Berikut adalah serpihan puisi yang dipetik daripada antologi puisi -
- Satu kelibat Dua Suara 2004
![]()
Menghempas Diri Ke Dasar Nyata
Ada suatu kemustahilan
Kuharapkan penjelmaannya
Ingin rasanya aku terbaring di pangkuannya
Lalu tertidur lelap dalam belaiannya
Satu kemustahilan derai nyata
Berteman bulan sepi
Debur ombak tak bererti
Aku terpisah dengan sebuah mimpi
Penjelmaanmu ku tunggu di pembaringan di seluruh malam
Kadang aku terlalu banyak diam
Lalu kertaslah yang aku ributkan
Dengan keadaan jiwaku yang kosong kekeringan
Aku sedang terkulai bosan insani
Mengejar apa yang tak pasti
Angan-angan tak pasti
Hidup tak pasti
Mati pun kurasa tak pasti
![]()
Tiada Ku Daya, Hanya Mampu Ku Coret
Aku di sini tak berdaya
Hanya tegukan demi tegukan
Yang hancurkan seluruh titis keringatku
Kala mentari menemani bumi
Bahteraku tak pasti
Sulaman mu tercabik-cabik mawar berduri
Semuanya jatuh di pangkuan bumi
Lalu mengalir tak punya arah
Aku tak perlu bergoyang goyah
Sebab bumi ku sendiri bergoncang
Dalam kehausan ku reguk air keimanan
Tak ku tahu erti kehilangan
Dalam goncangan yang menggoyang
Aku hilang bersama jiwa dan raga malang
Mampukah aku mengabadikan semua?
Kala aku terbaring
Mata ku memejam, penuh terlihat
Semua yang pernah ada
Matamu, senyummu, semua ada
Jemari ku berontak ingin mencoret
Semua yang ada di hati
Cerita ku di ambang subuh
Penuh gejolak
Tapi ia juga hilang bersama embun yang naik ke syurga
Apakah hidup ini?
Ku tawakan tatkala sedu membuku kalbu
Apakah hanya corat-coret tak bermakna?
Atau hanya makna hakikat sebenarnya
Yang tak terbaca
Hidup itu tak pernah berkata
Tapi ramai manusia yang berbicara
Aku terpaksa pasrah nampaknya ..... .... ....
![]()

Pencarian
Kebenaran susah sekali diikuti
Menjadi hiasan tiangan hidup yang selalu goyah
Tiap langkah ku adalah pencarian
Menggapai angan
Mengejar mimpi
Mencari yang tak pasti
Terhenti pada titik kematian
Makna hidup sebenar samar-samar
Dunia tak banyak memberi makna
Keterasingan semakin menyakitkan
Dirampas kenyataan dan angan-angan
Terdampar di sudut kesepian
Pada batu gunung ku titipi jiwa ku
Pada rembulan di atas gunung
Ku lepaskan semua gundah ku
Duduk aku termangu di pusat kesepian
Kesendirian lebih bererti daripada ketidakpastian
Di awan hitam angin menderu
Membawa isi diriku
Isi yang pecah diterjang petir
Tercerai berai jatuh ke bumi
Untuk ku menemukan diri
Jemari dan lengan ku terpisah
Tak tahu mana muaranya
Diriku hancur dan hanyut
Di Mana Harus ku Berdiri?
Perasaan ku diperas-peras
Kebebasan ku dipancung keras
Filsafat penat mencari erti
Kesedihan merayap disepi malam
Keangkuhan membakar hati
Aku tak tahu di mana lagi ...
Harus ku berdiri
Akar hidupku begitu rapuh
Ditiup angin jadi tak tentu
Tapi, tumbang pun aku tak mau
Kali ini keasingan hinggap
Di seluruh jiwa raga ku
Berdiri Aku di Puncak Kejenuhan
Berdiri aku di puncak kejenuhan
Untuk hidup aku tak punya teman
Apalagi mati belum mahu ku harapkan?
Titi ku tapaki
Bergoyang ku imbangi
Jatuh juga semuanya
Diatas batu-batu lerengan
Jiwa ku terkoyak
Bagaimana aku mampu mengerti
Seisi dunia telah berubah
Sekelip mata, sekelip mata
Terpancar dari seluruh getar sukmaku
Mampukan aku berkata
Dengan kata penuh makna
Siapa yang ku sayang?
Jiwa ku terpanggang kenyataan
ku berlari tiada hentian
seberkas ingatanku membekas dalam angan
terlepas dari khayalku
tuk mengenang dirimu
tak mampu kukuasai.
tak mampu kukendalikan..
Sekira ku kata ku lupakan dirimu
Maka itu adalah kepalsuan diriku
![]()
Intifada Jiwa
Jiwa mulai berontak..
hati mulai meronta..
kaki ingin berlari
walau fikiran terbang entah kemana
jiwa terbang melayang layang
Di saat memasuki hitamnya duniaku..
ku terus meraba
kasarnya jalan yang kutempuh ..
Dan kuterus berpijak
Pada jalan yang rapuh..
![]()

