Bagian Pertama
Idul Fitri Berdarah di Ambon
19 Januari 1999 / 1 Syawal 1419 H

Bab 102
KONDISI DAN REALITAS BUDAYA YANG KURANG MENGUNTUNGKAN

ADA beberapa kondisi obyektif serta realitas budaya yang  tidak menguntungkan sehubungan dengan kondisi kemasyarakatan antara masyarakat yang beragama Islam dengan yang beragama Kristen. Kondisi seperti ini diketahui oleh setiap tokoh muslim di Ambon-Maluku,tetapi tidak pernah ada upaya nyata untuk mengantisipasinya, bahkan cenderung memandangnya secara tidak obyektif dan proporsional, demi kepentingan politis ataupun intres tertentu. Kondisi yang tidak menguntungkan ini telah berlangsung dalam rentang waktu yang panjang dan lama, sehingga menimbulkan akibat yang cukup serius, ibarat api dalam sekam. Kondisi budaya yang dimaksud dapat disebutkan di sini antara lain:

Budaya Pela Gandong
Menurut kisah para tetua adat, budaya Pela adalah suatu pernyataan kekerabatan atau persaudaraan mutlak, suatu semboyan yang memiliki kekuatan pengikat dalam membentuk persatuan dan kesatuan di antara mereka yang ber-Pela, dengan sanksi apabila lara-ngan-larangan (yang ditabukan) dilanggar,  maka akan berakibat fatal bagi yang bersangkutan. Oleh karena itu para leluhur betul-betul menjaga diri untuk tidak melanggar. Tetapi generasi muda yang hidup di alam modern ini banyak yang tidak lagi yakin akan sejumlah pantangan itu, dan ternyata mereka biasa-biasa saja, tidak mendapat atau terkena gangguan apapun.
Pada era orde baru, Pela telah digunakan sebagai alat politik untuk kepentingan elit kekuasaan, dalam hal seperti itu pihak Islam tentu jadi objek garapan.
Karena itu terbuailah kita orang Ambon (Maluku bagian tengah), percaya adanya kekuatan metafisis. Beberapa tokoh Islam amat mera-gukan apa yang dikatakan Pela itu, karena kenyataan di lapangan Ummat Islam selalu diperlakukan tidak adil, seperti penderitaan yang dialami ketika dijajah RMS. Ummat Islam dibunuh, kampung dan Masjidnya dibakar. Perlakuan tidak adil yang terjadi sampai hari ini, ternyata saudara Pela tidak pernah membela saudaranya yang disiksa ataupun dibunuh. Akan tetapi anehnya, sejumlah tokoh Islam dengan lantangnya memuji budaya Pela, karena takut tergeser dari jabatan.
Dengan taktik Pela Ummat Islam berhasil dinina bobokkan ratusan tahun, dan tetap tertidur pulas di era reformasi ini. Allah S.W.T telah murka kepada pemimpin yang menipu ummatnya. Secara matematis, Pela juga tidak memiliki daya kohesifitas, karena Pela adalah hubungan desa A dan desa B saja, jadi tidak membuat jaring yang rapat, dari segi prosentase terlalu kecil untuk bisa berperan sebagai perekat. Kepercayaan kepada Pela telah membuat kita membohongi diri sendiri dan tidak waspada terhadap niat busuk golongan Kristen yang memusuhi Ummat Islam berabad-abad lamanya, yang akhirnya kita terima sebagai penderitaan teramat berat pada tanggal 1 Syawal 1419 H yang dikenal dengan nama Tragedi Idul Fitri Berdarah.
Penulis dengan yakin berpendapat demikian karena apabila daya kohesifitas itu benar adanya, maka ummat Kristen tidak mungkin terprovokasi untuk membunuh saudara Pelanya.
Jadi ternyata Pela itu telah digunakan secara efektif sejajar dengan perlakuan ketidak adilan dan diskriminatif, sehingga tertutup semua tipu daya mereka.
Setahun menjelang peristiwa berdarah ini, Pela telah diintrodusir oleh pihak Kristen dengan Gandong. Maka jadilah Pela-Gandong, yaitu suatu penegasan bahwa antara yang Islam dan Kristen itu saudara sekandung, sehingga lagu pun diciptakan sebagai lagu wajib di tiap acara pertemuan. Pela–Gandong begitu gencar dipopulerkan, tetapi akhirnya dapat kita deteksi sebagai langkah pematangan situasi untuk suatu niat jahat pada 1 Syawal 1419 H yang lalu.
Sesuatu yang amat dibuat-buat lagi, adalah tudingan yang dialamatkan kepada suku Bugis, Buton, Makasar, Jawa dan Sumatera, sebagai orang-orang yang, “Telah merusak Pela-Gandong budaya leluhur orang Maluku”. Sesungguhnya suku-suku pendatang itu termasuk dari Maluku Utara dan Maluku Tenggara tidak ada urusan dengan Pela Gandong. Mereka tidak mengenalnya, tetapi terbukti mereka lebih rukun dibandingkan orang-orang asli Maluku yang terus menerus bermusuhan. (Penjelasan lebih rinci ada pada bagian lampiran !)

