![]()
Kata Pengantar“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia,
bukan karena orang itu membunuh orang lain,
atau melakukan kerusakan di muka bumi,
maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.
Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia,
maka seolah-olah dia telah memelihara
kehidupan manusia seluruhnya”.
(Qs. Al-Maidah, 5:32)
KETIKA jarum jam sejarah dunia beranjak memasuki tahun 2000 dan mulainya abad ke-21, Indonesia sedang terbakar oleh api permusuhan, akibat konflik kepentingan, ambisi kekuasaan serta nafsu keserakahan.
Perjalanan menuju Indonesia Baru yang adil dan beradab, manusiawi dan demokratis, di bawah naungan Pancasila, agaknya hanya utopia belaka. Sejak Indonesia merdeka, belum pernah ada seorang penguasa di negeri ini yang, secara serius dan sungguh-sungguh berusaha membawa Indonesia ke arah cita-cita dimaksud.
Kini, konstelasi politik nasional, justru memperlihatkan kecen- derungan yang sebaliknya. Kita tengah menyaksikan suatu episode sejarah di mana tragedi kemanusiaan dijawab oleh pemerintah hanya dengan retorika politik dan pelecehan atas derita ummat manusia.
Konflik horizontal antar ummat beragama dan sejumlah krisis sosial, politik dan ekonomi, tengah mencengkeram kan taring-taringnya ke atas ubun-ubun bangsa ini. Semua ini amat merisau- kan, sebagaimana ungkapan seorang penyair: “Jika terdapat seribu pembangun dan seorang penghancur. Itu sudah cukup untuk meluluh lantakkan seluruh bangunan. Bagaimana jika terdapat seribu penghancur dan hanya ada seorang pembangun?”
Itulah kenyataan yang mengharu-biru Indonesia kini. Betapa banyaknya kaum penghancur dan perusak, provokator kerusuhan maupun propagandis kesesatan. Tragedi kemanusiaan, yang demikian besar dan meresahkan sedang melingkupi hampir seluruh atmosfir bangsa ini. Menghilangkan nyawa seorang manusia, tanpa alasan yang benar dan adil, dalam pandangan Islam merupakan peristiwa besar yang tidak bisa isepelekan, karena sama artinya dengan menghilangkan nyawa semua orang. Itulah faham kemanusiaan yang dianut Islam, dan yang tertera di dalam al-Qur’an, surat al-Maidah ayat 32 :
“Oleh karena itu Kami perintahkan kepada Bani Israil, ”Barang siapa yang membunuh seseorang, bukan lantaran dia membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat bencana di muka bumi, maka seakan-akan ia telah membunuh semua manusia. Dan siapa yang menghidupkan (tidak melakukan pembunuhan dan kerusakan), maka berarti ia telah menghidupkan semua manusia. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami yang membawa keterangan yang nyata, Kemudian banyak di antara mereka sesudah itu berbuat bencana yang melampaui batas di muka bumi”.Respons Pemerintah dan TNI
Darah luka yang menetes di bumi Ambon, Tual, Tobelo, Namlea, Haruku, Halmahera, dan entah dipojok manalagi di tanah Maluku, kian terasa perih dan memedihkan hati. Konspirasi Politik antara RMS, GPM dan PDI-P (eks Parkindo dan partai Katholik), seakan telah dengan sengaja menebar ranjau maut dalam setahun terakhir ini, untuk menghancurkan ummat Islam.
Terjadinya konflik berdarah antar pemeluk ummat beragama di Ambon dan Maluku, walau dalam sekala lokal, namun mengakibatkan korban pembantaian yang luarbiasa dahsyatnya. Ribuan nyawa manusia muslim dicabut, tubuhnya dicincang dan dibakar, ratusan Masjid dihancurkan, rumah-rumah penduduk dibumi hanguskan, harta benda di lenyapkan, dan puluhan ribu wanita, orang tua dan anak-anak menjadi warga pengungsi.