Terusan Berjalan
Aku berjalan dan berjalan
Walau ku tak tau arah yang kan ku tuju..
Namun kaki inginkanku melangkah lebih jauh lagi..
Kakiku berlari berlari dan terus berlari..
Berlari tiada henti..
Walau terasa lelah..
Hati tak inginkanku berhenti..
![]()
Lautan Harapan
Saat-saat menunggu adalah lautan harapan
Dan pantai .... juga tak pernah bosan menanti ombak yang datang
Buih-buih putih pecah berhamburan
Dan ia akan kembali dan kembali membawa kerinduan yang tak pernah lekang
Pasir putih pun tak pernah habis tersapu
Biar pasang surut air laut menderanya
Bersama sampah-sampah kehidupan yang dicampakkan
Isilah isi-isi hati dengan harapan, biarkan duka dan kecewa musnah ke dasar lautan
Mengalirlah emosi seperti air mengalir
Biarkan erosi terjadi di sisi-sisi hati
Kerana perasaan juga bisa berubah dimakan waktu yang berjalan
Bersama tumbuhnya iman dengan lewatnya pencobaan
Kenangku Nan Lalu
Saat kau berada di sampingku..
Dunia seakan akan terasa damai..
Pohon pohon seakan terasa melambai-lambai
Anginpun terasa seakan akan membelai..
Saat kau berada di sampingku..
Entah apa yang kurasa ..
Detak jantung mulai belari lari..
Hati mulai terasa gelisah..
Dan fikiran mulai terasa melayang layang ..
Apa harus kulakukan?
Apa yang harus kulakukan..
Apa yang harus ku katakan..
Hingga kau benar benar mengetahui isi hati ini..
Hingga kau benar benar mengerti arti hatiku ini..
Kerana..
Di hati ini..
Hanya kaulah yang dapat membuat aku bahagia
Hanya kaulah yang dapat membuat aku tersenyum..
Dan hanya kaulah yang dapat membuat aku tertawa..
![]()
Akan Ku Cuba
Dan kini aku harus cuba melepaskan bayanganmu…
Mencuba lepaskan jiwa mu yang telah melekat erat dalam hidupku ini..
Dan dengan perlahan aku harus mencuba…
Untuk mulai menghapus ingatan yang membekas di dalam rasa ini ...
Di Saat Sesaat Terlelap
Di saat sesaat terlelap..
tersentak sarat nan berat..
bangunlah aku dari sunyinya mimpi ini
biarkan aku terlelap lagi
memimpikan dirimu lagi..
Tak ingin ku terjaga dari mimpi ini
karena engkaulah harta mimpiku...
biarkan aku di sampingmu..
memeluk jiwamu dengan semua rasa di hati..
mendakap hatimu dengan segenap jiwa yang kupunya.
Jadi kumohon..
buatlah aku terlelap selalu..
kerana kuingin di sampingmu..
untuk selamanya
selamanya dan selamanya...
![]()

