| Menu
Berita
Karo |
| Suara Hati Mahasiswa Tentang Pemerintahan Gus Dur |
| Selamat
Datang di Desa Mburidi. |
| Patung Bung Karno Setinggi 7 Meter Dibangun di Brastagi
|
| |
| |
| |
| |
| |
| |
| |
| |
| |
| |
| |
| |
| |
| |
| |
| |
| |
| |
| |
| |
| |
| |
|

|
|
|
|
Ingin Membentuk Entrepreneur TI yang
Tangguh
Warta Ekonomi - Nerpreneur
Suhono Harso Supangkat Melihat jumlah komputer yang relatif
sedikit, Suhono membuat set top box TV agar masyarakat Indonesia
bisa mengakses internet. Dia juga membentuk inkubator bisnis
untuk menggembleng alumni ITB menjadi entrepreneur. Berikut ini
penuturan panjangnya.
Sebagai anak kedua dari empat bersaudara, saya dilahirkan di
Sleman, Jawa Tengah, tahun 1963. Ayah saya seorang guru SMA di
Yogyakarta. Saya pun dibesarkan di Kota Gudeg. Sejak masih di
SMA, saya sudah tertarik pada bidang eksakta, khususnya bidang
teknologi. Saya yakin bidang ini dapat membantu masyarakat.
Menurut saya, teknologi sangat efektif memecahkan persoalan yang
selalu berkembang di masyarakat.
Sejalan dengan minat saya di bidang eksakta, saya juga sangat
suka dan selalu ingin bereksperimen. Mungkin inilah yang
mendorong saya ingin malanjutkan studi ke Institut Teknologi
Bandung (ITB). Semula saya bimbang, apakah akan ke ITB atau
Universitas Gadjah Mada (UGM). Ibu saya menganjurkan agar saya
kuliah di Yogyakarta saja, menemaninya.
Namun saya kemudian berpikir, untuk bisa hidup mandiri harus
jauh dari orang tua. Hal itu berarti saya lebih baik ke ITB.
Saya pun memutuskan berangkat ke Bandung. Di sana memang saya
mempunyai kakak yang bekerja sebagai dosen. Namun, tentu saja
bukan karena dia saya diterima dan memilih ITB. Saya punya
alasan sendiri.
Maka tepatnya pada 1981, saya masuk ITB dan memilih jurusan
teknik elektro. Lulus dari ITB tahun 1986, saya bekerja di
perusahaan konsultan telekomunikasi, tepatnya di PT Encona
Engineering. Hanya setahun di sini, saya kemudian kembali ke
almamater menjadi pengajar. Sejak SMA sebenarnya saya sudah
punya keinginan untuk menjadi dosen.
Di ITB saya menemukan jalan sukses. Tahun 1990 saya mendapat
tawaran beasiswa dari pemerintah Jepang untuk mengambil program
S2 dan S3. Saya pun tidak menyia-nyiakan tawaran itu. Pada 1991
saya resmi menjadi mahasiswa University of Electro
Communication, Jepang, sebuah universitas negeri khusus elektro
komunikasi. Saya meraih gelar doktor dan kembali ke ITB pada
1997. Saya langsung diangkat sebagai sekretaris II di Jurusan
Elektro.
Selama di Jepang saya merasakan banyak tantangan. Berbeda dengan
di ITB yang iklim pengembangan keilmuannya masih biasa- biasa
saja, di Negeri Matahari Terbit saya selalu dipacu untuk membuat
usulan-usulan unggul, termasuk mengikuti lomba tulis multimedia
di Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang. Ini pula yang
mendorong saya membangun grup yang khusus mengembangkan
multimedia bersama mahasiswa saya.
Mengembangkan Mucer Group
Selain itu, saya juga bersemangat untuk mengembangkan satu
lembaga yang menghimpun para peneliti karena saya melihat tidak
ada wadah untuk menampung para peneliti Indonesia di bidang
elektro komunikasi. Saya melihat B.J. Habibie waktu menjadi
pemimpin IPTN mampu membangun SDM yang bagus. Dia melakukan
seminar-seminar terhadap hasil penelitian mahasiswanya yang
dikirim ke luar negeri.
Ketika masih di Jepang, saya bertemu dengan Suryatin Setiawan
yang kini menjadi kepala Divisi dan Riset Telkom. Saya tanyakan
kepadanya, mengapa kita punya Telkom dan Indosat, tetapi
penelitian di bidang elektro komunikasi hampir tidak ada
sehingga hasil penelitian yang bisa dipakai juga tidak ada.
Padahal, semestinya Telkom dan Indosat berperan untuk membiayai
atau mengorganisasi peneliti muda Indonesia. Saya tantang
Suryatin untuk membangun satu wadah bidang elektro komunikasi,
tetapi dia membangun sendiri teknoseminar. Maka pada 1994 saya
memberanikan diri membuat masyarakat elektro komunikasi dan
informasi. Wadah ini bertujuan menampung hasil- hasil penelitian
dan sebagai forum komunikasi antarpeneliti.