Mengherankan, respons pemerintah dalam hal ini, terkesan sangat lamban dan sama sekali tidak memuaskan. Dalam kunjungan resminya ke daerah yang diselimuti awan kelabu bersama Wapres Megawati Soekarno Putri, 12 Desember 1999, Presiden Abdurrahman Wahid bahkan bersikap seakan-akan bukan sebagai Presiden. Dalam pertemuannya dengan tokoh-tokoh agama, tokoh adat dan tokoh pemuda, beliau mengatakan:”Kerusuhan Ambon hanya dapat diselesaikan oleh orang Ambon sendiri. Pemerintah pusat hanya akan berperan sebagai pendorong dan membantu”.
Keputusan untuk menyerahkan penyelesaiannya kepada masyarakat Ambon sendiri, setelah kerusuhan berlangsung lebih setahun dan korban terus berjatuhan setiap hari, memang terasa aneh dan terkesan pemerintah ingin melepaskan tanggung jawabnya. Adalah mustahil menyerahkan penyelesaian sendiri terhadap dua kelompok yang sedang bertikai, tanpa hadirnya pihak ketiga sebagai pendamai.
Menanggapi kerusuhan yang, dalam retorika politik Indonesia, bernuansa SARA, sikap pemerintahan Gus Dur selalu mengecewa-kan jika yang menjadi korbannya adalah ummat Islam. Dalam banyak kesempatan, Gus Dur malah seringkali menyepelekan pengorbanan ummat Islam dan meremehkan penderitaan mereka.Berkenaan dengan solidaritas ummat Islam terhadap situasi di Maluku misalnya, pak presiden malah mengancam sambil melecehkan.
Sikap beliau akan berbeda manakala yang menjadi korban adalah ummat Kristen, dia selalu tampil membela dan melindungi. Untuk hal ini, Gus Dur pernah memberi alasan,”Kita tidak ingin dikatakan oleh dunia luar, bahwa di Indonesia warga mayoritas muslim telah membahayakan nasib warga minoritas non muslim”. Berhadapan dengan ummat Islam, seakan tidak ada sesuatu apa pun yang perlu dikhawatirkan. Seakan membenarkan ungkapan, dalam bahasa orang Ambon,”Gus Dur, seng ada lawan!”
Adapun TNI, sikapnya luar biasa gagah perkasa dan pasang kumis jika berhadapan dengan massa Islam, tetapi terhadap massa selainnya mereka menjadi pasukan yang lemah dan tidak berdaya. Dalam peristiwa Doulos Jakarta, misalnya. Banyak muballigh yang ditang-kap, tapi tidak demikian halnya ketika masjid Istiqlal diledakkan manusia biadab. Ketika disinyalir seribu orang preman jalan Ketapang Jakarta dikirim untuk melakukan kerusuhan di Ambon,TNI tidak berbuat apa-apa. Tapi dalam kerusuhan di Mataram, NTB, Kapolda langsung mengeluarkan perintah tembak di tempat, dan akan menindak siapapun yang mengadakan pengumpulan massa atas nama agama. Jadi, berhadapan dengan massa Islam, TNI memperlihatkan wajah rezim orde baru yang otoriter, sebaliknya terhadap massa yang bukan Islam, TNI menunjukkan wajah yang reformatif dan demokratis.