Pelayaran & Tangisan
Kau selalu menghilang dalam bayanganku..
kau selalu pergi dalam ingatanku..
dan kau selalu menghindar dalam setiap mimpiku
Mengapa kini kau selalu pergi dari diriku ?
Padahal hanya dirimulah yang terukir di rasa ini
Menahan isak tangis yang mendera hidup ini
Redam semua jiwa yang tiada pasti..
Menahan semua isak tangis yang tiada terhenti
Aku tiada kan menangis.. dan tiada kan ditangisi..
Kerana aku hanyalah seorang lelaki yang tiada tahu tujuan dan arah
Kemanakah ku harus berlayar..?
Kemana ku harus bertualang…
Entah ...
![]()
Dalam Sepi Ku Bertanya
Duduk termenung dalam kegelapan
Duduk sendiri bersama sepi
Menanti kiambang sering sembunyi
Entah kemana ia pergi
Hati gundah semakin sepi
Sepi....
Sepi sendiri dalam gelap
Dalam gelap daku menanti
Entah bila ia kan datang
Bawa cahaya terang yang ku inginkan
Bawa arti hidupku yang sesungguhnya
Sepi ku rasa hatiku
Saat ini ku rasa rapuh
Namun ku tahu kau enggan menemaniku
Tenang diriku tiada kan kutemu
Sering ku tanya pada malam
kala langit bertabur bintang
dan angin berhembus mesra
menghantarkan bisikan lirih
Akan rinduku padanya satu hati
Namun tanya tak pernah terjawab
meski sering kudapati getar itu
entah kenapa aku ragu.... ?
Jarak dan waktu merejam langkahku
terbenam aku dalam kubangan katamu lalu
lewat hari demi hari
menerobos kenangan demi kenangan
mengimbas kelakuan sejarahku
ada satu yang tak akan berubah
esok lusa dan bila-bila;
walaupun ku tahu dirimu tidak mengendah
walaupun ku akur dirimu mahu berjauh sahaja
walaupun kiambang terus mengabai pujangga;
tetap ada -
rinduku pada teduhnya tatapan matamu
ikhlas rasa sanubari lekaku
sentiasa mendamba akan;
lembut suaramu membelai jiwaku yang lara .....
Kesepian yang mendera jiwa ini. Menunggu seberkas sinar yang datang padaku. Menanti kesejukan embun membasahi diriku. Engkaukah itu ???
![]()

Senyummu Kulukis Dengan Warna yang Pudar
Kulukis senyummu dengan warna yang pudar
Kepingan rahsia menjangkau dada potretmu
Sedan didendang kala gerak penselku
Menarikan harapan bergaram sepi atas kelesuanmu
Sementara kau terus padamkan apa ku nyalakan
Mengapa kelam dirimu serahkan?
Atau mungkin aku disalah ertikan?
Diriku terus membakari dusta
Yang menghutan diriku
Yang menghancur impian kerdilku
Sedemikian rupa payah sandungku.
Sambil itu,
Diriku tetap teguh membenteng lusa-lusaku
Hingga leleh keringat tiada rasamu
Bebungaan tumbuh kutugas mengiringmu.
Masih dipohon nurani girang
Langkahmu kan menjelma pembawa benderang,
Lebih dari sekadar rintikan hujan
Menepikan gusar. Tempiaskan kebahagian.
Walauku sehina fakir bumi dahaga
Ku arah langit agar merendah
Meneduhimu tika terik menerpa
Tapi hakikat sedemikian hanya penduga
Biar terangku bertukar gelita
Kerana selagi ada hayat dan nyawa
Sekiranya kudung andaiku buta
Akan ku terus lukis senyummu jua
![]()