Grup yang saya dirikan tahun 1998 tak lama setelah pulang dari
Jepang diberi nama Multimedia Signal Processing Research
Engineering. Tahun 2000 saya ubah menjadi Multimedia and
Cyberspace Reengineering Group (Mucer). Lembaga ini saya jadikan
inkubator bisnis bagi alumni ITB. Lembaga ini tetap di bawah
naungan ITB. Keuntungan yang diperoleh dari proyek-proyek tetap
dipakai untuk membiayai Mucer serta membayar uang sekolah
mahasiswa yang mengambil program S2. Dengan dana itu, saya bisa
membiayai empat mahasiswa bimbingan saya untuk mengambil program
S2. Mereka ikut ambil bagian dalam setiap penelitian yang saya
lakukan.
Ide pembentukan Mucer Group muncul disebabkan banyaknya riset
yang dilakukan mahasiswa yang cuma jadi penghuni perpustakaan
ketimbang dilanjutkan untuk dikembangkan. Padahal, hasil
penelitian para mahasiswa punya prospek untuk dibisniskan. Para
mahasiswa yang bergabung saya arahkan untuk menjadi entrepreneur
di bidang TI. Mereka bisa belajar mengembangkan hasil riset
menjadi bisnis yang menguntungkan. Saya ingin mahasiswa menjadi
para pebisnis yang andal dalam TI. Gayung pun bersambut. Rupanya
banyak yang tertarik dengan penelitian yang dikembangkan grup
saya. Telkom dan Kementerian Riset dan Teknologi memberikan dana
penelitian. Telkom ikut membiayai riset yang dilakukan Mucer
untuk mengembangkan voice of internet protocol (VoiP).
Sementara itu, sepulang dari Jepang, semangat untuk
mengembangkan TI menguat. Ini juga yang mendorong saya untuk
mengembangkan set top box TV. Setahu saya, pada 1996 jumlah
komputer di Indonesia baru 600.000, sedangkan jumlah TV ada 16
juta. Pada waktu itu, harga komputer tergolong mahal, sekitar
Rp3-4 juta. Tentu sulit bagi yang ingin mengakses internet.
Bagaimana masyarakat yang kurang maju bisa mengakses internet?
Saya lantas berpikir, mengapa tidak memanfaatkan saja set top
box yang harganya lebih murah daripada komputer. Teve harus bisa
dimaksimalkan.
Sekarang ini jumlah komputer sudah mencapai sekitar dua juta,
sedangkan TV dua puluhan juta. Jika jumlah penduduk Indonesia
ada 200 juta, maka pada tiap seratus penduduk cuma ada satu
komputer tetapi ada 10 TV. Artinya, penetrasi internet lewat set
top box TV akan lebih cepat.
Awalnya saya membuat set top box TV dengan komponen-komponen
sederhana yang harganya bisa terjangkau. Saya cari software yang
murah. Berbagai penelitian saya yang lain juga dilirik oleh
berbagai institusi. Misalnya, sewaktu melakukan riset tentang
mekanisme pembayaran dalam e-commerce, penelitian saya dibiayai
oleh Indosat. Pihak Telkom Jawa Tengah pun saat ini sedang
membiayai riset yang sedang kami kerjakan, yang diharapkan
selesai 2-3 bulan lagi, dengan biaya sekitar Rp700 juta.
Enam tahun tinggal di Jepang membuat saya bisa menghayati
bagaimana harus survive dalam hidup. Dengan beasiswa sekitar
200.000 yen per bulan, saya harus hidup pas-pasan di rumah yang
sempit. Anak pertama saya yang lahir di sana sempat lambat
bicaranya karena kalau berteriak-teriak atau lari-lari di dalam
rumah dimarahi oleh penghuni flat lainnya. Itu sebabnya, sewaktu
mengikuti seminar di Amerika Serikat, saya merasa lega seperti
lepas dari impitan. Saat ini saya dikaruniai Tuhan dua anak.
Istri saya pernah bekerja di BII, tetapi keluar sewaktu saya ke
Jepang.
Saat ini saya mengajar hanya di ITB. Selebihnya menjadi
konsultan di Telkom, Indosat, dan Pertamina. Untuk menjaga
kesehatan, setiap minggu saya bermain tenis, dan ini tidak bisa
saya tinggalkan. Hobi lain adalah memelihara burung. Tak kurang
dari 17 ekor burung dari berbagai jenis saya pelihara. Saya
merasa nikmat apabila pagi hari mendengar kicauan burung. Tak
jadi masalah kalau setiap bulan harus mengeluarkan uang ratusan
ribu untuk memeliharanya.
Selaku dosen tentu ada keinginan untuk mencapai taraf guru besar. Namun saya tidak ingin
ngotot. Sebetulnya kalau
dipaksakan dalam waktu empat tahun lagi bisa menjadi guru besar.
Cuma, saya tidak ingin memaksakan sebab nanti banyak orang yang
marah. Sekarang ini saya masih memperbanyak melakukan penelitian. Keinginan untuk terjun dalam bisnis pun
ada. Namun
saya harus hati-hati untuk menghindari benturan kepentingan
seperti yang diamanatkan peraturan di ITB.
Sbr :
HENDARU DAN SLAMET SUPRIYADI
|
|