Snati 2004, my personal view19 Juni 2004 yang lalu saya berkesempatan menghadiri Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. saya berkesempatan memberikan makalah dengan judul "Penggunaan kembali basis pengetahuan dengan representasi bingkai" Tulisan ini adalah behind the screen dari apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu. Sebelum penjelasan lebih mendalam, saya mencoba menjelaskan dulu apa sebenarnya SNATI2004
Apa bedanya SNATI2004 dengan JOINTS2004 atau seminar yang lain? sedangkan SNATI adalah seminar yang terbuka, dimana panitia mengundang banyak pengisi makalah. Kemudian masing-masing pemakalah akan mempresentasikan hasil penelitiannya. Biasanya untuk yang jenis kedua penyelenggarannya adalah asosiasi atau himpunan tertentu walaupun universitas pun seringkali mengadakan acara ini. UAD dengan SNI2004(Seminar Nasional Informatika)2004, kemudian SEE2004 Seminar Electrical Engineering adalah contoh seminar dimana universitas menjadi pihak penyelenggara. Sedangkan seminar yang diadakan ICIS (Indonesian Computer and Information Society) adalah contoh yang diselenggarakan oleh asosiasi, tahun ini diadakan di IPB, dimana setahun sebelumnya diadakan di Gunadharma dan dua tahun yang lalu diadakan di UI.
Apa yang didapat dari mengikuti seminar yang "call for paper" Bagi saya pribadi, kesempatan mengikuti seminar dan mengirimkan paper adalah kesempatan untuk mengaktualisasikan diri dan tentunya memperoleh banyak 'kenalan' dari acara ini. Ini saya rasakan saat SNATI2004, ketika bertemu salah seorang peserta yang ternyata adalah tetangga di Cirebon dan menjadi dosen salah satu PTS disana.
Apa yang saya persiapkan untuk SNATI2004 Apa yang terjadi saat SNATI2004 Bagian ini saya persembahkan untuk rekan saya Dyah di Ilmu Komputer yang selalu bersemangat dalam setiap event yang saya ceritakan pada beliau...kind of person that always inspirating me. Thx dyah i dedicated this page to you :) penyelenggaraan SNATI ini bersamaan dengan musim ujian semester yang diselenggarakan oleh UGM. Dan sialnya pada hari terakhir ini pelaksanaan presentasi bersamaan dengan 2 ujian sekaligus, sehingga saya mengalami sedikit kekacauan karena sulitnya transportasi pada hari itu. Saya mendapatkan giliran presentasi pada sesi pertama yaitu 09.45-11.00 karena ada sedikit keterlambatan, giliran presentasi saya adalah pada pukul 10.30. waktu ini sangat mepet karena saya harus menghadiri 2 ujian yaitu jam 08.00 dan 10.00 jadi bisa dibayangkan bagaimana saya harus mengatur waktu pada waktu itu. Dari 100 makalah yang masuk ternyata panitia menyaring menjadi 60 makalah, namun dari 60 makalah tersebut tidak semua makalah dipresentasikan. Beberapa disebabkan karena pembicara berhalangan hadir. mungkin tinggal 25% saja pemakalah yang hadir dan mempresentasikan. Waktu itu saya satu ruangan dengan dosen dari UPH yang mempresentasikan materinya tentang "Jaringan Syaraf untuk mendeteksi karakter 0-9"(kira-kira begitu karena saya agak lupa) dan dari 6 pembicara yang harus mempresentasikan hanya 2 pembicara yang hadir Presentasi pembicara awal yang sangat padat, membuat presentasi saya terlihat sangat singkat. Walau sebenarnya sesuai dengan waktu yang dialokasikan oleh panitia. Segera setelah saya menyampaikan materi, ternyata ada satu orang peserta yang tidak setuju dengan penulisan judul dan kemudian terjadi perdebatan, yang menurut saya lebih kearah debat kusir. Untungnya salah seorang peserta bisa menetralisir permasalahan ini
Apa yang menurut saya paling menarik dari SNATI Namun hal paling positif yang saya rasakan adalah ketika saya dapat mengenal orang-orang dari berbagai kalangan yang lebih 'nekad', lebih berani, lebih bekerja keras untuk mencapai impiannya. Salah seorang rekan dari UKSW Salatiga mba Yugo, menuturkan bahwa dirinya semasa kuliah telah menghabiskan berjuta-juta untuk menghadiri acara-acara seperti ini dan itu seluruhnya diambil dari dana pribadi. Atau seorang kenalan dari UNIKOM Bandung yang kemudian memilih profesi menjadi dosen setelah lama berkecimpung dalam dunia industri praktis. Atau seorang Dosen di UII alumni Elektro UGM lulus tahun 2002/3 yang menuturkan bahwa untuk menjadi dosen di UII ternyata membutuhkan 'perjuangan' yang cukup berat. Penutup Seminar yang mentereng, di Hotel berbintang sering kali ironis dengan kondisi kehidupan dosen yang secara finansial rendah. Namun penghargaan akan prestasi dan kerja keras perorangan lebih penting dari penyelenggaraan acara ini. (walau memang pemakalah yang mewakili universitas dibiayai oleh universitas)
versi 0.0.1 17.50 Sabtu 3 Juli 2004
Dyah sorry ini buru-buru banget, tar aku sambung lagi. Offline lebih rame deh. Thx untuk inspirasinya |