Diari Semalam
Semalaman diri ini termenung
Melayari semula kehidupan sebelumnya.
Keresahan sentiasa membadai jiwa
Ketenangan yang dicari hanya buat seketika
Apakah ini nasib manusia?
Diri ini lantas bertanya;
Merenung di cermin menanti jawapannya
Wajahmu terlintas diiring suara
Hidup ini harus ada maknanya
Walaupun diselangi gusar derita
Mungkin ada yang mampu mendamai jiwa
Memberi erti kehidupan semula
Tidak seperti kelmarin yang merungsing
Tidak seperti semalamku yang gersang kering
Tetapi itu kan memikirkan diri sendiri?
Berterusan aku mendebat diriku ...
Tidak, kerna aku juga berniat membahagia.
Bukan impianku meraih paksa
Masa dan takdir penentu semua
Kataku tidak bertiraikan dusta
Aku rela sekira kecewa
Itulah maksud kasih sebenarnya
Dia diutus bukan buatku sahaja
Tapi hadirnya untuk semua
Menemani harian taulan dan keluarga
Hakikat ini harus aku terima
Minit berlalu tiada ku rasa
Hampir lupa akan witirku
Selesai rukuk dan sujudku
Himpunan doa ku atur buat semua
Mengharap dunia indah semula
Pada ketika itu hati terasa sesuatu
Jam dinding berjarum satu
Aku teringat perbualan sejam lalu
Mataku dipejam rindu membelenggu
Syahdu merasuk ke dalam kalbu
Mungkin sedang menderas pelajaranmu?
Mungkin baru selesai ibadatmu?
Kemungkinan bernaung di fikiranku
Mungkin ini dinamakan rindu?
Mengapa ..?
Suara kecil sekali lagi berkata ...
Rindu terasa ada sebab tertentu
Anugerah rasa datang dari Tuhanku.
![]()
Ku Lukis Sesalku Di Kanvas Lebaran
Dari sudut kamar pangsa sempit
Mendonan sayu melantang suara
Mencoreng arang ke dada kanvas
Melajak sesal mengharung nafas
Ayahanda, ibunda berjarak mata
Kalian sanjungan kalbu sentiasa
Izinku susul semula ke belantara
Mengenal semua sejarah sengsara
Panduan paduan cinta pada-Nya
Buat kekasih, kiambang nan satu
Izinku atur semula catur hidupku
Melontar keluar duka cemburu
Melayak hadirku dalam hari-harimu
Lewat dingin subuh Syawal kesyahduan
Ku gantung ia berpaku di tembok harapan
Lukisan dibiar tiada berbingkai
Jernih air mata terhenti menderai
Elmi Zulkarnain
![]()

Arus
Adrelina merancak cemas ku tawan
Dari rangkak aku berlari
Mengejar sesuatu pasti tak pasti
Arus membadai naluriah berani
Gerak arus tiada putus
Halang diri dari merakus
Berasak arus harus ku tembus
Ku ingin asah ijab nan kudus
Arus menendang aku terlentang
Bangun semula membengis suara
Walau arus membengking diri
Cuba memberkas memasung hati
Aku tetap mahu berlari
Akan ku capai apa ku impi
Akan ku peluk berang mentari
Arus akan jua menyepi
Elmi Zulkarnain
070404
![]()
Stereotaip
“Biar mereka persoal martabat keturunanku!”
Yang wujud diungkap sejarah lalu
Secara kolektif ramai kata begitu
Malas, boros bukan lagi aku.
Tidak akan terbiar nasib diriku
Aku mampu bertapak jitu
Mundur bukan patuh kataku
Aku sangkal kau kata aku begitu.
Aku kini berbudaya berani
Ada suara selantang guruh
Kritis dalam menentang tradisi
Menyelinyap pergi pegangan rapuh.
Mitos malas tiada bernasnya
Aku hindar bertaat buta.
Bebalisme bukan diriku
Inteligentsia kini sandaran hayatku
Aku membenteng teori malasmu
Jangan kau stereotaip aku begitu.
“Aku berkaliber, aku Melayu!”
Elmi Zulkarnain
090404

Dalam Sepi Aku Bertanya II
Duduk termenung dalam gempita
Duduk sendiri dikelilingi sepi
Menanti kiambang sering sembunyi
Hati gundah terus menanti
Saat ini ku rasa rapuh
Lalu ku tanya pada malam
Kala langit bertabur gemintang
Tika angin menghembus mesra
Aku hantari bisikan lirih
Akan rinduku yang giat meluru
Jarak waktu merejam langkahku
Terbenam daku dalam kubangan katamu dulu
Lewat hari demi hari
Menerobosi kenangan demi kenangan
Aku raih eka kesimpulan ...
Ingin ku jerit pada dunia
" Bahawa esok lusa dan bila-bila
Akan sentiasa tetap ada
... rinduku pada teduhnya tatapan matamu
... ikhlas dari sanubari lekaku
... damba hati pada lembut suaramu ... "
Kesepian terus mendera jiwa ini.
Terus aku kesejukan dari tangis sendiri.
Moga dengan kuasa Ilahi,
Kiambang akan bertaut kembali.
Elmi Zulkarnain
270404
![]()

