
![]()
Melastik Ke Bintang
Berlalu jua senandung petang
Berlalu bersama kenangan menghilang
Linangan air mata menemani lara siang
Harapan beralun menyerlah
Menyeberang jarak kata
Mengusir sepi tiada bersuara
Barisan rasa menakluk jiwa
Meracau berigauan bagai terdera
Tiada tertimbang semua
Duka rindu yang meranap pujangga bercinta
Ku lastik citaku ke bintang
Agar kerdipnya terpandang
Mendamai resah berpanjangan
Menghambar cemas berterjangan
Ku yakin tidak kan’ malap
Kejora di langit mengungkap
Lukisan kenyataan citra
Tiada berbingkai hampa
Hanya warna celupan masa

Elmi Zulkarnain
Revised Ahad 10 Apr 2005
![]()

Nenek Tua di Hujung Usia
Ku memandang putih tembok itu
Walaupun mataku kabur aku tahu warnanya luntur
Keseorangan memintal buih rindu
Rindu yang menyebak bertukar pilu
Dari terbit hingga benam si mentari
Aku duduk memencak kaki
Rasa ingin ku berlari
Mengejar mendakap silam dahulu hari
Mengusap ubun mencium dahi
Anak-anak ku
Cucu-cucu ku
Yang berjauhan memencilkan aku di sini
Mampukah aku bermakrifat?
Kerana itulah cara aku rasa bertempat
Bermandi iman berwudhu nikmat
Pertingkat yakinku pada suciMu
Sambil mencari khilafku dulu
Sehingga dihukum berjarak kasih
Berteman sepi berair mata jernih
Mengapa aku disadaikan di sini?
Sedangkan …
Anak-anakku belum dijemput Ilahi
Kemewahan sentiasa mendampingi
Hinakah aku yang lanjut usia ini?
Kau sebenar-benar maksyuk di hati
Yang Penentu lusa-lusa hari
Walau tiada yang sudi menyayangi
Aku tahu Kau tetap sudi mendampingi
Hanya sekali lagi sebelum ku pulang kepadaNya
Ku panjatkan doa di dada langit berkejora
Bertemu semula dengan keluarga tercinta
Melimbah semua sengsara derita ...
![]()

Melalui Puisi Aku Kembali
Melalui puisi aku kembali
Mendendang mata selongkar jiwa
Mendidik bukan berkarya buta
Peringatkan semua tentang kuasa takdir-Nya
Cabar aku pada si mereka
Katanya puisi permainan kata
Hanya untuk Uda dan Dara
Hanya untuk yang dayus berbicara
Hanya untuk pelamun berserapah durja
“Kamu
kata begitu
Kamu salah kamu celaru”
Lahir puisi olahan hati
Saduran fikiran meramah peribadi
Ibarat lukisan tiga dimensi
Menghunjamkan pandangan
Menyala sanubari
Melalui puisi aku kembali
Mengintai lara batin insani
Pertahan martabat bangsa disayangi
Mendamai cimpungan ganas duniawi
Banjiri wadi kalbu dengan kalimat berani
Melalui puisi aku kembali
Kepada-Nya mungkin esok lusa nanti
Namun nukilan utuh berdiri
Bertugu tiada dimamah bumi
Elmi Zulkarnain
27 Mac 2005
![]()

Masih Tulus Langit Ilahi
Sebalik tembok Ibu bersandar
Tersentuh rajuk bayu, terdiam keresahan
“Kau menconteng arang ke muka kami!”
Jangan kau gusar Ibu
Biar dunia jijik menjenguk kita
Biar aku berayahkan Abdullah
Jangan engkau mengaku kalah!
“Jangan gugurkan aku Ibu!”
Segalanya
telah tersurat
Mungkin khilafmu pembawa hikmah
Di
lubuk hitam kau benamkan lemah
Bersama
gerimis turun mencurah
Membersih
jiwa dari kecewa
Bisikan tomahan tidak akan merimaskan
Akulah benteng dari segala celaan
Izinkan aku dilahir mengenal kedewasaan
Tidak akan aku merisik kesangsian
Aku akan jadi bukti kesempurnaan keadaban
Menutup bicara nista yang menghantui setiap
senja
Menjadi temanmu melawan fitnah mendebur rasa
“Langit Ilahi tetap tulus Ibu!”
CintaNya akan menerangi lembah sunyi kita
Aku bernyawa di rahimmu kerana adaNya
Sembuyikan suram wajahmu
Kunci mulutmu buka hatimu
Aku ingin jadi anakmu
Aku ingin jadi suaramu!
Elmi Zulkarnain
15 Jun 2005
![]()

7 Julai di Kota London
Berjejeran pohonan di tepian jalan
Menjadi saksi peristiwa ngeri
7 Julai 8.50 pagi
Ledakan demi ledakan membenam sunyi
3 minit berjeda terus tanpa henti
Empat letupan puluhan mati
Dari King’s Cross ke Edgware
Cemas meluru mengusir tenang
Keringat membelengaskan
Darah mengalir dari tubuh berlumuran
Mengapa?
Tanpa peduli akan pengertian
Kau, kau, kau dan kau membunuh tanpa belas
kasihan
Meledak diri menjaja agama
Rupanya ideologi kosong sia-sia
Hanya menghancur harmoni manusia
Dunia terdiam seketika
Disambut amuk amarah meluap merata
Islam dipersalah seperti biasa
Angkara siapa, ini kah mahu-Nya?
Elmi Zulkarnain
Julai 2005-07
![]()

Dari Embun Menjadi Kejora
Air mata mengalir menitis
Bersama embun pagi dunia
Bersama damai longlai raga
Bersama sebak anak Singapura
Ingatan ku bergulir terhampar mata
“Walaupun
tiada hidupku sezamanmu,
hiba rasa mengunjung setiap detik waktu.”
Kaulah titisan embun sebenar
Handai mu di mana-mana
Seorang pemimpin pembawa makna
Berjiwa rakyat pelapang masa
Melepaskan Kota Singa dari labirin sengketa
Melembutkan tegangan konfrantasi enam tiga
“Walaupun
hayatmu setakat di sini sahaja,
dirimu tiada diselimuti masa.”
Kau ...
Ibarat satu lagi kejora mengerdip cakerawala
Masih bercanda bersama kelaman semesta
Tiada kan redup dalam ingatan jiwa
Beristirehatlah …
Setelah lelah dalam perjuangan
Walaupun lelah kau sentiasa perdayakan
Teruslah dengan kerdipan
Kerdipan mengindah alir waktu kehidupan
Ikhlas buat Mendiang Dr. Wee Kim Wee
Elmi Zulkarnain
![]()

Anekdot – Puisi dan Penyair
Dari mantera memanterai roh
Gurindam berisi petua yang menyentuh
Pantun indah berbingkai berbaris
Hingga ke sajak geometris yang
bermetamorfosis
Puisi pengaruhi orang lama dan modenis
Meninggalkan dunia literal
Dengan metafora menjelajah tema kontekstual
Dilema diperi bunyi berentak sinis
Lukisan terlukis dari abjad melaris
Perilaku kejiwaan manusia
Kepura-puraan dibanteras
Ketakutan pengkhianatan dibuang hias
Dunia berubah lanskap bertukar
Penyair berganti namun puisi masih berdiri
Pertemukan pertembungkan idealogi
Dalam ruangan sempit tetap cerdas berpotensi
Ayuh penyair muda!
Kita terus sentuh keinderaan manusia
Menjalin kata perteguh tradisi bahasa
Ayuh .. ku kata ayuh!
Elmi Zulkarnain
21 Ogos 2005
![]()