Malangnya, setiapkali ummat Islam menunjukkan solidaritas imaniyah, kemudian bangkit menjawab, menentang atau melawan kezaliman serta kedurjanan itu, tiba-tiba seluruh media cetak dan elektronika, penguasa thaghut serta tokoh-tokoh sekuler dan munafik mengatakan bahwa ummat Islam sebagai perusuh, pemberontak dan pengganggu keamanan. Mereka mengutuk, melaknat, menghalangi dengan segala kekuatan yang mereka siapkan. Berbagai istilah kotor bermunculan, kemudian mensifatkan tindakan ummat Islam sebagai provokator dan penjahat. Akan tetapi yang mengherankan adalah, apabila kalangan Kristen atau musuh-musuh Islam yang memulai pemerkosaan, penyiksaan maupun pembunuhan, tidak seorang pun dari para dedengkot demokrasi atau pembela HAM yang dengan gagah perkasa bangkit untuk menyelesaikan dan menghukum mereka sebagai penjahat perang, penjagal kemanusiaan, dan istilah-istilah yang semisal dengannya, kecuali segelintir ummat Islam yang berani tampil dengan gagah mengumandangkan kalimat Thayyibah, dan mengang- kat setinggi-tingginya bendera Islam. Semoga Allah menolong mereka.
Peragaan ketidakadilan seperti ini, jelas tidak kondusif untuk mewujudkan perdamaian dalam menyelesaikan pertikaian horizontal yang melanda masyarakat dewasa ini. Sikap represif dan diskriminatif pemerintah, apapun alasannya, tidak akan membuat jera ummat Islam. Sudah terlalu sering ummat Islam bangsa Indonesia diperlakukan secara zalim, nyatanya tidak pernah menyurut-kan semangat mereka untuk melakukan perlawanan atas nama agamanya. Ummat Islam tidak menuntut untuk dibela, atau di-perlakukan istimewa, tetapi menuntut supaya pemerintah bersikap adil dalam merespons berbagai gejolak yang timbul di masyarakat.Mengapa Ummat Islam Dimusuhi
Pada zaman permulaan Islam, menjadi seorang muslim berarti menjadi manusia mulia dan terhormat. Oleh karena itu, siapa saja yang menjadi muslim karena kesadaran, maka dengan rela hati mereka meninggalkan seluruh masa lalu jahiliyahnya. Mereka berkeyakinan, tanpa Islam mereka hanya sampah saja, tak bedanya dengan orang-orang kafir dan musyrik yang ada ketika itu. Sebaliknya, dengan Islam mereka merasa terangkat harkat kemanusiaannya sehingga semua orang Islam di masa itu, siap mati membela Islam. Pada saat itu, Islam sebagai Ya’lu wala yu’la alaihi, tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi daripadanya, benar-benar menjadi realita, dan bukan sekedar cita-cita atau slogan.
Tetapi kini, sebagian besar ummat Islam tidak lagi merasa terhormat dengan Islam, malah sebaliknya, merasa minder jika hanya hidup dengan pola Islam. Mereka menganggap, bahwa Islam tidak akan mampu menyelesaikan problema kemanusiaan di zaman modern ini. Bahkan banyak di antara tokoh Islam ber-pendapat, bahwa meyakini Islam sebagai satu-satunya kebenaran, dan satu-satunya agama yang diridhai Tuhan adalah sikap sektarian dan tidak menghargai adanya perbedaan. Padahal begitu ummat Islam tidak lagi meyakini Islam sebagai satu-satunya agama yang benar dan diridhai Allah Swt., maka pada saat yang sama mereka pasti menjadi pengikut syetan, dan terlunta-lunta dalam kehidupan tanpa pegangan.
Ketika Rasulullah Saw. datang membawa risalah al-Islam, penduduk bumi terbagi menjadi dua golongan, yaitu Ahlul Kitab dan kaum Zindiq, kaum yang tidak mengakui kitab. Saat itu, Ahlul Kitab terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Yahudi sebagai kelompok yang dimurkai Allah, dan Nasrani, kelompok yang mengikuti jalan sesat.