Pendirian Di Perhentian
Teori dikupas dari sejarah keturunan
Yang usang perlu ditinggalkan
Asalkan tembok moralitas tiada kau pecahkan
Mungkin muda digelar hingusan
Mungkin hingusan tampaklah keghairahan
Keghairahan dalam mencari idealisme sendiri
Mengharu gara perteguhkan keyakinan diri
Persudikanlah hati membisik impian
Kenyataan jadinya sekira ikhtiar jadi peneman
Langkahlah ...
Langkahlah anak bangsaku
Usah dirimu gusar dengan kata penghambat
Jadilah,
Generasi yang akan mengenal unggul
Apa diidam pasti mampu kau rangkul
Mungkin ada kala diri tersesat
Di perhentian dilema di kota pesat
Pendirian itu mujarobat
Segala resah benak yang saling berselirat
Pembongkar rahsia segala muslihat.
Elmi Zulkarnain
220704
![]()

Teraju Harapan
Ganjakkanlah aku dari silamku
Pimpinlah aku si Anak Melayu
Dengan gagasan adunan kewibawaanmu
Agar aku setara dengan mereka-mereka itu
Selantang suara berani ku nyatakan
“Yang dikau mampu mengubah liku haluan kerana ...”
Kau penyingkir alunan sedu teluk hati
Terusan pertahankan martabat bangsaku ini
Meneraju tanpa kelesuan
Menambak segala kerapuhan
Merintis cecita buat anak watan
Menanduskan deduri kelemahan
Mengorak langkah melakar panduan
Membawa bangsa mengenal semula akan harapan
Semoga berkekalan semarak berani
Mengenal kalah tiada sekali
Tiada mungkin selembar kertas merangkum semua
Segala perjuangan yang dititipi taburan jasa
Namun ingatlah wahai teraju berbakat
Namamu akan sentiasa terpahat
Diharumi dibangga diulit tekad
- Elmi Zulkarnain
(Cenderahati Buat Prof. Madya Yaacob Ibrahim)
Awallah Dondang 31 July 04'
![]()

