai berhasil mencapai tujuan mereka untuk menurunkan moril TNI membuat para pimpinan TNI tidak punya keberanian bertindak, dengan demikian persiapan mereka telah maju selangkah lagi. Ini adalah suatu babak pematangan situasi yang berhasil (lihat lampiran 10).
- g. Pengawasan yang lemah terhadap para turis dari Belanda. Terutama para anggota keluarga eks KNIL yang di negeri Belanda sebagai anggota dan juga pimpinan RMS di pengasingan. Pada umum- nya para turis asal Maluku ini memanfaatkan waktu untuk berkangen-kangenan, tetapi isu RMS selalu dijadikan topik obrolan. Pada saat serangan dan pembakaran kampung Waringin (Batu Gantung) terlihat 2 orang pemuda keturunan Belanda (WNA) ikut serta dalam aksi tersebut. Siapa bisa menyangkal bahwa aksi ini tidak berkaitan dengan meningkatnya aktivitas RMS di Belanda setahun terakhir ini? ?