Mengapa kaum Yahudi dimurkai Allah? Di antara sebab-sebab nya, sebagaimana diungkapkan oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyah di dalam kitabnya Hidayatul Hayari Fi Ajwibathil Yahud wan Nashara (terjemahan) yang daripadanya kami kutip ungkapan-ungkapan di bawah ini, “bahwa kaum Yahudi adalah kaum yang suka berdusta, suka mengada-ada, membuat makar dan membunuh para Nabi, serta pemakan riba dan hasil sogokan” Selanjutnya dikatakan, agama mereka adalah permusuhan, dusta dan taktik busuk. Dimanapun mereka berada selalu membuat sengsara manusia lainnya. Mereka tidak pernah memberikan perlindungan kepada orang-orang beriman, tidak pernah berbelas kasihan kepada orang yang menempuh jalan kebenaran, dan tidak pernah memberi peluang kepada orang yang hendak menjalankan keadilan.
Lebih jauh diungkapkan tentang karakteristik kaum Yahudi, bahwa yang paling berakal di antara mereka adalah yang paling jahat, yang paling cerdik di antara mereka adalah yang paling licik, yang berfikiran waras di antara mereka-jika memang ada, adalah yang paling sempit dadanya, paling gelap tempat tinggalnya, paling busuk prilakunya dan paling jahat perbuatannya. Salam mereka adalah laknat, semboyan mereka adalah kemarahan dan selimut mereka adalah caci maki.
Adapun golongan Nasrani, mereka adalah ummat terinitas, kelompok sesat, dan para budak salib. Mereka dianggap sesat karena mereka telah melecehkan Allah Rabbul Alamin. Dasar keyakinan mereka adalah, menganggap Allah sebagai makhluk Three in One (salah satu dari tiga), bahwa Maryam adalah istri-Nya dan Al-Masih adalah anak-Nya, dan menganggap Allah telah turun dari kursi Keagungan-Nya lalu berse- mayam di dalam rahim seorang wanita. Agama ummat ini adalah penyembahan salib, pemanjatan do’a kepada gambar-gambar, minum khamer, makan babi, tidak berkhitan, dan beribadah dengan berbagai najis. Yang halal bagi mereka adalah yang dihalalkan oleh pendeta, dan yang haram adalah yang diharamkannya, sehingga agama adalah hasil karyanya, pendetalah yang berhak mengampuni dosa-dosa mereka dan menyelamatkan mereka dari siksa neraka.Demikianlah kondisi para ahlul kitab, sehingga Allah memerin-tahkan kepada orang-orang beriman dengan firman-Nya:
”Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar, yaitu orang-orang yang diberi al-kitab kepada mereka (Yahudi dan Nasrani), sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk”. (Qs. At-Taubah, 9:29).
Sedangkan kaum Zindiq, mereka tidak mengakui adanya kitab yang diturunkan Allah. Sesembahan mereka adalah berhala, api, syetan dan matahari. Mereka musyrik kepada Allah, mendustakan para rasul, tidak mengakui syari’at, mengingkari adanya hari kemu-dian, dan mereka tidak menganut agama Sang Maha Pencipta. Agama mereka hawa nafsu, makanan mereka adalah bangkai, minumannya khamer, wali mereka syetan. Mereka adalah manusia paling nista, paling menyimpang prinsip hidupnya dan paling buruk keyakinannya.Begitulah kondisi manusia tatkala Rasulullah Saw. diutus sebagai pembawa risalah-Nya. Dan para pewaris mereka, ahlul kitab dan kaum zindiq, hingga kini masih tetap eksis dan menyebarkan faham sesatnya. Mereka itulah yang membantai ummat Islam di seluruh dunia, dan sekarang melakukan aksinya di Ambon dan Maluku.