Republik Maluku Selatan (RMS) sebagai Broker
RMS adalah negara boneka ciptaan Belanda agar memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ummat Islam menentang habis-habisan walaupun banyak korban nyawa, harta dan moril. Karena itu Ummat Islam dimusuhi dan secara sistematis akan dihan-curkan, sebab dalam perhitungan mereka, mustahil RMS bisa eksis bila lebih dari ± 50% rakyatnya menolak. Maka dimulailah penindasan tak berperi kemanusiaan, dan Ummat Islam menerimanya dengan pasrah, karena merasa tak berdaya untuk melawan.
RMS sesungguhnya adalah akronim dari Republik Maluku Sarani (Nasrani dalam ungkapan orang Maluku). Kebencian Ummat Kristen terlihat dalam bentuk kekejaman pemerintahan RMS yang pejabatnya dan angkatan perangnya 99,9 % beragama Kristen. Korban kekejaman RMS persis sebagaimana yang diderita Ummat Islam dalam Tragedi Idul Fitri Berdarah ini. Saling membenci itu masih terasa karena ternyata RMS yang terselubung (latent) sesungguhnya masih eksis. RMS telah ikut berperan dalam Tragedi Idul Fitri Berdarah, bahkan  justru sebagai dalang utama. Ini bukan sekedar dugaan tanpa alasan.  Pada waktu demonstrasi, 18 November 1998, dapat dengan  jelas dan terang-terangan kita saksikan mereka meneriakkan “Hidup RMS”, Mena Moeria Menang. Bukti lainnya, bertebarannya sejumlah tulisan “Hidup RMS” yang sengaja dipamerkan di jalan-jalan, begitu juga pengibaran bendera RMS secara berani di Gunung Nona. Apabila benar RMS di balik tragedi ini, maka tidak mungkin bagi Ummat Islam menerima ide separatis. Oleh karena itu Ummat Islam di Malu-ku akan berjuang habis-habisan melawan pihak yang ingin melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hendaklah kita lebih jeli melihat latentnya RMS sebagai suatu ide separatis yang tetap hidup di hampir semua isi kepala tokoh Kristen. Atas dasar ini, maka jelas adanya suatu konspirasi besar untuk kepentingan politik Kristen Indonesia, dan dalam kerusuhan Ambon, dapat dipastikan Brokernya para pendukung atau agen-agen RMS.

Suku Bugis, Buton, Makasar dan Lapangan Pekerjaan
Sejak zaman penjajahan Belanda, masyarakat Kristen Maluku merupakan anak emas, yang mendapatkan perlakuan istimewa oleh sebab kesetiaan mereka kepada majikan penjajahnya, sehingga diang-kat sebagai prajurit-prajurut kepercayaan, dan para ambtenar. Itulah sebabnya, banyak dari mereka menduduki pekerjaan kantoran, sedang pekerjaan non formal kurang diminati.
Suku Bugis, Buton dan Makasar (selanjutnya disingkat BBM) meli- hat adanya peluang yang baik untuk mencari nafkah di Maluku khusus nya Ambon dan sekitarnya, sebagai pusat kegiatan pemerintah- an, perdagangan, pendidikan dan sebagainya.
Karena kegigihan, keuletan dan ketrampilan di bidang yang dite-kuni tanpa kenal lelah itu, mereka sangat berhasil pada aspek sosial ekonomi, yang tentunya berdampak pada aspek lainnya.
Apabila mau jujur, masih ada suku lain lagi yang sama uletnya dengan suku BBM ini, yaitu suku Toraja yang beragama Kristen. Maka jika masyarakat Maluku merasa tergeser dalam berbagai bidang usaha, sesungguhnya mereka sedang bersaing menghadapi 6 suku yaitu BBM, Jawa, Sumatera dan Toraja yang hampir merebut semua pekerjaan di bidang sarana umum, termasuk pengemudi angkutan kota yang  +  60% adalah suku Buton, dan hampir 100% pengemudi becak. Meningkatnya kondisi sosial ekonomi keenam suku tersebut menimbulkan gesekan dengan masyarakat Maluku/Ambon khususnya yang beragama Kristen. Sedangkan yang beragama Islam dapat menerimanya, karena mereka berada pada pekerjaan non formal lainnya bahkan menyatu dengan keenam suku pendatang tersebut sejak ratusan tahun lalu. Kecenderungan ini terus berkembang dengan posisi keenam suku tersebut semakin kuat. Bila pada rencana pengusiran pendatang hanya suku BBM saja yang diangkat ke permukaan, maka dalam pelaksanaannya terdapat 5 suku yang dibabat yaitu Bugis, Buton, Makassar, Jawa, dan Sumatera. Adapun  suku Toraja tidak dijadikan sasaran, tentu bukan tanpa alasan, sebab suku ini beragama Kristen.
Meningkatnya tingkat kehidupan suku BBM dan Jawa, Sumatera ini telah menimbulkan kecemburuan sosial yang tidak masuk akal.