Ishazara – Wanita Falujjah
Bumi diantara tiga corok segitiga Sunni,
Tanah yang digempur diragut dari damai dan sunyi.
Antara Ar Ramadi dan Tikrit, kota Fallujah berdiri.
Seorang wanita menjerit berani,
“Mengapa kota sejarahku menjadi tumpangan derita sengsara?
Suara tangis anak-anakku yang dibebani cemas yang tiada sementara?
Kuping telinga dunia dituli siapa?
Mayat rentung suamiku yang tergelimpang di hujung sana,
Diteman rakan syuhadah yang menerima padah angkara dusta.
Apakah darah basah akan terus mengalir?
Adakah kebebasan bererti kemanusiaan sebenar dipinggir?”
Asap berkepul penghalang mentari,
Malam berganti dengan cahaya bedilan yang bergemintang.
Ribuan kemungkinan menyinggah di fikirnya,
Hati kecil yang remuk berbicara tanya,
“Adakah mati keluargaku hanya sia-sia?
Tetapku ku redha bertaut pasrah padaNya.
Akanku terusan menjerit berani,
Mencari cebisan empati erti kemanusiaan dan insani.”
Elmi Zulkarnain 201004
Berita Minggu Nov 04'
![]()
Mantiqut Thair - Musyawarah Sang Burung
Seekor seratus menjadi ribuan
Terbangan dengan beriringan
Bumi ditudungi bertukar kegelapan
Tanpa henti, rehat tiada kebuluran
Zikir sufi dicicip berdendangan
Nyanyi-nyanyi mereka sebutnya Tuhan,
Beranggap sudah tiba di akhir penghijrahan
Hinggap ribuan di batangan dahanan
Ratusan yang hangus diragut keletihan
Raja burung teguh berpendirian
Pengikut setia menjadi peneman
Dahan yang rapuh sedia ditinggalkan
Menerus perjalanan mencari Tuhan,
Fariduddin Attar pendukung hikayat mistis sebenar,
Alegori kehidupan Sufi tiada jenuh mengejarNya,
Pujangga kerdil, aku sekadar mengisah semula,
Puisi ditinta mengorak langkah cerita.
Elmi Zulkarnain 111104
![]()
Kau kata, aku kata
Kau kata pelacur kawan setan
Aku kata mereka perempuan
Kau kata isteri kau lari
Aku kata kau salah cari
Kau kata Islam ekstremis
Aku kata Islam idealis
Kau kata buta pelik
Aku kata buta celik
Celik hati cerdik pekerti.
Kau kata hitam jijik
Aku kata hitam klasik menarik.
Kau yang buta, kau yang pelik.
Kau kata perang kerana kebenaran
Aku kata kau suka cari kemusnahan
Kau kata dibanding senapang keris lemah
Aku kata pemegang keris itu gagah
Kau kata pujangga miskin
Aku kata orang berkarya itu rajin
Kau kata Melayu malas
Aku kata orang Melayu ikhlas
Kau kata orang kampung ‘takde baca’
Aku tanya, “kau masih di hutan agaknya?”
Kau kata kitabAl-Quran berhabuk
Aku rasa mungkin kau tak rujuk
Kau kata puisi mengantuk
Aku kata kau masih di zaman atuk
Kau kata aku karut
Aku kata aku sanggup
Sanggup dipanggil apa saja
Aku idealis bukan pengangguk
Aku optimis hingga berjanggut.
Elmi Zulkarnain
201204

Rinduku Padamu Baitullah
Tatkala aku di pembaringan malam,
Aku cuba menyusur mimpi selepas pejam,
Aku cuba meninggalkan rasa takut dunia kejam.
Aku inginkan hilangnya segala kelam,
Terkepul gumpalan ingatan aku akan semalam.
Teringat aku teringat,
Akan berihram dari Miqat,
Berwudhu harapan melafaz niat.
Teringat aku,
Akan teduhku di bawah awan Arafah
Melepaskan nikmat dunia
Menyerah jiwa, tubuh dan tenaga daya.
Teringat aku,
Akan malamku di Mina selepas Muzdalifah.
Cukur afdhalku di lantai sana.
Teringat aku,
Akan gelombang arus hamba Tuhan,
Berpusuan setiap Jamrah berlontaran.
Tiada akan lupa,
Pertemuanku bersama Baitullah
Mengawang doa buat Rasullullah
Petah selawat kekasih Allah ....
Tiada akan lupa,
Kata Pak Tasawuf seorang pujangga,
Yang hampiriku seraya berkata,
“Jika kita renung sedalam mungkin maka akan kita dapati,
bahawa menyahut seruan ke tanah suci seumpama menyahut seruan ajal Ilahi. Langkahnya hampir serupa sekira diamati.”
6 langkah dia taburi begini:
.
1. Kalau MATI sampai ajalnya, kalau HAJI sampai serunya .
2. Kalau MATI diri dimandi, kalau HAJI mandi sunat Ihram menyuci diri.
3. Kalau MATI dikafankan putih, kalau HAJI berihram putih.
4. Kalau MATI disembahyangkan, kalau HAJI sembahyang berantaian.
5. Kalau MATI ditalkinkan, kalau HAJI bertalbiyahan.
6. Kalau MATI berkumpul di Padang Mashar, padang penantian, kalau HAJI Padang Arafah jemaah bermalaman.
“Itu kata pujangga tua.
Mungkin ada patuh benarnya.”
Dengan terngiang kata yang mencabar benak keliru,
Mata ku buka menggasak layu.
Masih aku pembaringan itu,
Masih aku memintal rindu,
Rindu akan rumahmu Allah.
Rinduku padamu Baitullah.
Elmi Zulkarnain
Jan 1 2004 - Konsert Hari Raya Haji NIE Perbayu

![]()