Saksikanlah parade kejahatan kaum Yahudi dan Nasrani yang mereka pergelarkan, sejak dari zaman kenabian hingga datangnya masa perang salib. Orang-orang Yahudi dan Nasrani membantai ummat Islam di Turki dan Palestina. Mereka menghancurkan Masjid Babi di India, membantai ummat Islam di Afghanistan, Moro, Chehnya dan sekarang di Ambon dan Maluku. Yang terakhir ini, mereka telah mempersiapkan senjata-senjata canggih, senjata organic dan granat-granat bermutu tinggi. Mereka juga memper-siapkan penembak-penembak jitu atau Sniper, yang mengarahkan tembakannya kepada ummat Islam. Truk-truk berlapis baja di Tobelo dan Halmahera beriringan membawa amunisi (granat dan bom), membawa bensin yang disemprotkan laksana gas air mata, lalu diikuti oleh aparat beragama Kristen, yang melempar granat dan bom serta tembakan-tembakan maut. Itulah yang menghabiskan nyawa ummat Islam secara massal hingga mencapai tidak kurang dari lima ribu orang jumlahnya.
Menurut kesaksian seorang dokter sukarelawan, yang menolak ditulis namanya, dia mengatakan:”Sekiranya Kapolda tidak menutup-nutupi masalah ini, banyak korban-korban yang di-kumpulkan di depan masjid sebelum dapat dibantu oleh dokter yang sangat terbatas jumlahnya, mereka beratus-ratus jumlahnya di bakar beramai-ramai guna menghilangkan jejak. Di Halmahera dan Tobelo ummat Islam kekurangan air minum, karena sumber-sumber air, sungai atau sumur yang ada sudah ditaburi racun oleh Si Obet ”, katanya. Hal yang sama juga disampaikan oleh seorang aparat keamanan yang, lagi-lagi menolak ditulis identitasnya.Gagasan Menerbitkan Buku ini
Gagasan awal menerbitkan buku ini, muncul ketika untuk perta-makalinya saya berkesempatan berkunjung ke Ambon, 1 Januari 2000 lalu. Sejak lama saya ingin menyaksikan dari dekat situasi Ambon yang terus bergolak, dan berharap jika bisa, hendak menulis peristiwa tersebut. Keinginan ini muncul, setelah menyaksikan kondisi konflik berdarah antara Islam dan Kristen yang tidak kunjung selesai. Sementara itu, informasi dari media massa maupun pejabat negara yang kita peroleh selama ini penuh distorsi, meng-anggap konflik hanya bernuansa SARA. Para komentator politik, kian membingungkan dan lebih banyak memojokkan ummat Islam, dengan mengatakan bahwa,”konflik Ambon dipicu oleh orang-orang Islam fanatik”. Padahal disana tidak ada muslim fanatik, bahkan di antara mereka yang ikut berperang banyak yang tidak shalat, dan awam tentang dienul Islam, bagaimana mereka disebut fanatik.
Kami merasa beruntung dapat menyaksikan situasi Ambon yang amat memprihatinkan dan merasakan kegalauan warganya secara langsung. Hari pertama di bulan Januari tahun 2000, taqdir Allah menghantarkan kami ke daerah yang kaya rempah-rempah dan menjadi incaran kaum penjajah Belanda dahulu.
Pesawat Merpati yang kami tumpangi, setelah transit selama 40 menit di bandara Hasanuddin Ujung Pandang, mendarat di lapangan udara Pattimura Ambon, pukul 15.30 WIT. Setelah turun dari pesawat yang hanya berpenumpang 5 orang saja, dan meng-injakkan kaki di tanah Ambon Manise, hati saya mulai berdegup kencang. Situasi amat lengang, dan teman yang datang menjemput membisiki, ”Sopir taksi disini hampir seluruhnya Obet (sebutan orang Ambon untuk mereka yang beragama Kristen)”. Teman tadi ternyata sudah menyewa taksi yang sopirnya Acang (sebutan untuk orang Islam), dikawal oleh seorang tentara. Taksi yang kami tumpa-ngi tidak melewati jalur utama yang menghubungkan bandara dengan kota Madya Ambon, sebab jalan-jalan sudah diblokir dan perkampungan disekitarnya seluruhnya dikuasai Obet. Siapa saja yang lewat disitu dan ketahuan dia beragama Islam, pastilah disembelih. Hal yang sama juga terjadi pada penumpang kapal Peri dari Ujung Pandang ke Ambon. Banyak ummat Islam yang diceburkan ke laut, ada yang disembelih di atas kapal terlebih dahulu, dan ada juga yang dilemparkan hidup-hidup ke dalam laut. Akhirnya, kami mencari jalan yang aman dari blokir sehingga selamat sampai di tempat tujuan.