Kediaman Masyarakat BBM pada Lokasi Rawan Konflik
Dahulu di Maluku masyarakat Islam dan Kristen terpisah mutlak dalam pemukiman yang berbeda (Homogen). Hal ini disebabkan sejarah perjuangan Ummat Islam yang menentang Belanda, sedangkan Kristen yang lebih akomodatif dan bekerjasama. Selain itu penyebaran agama Kristen yang memboncengi kolonisasi/penaklukan membuat desa Islam dan Kristen menjadi terpisah.
Suku BBM dan pendatang lainnya sukses dalam perbaikan sosial ekonomi, sehingga berhasil membeli tanah dan membuat rumah serta mengembangkan usaha. Karena keterbatasan tanah dan tidak pernah berpikir adanya kerukunan hidup antara ummat beragama  yang semu sebagai akibat sejarah masa lalu, mereka membangun rumah sampai ke tengah perkampungan Kristen, atau mengelompok dalam jumlah kecil di dekat kampung Kristen. Karena itu kecemburuan berkembang di lahan subur. Sebagai masyarakat yang beragama Islam dan Kristen bertetangga sesungguhnya mereka berada pada kondisi rawan sebab kerukunan yang ada terlalu semu. Apa yang kita saksikan dalam Tragedi Idul Fitri Berdarah ini telah menjadi bukti akan kekhawatiran yang selama ini menggantung.

Kerukunan Hidup Antar Ummat Beragama yang Semu
Memang benar, pernah disuatu masa dahulu, kehidupan antar ummat beragama di Maluku begitu baik sehingga sering dijadikan contoh sebagai yang terbaik di Indonesia, bahkan tentunya terbaik sedunia. Akan tetapi, yang sebenarnya terjadi  bukan suatu kerukunan tetapi terpaksa rukun, karena pihak Islam sejak dijajah Belanda memang tak berdaya dalam banyak hal, termasuk tidak berdaya tampil membela hak asasinya, sehingga menerima begitu saja perlakuan yang tidak adil ini. Persaingan hidup terus berjalan secara tidak fair, karena pihak Kristen menguasai posisi-posisi kunci di lembaga pemerintah, sementara kaum muslimin diperlakukan secara diskriminatif.
Itulah gambaran kerukunan masyarakat Islam Maluku, sesudah RMS berhasil membangun diri, pelan tapi pasti walau dalam kuantitas yang lebih kecil. Takut tersaingi membuat kerukunan itu menjadi semu, walau kita tetap berpura-pura amat rukun karena malu sebagai contoh terbaik se-nusantara. Ketidak rukunan itu terus meningkat karena perebutan peluang maju dimana yang muslim selalu terkena diskriminasi dan ketidakadilan karena kelompok Kristen memang sejak dulu telah menduduki posisi penting yang enggan mereka lepaskan, dan mereka sadar bahwa memberikan peluang kepada generasi muda Islam akan mengancam dominasi mereka di masa depan, lebih-lebih dengan adanya kenyataan, bahwa Islam sebagai mayoritas di bumi Indonesia, semakin menambah kekhawatiran  mereka. Diskriminasi itu dapat dilihat nyata dimana hampir semua instansi pemerintah didominasi pihak Kristen. Inilah wujud pembo- hongan diri, sengaja tidak mau melihat kenyataan bahwa kerukunan itu semu dan dipaksakan. Para tokoh Islam tidak pernah mengantisi- pasi ancaman yang berbahaya ini, karena persatuan dan kesatuan di antara tokoh Islam yang dapat berfungsi sebagai faktor penangkal, masih memerlukan penanganan yang lebih baik lagi.
Perlakuan tidak adil itu tampak mencolok pada instansi Peme-rintah yang vital seperti bidang pendidikan yang menyiapkan SDM. Di bawah ini terlihat kondisi di Universitas Pattimura.