Pada hari kedua, saya bertemu dengan seorang tua, rambut dan janggutnya telah memutih, penampilannya bersahaja, tapi penuh semangat, sehingga cepat akrab dengan lawan bicaranya. Sambil ber-bicara, dia mengeluarkan naskah tulisan, ada yang sudah dipubli-kasikan secara terbatas dan ada juga yang memang baru selesai ditulis. Naskah-naskah tersebut saya baca, dan di dalam hati saya berkata, ”Inilah yang saya cari-cari”.
Dalam suatu dialog di ruang kerjanya di kantor Masjid Al-Fatah, beliau menjelaskan motiv serta tujuan mempublikasikan tulisannya. “Saya menulis tentang apa yang saya lihat dan rasakan, berdasar-kan fakta dan data di lapangan, tanpa prasangka”, katanya. Selan-jutnya dikatakan: ”Apa yang terjadi di Ambon, jelas perang agama. Pihak Kristen, selalu memutar balikkan fakta, menyebarkan dusta dan memanipulasi data. Dengan cara seperti itu, lalu mereka menimpakan kesalahan kepada ummat Islam, selanjutnya menuduh mereka sebagai pelaku kerusuhan, dan biangkeladi pertikaian. Semua ini wajib diluruskan, agar dunia luar mengetahui, bahwa ummat Islam di Ambon telah menjadi korban radikalisme RMS dan Kristen”.
Apa yang diprediksikan, sebagaimana ucapan di atas, bukannya tanpa bukti. Dalam upaya pencarian data dan menyaksikan langsung kondisi perkampungan yang musnah dilalap api, atau pertokoan serta gedung-gedung sarana umum yang luluh lantak, saya menemukan bukti kebenaran dari ucapan di atas. Sebuah surat dari GPM Klasis Buru Utara, yang ditujukan kepada Badan Pekerja Harian Sinode GPM di Ambon, tertanggal 10 September dan 11 Oktober 1999, kedua surat tersebut ditandatangani oleh Pjs. Ketua GPM Buru Utara, Pdt.I.C. Teslatu. S.Th. Dalam kedua surat tersebut para pendeta Kristen telah dengan sadar menimpakan seluruh kesalahan kepada ummat Islam sebagai pemicu kerusuhan di Namlea. Bukti lainnya adalah penjelasan tentang Peristiwa Penghancuran Jemaat dan Negeri Kariu, 14 Februari 1999, yang disebut sebagai hasil investigasi yang dilakukan oleh J. Manuputty, kemudian Himbauan yang ditulis Tim Advokasi Gereja, 12 Maret 1999, semuanya bersifat memojokkan ummat Islam dan dengan segala upaya memutar balikkan fakta.
Sesungguhnya ummat Islam tidak pernah memulai tindakan kega-nasan, intimidasi dan provokasi, apalagi peperangan ataupun pembu-nuhan; sebab Islam tidak mengijinkan semua bentuk kejahatan seperti itu dilakukan tanpa alasan yang benar dan adil.Buku yang berada di tangan pembaca sekarang ini, berisi fakta, data dan analisa tentang peristiwa yang menyengsarakan masyakat Maluku sejak setahun lalu. Buku ini tidak semata-mata mengung-kapkan tentang kronologi peristiwa yang menyebabkan tragedi Idul Fitri berdarah, tetapi juga merekonstruksikan berbagai kejadian, pola pertikaian serta akibat yang ditimbulkannya. Lebih dari itu, buku ini mungkin baru satu-satunya publikasi tertulis yang mengungkapkan tragedi Ambon dan Maluku, secara lengkap, transparan, jujur, obyektif dan proporsional.