  No       Fakultas    Jumlah Dosen          Jumlah       Keterangan                  Islam     Kristen

   1.     HUKUM                1             74                 75
   2.     TEKNIK                4             71                 75
   3.     PERTANIAN        11           161              172
   4.     FISIP                     32            36                38
   5.     EKONOMI           18            37                55
   6.     FKIP                     30          129               159
   7.     PERIKANAN        1           110               111

                   J u m l a h      97           648                745

Sumber : Buku Biru Universitas Pattimura Ambon Tahun 1997

Kecemburuan Akibat Ketidakadilan
Dalam kenyataan keseharian, posisi kunci penentu kebijaksanaan dan pengambilan keputusan di Maluku, berada hampir 90% dalam genggaman tokoh Kristen. Oleh karena itu Ummat Islam merasa ter-kunci setiap akan melangkah. Mereka yang pernah berkhianat kepada bangsa ini, malah justru mendapatkan jauh lebih banyak manisnya gula kemerdekaan. Sedangkan Ummat Islam yang nenek moyangnya berperang habis-habisan menentang penjajah justru mendapatkan perlakuan yang tidak adil, diskriminatif dan amat menyakitkan.
Dalam pembuktian perjuangan melawan penjajah justru Pattimura diperlakukan tidak proporsional, ia sejak lama diakui sebagai pahla-wan nasional dan diperkenalkan sebagai pahlawan nasional asal Maluku dengan segala kisah cerita yang direkayasa. Padahal Pattimura yang beragama Kristen itu berjuang tidak lebih dari 2 bulan saja. Selanjutnya dia tertangkap dan dihukum mati setelah melalui proses hukum yang memakan waktu. Tidak banyak catatan sejarah tentang perjuangan Pattimura, bahkan gambar wajah Pattimura pun meru-pakan hasil rekayasa. Dan yang lebih penting lagi, masih belum jelas, dari kisah 3 orang pejuang Maluku masing-masing mempunyai akses kuat sebagai pahlawan Pattimura, dimana 2 orang adalah Islam.
Seminar yang pernah diadakan tidak berani membuka tabir lebih lebar lagi, karena khawatir Pattimura yang sudah diakui sebagai pahlawan nasional menjadi objek bulan-bulanan. Pahlawan nasional Nuku yang beragama Islam, baru saja diakui pemerintah pada tahun 1997 setelah diperjuangkan Ummat Islam, padahal kepahlawanan Nuku luar biasa, disegani Belanda, pernah menguasai seluruh wilayah Maluku sampai daratan Irian Jaya. Perang Tidore pada tahun 1780-1805 yaitu selama 25 tahun telah mengukir kepahlawanan Nuku menghantam penjajah Belanda di seluruh wilayah Maluku sampai dengan daratan Irian Jaya, dengan bukti pemeluk agama Islam di sekitar Fak-Fak dan pedalaman kabupaten Manokwari. Belum lagi kita bicarakan kepahlawanan sejumlah tokoh dari kerajaan–kerajaan Islam selain Tidore. Cara masyarakat kota Ambon dan sekitarnya dan masyarakat Kristen Maluku  di perantauan merayakan hari Pattimura setiap tahun tidak masuk akal bila dibandingkan suku lain merayakan pahlawan asal daerahnya. Ummat Islam Maluku sesungguhnya tidak dapat menerima cara seperti ini, apalagi acara pagi yang menyita waktu shalat Subuh, adalah suatu rekayasa. Kecemburuan pun akhir-nya bagai api dalam sekam, menunggu saatnya pecah konflik, dan sejak dulu, siapa peduli ini semua.

Fakta-fakta yang Mempertegang Situasi

Bersambung Ke Bab 1-03
Top

Hosted by www.Geocities.ws

1