Pada mulanya, buku berjudul : KONSPIRASI POLITIK RMS DAN KRISTEN MENGHANCURKAN UMMAT ISLAM DI AMBON- MALUKU ini, terdiri dari naskah-naskah terserak, kemudian dikum-pulkan menjadi satu buku setelah melewati editing yang cermat, selanjutnya mencarikan judul yang sesuai dengan isi naskah. Guna memudahkan pembaca, buku ini dibagi ke dalam tiga bagian. Bagian pertama berbicara tentang sejarah konflik Islam dan Kristen di Ambon. Pada bagian kedua, khusus menyoroti tentang Konflik Berdarah Antar Ummat Beragama di Ambon. Dan bagian terakhir atau ketiga, Konspirasi GPM, RMS dan PDI-P eks Parkindo dan Partai Katholik Indonesia dalam Konflik Berdarah di Maluku ( Juli-Desember 1999). Pada setiap bagian, selalu disertai pendahuluan dan dilengkapi dengan lampiran data, sehingga semakin memperkuat informasi yang terdapat di dalam buku ini.
RUSTAM KASTOR, penulis buku ini adalah seorang purnawirawan TNI berpangkat Brigadir Jendral. Lahir di Ambon, 9 Juli 1939. Pernah dipercaya sebagai Perwira Pembantu (Paban) di Mabes ABRI. Dan terakhir sebelum purnawirawan dia menjabat sebagai Kepala Staf Kodam VIII/ Trikora Jayapura.
Dalam konflik di Ambon, dia merupakan saksi sejarah dan mem- posisikan diri sebagai warga muslim yang teraniaya, dan untuk itu dia berusaha keras menyuarakan jeritan hati serta duka nestapa mereka. Tetapi, karena sikapnya itu pula dia malahan dituduh sebagai provokator oleh pihak yang tidak menyukai sikapnya itu. Dalam kerusuhan ini, Rustam sekeluarga hampir kehilangan segalanya, rumah, mobil angkutan yang menjadi sumber mata pencahariannya, termasuk beberapa Speed Boat miliknya, semuanya habis musnah. Dia sendiri sekarang tidak punya tempat tinggal lagi di Ambon, sedang keluarganya, seorang istri dengan enam orang putra-putrinya mengungsi ke pulau Jawa. Dan yang tersisa pada dirinya sekarang, adalah semangat pembelaan atas kebenaran, dan kerelaannya untuk berkorban apa saja demi menyelesaikan konflik Ambon secara adil dan memuaskan bagi pihak-pihak yang bertikai. “Saya sudah tua, tulisan ini merupakan sumbangsih saya, mudah-mudahan bermanfaat bagi kepentingan sejarah generasi masa datang”, katanya dengan nada sendu.
Semoga penerbitan buku ini dapat memenuhi harapan penulis, sekaligus memenuhi keingintahuan pembaca tentang situasi daerah yang kini dilanda konflik itu, langsung dari narasumber sekaligus saksi mata dari tragedi yang memilukan ini. Apa yang ingin dicapai dari penerbitan buku ini adalah, seperti sebuah ungkapan: ”Indonesia kini sedang terbakar oleh api permusuhan serta konflik kepentingan. Adalah kewajiban setiap orang untuk menyiramkan air walau sedikit, guna memadamkan api tanpa menunggu-nunggu orang lain untuk melakukannya lebih dahulu”.
Manakala Allah berkehendak, mudah-mudahan fakta, data dan informasi yang terdapat di dalam buku ini dapat memberi sumbangan berharga bagi penyelesaian konflik yang sekarang sedang diupayakan oleh pemerintah. Amin Ya Mujibassailin.
Yogyakarta, 1 Februari 2000
Irfan S. Awwas![]()
Kembali ke Daftar Isi
*******